Catatan Bulan Juni: Prolog

Sebelum Anda mulai membaca catatan perjalanan ini, sebagai prolog, saya ingatkan bahwa tulisan ini akan mengandung sedikit-banyak keluh kesah dan curahan hati pribadi saya. Dari mulai saya bisa mendapatkan berbagai motivasi itu, kehilangan, lalu mendapatkannya kembali.

Kedengaran begitu hiperbola. Tapi kalau dipikir memang itulah yang terjadi.

Karena, bagaimanapun, perjalanan ini merupakan salah satu peristiwa terbesar yang pernah terjadi di kehidupan sederhana saya; perempuan yang biasa-biasa saja.

Tulisan ini juga akan panjang, dan mungkin akan terus bersambung sampai beberapa part ke depan. Mengingat aslinya saya begitu gemar bercerita tentang apapun. Saya akan menceritakan semua yang saya ingat, hari demi hari, waktu demi waktu, kejadian demi kejadian yang saya alami ketika saya menginjakkan kaki di negri orang.

Sekali lagi, terdengar biasa saja.

Tapi, mari, kita mulai.

===

Saya adalah..

Saya perempuan biasa yang tumbuh dari keluarga yang biasa. Bukan keluarga traveler, atau keluarga yang berkecukupan sehingga gemar berpergian.

Orang tua memiliki banyak andil dan aturan. Sebagai anak kecil yang penurut pada masanya, didikkan itu membuat karakter-anak rumahan-tertanam kuat pada jiwa. Saya juga asli penduduk kota. Bukan orang rantau yang tiap hari raya pulang ke tanah kampung, karena.. ya inilah kampung saya. Jadi, hidup saya memang beberapa hanya jengkal kota ini atau mungkin lebih sempit.

Kehadiran komputer dan internet mendukung saya untuk menjadi pribadi yang lebih tertutup lagi. Bahkan, pada masa awal pubertas, saya pernah mengalami fase tidak memiliki teman nyata dan mencintai teman maya saya.

Saya merasa lebih baik ketika duduk di depan komputer untuk mencari-cari info dan lagu tertentu ketimbang menyisir kota naik motor dengan teman-teman. Anda kira itu bagus? Tidak juga.

Internet yang hadir tanpa filter membuat saya mengetahui banyak hal berkapasitas besar. Besar sekali. Ada yang negatif, dan ada juga yang positif. Bagaimana tidak, dengan modal klik-klik saja, saya sudah sampai ke situs yang memuat informasi dari negri lain, yang bahkan baru kali pertama saya dengar namanya. Begitu lain-lain, termasuk hal-hal berbau Jepang.

===

Awal Saya Mengenal Jepang

Jauh sebelum internet dipasang di rumah, saya sudah mengenal Jepang waktu duduk di bangku SD.

Awal saya mengenal Jepang, mayoritas pasti akan menjawab hal yang sama; Kartun Minggu Pagi.

Doraemon, Detective Conan, Shincan, P-Man, Dragon Ball.. Awalnya saya tidak mengindahkan dari mana kartun-kartun itu berasal. Bagus, lucu, besok nonton lagi, sudah. Sebatas itu. Namun, tidak sampai teman saya mengenalkan serial animasi Naruto pada saya. Saya disuruh menonton, seru katanya. Dia beri tahu channel dan jam tayang, dengan begitu, saya berusaha memahami alur ceritanya.

Kisah seorang ninja.. batin saya. Wah, suka deh, lucu.

Hal ini berlanjut sampai saya duduk di bangku SMP. Satu dua anak saya kenali sebagai penyuka kartun seperti itu juga. Saya jadi ada teman untuk mengobrol.

Dari segi tokohnya, kerennya, lucunya. Soundtracknya juga enak didengar, dan keren kalau saya bisa menghafalnya. Secara lagu bahasa Jepang gitu, loh!

Internet mendukung pergerakkan saya. Mulai lah saya mencari semua soundtrack dari serial Naruto pada google. Banyak sekali ternyata, dan saya bisa memilih apa saja yang mau saya unduh. Hal itu merembet ke yang lain-lain. Maksud saya, tau sendiri kan bila kita mencari sesuatu di internet, akan muncul saran-saran yang lainnya?

Akhirnya saya memutuskan; pokoknya, semua lagu Jepang yang enak saya harus unduh.

Dengan gumaman itu pun, saya sadar, kalau saya telah menyukai (atau jatuh cinta?) pada hal-hal berbau Jepang, dari saya umur empat belas tahun.

===

Saya dan Cita-cita

Sebenarnya apa cita-cita saya?

Dulu, saya bercita-cita mainstream; jadi dokter. Entah dokter apa, dan dokter yang bagaimana. Yang jelas saya mau menolong untuk menyembuhkan orang sakit. Selebihnya, saya tidak tau ada berapa banyak profesi di negri ini, jadi saya pilih jawaban aman saja.

Tapi bagi seorang anak perempuan yang biasa-biasa saja, itu mimpi yang terlalu tinggi. Motivasi saya juga menguap seiring pertumbuhan. Anak biasa-biasa saja ini sadar akan kemampuan dan semangatnya yang standar. Pada akhirnya jadi dokter merupakan sebuah bercandaan tanpa tawa. Apalagi, ketika saya gagal masuk SMA Negri di kota.

Bukan, bukan saya bodoh. Saya apes.

Kalian tahu kan, praktik korupsi di Indonesia memang merajalela, bahkan hingga ke bagian pendidikan. Ketika saya SMP saya tidak ikut bimbingan belajar apapun dalam menghadapi ujian nasional. Tidak seperti teman-teman saya yang rutin pulang sekolah ke tempat les ternama. Selain memang orang tua saya tidak begitu banyak uang untuk hal seperti itu, saya juga tidak mau merepotkan mereka. Toh, teman saya yang kursus juga terlihat biasa-biasa saja, bahkan saya masih bisa melampauinya. Lebih dari itu, saya merasa kalau orang tua saya memercayai kemampuan yang saya miliki.

Hari semakin dekat dengan ujian nasional.

Rumor kunci jawaban membludak. Siapapun guru, bahkan yang hanya lewat di depan kelas sembilan selalu mampir dan memberi motivasi. Mereka juga memperingatkan, kalau ada SMS atau hal apapun mengenai kunci jawaban sebelum hari H, jangan dipercaya. Saya mengiyakan dalam hati.

Dan praktik itu benar-benar ada. Bukan, bukan SMS. Tapi entah dalam bentuk apa, katanya ada di belakang sekolah di ruang X. Sebelum mulai ujian, anak-anak selalu mampir ke sana. Ramai, katanya.

Tentu, karena saya lebih dihantui rasa takut, saya tidak akan berniat datang untuk melihat bahkan menyentuhnya. Dengan begitu, kerja keras pada lembar jawaban komputer murni hasil dari otak saya.

Masa hiatus yang lama, dan hasil ujian keluar. NEM saya standar, dan kalau dirata-ratakan cuma delapan. Saya lulus saja bersyukur. Tapi begitu melihat hasil teman-teman saya.. Saya sedikit heran.

Bagaimana mungkin si X yang terkenal sering membolos dan nakal mendapat nilai matematika sepuluh? Bagaimana mungkin si Y yang selalu bertanya pada saya mendapat nilai rata-rata delapan koma? Bagaimana mungkin, saya yang suka membantu dan menjelaskan pada mereka, mendapat nilai di bawah mereka?

Saya tidak gusar sebenarnya. Saya berusaha positif. Mungkin ketika ujian, usaha mereka memang lebih baik dari pada saya. Selama saya diterima di SMA yang saya inginkan, saya tidak perlu kawatir dan akan berjuang kembali di jenjang itu.

Tapi saya salah. Bagaimanapun angka-angka saya dan angka mereka mempengaruhi kehidupan saya. Nama saya tergeser hingga tak terlihat lagi pada daftar siswa baru di SMA itu. Saya kecewa.

Terutama ketika saya tau belakangan, bahwa peraih-peraih NEM yang tinggi-tinggi secara kebetulan belajar di tempat kursus yang sama. Belakangan, katanya mereka memang mendapat kunci jawaban dari tempat kursus itu. Dan yang mengikuti kunci jawaban di belakang sekolah, itu juga valid.

Saya terpuruk. Merasa dikhianati. Merasa semua nilai rapor saya, dan peringkat yang pernah saya raih sirna begitu saja ketika kelulusan ini. Tidak ada rasa bangga ketika saya jujur. Karena, saya hanya mau masuk sekolah negri itu. Satu-satunya sekolah negri di daerah saya.

Saya menangis sesunggukkan. Tentu sambil terkena makian orang tua. Memang waktu itu saya juga baru mengenal cinta monyet ke seorang laki-laki. Tapi itu menjadi bahan dominan untuk ibu saya menyemprot semuanya. Saya dibilang tidak fokus belajar karena cinta, ini dan itu.

“Sudahlah, mimpimu kandas jadi dokter!”

Ah saya baru ingat, dari situ mungkin bayang-bayang jadi juru selamat di sebuah rumah sakit putih nan bersih, hilang begitu saja.

===

Jadi, saya tidak punya cita-cita..

Saya sempat hidup tanpa cita-cita karena keterpurukkan itu, dengan masih mengedepankan hal-hal berbau Jepang yang saya kagumi. Mau bagaimana kedepannya? Sementara saya sudah kehilangan motivasi seputar profesi impian. Yang penting sekolah, nilai bagus, sudah. Memang selama hidup saya, saya kurang penekanan apa-apa.

Saya masuk ke sekolah SMA swasta berbasis islam.

Oh, saya ada satu cerita lagi!

Semasa SMP, saya berjilbab. Tapi itu pemaksaan. Saya ingin seperti itu, lho. Anak-anak di sinetron percintaan. Rok selutut dan rambut penuh gaya ketika datang ke sekolah, pasti terlihat imut. Tapi ibu menyuruh saya membeli rok SMP panjang. Dengan setengah hati, saya menurut, dan esoknya, saya berjilbab dengan bermodalkan kerudung panjang putih milik nenek saya.

Teman-teman tertawa. Saya malu.

Memang bukan karena hati, saya berjilbab kalau hanya ke sekolah. Main masih pakai celana pendek. Rambut berkibar-kibar kalau naik motor. Selama tiga tahun saya seperti itu.

Saya juga punya niat yang cukup bulat, kalau nanti masuk SMA, saya mau lepas lagi jilbab saya.

Nah, saya jadi berpikir-pikir, mungkin niat yang itu didengar langsung oleh Allah. Saya gagal masuk SMA negri, artinya saya gagal buka jilbab. Bagaimana tidak, SMA swasta yang dipilihkan ibu saya ini berbasis islam. Mewajibkan semua anak yang masuk ke sekolahnya seorang muslim. Melatih anaknya untuk bertadarus sebelum belajar. Sholat zuhur dan ashar berjamaah. Awalnya, saya masih berani lepas-pasang. Tapi menginjak kelas sebelas, terketuk pintu hati saya untuk menjaga jilbab saya hingga sampai saat ini, bahkan lebih rapat.

===

Tapi toh, mungkin memang karakter saya yang seperti ini. Saya mengulangi sifat pasrah saya di SMA. Belajar, nilai bagus, sudah. Mungkin karena saya belum punya cita-cita. Beberapa anak tentu sudah mulai bermimpi kemana mereka akan kuliah. Jurusan apa yang akan mereka ambil. Kursus apa yang mereka tempuh untuk ujian nasional dan tes seleksi perguruan tinggi negri. Tapi lagi-lagi, saya kan, tidak punya mimpi.

Sedikit cerita, saya memang lumayan di sekolah. Saya sadar saya cepat mengerti sebuah pelajaran, terutama Fisika dan Kimia, di mana teman-teman saya belum tahu cara menghitungnya. Saya merasa tertantang dengan soal-soal itu, di mana teman-teman saya sudah malas melakukannya. Tapi kalau dibilang saya anak yang rajin, jawabannya tidak juga.

Gambaran semakin jelas ketika lagi-lagi keluarga alasannya. Saya tidak miskin, juga tidak kaya. Tapi saya sadar, untuk kuliah membutuhkan uang yang sangat banyak. Orang tua terang-terangan bilang tidak mampu memberi kesanggupan. Saya sudah tau dari awal dan memang tidak berharap banyak. Saya sadar pilihan saya untuk masa depan cuma dua. Satu, kuliah dengan beasiswa. Dua, bekerja sebagai buruh pabrik seperti kakak-kakak saya.

Saya mencoba ambil pilihan satu. Memang agak terlambat, tapi bukan berarti saya tidak berusaha. Saya coba ikut seleksi STIS. (Saya pikir, kuliah dengan biaya aman selalu jatuh pada sekolah dinas pemerintahan. Karena bukan hanya beasiswa, kita juga diberi uang saku.) Saya mempelajari soal-soalnya. Sulit sekali, ternyata. Sampai ujian, saya cuma memberi seperempat harapan saya untuk lolos seleksi. Dan benar, memang tidak lolos. Kabarnya juga, teman saya yang dulu juara umum di SMP mengikuti seleksi STIS, dan sama-sama tidak lolos.

SNMPTN (seleksi masuk kuliah negri dengan rapor) mulai ramai dibicarakan. Niat saya sudah separuh. Karena, jika saya diterima, saya juga tidak tau biaya perkuliahannya dari mana. Sementara sekolah mewajibkan semua anaknya ikut SNMPTN, tidak boleh tidak.

Saya akhirnya memutuskan untuk ikut-ikut teman saya. Jurusan ilmu sosial, kalau tidak salah. Padahal saya jurusan IPA. Tentu tidak matching. Tapi saya juga memang berharap tidak diterima. Delapan puluh persen, kemungkinan saya akan bekerja. Saya jadi sadar, seharusnya orang tua saya menyekolahkan saya di SMK saja, bukan SMA.

Tapi, kalau ditanya, nanti ketika lulus mau kuliah apa? Saya akan jawab rasional. Tidak mungkin juga dengan gamblang menjawab akan bekerja. Saya menyahut, mungkin jurusan yang berbau fisika dan kimia. Tidak mungkin hal yang berbau IPS atau sastra. Saya merasa sayang masuk jurusan IPA, menghitung kecepatan motor dan perpindahan semut dalam soal fisika. Menghitung laju reaksi dan konsentrasi larutan pada pelajaran kimia.

Memang tidak mau sastra jepang? Kan kamu suka Jepang. 

Ah, saya jadi ingat. Sewaktu dulu tingkat kecintaan saya terhadap Jepang makin menjadi. Dari lagu yang terkenal sampai tidak terkenal saya punya. Saya juga mengenal beberapa anime. Belum lagi bahasa jepang saya di sekolah lumayan bagus.

Saya ikut banyak festival budaya, info terupdate tentang Jepang, anime yang bagus, film yang menarik… Teman-teman saya juga banyak yang suka. (Ini karena JKT48 juga baru-baru muncul. Kebanyakan dari mereka seorang lelaki, dan lebih mencintai perempuan-perempuan cantiknya saja.)

Sedikit cerita, saya dulu sampai membuat album foto di facebook, isinya foto-foto bagus yang ada di negri Jepang. Total seratus dua puluhan. Saya tulis captionnya dengan gamblang.

いつか日本へ行きます。

Suatu saat saya akan pergi ke Jepang.

Saya tidak punya niat sungguh-sungguh ketika menulis itu. Seperti asal mengucapkan kata dokter begitu ditanya apa cita-citamu. Itu terlalu tinggi, dan saya sadar sehingga saya hanya memposisikannya sebagai mimpi.

Jadi saya tidak akan meniatkan diri saya untuk bekerja juga dengan hal-hal yang berbau Jepang. Masak iya, sudah susah masuk jurusan IPA, tapi akhirnya ilmu hitung-hitungan itu menguar, dan saya jadi sastrawan?

Teman saya mengangguk-angguk mengerti, tidak berempati saya mengatakan semua itu hanya karena emosi, tanpa ada niat dan tekad.

===

Untuk ujian kali ini, saya juga ikut bimbingan belajar, dari guru sekolah. Beberapa tutornya adalah guru yang mengajar dan menyempatkan untuk datang ke tempat les begitu pelajaran usai. Tapi beberapa tutor yang lain, gurunya adalah alumni yang sedang kuliah. Tidak ada yang begitu menonjol, selain mengulang pelajaran yang sudah diberi tahu di sekolah. Bedanya, guru menjadi lebih lunak. Tidak ada tip dan trik untuk menghadapi ujian, bagaimana caranya menyelidiki sebuah soal dalam semenit.. Ya kalian tahu, tempat les ternama selalu menerapkan trik-trik seperti itu.

Hingga ujian nasional tiba, bisul saya hampir pecah. Satu ruangan terdiri dua puluh paket kode soal, yang artinya tiap anak tidak ada yang memiliki soal yang sama. Seharusnya, saya mampu. Saya percaya itu. Saya teringat kecurangan ujian saat saya SMP. Namun saya tetap tidak berniat untuk mencobanya kali ini. Lagian, paket ujian nasional yang begitu banyak pasti begitu memiliki banyak variasi kunci. Masih adakah jalur kecurangan-kecurangan itu? Saya ingin tahu.

Dan memang jalur kecurangan itu selalu ada. Hari kedua semua kelas tiga gempar. Teman saya diketahui membeli kunci jawaban dan membagikannya di ruangan dua. Bayang-bayang semasa SMP saya terulang, dan karena itu saya jadi marah. Saya marah kepada mereka, kenapa tidak membagi-baginya ke semua kelas tiga, termasuk saya? Kedengaran konyol dan begitu kekanakkan. Tapi kejadian saat saya SMP juga begitu membekas. Saya marah. Kenapa ada lagi kecurangan? Padahal hati saya sudah hampir begitu tenang.

Saya diam. Keesokannya, pagi-pagi sekali teman saya ada yang mengopikan kunci jawaban ke lembar kecil dan menyerahkannya ke saya. Saya sudah muak. Menyimpannya dalam kantong, dan memilih tidak menggunakannya. Kasihan ujian saya yang sebelumnya. Mereka begitu suci tanpa campur dari otak orang lain. Itu hasil otak saya.

Dengan begitu saya sadar, bisul saya sudah pecah dan bekasnya hilang seketika.

===

Saya bekerja

Lagi-lagi, ujian memberikan hasil yang random. Saya tertawa sumbang. Hasil saya tidak baik, tidak buruk. Matematika dan bahasa inggris dapat lima koma. Bahasa indonesia justru dapat sembilan. Saya pikir saya salah jurusan.

Teman-teman di bawah saya mendapatkan nilai yang lebih merata. Delapan tujuh delapan tujuh. Mungkin karena kunci jawaban yang mereka beli. Maaf, saya suudzon.

Tapi beberapa di antara mereka keren juga. Ada juga yang tidak membutuhkan kunci-kunci seperti itu, walapun nilainya pas. Mereka juga lolos SNMPTN. Mereka keren. Tidak menonjol, tapi sudah punya arahan mau melanjutkan masa depan yang seperti apa.

Dengan nilai segitu, saya mendapat total nilai tertinggi dan menjadi siswa terbaik. Saya maju ke podium, dan bersalaman dengan kepala sekolah. Tidak begitu membanggakan, melihat sekolah saya hanya ada total enam puluh empat orang kelas dua belas. Mungkin memang standarnya yang rendah. Lagipula, saya juga tidak akan kuliah. Hari itu saya lulus, dan saya sudah memutuskan untuk bekerja.

“Kemana si juara satu? Kuliah di tempat favoritkah?”

“Dia bekerja.”

Terdengar miris. Tapi saya tidak punya pilihan.

===

Segitu dulu. Saya tidak menyangka akan begitu panjang.

Tapi tulisan selanjutnya akan masih prolog.

Maaf saya menceritakan hal ini, bagaimanapun saya suka bercerita. Dan ini adalah hal yang dari dulu ingin saya sampaikan.

Perjalanan hidup saya, yang biasa-biasa saja.

-Di Samping Hujan

Advertisements

5 thoughts on “Catatan Bulan Juni: Prolog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s