Bahagia Kita Oleh Siapa?

​Bahagia kita oleh siapa?

Aku ingin kembali ke masa kecil.

Dimana tubuhku ringan berlari, dan jiwaku terbebas pergi. Tanggung jawabku masih sedikit, sisanya hak yang berlimpah ruah. Dosa-dosa kecil diampuni. Ketidaksempurnaan bukan masalah. Boleh menangis di mana saja, dan boleh tertawa kapan saja. Tidak pernah sendirian, dan begitu banyak pembelaan. Ribu keegoisan dimaafkan, dan satu kebaikan dijunjung pada tetangga. Boleh membuat malu ibu-bapak. Boleh berpikir aneh karena selalu ada yang meluruskan. Dan yang terutama.. tidak ada rasa sakit hati, atau menangis karena kecewa…..

Aku ingin kembali ke masa kecil, yang tidak tahu benar beratnya hidup…

Lamunku kadang-kadang.

Ya, ketika terhimpit oleh desakkan problematika hidup, dengan payahnya pikiranku melintasi hasrat untuk kembali ke masa lalu. Masa dimana ibu-bapak lah yang memikirkan kebahagiaanku, menyeka tangis karena ulahku sendiri, dan meminta maaf pada orang-orang atas masalah yang ku buat.

Mungkin tidak hanya aku yang begitu. Mungkin kamu yang membaca ini juga sama.

Demikian aku berkesimpulan, melihat berbagai macam keluhan pada media sosial. Mereka sama sepertiku, rupanya. Kadang menyerah begitu saja, dan mengandaikan zaman yang terlewat mengulang waktunya. Terutama jika masih mengenyam pendidikan. Pusing karena tugas. Pusing karena orang-orang yang berbeda jalan pikiran. Pusing dengan situasi kondisi.

Lalu, pertanyaan-pertanyaan berat mulai berkeliling memberondong diri, seperti, apasih bahagiaku jika aku selesai menghadapi setelah ini? Setelah aku dewasa nanti?

===

Iyap. 

Belum lama, aku juga berpikir demikian.

Dimana letak bahagiaku saat ini? Menjadi dewasa dengan semua serba harus diurus sendiri. Beban di pundak bertambah, atau mungkin sepenuhnya telah ditanggung kepadaku. Tak bisa lagi mengumpat di balik punggung ibu-bapak. 

Jika dikeluhkan.. maka ada banyak sekali cerita-cerita yang menjadikan tua sebagai mimpi buruk.

Tapi percayalah, hal itu tidak akan selamanya dirasakan jika kita mau mengubah pola pikir yang ada, dan melihat dari sisi yang berbeda.

Kelak kamu akan merasakan bagaimana bahagianya melihat ibu dibelikan kerudung baru, dengan hasil jerih payahmu. Kamu akan bahagia diandalkan oleh bapak untuk mencari sesuatu lewat internet. Kamu akan bahagia ketika teman-temanmu memuji masakanーyang hanya kamu yang bisa membuatnya. Kamu akan bahagia ketika membantu sedikit pinjaman uang kepada temanmu yang membutuhkan. Kamu akan bahagia ketika merasa berguna karena bisa menyalakan kendaraan temanmu yang mogok. Kamu akan merasa bahagia dan berharga, ketika orang-orang di sekitar mengandalkanmu… Bahagia yang berbeda ketika dulu dibelikan es krim, kini gantian kamu yang membelikan keponakan-keponakanmu. Dulu dibuat tertawa, kini gantian kamu yang menjadi keceriaan bagi sahabat-sahabatmu. Dulu mencari tempat mengadu, kini menjadi langit petang yang luas, siap menampung keluh kesah yang membutuhkanmu. Dulu minta dicintai.. kini siap mencintai..

Kamu.. akan bahagia, jika paham bahwa dunia ini tidak melulu tentang kepuasan pribadimu..

Kamu akan merasa berarti.. ketika senyum terima kasih mereka memeluk sesuatu dalam dadamu..

Hingga pada akhirnya, 

Tua bukan berarti tak bahagia..

Masa lalu dan kini.. tergantung pada sejauh mana wilayah yang kau sisiri..

.

.

Lalu, bahagia kita oleh siapa?

.

.

Bahagia olehmu sendiri, sayang. 

===

-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s