Catatan Bulan Juni: Day 2

Day 2

Sudah sahur, sudah sholat subuh juga. Habis itu? Tidur lagi haha. (Soalnya masih jam setengah 3 pagi, lumayan kan istirahat lagi haha)

Hari kedua, kami berencana untuk berangkat ke Hanno, tempat mother company berada. Tapi sebelum ke sana, kami sepakat untuk keliling Tokyo sebentar. Jadi sekitar jam 8 pagi, kami langsung menuju stasiun Shinjuku, untuk naik KRL (di Jepang, namanya Futsuu / Kakutei) dengan barang bawaan masih di hotel semua.

Ohya sekedar informasi, kalau KRL, yang saya tahu, di Indonesia itu maju mundur, ‘kan? Nah kalau di Jepang itu bentuknya melingkar, jadi trayeknya terus berputar. Seperti ini:

IMG_20180606_114556

Yang ditengah yang bunderan itu ya trayek KRL nya.

Sama kayak di Indonesia, futsu densha merupakan kereta paling murah harganya, dan berhenti di tiap stasiun serta paling lamban. Harga tiket sekitar ¥160, dan tarifnya bisa bertambah sesuai jarak yang ditempuh. Penampakan gerbongnya sama persis dengan KRL Indonesia, cuma kelihatan lebih resik dan rapi. Eh, eh, tapi tetep, ya, joknya bau pesing. (Ngga ngerti lagi deh, jadi dihirup aja dari pada ngga napas sama sekali.)

IMG_20180606_120747

Futsuu Densha

Ohya, impresi tentang stasiun di Jepang itu… rapi. Rapi banget! Dan bersih juga. Saya jarang sekali menemukan sampah, bahkan memang tidak ada. Kalau fasilitas, ya lumayan. Ada lift untuk pembawa barang berat, dan ada eskalator. Tapi, tidak semua stasiun juga ada eskalatornya.

Yang paling mengesankan adalah, orang-orang yang  tertib. Kalau kereta datang, orang-orang yang ingin masuk ke gerbong pasti antri, berbanjar di sisi pintu, di belakang garis kuning. Nah saat kereta tiba, orang-orang yang keluar gerbong didahulukan. Setelah yang turun gerbong habis, barulah gantian. Hal itu memang sederhana, tapi begitu menyentuh hati. Mereka tau adab. Mereka paham setiap hal ada tata caranya, tanpa harus dipandu petugas.

Tapi, mungkin itu juga karena kondisinya tidak berlatar di jam yang sibuk. Jadi, stasiun juga saat itu tidak begitu ramai. Belum lagi keretanya juga ada banyak, dan jalurnya memusingkan. Kalau begitu, orang bebas mau pakai kereta yang mana saja, bukan? Saya sendiri sebenarnya kepingin merasakan momen jam sibuk itu. Ingin merasakan rush hour-nya, haha.

Tambahan:

Tokyo adalah ibukota dari negara Jepang. Tapi Tokyo juga bukan sebuah kota, melainkan prefektur (bisa disamakan dengan provinsi) yang dibentuk oleh 23 distrik (bisa disamakan dengan kecamatan) khusus. Kenapa disebut distrik khusus, karena letak kekuasaannya kini dikendalikan oleh walikota masing-masing. (bukan Pak Camat loh ya,) Berikut diantaranya 23 distrik khusus yang membentuk prefektur Tokyo:

  • Adachi
  • Arakawa
  • Bunkyo
  • Chiyoda
  • Chuo
  • Edogawa
  • Itabashi
  • Katsushika
  • Kita
  • Koto
  • Meguro
  • Minato
  • Nakano
  • Nerima
  • Ota
  • Setagaya
  • Shibuya
  • Shinagawa
  • Shinjuku
  • Suginami
  • Sumida
  • Toshima
  • Taito

Letak pusat pemerintahan Tokyo sendiri ada di Distrik Shinjuku (yang saya kunjungi di hari pertama, yaitu Tokyo Metropolitan Government Building). Sementara istana kekaisaran Jepang berada di Distrik Chiyoda, (dekat dengan stasiun Tokyo). Mungkin ini sebabnya kondisi stasiunnya lebih rapi dan bersih dari yang lain. Jalanannya juga lebih lengang, dan agak kebarat-baratan gitu.

Shibuya Crossing

Kalian tahu kisah Hachiko? Anjing yang paling setia kepada pemiliknya?

Alkisah di Jepang, hiduplah seorang dosen yang mengajar di sebuah universitas kesenian. Setiap hari,  ia naik kereta untuk menuju kampus, via Stasiun Shibuya. Suatu ketika, ia menemukan seekor anak anjing yang lucu dan menggemaskan di stasiun tersebut, dengan kandang dan bandul di leher yang bertuliskan “Hachiko”. Ia sudah berusaha menanyakan tentang pemiliknya kepada kepala stasiun, namun kepala stasiun juga tidak tahu dari mana asal-usul anjing itu. Akhirnya, karena anjing itu masih kecil, dosen tersebut merasa iba lalu membawanya pulang ke rumah.

(Ini cerita versi Amerika, btw. Maaf juga kalau ada salah-salah dikit karena udah lama nggak nonton.)

Nah suatu saat dosen ini berangkat mengajar, dengan Hachiko yang membuntutinya. Berkali-kali dosen itu mengembalikannya ke rumah, tapi ia tetap hendak ikut mengantar dosen itu sampai stasiun. Kereta akan berangkat, dan mau tidak mau akhirnya sang dosen naik kereta juga, meninggalkan Hachiko di stasiun. Tapi, begitu terkejutnya ketika pulang kerja, Hachiko telah siap menunggu di depan stasiun untuk menjemput majikannya. Jadilah, tiap hari sang dosen di antar jemput di jam yang sama. (So sweet banget ya, kaya pasutri baru.)

Kemudian, silakan teman-teman sekalian nonton filmnya, ya! Hehe. Itu film melegenda, yang membuat saya selalu nangis kejer di endingnya. (Lah curhat)

(Bisa cari di internet yaa cerita versi Jepangnya)

Intinya, kisah mengharukan itu diabadikan dengan dibuatnya patung Hachiko yang diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Kebetulan juga, di dekat situ ada container yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga ada internet gratis yang memungkinkan kita untuk selfi-selfi dengan patung itu, dan upload foto, hehe..! (Fakir kuota)

IMG-20180606-WA0007

Maaf ya dikrop, itu sebelahnya komuk saya hahaha

Tidak jauh dari situ, persis di sebelahnya ada Shibuya Crossing, atau persimpangan Shibuya. Ini juga tempat terkenal di Jepang, karena persimpangan ini tidak pernah sepi. Selalu akan ada yang menyebrang saat lampu penyebrangan menjadi hijau, dengan volume manusia yang sangat banyak! Pokoknya tuh perempatan isinya orang semua, deh! Haha. Kalau dari artikel yang saya baca, kurang lebih 7000 orang lalu lalang di perempatan itu setiap harinya.

Nah, di sini juga ada pengalaman yang mengherankan dan cukup membuat doki doki suru (deg-degan). Jadi ceritanya, saya sedang sibuk memotret persimpangan Shibuya yang dihiasi gerimis tipis-tipis.

“Good Afternoon”

Sontak saya kaget, tiba-tiba ada orang Jepang di sebelah saya yang lumayan cakep tapi rada tengil gitu. Gelagatnya agak kayak preman. Telinganya juga ditindik. Sebelum ba-bi-bu akhirnya saya malah takut duluan. Saya sempat menengok manajer saya yang berada di dekat saya, eh dia malah buang muka dan pura-pura gak liat. Jadi maksudnya saya harus hadapi sendiri, begitu?!?

“Are you fast in here?” katanya.

“Eh, umm, no..”

“So, are you bla bla bla..?” Saya ga ngerti, sebab pengucapan bahasa inggrisnya gak jelas. Karena saya juga udah deg-degan, kata-kata dia buyar semua dan akhirnya saya cuma bilang,

“I’m sorry i don’t understand.”

Orang itu menatap saya sejenak lalu menjawab, “Are you, fast, in here? In bla bla bla” Tangannya memutar-mutar di udara.

“Sorry i don’t..”

“Are you bla bla bla..”

“I don’t..”

“Okay..” ia ngeluyur pergi dan saya mematung. Saya menahan napas sampai akhirnya dia menghilang di antara manusia-manusia yang berlalu lalang di persimpangan Shibuya.

“Kamu diapain Ul?” tanya Pak Manajer cengar-cengir, memecahkan lamunan saya yang sedang shock ringan. (Lebay asli)

“Ih, atuh gak tau Pak, dia nanyanya lama atau gak di sini?”

Sebenarnya masih jadi misteri, dia nanya maksudnya apa? Apakah benar yang saya dengar itu kata “fast”, atau apa? Intinya saya sudah keburu kaget dan deg-degan, jadi buat mengerti omongannya saja sulit sekali rasanya.

“Di sini, memang banyak yang seperti itu modelnya. Namanya nanpa (red: nampa)biasanya dia nyapa terus ngajak kamu keliling-keliling, sampe akhirnya tukeran nomor telepon dan ngajak pacaran seharian. Tapi kalau ditolak ya begitu, tiba-tiba menghilang. Liat sendiri kan, dia juga gaktau di mana sekarang, karena nyari lagi mangsa-mangsa yang lain. Orang jepang yang normal sih gak ada keperluan buat nyapa gaijin (turis) jadi gak bakal kerajinan begitu.” Pak manajer ketawa kecil, sementara saya kaget bukan maennn aisiahhh.  

Untung saya pura-pura stupid (emang stupid beneran apa yak 🙂 ) gitu jadi langsung bilang I dont understand 😦 . Gak kebayang kalau saya diajak kemana-mana terus dijadiin pacar/istrinya dan jadi warga negara Jepang //woylah. Lagian heran juga sih saya ke sana pakai khimar lumayan panjang, masih juga dijadikan sasaran.

Tidak lama, Mba Titik yang habis selfi-selfi entah di mana menghampiri kita, begitu juga Mas Deni,

“Tadi Aul habis digodain lho,” begitu kata Pak Manajer sambil terkekeh.

Mba Titik kepo-kepo gitu, sementara saya malu.

Naik Sky Bus

Setelah drama gak jelas, saya meluncur ke stasiun Tokyo (yang ada di distrik Chiyoda). Impresinya adalah, seperti yang sudah disebutkan, suasanya sangat berbeda. Kalau di Shibuya, suasanya begitu ramai walaupun cuacanya mendung dan gerimis halus. Sementara di Tokyo, suasanya sepi dan lebih asri. Stasiunnya sendiri terlihat lebih elit (karena kalau tidak salah, stasiun ini paling dekat dengan istana kekaisaran) dan gak berantakan. Saya mencoba benar-benar keluar dari gedung stasiun dan foto-foto lagi.

IMG_20180606_122659

Tokyo Eki

IMG_20180606_123157

Di sekitar Tokyo Eki

Waktu sudah masuk zuhur, tapi katanya solat di Hanno saja. Alhasil karena masih banyak waktu, saya diajak naik Sky Bus! Ajigile, naik Sky Bus (bus tingkat tanpa atap, yang rute nya keliling Tokyo.) pas ujan-ujanan gini? Tapi… sayang banget kan kalau sudah ada kesempatan tapi nggak dicoba?

Akhirnya, kami jalan kaki ke halte Sky Bus yang terletak tidak jauh dari stasiun. And again, yang jaga lagi-lagi nenek-nenek. Pak Manajer nanya sana-sini, rute, durasi, dan sebagainya. Nenek-nenek itu menjelaskan, kalau di depan juga sudah disediakan jas hujan, jadi lumayan aman untuk melindungi tubuh dari terpaan gerimis. Setelah semua sepakat, akhirnya Pak Manajer memesan 4 tiket sky bus dengan harga perlembarnya ¥3500. Sementara Pak Manajer memesan tiket, saya, Mba Titik dan Mas Deni foto-foto lagi, hehe.

IMG_20180606_131250

Naik Sky Bus

IMG_20180606_132534

Sky Tree tapi gak sempet ke sana 😦

 

Tambahan:

Sebenarnya, kalau tidak hujan, mungkin naik Sky Bus bisa seru banget. Saya sendiri ketagihan. Terus kalau belum begitu mengerti tempatnya, Sky Bus menyediakan lubang headset di dekat pegangan kursi (headset diberi free, barengan sama tiket). Kalau kita colokkan dan kita atur tombolnya akan terdengar guide dalam 4 bahasa mengenai tempat-tempat wisata yang dilewati sky bus tersebut. Asik lah pokoknya!

===

Hanno, Kota Yang Romantis.

Sudah sore.. waktunya balik ke Shinjuku, ambil barang di hotel dan berangkat ke Hanno. Mula-mula kami naik Futsuu dulu dari stasiun Shinjuku, lalu transit di stasiun Ikebukuro.

Seperti saat dari Narita ke Shinjuku, di Ikebukuro kami ganti kereta. Saya dan tim menggunakan kereta Tokkyu (Limited Express), di mana kereta ini hanya berhenti di satu stasiun tujuan. Jadi dari Ikebukuro langsung sampai di Hanno. Harga tiket PP sekitar ¥1940.

Ohya, saya sendiri belum pernah naik kereta antar provinsi. Kata teman, kalau kereta di Indonesia, saat hendak mau putar balik arah, itu  relnya dibuat memutar, ya? Bener gak sih? Terlepas dari itu, kalau di Jepang kursinya secara otomatis muter sendiri kayak lagi formasi PBB. Jadi cuma arah kursinya yang berubah semua. Waduh bener ngeliatnya ngerasa canggih banget gitu, norak! :’D

Perjalanan kurang lebih 1 jam. Akhirnya, dalam kondisi puasa, saya tiba di kota Hanno, prefektur Saitama. Sebenarnya kondisi seharian sangat mendukung, karena gerimis-gerimis adem gitu.  Jadi, biarpun puasa 16 jam, alhamdulillah cobaan dan godaannya gak berat-berat banget haha.

Kesannya pas tiba di kota Hanno, jalanannya lebih sempit, dan lebih sedikit manusianya. Kalau di seantero Tokyo, kendaraan besar kecil lumayan banyak berseliweran. Tapi.. di Hanno, kondisinya lebih syahdu. Kayak romantis gimana.. gitu. Lampu-lampu jalanannya klasik berwarna kuning. Terus sepertinya, di Hanno juga turun gerimis tadi, jadi aspalnya agak mengilat. Duh, kalau diinget-inget, momen kayak gitu pas banget buat dilamar sama laki yang disayang. #hahaapasih.

IMG_20180606_183707

Hanno-shi

Setelah check in di Hotel Heritage di Hanno, (fyi, ini hotel yang dipesankan dari mother company. Bukan bintang lima, tapi sesuai sama harganya. 3 hari 3 malam, kami cuma bayar ¥20.000/orang. Sementara kalau di Sun Route Shinjuku, itu sekitar ¥15.000 1 hari 1 malam ) kami keluar lagi untuk cari bukaan. Karena lagi-lagi mau menjaga makanan yang dimakan (halah), kami mampir ke restoran yang banyak menu ikannya. Sayangnya saya lupa foto, tapi intinya saya bener-bener makan ikan aja :’) Ikan teri, sirip ikan pari, ikan apa tau satu lagi. Intinya ikan semua. Tapi alhamdulillah lah, enak, kenyang. Orang lagi puasa mah, apa aja dilahap ya nggak :’D

Nah setelah itu juga tidak ada kegiatan yang khusus. Saya, Mba Titik dan Mas Deni sih keliling masuk kombini, cari-cari makanan buat sahur. Dan.. ohya, akhirnya setelah muter-muter Tokyo, saya nemuin juga Premium Morning Tea dari Suntory, alias Teh Susu Bening di Saitama! (Belakangan ini malahan marak coca cola bening di Jepang, ya?) Beli sekaligus dua karena kepo banget sama rang-orang yang bahas teh susu bening ini terus. Selainnya saya juga beli goreng-gorengan lagi macem ikan-ikanan gitu. (Yaudahlah ku suka ikan i love ikan). Setelah puas ngeliat-liat doang tapi nggak beli (gak ngerti kanjinya wooyy) sampe nyasar ke uniqlo, akhirnya kita balik ke hotel buat istirahat.

Tambahan:

Jadi, karena kamar hotel direservasi sama mother company, kami tidur sendiri-sendiri. FYI hotel Heritage itu nggak ngerti kenapa bawaannya serem banget. Lampu lorongnya tidak begitu terang, dan di langit-langit lorongnya diletakkan speaker yang melantunkan lagu klasik-klasik barat gitu. Serem banget kayak soundtrack film mutilasi :(. Saya masuk ke kamar saya sendiri. Fasilitas oke, masih lengkap seperti biasa. Sampo, sabun dan conditioner masih diberi satu botol penuh. Memang Jepang itu sangat mengutamakan kualitas pelayanan. Keren. Tapi pas buka jendela, jeng-jeng-jeng 😦 Pemandangannya semak-semak, serem banget 😥 Tapi karena sudah ditungguin buat keluar cari bukaan, jadi saya melupakan sejenak ketakutan saya.

Nah, pas kembali lagi ke hotel, perasaan takut itu datang lagi 😦 Saya akhirnya main ke kamar sebelah, kamar Mba Titik. Ngobrol-ngobrol sampai malem, akhirnya jadi pengen tidur sekamar sama dia, tapi… ya bingung juga dong karena kasurnya single. Aing bobok dimana? :”(.

“Aul, gimana kalau kasurnya dipindahin aja?”

“Eh, seriusan Mba? Emang gapapa?”

“Ya bilang aja Aul, takut sendiri soalnya. Udah yuk gapapa aku bantuin. Minta bantuin sama Deni juga yuk.”

Akhirnya, saya pun menelpon Deni untuk minta bantuan angkatin kasur.

“Den, bantuin angkatin kasur dong.”

“Maa sya Allah, kenapa emang Mba? Baca Ayat Kursi Mba..”

“Duh Den, udah baca tapi tetep pengen pindah. Bantuin ya..”

“Oke-oke Mba..”

Deni datang ke kamar saya. Akhirnya dengan ragu-ragu tapi malu, saya, Deni dan Mba Titik mulai mengangkat kasur saya.. ke kamar Mba Titik. Ya ampun, kalau diinget tuh ngakak banget, karena kasurnya berat jadi kita gotong-gotongnya kesusahan. Terus udah sambil ketawa-tawa gitu, bantal sama spreinya ketinggalan di lorong. Pas banget baru balik buat ngambil bantal yang jatuh, petugasnya hotelnya lewat sambil ngangguk gitu, dan kayak curiga apa yang sedang kita lakukan gitu hahaha. Bodo amat lah, sambil ngakak-ngakak kita masuk ke kamar Mba Titik, dan baru ngeh juga kalau sepanjang lorong itu ada CCTV nya :’) Koplak banget.

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Catatan Bulan Juni: Day 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s