Terkaan

Beberapa bulan yang lalu, time line jejaring sosial mediaku dipenuhi dengan tulisan seseorang secara non periodik, namun frekuensinya di luar kendali. Maksudku, kadang ia bisa menerbitkan dua tulisan dalam sehari. Isinya pun lumayan panjang. Tiap tulisan bisa memiliki 10 paragraf atau lebih. Kebanyakan ia menceritakan seseorang yang ia sebut ‘teman’. Namun di situ ada rindu. Ku pikir juga ada cinta. Rasa terima kasih, harapan, dan permintaan maaf tak juga ketinggalan.

Ketika orang lain sangat bersemangat untuk menulis, aku hanya menjadi pribadi yang tidak produktif. Itu suatu hal yang bertolak belakang dengan keinginan dan mimpi-mimpiku. Namun, biar. Aku sedang menikmati masa hibernasiku yang panjang.

Dan belakangan ini, baru aku sadari seseorang itu kini tak terlihat lagi.
Tulisannya berhenti. Ia menerbitkan kata-katanya yang terakhir, sekitar sebulan lalu. Isinya ucapan terima kasih karena ‘seseorang’ dalam tulisannya itu membahagiakan dirinya.

Aku bertanya-tanya… ya.. seseorang yang biasa kita kenal melakukan hal ini dan itu, kini berhenti melakukan rutinitasnya dan menghilang, tentu menjadi bahan untuk kita menerka-nerka.

===
Sebenarnya kalau boleh ku tebak, mungkin beberapa bulan yang lalu ia sedang jatuh cinta. Fase ini pernah aku alami. Dan kala itu, baik aku maupun dia sama-sama memuntahkan isi hati dan kepala ke dalam sebuah tulisan. Aku tidak bisa menilai bahwa semua penulis itu penakut, dan jika aku bilang seperti itu, aku telah melakukan blunder hingga pantas untuk dihukum. Tapi, itulah aku. Aku jatuh cinta, dan takut tatap mata. Maka aku diam, dan mulai menulis dengan penuh harapan agar kelak muntahanku itu dapat kau telan. Bukankah jatuh cinta membuat seseorang berubah? Membuat seseorang seperti dikendalikan? Ya, memang. Makanya kadang-kadang aku mengumpat sebal karena cinta, lalu dengan kekanakkan kembali lagi sebab membutuhkan.

Kini aku jarang menulis, boleh jadi aku sudah berani menyampaikan sesuatuku itu. Begitupun seseorang pada time line ku. Ia sudah bisa menyampaikan kata-katanya sendiri. Tanpa media tulis. Tanpa sasarannya perlu repot membuka jejaring media sosialnya untuk memahaminya. Ia berhenti. Begitu juga aku. Kami sudah mampu, namun di dalam itu juga terikat. Pada sasarannya itu. Pada dunia ini. Pada alam. Dan tetek bengeknya.

Coba nanti, jika ia muncul lagi, ku harap bukan karena kondisi hatinya yang terhempas ke kerak bumi. Ku doakan agar ia mampu bilang kalau ia sakit, dan punya pilihan. Bukan mengumpat dalam kata-kata semu. Atau galau hingga sepuluh paragraf.

Ku semogakan bahwa kelak ia bukan menulis untuk patah hati, seperti aku kini.

(Btw, ada yang nyariin aku gak sih? :D)

===
-Di Samping Hujan

Advertisements

2 thoughts on “Terkaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s