Sampah

Kemarin, saya baru saja mem-private blog yang sudah saya buat dari SMA.

Tidak, sebenarnya saya hampir lupa kalau saya punya blog itu. Saya mengunjunginya ketika saya masih menyantumkan link blog pada salah satu media sosial yang saya punya.

Di tulisan-tulisan terakhir saya mengucapkan terima kasih, dan bilang akan berhenti menulis pada blog itu.  Saya tulis di situ bahwa saya mulai merasa hidup. Saya biarkan akun itu, tanpa menghapus atau mengubah isinya. Saya malahan berharap bahwa kelak akun itu terblokir sendiri, karena takkan pernah saya kunjungi lagi.

Tapi ternyata saya masih bisa log in kemarin.

Blog saya itu, menyimpan banyak cerita saya saat SMA. Kebanyakan lucu, sisanya tentang percintaan. Bukan, bukan maksud saya bercerita nostalgia akan mantan. Cinta SMA hanya bercandaan. Kejam rasanya bila saya bilang perasaan waktu itu tidak bermanfaat. Namun kini, sebagai wanita dalam proses kedewasaan saya harus mengakui kalau tangis atau tawa waktu itu tidak ada gunanya.

Tulisan-tulisan di blog itu menampar saya. Tentang dulu yang mencintai laki-laki dan disakiti sekaligus. Dulu yang memiliki mimpi dan merangkai janji konyol. Dulu semua perasaan baik suka maupun duka tumpah pada kata-kata. Intinya dulu, saya sempat sebahagia dan sesakit itu.

Padahal kini, dua orang dalam cerita itu bergerak berlawanan arah. Dan tulisan-tulisan itu cuma menjadi sampah yang mengandung tawa.

Tanpa pikir panjang, segera saya private blog itu. Dan kini tak ada yang bisa mengakses situs itu, kecuali saya sendiri. Dan jika saya mau.

—-

Sebegitu cepatnya dunia.

Dulu mencintai, kini menikah bersama orang lain. Dulu menangis tersedu, kini bertemu saja enggan.

Jauh dari segala tulisan ini, saya sedang dalam ketakutan. Takut kisah blog yang ditutup karena penulisnya mulai merangkai hidup yang baru, kembali terulang.

Akankah huruf-huruf di blog ini menghilang? Saya merasa sayang. Namun jika kehidupan di dunia nyata berkata yang berbeda, sajak-sajak di dunia maya juga hanya menjadi sampah tanpa daur ulang.

Pada akhirnya, kesedihan dan kebahagiaan itu hanya menjadi hal serupa: masa lalu yang menjijikan.

====

-Di Samping Hujan

Advertisements

13 thoughts on “Sampah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s