Catatan Bulan Juni: Prolog 2

Apa yang saya lakukan ketika lulus?

Tidak ada.

Pasca kelulusan, semua murid jadi memiliki gelar yang sama, alias pengangguran termasuk saya. Waktu itu bulan Mei. Kegiatan sekolah sudah berakhir bagi kelas dua belas. Ijazah belum keluar. Teman-teman yang akan kuliah sedang sibuk menyiapkan berkas mereka. Sementara saya menjadi asosial yang mengurung diri di kamar.

Sebenarnya tidak begitu suram.

Saya menyempatkan diri untuk ikut beberapa kegiatan job fair, menulis berkas lamaran bermodalkan surat kelulusan saja, dan melamar menjadi guru di sebuah tempat kursus.

Job fair dan berkas lamaran tidak membuahkan hasil. Begitu banyak perusahaan yang saya coba tapi, siapa juga yang mau menerima seorang bocah di bawah umur 18 tahun dengan bermodalkan surat kelulusan saja? Saya memang tidak terlalu berharap, tapi pencitraan agar tidak terlalu dicap tanpa usaha juga perlu.

Sambil menunggu panggilan kerja (bahkan sampai saat ini, saya tidak pernah terpanggil) saya mencoba menjadi guru bahasa inggris di sebuah tempat kursus. Tesnya tidak seberapa, di hari yang sama langsung wawancara. Pada hari itu saya dijanjikan akan diterima bila menyetujui persyaratan yang tidak mengenakkan: bersedia mengganti uang kontrak jika resign sebelum waktunya. Tentu saya keberatan, karena pertama, itu bukan passion saya. Kedua, saya menjadi guru hanya iseng-iseng mengisi waktu luang. Akhirnya, walaupun ditelepon berkali-kali, saya menolak panggilan itu.

Setelah sadar kalau masa itu bukan waktu yang tepat untuk mencari kerja, akhirnya saya membantu ibu saja di rumah, melakukan pekerjaan rumah tangga.

Dan di sela-sela itu, tepat saya memulai hidup juga sebagai wibu.

Menjadi Wibu

Wibu atau weaboo adalah sebutan untuk Japanese freak. Sebenarnya yang dimaksud freak di sini benar-benar gila. Tidak mencintai kehidupannya sendiri, dan benar-benar mempersembahkan dirinya untuk seluruh hal yang berbau Jepang. Biasanya, seorang wibu dianggap menjijikan, sama dengan otaku (sebutan untuk orang yang tenggelam dalam hobinya sendiri) di masyarakat.

Nah, saya anggap diri saya menjijikan waktu itu, jadi saya mungkin bisa disebut seorang mantan wibu.

Memang, rupanya masa menganggur meningkatkan munculnya hal-hal yang nirfaedah. Kecintaan saya terhadap hal-hal berbau Jepang terus berlanjut. Saya mulai memperluas pengetahuan saya akan anime dan manga. Di mulai dari genre slice of life hingga gore, semua rekomendasi dari teman maya selalu saya coba. Selain itu juga, saya rutin mengecek MAL (My Anime List, sebuah situs yang memuat informasi tentang anime) akan anime-anime yang baru keluar atau memiliki rating di atas delapan. Jika tertarik, saya akan mengunduhnya.

Saya juga memperluas pengetahuan saya akan vocaloid. Mungkin sudah ada ratusan vocaloid yang saya unduh dan saya nikmati di situs Nico Nico Douga (situs video, seperti youtube tapi hanya memuat video Jepang).  Saya masuk grup anime dan otaku di sejagat facebook, bahkan sempat dijadikan admin. (ini bukan sebuah kebanggaan) Anehnya, saya juga sempat masuk grup sebuah fansub, entah apa tujuannya.

Sedikit-sedikit, saya juga mengembangkan bahasa Jepang saya lewat internet. Huruf hiragana dan katakana saya latih setiap hari. Kadang saya juga meniru-niru logat anime, mengucapkannya ulang. Tata bahasa yang diajarkan di sekolah, sedikit saya kembangkan.

Saya… sebenarnya hanya suka-sukaan saja. Tidak sampai mengoleksi figur atau merch nya. Setengah-setengah saya masih sadar hidup di mana, dan harus melakukan apa.

Cuma, menonton anime-anime itu benar-benar menyita hidup saya. Saya sangat jarang keluar rumah, bahkan untuk ke warung. Itu karena otak saya sudah terpatri untuk menonton anime. Pola pikir saya jadi dimotivasi oleh tokoh-tokoh anime itu. Saya menangis atau tertawa begitu menonton anime. Pernah saya galau dua hari karena menonton anime one shoot yang begitu sedih endingnya (Judul: Hotarubi no Mori E). Kacau.

Tapi satu sisi, anime itu benar-benar menjadi teman sepi yang baik selama saya di rumah. Memang biarpun fiksi, ada banyak hal yang memiliki kesamaan di kehidupan nyata. (Anime yang seperti ini banyak dikisahkan di dalam genre slice of life atau school).

(Sebenarnya kalau dianalisa, kebanyakan genre anime mengisahkan kemampuan seseorang yang terbatas, namun dengan semangat dan tekadnya, ia bisa meraih tujuannya. Hampir semua anime Jepang mengisahkan seorang yang biasa, lalu dia berusaha, kemudian menjadi luar biasa. Makanya anime ini digemari banyak orang yang merasa terkucilkan. Eh, mungkin saya akan membuat tulisan lebih lanjut tentang ini.)

Mandi pagi-pagi, hanya untuk bersiap duduk di depan komputer dan menonton anime. Tidur larut-larut, hanya untuk menunggu unduhan episode anime rampung.

Prihatin anaknya seperti orang yang tidak berjiwa, ibu saya memberi sedikit wejangan.

“Bagaimana kalau nanti, setelah dapat kerja, kamu menabung. Ibu ingin kamu masuk kuliah tahun ini, tanpe menunda.. Sampai bulan September, cukuplah tabunganmu untuk uang muka kuliah.”

“Tapi, jurusan apa?”

“Bahasa Jepang, kan kamu suka Jepang?”

Saya tertegun. Sepertinya saya akan menjilat ludah sendiri. Tapi kini saya juga tidak begitu banyak memiliki tujuan. Jadi, akhirnya menyetujui.

Rutinitas dan zona nyaman itu tidak sampai menahun dan menyisakan lumut di diri ini. Bulan Juli, saya diberi informasi lowongan kerja di sebuah yayasan oleh kakak saya. Persyaratannya juga sangat cocok, karena lembaga itu membolehkan berkas pendidikan menyusul setelah tes. Tes berhasil, dan saya diterima untuk training selama dua hari oleh pihak yayasan yang kemudian akan diinterview oleh pihak perusahaan.

Akhirnya, saya bangun dari indahnya dunia fiksi.

Cari Kerja, Itu Susah

Saya ditampar keras pada bulan Agustus waktu itu. Training yang dimaksud adalah training wawancara dan training fisik. Wawancara tidak masalah. Fisiknya naudzubillah.

Sit up, push up, pull up, semua dilakukan sekitar entah berapa puluh kali. Saya dan teman-teman lainnya juga dibentak habis-habisan oleh seorang berseragam TNI jika lambat atau salah sedikit. Hal itu tidak begitu masalah mengingat saya dulu aktif di kepramukaan. Tapi beberapa yang lain memilih pingsan atau pura-pura sakit agar dapat duduk-duduk  di bawah pohon rindang.

Isitirahat sebentar,  lalu saya diajak untuk lari berkeliling kawasan industri. Lima, atau sepuluh putaran saya lupa. Intinya lelah sekali. Posisi tiarap, merayap di rerumputan, bahkan saya juga dititah untuk masuk dan jongkok ke dalam got, hingga celana saya kotor sepenuhnya.

Gila, cari kerja sesusah ini. Begitu batin saya. (Sekadar informasi, saya memang benci pendidikan jasmani kecuali senam irama.)

Tapi toh beberapa hari kemudian, akhirnya saya lolos interview dan medical check up. Saya diterima di sebuah perusahaan, sebagai operator produksi. Kerja keras saya karena pull up, sit up dan push up membuahkan hasil. Saya diterima pada bulan September akhir. Artinya, saya menunda kuliah, tidak pada tahun yang sama dengan teman-teman saya.

Mulai Bekerja

Bekerja di manapun selalu membuat dua perihal lelah berkesinambungan. Yang pertama fisik. Kedua batin.

Sebagai operator produksi, saya dituntut untuk berdiri selama delapan jam nonstop. Saya meringis di kerja aktif hari pertama, karena seluruh kaki bengkak-bengkak. Tapi, saya tidak terlalu mempermasalahkannya, sebab lamat laun saya terbiasa dengan posisi kerja seperti itu. Kaki saya kebas. Dan tubuh saya beradaptasi untuk bekerja siang dan malam.

Namun, ketika batin diserang, itu terasanya sampai seumur hidup. Ada seorang ibu-ibu yang selalu mengomeli saya dan teman-teman, bahkan ketika saya tidak melakukan suatu kesalahan. Saya disuruh kerja, kerja, kerja! Padahal tangan saya cuma ada dua, yang isinya pekerjaan juga. Salah sedikit omel. Salah banyak semprot.

Belum lagi jika bertemu dia di shift malam ketika hujan. Rasanya saya ingin menangis mengingat momen itu. Shift malam ketika sekian orang sudah terlelap dalam selimut, saya datang ke sebuah pabrik untuk menyewakan tenaga dan batin saya agar diporak poranda.

Dibalik ketidakbersyukuran, diam-diam si penyakit hati menyusup ke dalam jantung saya. Saya lihat teman-teman saya di media sosial yang mulai kuliah dengan biaya penuh ditanggung orang tua. Beberapa dari mereka merantau. Di sana mereka terlihat senang-senang, dan banyak jalan-jalan. Ada yang mulai bercerita kalau kuliah susah. Atau dosennya menyebalkan. Ada juga yang mengaku terang-terangan kalau ia membolos saat jam perkuliahan.

Saya iri.

Ketika saya harus berdiri dengan kaki saya sendiri untuk kuliah, di antara mereka ada yang menyepelekan betapa emasnya kesempatan yang mereka miliki. Ketika mereka tengah malam tidur bahagia karena statusnya sebagai mahasiswa baru, saya sedang menembus kegelapan malam untuk terjaga merakit barang. Berangkat dan pulang dengan perasaan yang tidak karuan.

Saya menjadi menyesal, mengapa saya tidak pernah belajar dengan sungguh-sungguh? Mengapa saya tidak punya mimpi? Mengapa saya begitu fokus dengan hal-hal yang sifatnya hanya menghibur saya, namun tidak mendidik saya?

Sepertinya, di mulai dari sini, minat saya dengan Jepang menurun. Terhitung dari sini juga, saya menjadi agak jarang menonton anime.

Tapi… saya sadar. Iri bukanlah tindakan benar. Sebagai anak manja, saya sudah berusaha untuk tegar menghadapinya, hingga pada akhirnya tau, perjuangan saya bukanlah apa-apa.

===

Lima bulan bertahan, tiba-tiba saya diajak  bicara oleh leader di sebuah ruangan. Hanya berdua, dan sepertinya sedikit serius. Saya ditanya, apakah benar bisa bahasa Jepang? Lalu siapkah bila ditempatkan di mana saja?

Saya masih butuh uang, atau memang sangat butuh uang. Jadi walaupun tidak begitu betah, saya tetap berusaha bersikap sopan. Saya bilang, saya bisa bahasa Jepang sekadarnya, dan saya bersedia bila ditempatkan di mana pun, asalkan bekerja. Tidak lama beliau mengeluarkan beberapa soal psikotest dan saya disuruh mengisinya. Setelah selesai, saya kembali bekerja.

Beberapa hari kemudian saya diajak lagi bicara, dan kini oleh Manajer Produksi.

Tebak dia bilang apa?

Saya akan dimutasi, pindah bagian ke administrasi kaizen, masih satu lingkup di departemen General Affair, karena pemimpinnya sama.

Saya juga kaget, sekaligus senang. Saya tidak pernah menyangka, kalau saya bisa dimutasi dan masuk ke Departemen GA. Dan Senin depan, saya disuruh bicara dengan manajer departemen GA. Memang terlalu cepat. Saya juga tidak menyangka bisa masuk ke celah-celah seperti ini. Beberapa teman saya di tempat kerja bertanya-tanya, kenapa bisa? Padahal mungkin, saya bukan tipe orang yang cekatan dan gesit. Saya juga tidak begitu terlihat smart atau apalah. Tapi, kenyataan bilang begitu, dan saya hanya ditugaskan untuk menjalaninya.

Saya datang ke office pagi-pagi.

Manajer mendekati saya, dan menyerahkan selebaran kertas.

“Apa benar ini kamu yang menulis?”

Saya mengamati kertas itu, dan tertegun. Itu formulir karyawan yang saya isi sebelum interview di perusahaan ini.

Saya ingat, di dalamnya saya menulis kalau saya bisa berbahasa Jepang, namun pasif. Ketika interview, HRD memeriksa isi formulir saya dan menanyakan, “Nihon go ga dekimasu ka?” yang artinya Kamu bisa bahasa Jepang?

“Hai, sukoshi desu.” (Ya, sedikit)

“Seinengappi wa?” (Tanggal lahirnya?)

Saya jawab terbata-bata.

“Ya sudah, kamu tulis perkenalan kamu di sini pakai huruf jepang kalau bisa.”

Saya menulis semua perkenalan saya menggunakan huruf hiragana dan katakana. Entah benar atau salah, saya tulis semampu saya. Setelah saya selesai, saya menyerahkannya ke beliau. Ia mengamati sejenak lembaran itu, dan tersenyum sedikit.

“Apa yang kamu suka dari Jepang?” tanyanya.

“Anime, dan lagunya?”

“Ya sudah coba menyanyi.”

“Di sini? Sekarang?”

“Ya, kalau kamu belum menyanyi saya tidak membolehkan kamu keluar dari ruangan ini.”

Gila. Tidak ada lagu yang benar-benar saya hafal 100%. Kebanyakan saya ingat reffnya saja. Dan lagi, saya lebih suka lagu vocaloid yang temponya cepat. Masa iya saya harus menyanyikan lagu seperti itu? Belum lagi, masalah utama adalah suara saya yang tidak ada bagus-bagusnya.

Namun sepertinya, beliau tetap menunggu. Akhirnya sebisa saya, saya nyanyikan lagu Kiroro – Mirai E. Di pojokkan ruang. Dengan suara lantang. Hingga saya menjadi pusat perhatian.

“Iya pak, saya yang menulis.” sahut saya ke manajer GA.

“Kalau begitu, tulis ulang.”

Saya menulis ulang perkenalan saya. Manajer GA itu memerhatikan. Setelah selesai, dia menjelaskan kalau maksud saya dipanggil, adalah mengisi posisi sebagai admin kaizen (improvement). Saya akan terhubung dengan semua manager, dan beberapa pihak Jepang. Kedengaran keren.

Saya ditanya sekali lagi, mau atau tidak?

Tentu, saya mau berada di posisi yang lebih baik. Walaupun katanya akan tidak terlalu banyak ada lembur, dan tidak ada kenaikan gaji di posisi itu, saya hanya memikirkan kalau di situ bisa jadi peluang saya menjadi karyawan tetap, hingga beberapa tahun ke depan saya tidak pusing-pusing memiliki biaya kuliah dari mana.

Dengan begitu, saya bekerja selama empat tahun dengan posisi sekarang ini.

Allah Menjawab Doa Saya

Dengan begitu juga, pengalaman dan pelajaran yang saya rasakan semakin bertambah banyak. Awalnya saya merasa begitu dikucilkan, belum lagi di office hanya saya sendiri yang masih delapan belas tahun. Sisanya ibu-ibu dan bapak-bapak yang saya tidak mengerti cara bercandanya.Itu adalah masa sulit, karena saya tidak mampu menjadi diri saya sendiri. Setiap saya datang ke kantor, saya merasa menjadi orang lain yang pendiam, pemalu, terkucilkan. Belum lagi, godaan yang paling berat saat saya di office adalah pekerjaan yang monoton dan sedikit. Membuat saya bosan hingga tiada hari tanpa mengantuk.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya bisa beradaptasi dan mengendalikan diri. Frekuensi kuapan saya menurun. Saya sudah mulai bisa bercanda. Hingga kini, perusahaan saya bisa dibilang juga rumah saya.

Tahun depannya, saya menyiapkan berkas untuk kuliah. Dana sudah ada. Kendaraan, laptop, dan niat. Aneh juga ketika orang-orang kantor tahu saya kuliah, tidak ada yang mengomeli saya. Departemen saya bahkan mendukung, bagus untuk masa depan, katanya. Akhirnya, saya masuk sekolah tinggi bahasa asing jurusan jepang. Akhirnya, saya merasakan duduk di bangku kuliah.

Lama kelamaan juga banyak pekerjaan yang dijejalkan seutuhnya ke saya. Bahkan kini, pengendalian dokumen departemen juga dipangku oleh saya. Cerita berharga, dan pengalaman yang baik satu persatu saya rasakan, yang kebanyakan datang dari pekerjaan saya.

Bukan, bukan berarti lelah batin saya hilang. Kadang di sini, saya juga ditegur jika melakukan kesalahan. Bedanya, saya lebih diperlakukan seperti manusia, bukan binatang. Jadi, alasan untuk resign suatu kelak, ada. Tapi alasan untuk bertahan lebih lama lagi juga, ada.

Dan alasan serta kesabaran itu juga tidak sia-sia. Ya, saya hanya berpikir, jika saya resign waktu itu, dan tidak lebih bersyukur, maka kesempatan ke Jepang selama enam hari, untuk presentasi kaizen dan bertemu orang-orang dari berbagai negara tidak pernah saya rasakan.

Tanpa sadar, Allah rupanya sedang mengabulkan doa dan mimpi saya satu persatu. Di mulai dari kuliah, membahagiakan orang tua dengan sedikit rezeki yang saya punya, dan lainnya yang kecil-kecil tidak terhitung. Termasuk ke Jepang, tempat impian saya selama ini, walau saya sempat kehilangan beberapa persen minat saya ketika awal-awal masuk kuliah. (Saya capek belajar bahasa Jepang, jadi sumpek kali ya.. hehe)

Saya dulu pernah mengucap kepada teman-teman saya, kalau tujuh tahun lagi, mari kita bertemu di bawah Tokyo Tower, Jepang. Namun, rencana Allah begitu indah. Saya ke sana, sebelum tujuh tahun dari perjanjian. Empat tahun saja, sesudah kelulusan SMA. Ketika saya masih kuliah. Ketika saya dianggap bukan apa-apa oleh teman saya. Ketika saya, hanya dianggap buruh tak berharga oleh mereka anak-anak orang kaya.

Memang saya tidak pantas membanggakan hal itu, karena delapan puluh persen, mungkin itu hanya karena keberuntungan. Namun rasanya tetap bangga dan bahagia. Mengingat transportasi, biaya makan, hotel atau suatu apapun ditanggung oleh perusahaan, dan saya dapat kesempatan sebagus itu. Sebaik itu.

Terima kasih.. bagi orang-orang yang mendukung saya.

Terutama doa Ibu dan Bapak, yang tiada henti dan begitu tulusnya.

 

===

Prolog berakhir.

Chapter berikutnya akan saya tuliskan hari perhari.

Terima kasih sudah membaca prolog ini 🙂

 

 

Advertisements

11 thoughts on “Catatan Bulan Juni: Prolog 2

  1. Aww…. Strong girl! 👍💪
    Aku baca ini tuh ya mikir keras. Gw dulu kuliah ngapain aja yaa.. Haha.
    Tapi ya begitu. Kadang emang tuntutan hidup bikin kita strong. Datangny dari mana saja. Keluarga, orang terdekat, lingkungan kerja juga. Tapi kita jadi tahu arti bersyukur toh. Aku malah gak pernah belajar bhs jepang sama sekali. 😅😅

    Liked by 1 person

    1. Kaka kuliah jurusan apakah?
      Sebenarnya ini juga bukan apa-apa sih kak, karena pas aku masuk kuliah banyak yang ceritanya lebih random lagi. Sampe aku pernah nangis diceritain sama temenku tentang kehidupan dia… hahaha intinya yaa kalau melihat ke atas pasti dunia gemerlap aja yang kita lihat, padahal di bawah itu banyak yang lebih ngenes ceritanya..

      Yap bener, sometimes aku juga ngerasa ada untungnya aku lahir di keluarga yang biasa-biasa aja. Karena aku jadi tau rasa prihatin dan hidup gaenak.. hehehe

      Liked by 1 person

      1. Aku dulu kuliah jurusan Manajemen hehe.
        Iy belakangan ini tuh sering baca pengalaman hidup orang2 (termasuk kamu ) aku jadi belajara banyak hal.
        Ada loh kyk story telling gitu dia cerita dan bikin aku nangis sampai ketawa sendiri.. Haha.
        Oiya kalau ada film jepang yang inspiratif banget boleh dishare 😄

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s