Catatan Bulan Juni: Day 1

Saya akan memperingatkan bahwa akan ada sedikit banyak bahasa yang informal. Semata-mata biar saya mudah menyampaikan dan anda mudah menangkapnya. Biar saja, ya?

Nah, sebelumnya saya juga akan memberitahukan alasan saya ke sana.

Jadi, perusahaan Jepang sangat akrab dengan istilah kaizen. Kaizen itu semacam kegiatan improvement atau inovasi. (Contoh singkat, kegiatan yang dilakukan untuk memendekkan waktu proses, mengurangi tenaga kerja di suatu proses, menghemat biaya dari suatu proses, dll) Kebetulan selama ini saya bekerja dan bergelut dengan hal tersebut. (Tapi saya hanya sebatas administrasi, bukan ahli dalam ilmu teknik industri, ya..)

3 bulan sekali perusahaan saya mengadakan lomba akan kegiatan tersebut. Nah, yang menjadi juara satu akan di-voting untuk pergi ke Jepang (di sana terletak mother company dari perusahaan) untuk memperlihatkan kegiatan inovasi (kaizen) dari berbagai negara. Terpilihlah dua orang dari departemen teknikal. Dan beruntungnya, selama empat tahun bekerja saya diberi kesempatan kali ini untuk ikut belajar dan mengetahui suasana serta kegiatan kaizen di Jepang. Alhamdulillah.

Maka pada tanggal 4 Juni 2018 lalu, total 4 orang yang terdiri dari Head Kaizen (Manajer saya), Mas Deni (orang teknikal yang membuat kaizen), Mba Titik (administrasi dari departemen teknikal), dan saya sebagai administrasi kaizen, pergi sebagai perwakilan dari Indonesia untuk memperlihatkan kegiatan kaizen dan belajar langsung di sana.

Baik, selanjutnya mari kita mulai perjalanannya.

(( Day 1 ))

Saya belum pernah naik pesawat.

Hari penerbangan ke Jepang tiba. Setelah memadatkan barang bawaan di koper berukuran standar semalam, saya meluncur ke bandara Soekarno-Hatta diantar driver kantor. Take off sih pukul 21:30, tapi karena dalam kondisi puasa saya berangkat dari rumah jam 14:30. Manajer bilang, usahakan tiba di sana sebelum jam 6, biar iftar gak di jalanan.

Saya pikir bakalan macet. Ternyata… lancar total saudara sekalian. Estimasi sampai jam 17:00, ternyata saya sampai di sana pukul 15:30 dengan kondisi yang gajelas banget. Well, bagaimanapun waktu take off masih lama, dan tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali duduk-duduk sambil main ponsel. Sekalian foto-foto juga dong, karena belum pernah ke bandara! Hahaha, ya sudah memang norak juga sih. Bule-bule juga bingung gitu, melihat orang sama papan iklan aja foto segala hahaha bodo amat, deh.

Setelah menunggu terlalu lama (uhuk) dan melewati berbagai proses pengecekan yang lumayan ketat, akhirnya saya masuk ke dalam pesawat dari maskapai Japanese Airlines. Pramugari Jepang menyambut dengan hangat, sambil mengucapkan selamat malam atau good evening. Anehnya, pas saya yang lewat, saya di “Konbanwa”in. Efek mata sipit gini kali, ya hehehe.

Saya masuk, ikut economy class dan akhirnya duduk di pinggir, sebelah jendela.

“Oh jadi gini rasanya naek pesawat ya..” gitu batin saya, sambil memandang sayap JAL yang bergerak-gerak, tanda siap-siap take off. Pramugari menawarkan ini itu, menginformasikan ini itu, sementara saya bungkam, seperti masih percaya tidak percaya kalau dalam sekitar delapan jam ke depan, saya akan tiba di negri sumber wibu dan otaku. Masih gagal paham saya rasanya, kenapa bisa ada di tempat itu–di dalam pesawat, mau terbang ke luar negri. Padahal keluar provinsi Jawa Barat saja belum pernah. (lebay deh ampun, haha)

Pesawat mulai berjalan, mengelilingi bandara untuk ke trayek penerbangannya. Saya diam saja, liatin lampu-lampu sambil beberapa kali ngobrol sama Mba Titik akan hal yang tidak begitu penting: “Selimutnya enaknya taro dimana ya?“, “Eh aku gak bawa pulpen!“, “Eh plastik bungkusannya taro sini biar gak ribet.

Kemudian pesawat berhenti sejenak, lalu tiba-tiba melaju dengan sangat cepat. Sangat cepat!

Dalam hati sudah menebak, ini pasti mau take off. Tapi kok nyeremin banget asliiiii. Suaranya kayak gludukan gitu. Kursi sampai getar-getar. Sekilas saya takut ajal, ingat film Final Destination. Saya baca bismillah, ayat kursi, istighfar, ya pokoknya semampu saya. Haha lebay asli. Tapi pas lama-lama, terasa juga pesawat dalam kondisi naik. Getar-getar lama-lama jadi halus, dan tidak begitu berasa. Saya lihat dari jendela, ternyata kita sudah berada di atas permukaan tanah. Terus.. dan terus.. hingga hanya titik lampu jalanan yang tersisa.. hingga mereka hilang, tertutup awan-awan malam.

Kayak naik mobil.” Batin saya.

Tambahan:

Saya tidak bisa tidur. Glepak sana-sini, cari posisi. Tapi tetap saya tidak bisa tidur (ya namanya juga pertama kali, ye gak?) Akhirnya, saya mencoba mendengarkan musik lewat mini komputer yang tertempel di belakang kursi depan saya. Tapi tetap, ga enak. Nonton film, malah pusing. Saya serba salah. Main hp, gak bisa karena flight mode. Gaenak duh gusti… sementara sebelah saya entah siapa, suara  ngoroknya terdengar sampai kemana-mana. Akhirnya, saya cuma bisa pasrah sampai pagi.

Tambahan 2:

Selepas sholat isya, saya baru saja terpikir akan sholat subuh. Saya belum pernah sholat dikendaraan, dan subuh kan bukan sholat yang bisa di qadha. Saya searching sebentar, dan kesimpulannya memang tidak apa-apa sholat di pesawat. Sebagai bentuk kepastian, saya bertanya lagi pada manajer, dan ia mengiyakan. Berhubung seperti tambahan 1 di atas saya tidur tidak pulas, saya sering sekali terjaga. Kesekian kalinya saya bangun, dan mendapati waktu pukul 03:45-an. Lokasi pesawat mungkin bukan sudah di atas Indonesia. Tapi saya ragu, itu sudah masuk waktu subuh atau belum, ya?

Saya menunggu-nunggu. Ternyata manajer di depan saya ke toilet. Saya perhatikan, apakah dia selepas itu sholat atau kembali tidur. Tapi, karena dia duduk di depan saya, tentu tidak kelihatan. Saya ragu-ragu, mau wudhu atau tidak. Tapi, tidak lama kemudian, Mas Deni yang duduk di sebelah manajer dibangunkan. “Sholat, sholat ayo.” begitu kata Pak manajer. Saya akhirnya merasa dapat konfirmasi, dan menunggu-nunggu setelah Mas Deni keluar toilet, saya akan segera ambil wudhu.

Sejurus kemudian, saya tuntas ambil wudhu. Kondisi dibalik kaca pesawat masih begitu gelap. Saya duduk dan menutupi diri dengan selimut, agar kain di kaki lebih panjang. Tapi, baru juga “Allahu Akbar”, cahaya matahari melesat begitu saja dan keadaan berubah total menjadi siang! Bayangkan, cuma butuh beberapa detik. Dari gelap total, menjadi terang benderang. Saya kaget, tapi meneruskan sholat saya.

Pesan moral: ada baiknya jangan ragu-ragu untuk sebuah kebaikan!

===

Kurang lebih delapan jam semalaman, saya terjaga. Dan akhirnya setelah perjalanan yang cukup melelahkan, serta landing yang membuat saya deg-degan (again)  saya tiba di Narita International Airport sekitar pukul 7 pagi. Waktunya norak.. waktunya norak..! Saya foto-foto lah di bandara. Sampai, pesawat-pesawatnya, jalan-jalannya, pokoknya banyak. Di toilet juga saya selfi. Di jalanan bandara juga saya instastory. Hahaha, orang norak dasar. Tapi senang!

IMG_20180605_052903

Di Bandara Narita

 

Ohiya, waktu ke toilet, ternyata closet yang memiliki banyak tombol itu bukan mitos. Ini contohnya.

Screenshot_2018-07-14-11-13-09-487_com.miui.videoplayer

Jadi kalau diperhatikan dan saya baca, ada fitur untuk dudukkan hangat, arah basuhan air dari depan, basuhan dari belakang, tekanan air yang kuat atau lemah, air hangat atau dingin, arah flush ke kanan atau ke kiri, dan ada beberapa tombol yang masih tidak saya ketahui huruf kanjinya. Oh ya, ada satu fitur lagi yaitu sound. Jadi misalkan anda mengeluarkan suara-suara yang kurang sopan dari dalam toilet, maka anda tinggal menekan (atau pakai sensor tangan) dan keluarlah suara air bergemericik. Keren, hehe.

Next, saya langsung naik kereta ekspres ke daerah Shinjuku. Tiket seharga ¥2990, dan bisa beli di tempat. Kalau di Indonesia, setahu saya jika ingin naik kereta kita harus reservasi 3 bulan sebelumnya, ya? (saya belum pernah haha, kalau KRL sering.) Mungkin karena penduduk Indonesia tuh banyak banget ya.. sementara Jepang cuma sedikit.

Saya naik kereta, dan kesan saya adalah… joknya bau kurang sedap. Kayak habis ada yang ngompol. Entah itu perasaan saya saja atau tidak, tapi baunya cukup menyengat. Namun sisanya keretanya bersih, dan nyaman kok. Gak lupa, selfi-selfi lagi, hehehe..

Perjalanan sekitar satu jam setengah ke stasiun Shinjuku. Setelah tiba, saya dan tim geret-geret koper ke Hotel Sun Route. Keliatan banget turisnya sih, tapi orang-orang sana juga terlihat tidak peduli. Kalau di Indonesia, ada yang bawa koper pasti dijadikan pusat perhatian gitu ya, apalagi orang asing (termasuk saya nih hahaha) tapi kalau di sana, mereka cuek-cuek aja.

Cek in hotel jam dua siang, saya titip barang dan keluar lagi untuk cari makan. Hehe, iya tidak puasa, karena posisinya masih safar, jadi manajer juga sepakat kalau hari pertama tidak puasa saja.

Tapi tetap, biar begitu, manajer saya ini termasuk orang yang menjaga keislamannya. Kami diajak ke restoran india yang halal. Setelah jalan-jalan sedikit, masuklah kita ke kedai berukuran sedang untuk makan Naan.

Apa itu Naan?

IMG_20180605_111447

Naan dan Curry

Ini sih roti panggang, pakai nasi, diberi kuah kari ayam, ada telur setengah matangnya juga, dan entah satu lagi itu apa (isinya sayur kayak terong gitu).Enak sih, tapi bayangkan saja makan roti pakai nasi.., otomatis kekenyangan dan overload. Akhirnya karena gak kuat, jadi gak habis. Btw, kalau minum air putih, gratis. (Fyi, satu porsi Naan ¥1050, sudah include tax.)

Setelah makan, kita langsung ke Tokyo Government Building. Nah disitu kita baru naik semacam KRL, yang kursinya ada di kiri dan kanan gerbong. Dari Shinjuku ke Tokyo lumayan murah, hanya sekitar ¥170. Kesan masuk KRL, tidak jauh beda dengan di Indonesia. Mungkin karena saya naik pas bukan jam sibuk, jadi orang-orangnya juga sedang, tidak terlalu banyak. Kebanyakan dari mereka main ponsel. Jarang yang mengobrol. Kalau di Indonesia, biarpun saling gak kenal, pasti disapa, “Eh kamu mau kemana?” hehe. Kalau di sana, cuek-cuek aja tuh. Kayak masing-masing aja, karena bahkan ada perempuan yang dandan di dalam kereta coba! Pake jepit-jepit bulu mata, mascara, dll. Padahal itu gerbong umum, tau. (Tapi kayaknya memang tidak ada gerbong khusus wanita, deh) Gak takut kecolok matanya pake eyeliner kali, yak.. haha..

Ohya, joknya masih bau pesing.

Nah, tidak lama, saya sampailah di Tokyo. Kami diajak berkeliling sebentar, melihat suasana kota Tokyo. Pokoknya, manajer jadi Tour Guide deh. Keren memang, karena sepanjang mata memandang, saya tidak melihat sampah sama sekali, even sampah daun kering! Padahal sisi kanan kiri jalan pohonnya lumayan besar dan rindang.Pohon kecil juga banyak. Makanya, saya bingung, bagaimana mereka membersihkannya? Kapan? Malam hari kah? Atau apa?

Belum lagi, suasananya enak banget, karena kendaraan gak banyak. Gak ada motor, mobil juga sedikit. Banyaknya pesepeda dan pejalan kaki. Mereka juga tertib, karena kalau lampu pejalan kaki belum hijau, pasti ga ada yang nyebrang walaupun kondisi jalanan sepi banget! (Ya, yang bandel juga ada sih, nyebrang sebelum waktunya dan ga di zebra cross, tapi satu dua aja)

Belum lagi udaranya. Perbaikan paru-paru lah pokoknya di sana.

Satu sisi mikir juga, keren yaa kalau negri saya kayak gini. Canggih banget, pasti. Yah kita doakan saja, suatu kelak Indonesia jadi negara maju hehe aamiin.

Saya tiba di Tokyo Government Building 2020. Sebenarnya itu kantor pemerintahan, tapi juga bersifat umum karena dijadikan pusat informasi. Ya, mungkin hanya beberapa lantai yang dibuat umum saja. Jadi kalau turis, dan lain-lain, tetap boleh masuk di lokasi tertentu. Di gedung utara kita menaikki lift yang dioperasikan khusus ke lantai 40. Nah dari sini, kita bisa melihat kota Tokyo dari ketinggian 243m, gratis. Memang jauh dengan Sky Tree yang ketinggiannya mencapai 634m, tapi dari sini juga tidak kalah indah, kok.

IMG_20180605_123629

Pemandangan dari Tokyo Government Building

Setelah puas selfi-selfi (hehe) saya turun lagi ke bawah, ke lantai 1. Di lantai itu banyak pamlfet-pamlfet yang berisikan keterangan berbagai kota di Jepang. Jadi kalau turis bingung, bisa mampir untuk melihat-lihat keterangan dan wilayah mana saja yang mau disinggahi. Dan itu, gratis, kok. Pamfletnya boleh dibawa pulang.

Tambahan:

Pernah dengar, kalau orang Jepang angka harapan hidupnya paling tinggi? Ya hal itu memang benar. Karena petugas-petugasnya rata-rata nenek-nenek, loh. Mereka bermake-up, rambut ditata sedemikian rupa, dan terlihat segar. Tapi saat diperhatikan, yaa banyak wrinkle alias kerutnya. Keren sih, tapi satu sisi juga kasihan. Kan kalau nenek kita di rumah, pasti tugasnya cuma bikin rengginang sama akar kelapa hahaha kalau dia masih aja berdiri 8 jam, jagain lift buat tamu. Tapi kalau boleh beropini, katanya kesenangan mereka memang seperti itu, alias biar tua asal bekerja. Kalau tidak bekerja, justru mereka merasa tidak berguna. Beda negara, beda perlakuan, lha!

===

Saya kembali untuk check in hotel dan bersih-bersih diri, sekamar sama Mba Titik. Saya ga sempat foto, tapi toiletnya keren. Selain closetnya banyak tombolnya lagi, mereka memberi shampoo, sabun, dan conditioner tidak tanggung-tanggung, alias sebotol besar. Peralatan mandinya lengkap, sampe ada shower cap nya segala. Bagus lah pokoknya.

Nah setelah bersih-bersih, sekitar waktu magrib, kita diajak manajer ke Masjid Tokyo Jami (Tokyo Camii). Tebak ngapain? Yaa, makan malam gratis hahaha. Gak puasa tapi ambil makanan berbuka, parah.. Namun.. lumayan lah buat mengirit ongkos.

Karena sudah mepet waktunya, saya dan tim naik taksi Jepang ke Tokyo Camii.

Ini juga sama. Mayoritas driver taksi di sana sudah tua dan kakek-kakek, tapi segar bugar. Nah, kalau naik taksi, pintu belakang akan terbuka otomatis tanpa perlu kita yang buka. Joknya sudah dimodifikasi jadi empuk dan tebal. Ada kain lapisan bermotif renda-rendanya juga. Sistemnya, kita mengucapkan hendak kemana kita pergi, lalu si driver memasukkan arah tujuannya ke GPS. Kalau sudah fix lokasinya, baru deh jalan. FYI, taksi di jepang itu harganya lumayan mahal. Kemarin terhitung jarak tidak begitu jauh, bisa tembus sekitar ¥2150. Tapi pelayanannya kan juga memuaskan. Hehhe..

Sampai di Tokyo Camii, dan antriannya udah panjang hihi. Mereka juga mau pada iftar kayaknya. Nah sampai di sini, saya merasa tidak begitu menjadi minoritas (walaupun ada orang turki, orang berkulit gelap, orang jepang, dan orang indonesia juga) karena di antara mereka banyak yang memakai kerudung. Ya memang begitu. Sepanjang hari saya tidak melihat seorangpun yang memakai  hijab. Malah saya jadi pusat perhatian karena khimar yang lumayan lebar. (Ya bila dibandingkan dengan mereka yang pakaiannya dinamis dan sedikit terbuka, pasti mereka merasa aneh lihat saya) Kalau Mas Deni bilang sih, saya diperhatikan karena seperti orang Jepang yang masuk islam, hahaha (geer najong)

Balik lagi, makanan yang disajikan juga bukan sekadar bukaan, loh. Tapi makanan berat. Jadi modelnya prasmanan tapi ada kentang, daging, spaghetti (?), salad. Dan itu, gratis ya saudara ku sekalian. Makanannya juga lumayan enak, biarpun rasanya terlalu kental. Lidah kurang cocok sih, tapi bersyukur banget bisa hemat pengeluaran dan kenyang hahaha.

IMG_20180605_192527

Makanan di Masjid Tokyo Camii

Alhamdulillah, di negri yang mayoritas non muslim, kebaikan untuk mereka saudara seiman masih berada di mana saja.

Karena besok masih harus ke daerah Hanno, saya memutuskan untuk tidak berlama-lama di sana. Sudah solat magrib dan isya, saya lanjut ke kombini (mini market). Iya saya tidak tarawih, karena isya di sana juga masih lama, sekitar jam setengah sembilan. Magribnya sendiri jam 7.

Saya mampir ke kombini, dan membeli bekal untuk sahur. Sebenarnya saya bawa pop mie, sih. Tapi takut tidak kenyang hehe jadi saya cari-cari tambahan makanan. Di sana dijual makanan kering ataupun makanan hangatan. Karena masih belum bisa baca kanji yang ribet, tiap mau beli sesuatu harus bertanya dulu sama manajer hehe (malu). Pak ini boleh ga, pak ini apa, pak ini ada babinya gak. Kayak gitu.

Nah manajer saya sendiri orangnya selektif. Ia lebih memilih untuk tidak makan daging ayam dan daging sapi, karena beliau pikir pasti dagingnya tidak disembelih secara islam. Sebenarnya Mas Deni sedikit mempertentangkan hal tersebut, karena asalkan kita membaca bismillah, maka makanan yang aslinya halal maupun kita tidak tau cara memasaknya, tidak apa-apa. Nah saya sendiri lebih memilih ikut manajer sih, (karena ragu-ragu juga) jadi saya hanya makan ikan-ikanan saja selama di sana.

(Pentingnya belajar islam sebagai muslim tuh, begini ya..)

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli cumi goreng dan nasi putih. Setelah dihangatkan di dalam microwave, baru kita kembali ke hotel.

Tambahan:

Setting waktu di daerah Shinjuku, ternyata subuhnya jam setengah tiga. Saya bangun jam dua, dan akhirnya gedubukan sahur. Itupun selesainya mepet, jam setengah tiga kurang. Untungnya, cuaca di sana masih adem-adem gitu, jadi pas besok puasa, tidak terlalu terasa. Puasa: 16 jam. Subuh 2:30. Jam 5 pagi matahari sudah tinggi, seperti jam 7 pagi.

img-20180606-wa0000.jpeg

Sahurku hari pertama

End, lanjut Day 2 ya nanti.

Terima kasih,

-Di Samping Hujan

 

Advertisements

6 thoughts on “Catatan Bulan Juni: Day 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s