Saya Seekor Kucing

Kalau saya seorang kucing kampung sakit yang buruk rupa, berkeliaran di jalanan, butuh makan dengan badan yang demam namun kotor dan bau,

Adakah yang mau menolong saya?

Kebanyakan akan jijik.

Ya, jijik.

===

Saya adalah kucing kampung.

Saya tau, rupa saya tidak begitu menggemaskan. Mau diberi makan sebanyak apapun, memang tubuh saya cenderung kurus. Dimandikan beberapa kalipun, rambut saya tidak akan selebat persia. Muka saya biasa-biasa saja. Tulang wajah cenderung tinggi dan kaku. Mata tidak begitu bulat. Hidung saya tinggi, namun itu bukan nilaiΒ plus. Saya tidak manis. Dan tidak lucu. Bahkan dari mereka kebanyakan menghindari keberadaan saya.

Hal itu semakin menjadi-jadi ketika saya berkelana lalu mendapat kotor pada rambut-rambut ini akibat berkelahi. Mereka semakin memandang saya hewan liar. Tidak tau adab. Galak. Maling. Saya diusir. Dilukai secara fisik. Kadang disiram. Paling parah dilempar batu.

Sebelumnya, saya berbalik minta maaf, jika kesan saya seperti itu di mata kalian. Saya memang kurang dididik untuk bersopan santun ketika meminta makanan. Atau ketika bertengkar dengan kucing lokal lain yang menyebabkan orang susah tidur di malam hari. Dunia kejam ini mengajarkan kami untuk bertahan dari lapar dan luka. Dunia ini melatih kami, kucing yang terlantar, untuk bisa hidup di hari esok. Bukan untuk bermanja-manja di atas kasur empuk nan hangat. Atau menunggu diberikan susu hangat bermerk pada mangkuk.

Kami bisa berubah. Kami bisa menjadi kucing yang penuh sopan santun. Tertib saat makan dan buang hajat. Tidak melukai manusia ketika diusap atau diajak bercanda. Kami bisa melakukan itu..

Asalkan anda mau membantu kami..

===

Kami berlima dilahirkan di tempat umum. Maksud saya, bisa di pinggir jalan, di semak-semak, atau di sela-sela tumpukkan rongsok.

Kemudian sehari dua hari ibu kami memindah-mindah kami dengan menggigit leher. Kami juga tidak mengerti kenapa ibu suka berpindah-pindah. Padahal hal itu merepotkan. Pindah juga bukan berarti kami mendapatkan tempat yang lebih baik. Kadang lebih kumuh. Lebih sempit. Atau bisa juga lebih beresiko terhadap ketinggian, jalan raya, dan sebagainya yang mengancam jiwa kami.

Sehari-hari masih balita, ibu kami berkelana mencari makan. Kadang cepat pulang. Kadang seharian tidak pulang. Padahal mungkin sama seperti manusia. Pasca melahirkan, ibu tidak boleh terlalu letih.

Namun lagi-lagi, ibu mencontohkan kami untuk bisa hidup di hari esok, bukan menunggu keajaiban datang. Ia butuh makan, agar susunya bisa kami telan. Bukan semata-mata rasa laparnya sampai ke ulu hati, lalu membuat perutnya kempes dan gombyor.

(Mungkin, ibu juga iba terhadap kami yang tak bisa mencari makan sendiri. Pandangan masih buram, jalan pun gemetaran.)

Hari-hari berlalu dan kami sudah boleh menelan makanan padat. Ibu tetap berkelana, bedanya, kini makanan dibawa pulang untuk dimakan ramai-ramai. Ia tiba dengan ikan yang dagingnya sudah hampir tak terlihat, menyisakan tulang-tulang tajam yang menyeramkan. Kadang, ibu yang makan tulang-tulang itu. Kadang, ibu diam saja melihat anak-anaknya yang sedang makan.

Suatu ketika, saya tatap wajah ibu sepulang berkelana. Rupanya ia tak hanya membawa makanan. Namun juga luka di dahi seperti terkena benda yang menyakitkan. Hari demi hari berlalu. Semakin sering semakin aku sadar.. ketika ibu membawa makanan baru.. ia juga membawa luka baru di tubuhnya..

Kemudian.. Satu persatu kejadian kejam menghampiri keluarga kami. Kakak adik saya yang tak mampu bertahan.. mati.

Sedih, namun itu seperti seleksi alam.

Ada yang sakit, ada yang terlindas kendaraan, ada yang dimakan binatang yang lebih besar.

Ibu sedih, namun tidak bisa menangis. Pada akhirnya, dari kelima buah hati, hanya saya yang tersisa. Menemani ibu dari rumah ke rumah untuk mengeong minta makanan. Atau diam-diam mencuri sepotong daging sisa makan anak-anak kucing persia di sebuah komplek elit ketika penjaganya lengah.

Kebersamaan itu tidak sampai lebih lama ketika ibu berahi dan niat kawin lagi. Ia jarang pulang.. dan entah bersama siapa… hingga saya hidup sendiri. Sebatang kara, karena tak pernah mengenal ayah sejak lahir.

Perlahan, dunia semakin kejam menurut saya.

Saya tumbuh dari sisa-sisa makanan di sampah. Boro-boro orang yang melihat merasa simpati. Dekat pun enggan, menganggap saya adalah virus mematikan yang mengancam jiwa..

Lebih-lebih ketika satu dua jamur tumbuh di atas kuping saya. Mereka disebut scabies, bentuknya seperti kutil. Sebenarnya bisa diobati, tapi saya tidak tau adakah yang mau memberikan seekor kucing tak jelas sebuah suntikan anti penyakit kulit.

Tapi.. biar jamur ini tumbuh. Saya tidak terlalu memikirkannya. Saya besar di jalanan, dengan lagi-lagi, prinsip agar bisa bertahan hingga esok hari. Yang penting, besok ada makanan. Entah di dapur sebuah rumah atau di sebuah bak sampah, yang penting perut saya terisi.

Lamat laun, bulan-bulan berlalu. Tuhan mengizinkan hingga kini saya tumbuh besar. Namun, perbedaan mencolok kian terasa di dalam batin saya..

Saya seringkali menatap dari luar rumah, kucing ras yang dielus dagunya sementara saya ditendang perutnya. Mereka bilang saya pengaruh buruk. Saya takut menularkan virus. Saya dibilang sialan dan umpatan lainnya. Ya tau, saya memang gudik. Tapi..

Sedih.. bukan main..

Saya menangis kesakitan tapi hanya dalam hati saja. Atau diam mengatur nafas dibalik pepohonan..

Padahal jika persia itu dibiarkan di dunia seperti kami.. mereka juga beresiko penuh virus dan bakat menjadi maling.. Gudik, atau cacingan..

Saya berpikir demikian dengan otak dangkal yang saya milikki.

===

Hari demi hari berlalu.

Suatu ketika, saya tak enak badan. Bukan karenaΒ scabies,Β karena hal itu sudah biasa saya rasakan. Virus bisa menyerang kucing kecil maupun dewasa, tergantung daya tahan tubuhnya. Dan sepertinya, ada virus yang sedang menyerang saya. Saya pilek, namun tidak banyak mengeluarkan ingus. Badan saya demam dan enggan untuk makan. Kadang, napas tersengal dan terasa berat. Di dalam dada, seperti ada banyak sekali cairan yang wajib dibuang. Karena, pada kesempatan tertentu, saya seperti merasa akan tenggelam karena kesulitan bernapas. Namun kalau dipaksakan, saya masih cukup bisa berlari untuk mengejar tikus kecil atau tukang ayam potong dengan sepedanya.

Semakin hari tubuh saya semakin lemah. Saya tidak bisa mencari makan karena tidak punya tenaga, dan memang nafsu makan saya turun drastis. Saya tidak bisa apa-apa selain terkulai lemas pada permukaan yang sejuk, seperti kebun kosong atau di bawah pohon. Sebenarnya saya bingung, apa yang terjadi. Tapi, sangat mungkin bagi saya, kucing liar yang senang bermain di sampah dan tidak pernah divaksin untuk terkena virus sembarangan.

Semakin hari, napas saya semakin menjadi-jadi. Rasanya pendek dan terus berkejaran dengan sesuatu entah apa. Ketika seperti ini, saya ingat ibu yang selalu menjilati anaknya saat masih kecil. Dia dimana, ya? Saya rindu berlindung di balik lengan ibu. Mengeong dengan manja, lalu ia balas menjilati tubuh saya, memandikan saya.

Saya membaringkan tubuh lemah saya di bawah pepohonan rindang, yang tanahnya berlapis rumput liar tinggi-tinggi. Napas saya atur sedemikian rupa agar saya bisa bertahan. Takkan ada yang melihat saya seperti ini, biar. Saya sengaja menyendiri. Jangan sampai lawan berkelahi saya melihat saya dalam kondisi memprihatinkan.

Rasanya, memori dalam otak saya terputar begitu saja. Saya mengingat wajah-wajah yang pernah menendang saya. Melempari saya batu. melemparkan tubuh saya dari ketinggian. Menyiram saya dengan air comberan. Namun di sela-sela itu, saya juga mengingat wajah orang-orang yang mengelus saya. Memberi saya makan hingga kenyang. Membahasakan dirinya dengan ramah dan tersenyum penuh kasih sayang..

Saya mengingat mereka semua…

Pandangan saya mulai samar. Rasanya, napas tidak bisa diatur-atur lagi. Saya ingin pulang..

Diri saya seperti diambang suatu dimensi yang berbeda.

Masihkah ada harapan?

Kalau saya dirawat seseorang, seperti persia yang bertubuh gempal di komplek perumahan elit itu, akankah saya terhindar dari penyakit ini?

“Nak..”

Saya membuka mata saya perlahan.

Dia…. ibu.. dan.. kakak-adik saya… berkerumun mendekati saya..

“Ayo kita pulang.. Allah menunggu..”

Saya, terpejam…

===

PS:

Saya punya banyak kucing kampung di rumah. Sebenarnya kami hanya memberi makan dan sekali-kali memandikannya. Ketika mereka sakit, penampakannya sama seperti manusia. Saya dan keluarga tidak tega, sehingga biarpun kucing kampung, ketika penyakitnya memburuk kami segera membawanya ke dokter hewan.

Banyaknya kucing (kira-kira sebelas) menjadikan saya dan keluarga agak lalai. Saya kerja-kuliah jadi tidak punya perhatian fokus. Adik saya sibuk PKL. Ibu dan Ayah belakangan suka sakit-sakitan. Hingga akhirnya, sebut saja Aldi, kucing putih polos divonis terkena penyakit VIP (ciri-cirinya sama seperti kucing di atas, napasnya sesak dan banyak cairan di paru). Dan katanya, penyakit VIP tidak ada obatnya sehingga dapat dipastikan kalau penderita tidak akan selamat.

Sabtu, 12 Mei 2018, dia ikut kakak adik dan sepupu-sepupunya yang telah mendahuluinya. (Ada yang tertabrak motor karena berlarian di depan rumah, dan juga sakit tiba-tiba namun terlambat diketahui)

Mereka, berpulang ke Allah.

 

 

Advertisements

12 thoughts on “Saya Seekor Kucing

  1. Yang jarakny setengah perjalanan ke kantor.. Sedih banget kalo lihat mereka udah parah. Gak ngerti rasanya tuh bakal ngelakuin apapun biar mereka tetep sehat. Tetep bisa survive.
    Tapi kalau Allah berkehendak lain yah apalah daya. 😒😒
    Tapi kalau ingat Di luar sana masih ada manusia yang hatinya “udah kayak malaikat” yang ngurus lebih dari 50 an kucing. Garagara sering rescue. Aku tuh jadi ngerasa “nggak sendiri” πŸ˜…
    Tapi sekarang perlahan udh mulai di steril kucing2nya..πŸ˜…

    Liked by 2 people

    1. Bener kak.. jadi dulu induk yang sekarang itu kucing kampung yg ngeong2 di jendela rumah aku. Minta bukain pintu. Pas dibukain dia ga minta makanan malah ngusel di pangkuan (kayaknya baru kehilangan ibunya 😒) akhirnya kita mutusin rawat. Nah salahnya adalah… kita ga putusin steril jd terus beranak pinak. Kadanh geregetan tp lucu-lucu banget mereka tuu (menurutku, sekalipun mereka kucing kampung)
      Sampe sekarang banyak yang mati, mungkin sekitar 7 atau 6.

      Siyaapp kaka juga semangat ngurusnyaa~ dia juga butuh hidup kayak kitaa~ :’|

      Liked by 1 person

      1. Samaaa.. Jadi mungkin karena asalnya stray jadinya banyak penyakit. Induk klo udh kena flu pas hamil biasanya pasti nular. Aku dari anakny 7 yg survive tinggal 3. Trus pas kemaren meninggal yang si kumis itu. Jadi sekarang tinggal 2. Bulan depan mau steril. Ehiya kmu tinggal dmn? Kadang di pet smile duren sawit suka ada steril gratis. Buat jantan tapi.
        Kalo aku kemaren pake yg subsidi. Jadi setengh dari hrga normal.
        Lumayan klo banyak kan. πŸ˜…πŸ˜…

        Liked by 1 person

      2. Iya bener..
        Aku induknya udh sampe punya cucu dan kebanyakan cewek kak, jadi kalo mo steril lumayan juga :’)
        Aku tinggal di bekasi.. sama ini juga cari subsidi kak. Cari info kaya gitu dimana ya?

        Liked by 1 person

      1. Ahahaha, dari dulu aku nggak pede sama tulisan sendiri, alasan nulis pake Bahasa Inggris biar buat latian aja sama biar audiences range nya lebih besar jadi kemungkinan buat dapet input nya lebih banyak 😁

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s