Dongeng di Pantri

“Diundang gak, Teh?” kataku kepada Teh Minah— seorang office girl di kantorku—sambil menuang dua sendok krimer ke dalam kopiku.

“Diundang apa, Ul?”

“Ke nikahannya Mas Abi, di Bandung.”

“Heee, gua mah kaga tau sama sekali, kapan emang?” ia agak terkejut. Mungkin bukan karena ia tidak diundang, tapi karena berita itu baru ia dengar, dan tiba-tiba sekali.

“Sabtu besok, Teh.” Aku lalu menyesap kopiku. Agak kemanisan, kebanyakan gula.

“Hooo, gua kaga sih.” Ia melanjut mengelap cangkir-cangkir bersih yang sudah selesai ditiriskan.

Aku diam, “Oh, mungkin sibuk kali ya, Teh.. soalnya kan di HRD baru ada yang resign, jadi tugasnya ke dia semua.” Aku menebak-nebak sambil menyandarkan bokong ke kitchen set pantri. “Jadi dia banyak lupa..”

“Hehe.. iya kali ya…” ia nyengir. “Tapi dulu juga gua nikah gak ada yang tau sih orang-orang sini..”

“Lah emang Teteh nikah tahun berapa?” tanyaku.

“2008”

“Udah lama..”

“Iya hehe…” ia tersenyum lagi. Teh Minah ini orangnya emang senyum terus sih, asli. Aku juga tidak pernah melihat atau mendengar dia kalau lagi bete. Ramah banget. Dan polos.

Kembali ke topik, “Terus kok bisa gak ada yang tau, Teh?” tanyaku.

“Iya soalnya dulu gua tuh nikah pas lagi nganggur.” Katanya sambil memutar cangkir pada tangan kirinya, sementara yang satunya mengelap dengan handuk kecil. Asik nih, dia mulai dongeng, batinku.

“Jadi dulu.. gua tuh kerja di sini tapi pake yayasan yang beda. Akhirnya yayasan gua bangkrut dan gua gak kerja di sini lagi dong..

“Gua diem di rumah.. Gua juga bingung mau ngapain juga, yaudah pas ada yang lamar, gua terima aja.. yang jadi suami gua sekarang.. Tapi dulu pas nikah sama gua, dia nganggur juga loh..”

Ia diam menggantung ceritanya, sementara aku seperti orang bloon yang tidak mampu menangkap bahasa lisan dengan cepat..

“Loh.. kok?” akhirnya cuma kata itu yang keluar dari mulutku.

“Iya, waktu itu dia juga nganggur, gak kerja. Gua juga gak kerja, tapi kita menikah.” Dia tertawa kecil.

Aku masih tidak mengerti. Di antara beribu banyak wanita yang ingin mahar pernikahan dengan angka rupiah yang cantik, atau bahkan benda-benda yang bernilai fantastis, Teh Minah menerima laki-laki yang pengangguran sebagai imamnya?! 2008 bukan termasuk ke jaman dulu. Wanita sudah kenal emansipasi, dimana ia berhak memilih pasangan berdasarkan bobot, bibit, bebet. Paling tidak, sumber penghasilannya jelas, lah. Tapi ini tidak. Apalagi begitu ku tanya, ia menerima lamaran bukan karena dijodohkan. Ia juga sempat pacaran sekitar tiga bulan.

Aku membuka mulut, hendak ingin berkata, “Kok mau sih, Teh..?!” tapi ku urungkan karena takut menyakiti hatinya.

“Kok bisa… hehe..” aku canggung, bingung ingin berkata apa. Namun seketika itu juga aku ingat, kalau Teh Minah pernah bercerita bahwa suaminya kini bekerja di pabrik otomotif. Suaminya itu juga bekerja sebagai office boy, hanya saja posisinya adalah supervisor.

“Tapi sekarang juga udah kerja kan Teh, Teteh juga sama..” aku menyambung omonganku.

“Iya Alhamdulillahnya gitu..” Sahut Teh Minah.

Ku ingat-ingat lagi, “Bahkan Teteh juga sudah punya anak kan, sudah sekolah juga kelas dua SD..” tambahku.

“Iya.. hehe..”

“Terus-terus cerita bisa dapet kerjanya gimana?”

“Iya dulu gua juga sempet susah, Ul.. perekonomian kacau. Gua bener-bener hidup asal ketemu makan juga udah syukur.. Gua pun hampir bercerai..

“Dengan kondisi yang kaya gitu, suami gua malah balik ke keluarganya. Gua udah bingung, dan akhirnya gua kasih pilihan, mau cerai atau gimana? Dia bilang gakmau. Dan gua suruh dia balik..

“Akhirnya dia balik.. dan pelan-pelan kita dapet rejeki..

“Dia dapet kerja di Astra Honda Motor, tapi kerjanya kayak gua dengan jabatan supervisor. Yang kayak gua ceritain waktu dulu..

“Dan gua sendiri dikasih tau temen, soal yayasan baru yang bisa rekrut gua kerja di umur yang gak lagi terlalu muda.. Tapi alhamdulillah gua di terima, dan akhirnya, siapa sangka gua kerja lagi di sini…”

Aku speechless. Ini orang kelewat sabar. Sejenak ku bayangkan betapa sedih ada di posisinya kala ditinggal suami waktu itu. Betapa ingin marah, kecewa, dan lain-lain. Mungkin aku tidak akan sempat memberikan pilihan jika jadi beliau. Langsung saja ku minta cerai. Cari kerjaan lain. Pembantu atau apapun. Hidup sendiri. Atau bahkan cari suami baru.

Tapi tunggu.

Barangkali sebenarnya tidak semudah itu. Jika dia tidak bersama sampai sekarang, siapa yang menjamin kalau kini ia memiliki anak yang ia ceritakan setiap hari pada orang-orang? Toh kebahagiaan hidup bukan melulu tentang materi. Hati  yang penuh, walaupun hidup dengan kesederhanaan, sudah sangat cukup untuk membuat kita tertawa. Belum lagi, hati yang penuh cinta takkan bisa memutuskan sesuatu secara logis. Mungkin Teh Minah bisa hidup cukup untuk diri sendiri, namun tidak sebahagia bila berdua.

Aku diam lagi, mengingat karena awal pernikahannya yang memang tidak memiliki apapun. Ku pikir cerita-cerita akan sepasang pasutri miskin dan kini menjadi kaya raya hanya ada di dalam novel saja. Dan kini, ku dengar ceritanya langsung, aku bisa menyimpulkan bahwa menikah memang benar menambah rejeki. Tidak menjadi kaya raya. Tapi punya penghasilan sendiri, dua-duanya bekerja, memiliki anak.. Itu nyata. Masyaallah.

Bukan, bukan berarti aku mempromosikan nikah muda tanpa persiapan. Bahkan aku sarankan kalian tidak meniru Teh Minah xD Hal itu sangat beresiko, apalagi jika kalian tidak sesabar beliau. Namun ini bukti nyata, bahwa rejeki akan ada untuk orang yang mau berusaha dan sabar. Mungkin sebagian banyak dari kita sudah keburu takut menghadapi masa depan, ini dan itu (termasuk aku juga hehe). Jadilah kita menunggu siap secara materi, lahir, dan batin.

Tapi,

Jika menunggu siap, maka tidak akan pernah ada yang benar-benar siap. Meninggalkan keluarga tercinta dan memulai hidup baru bersama orang yang tidak dikenal. Menafkahi dan melayani. Saling terbuka dan harus menerima karakter masing-masing.. Wah, jika dibicarakan satu persatu, maka takkan pernah tuntas keraguanmu, dan alasanmu untuk hidup sendirian jadi ada seribu..! Hehe.. Apalagi godaan menjelang pernikahan, katanya ada buanyaaaakkk.. Yang tiba-tiba kandas, yang tiba-tiba menikah dengan orang lain… beribu-ribu kisah yang seperti itu.. ada… hehe..

Terus, bagaimana?

Kembali lagi mungkin pada niat, ya..

Jika menikah niatnya ibadah, untuk menyempurnakan agama, separuh darimu dan darinya.. insyaallah..

===

“Jadi Teh, ternyata rejeki setelah menikah bener-bener nyata ya, masyaallah..” ungkapku kagum

“Iya alhamdulillahnya gitu, Ul..”

Aku tersenyum, lalu menenggak habis kopiku yang sudah tidak begitu hangat. Ku cuci sebentar bekas cangkirku, untuk membantu meringan-ringankan beban Teh Minah.

“Makasih ya Teh.. Aku masuk dulu, udah kelamaan nih.. hehe..”

“Iyaaa… sok Ul..” katanya senyum.

===

Rumah tangga itu berat.

Makanya jangan sendirian.

Berdua saja.

===

Kisah nyata, dan bukan dongeng. Nama disamarkan.

-Di Samping Hujan

Advertisements

5 thoughts on “Dongeng di Pantri

  1. Aull..
    Finally i know your nick name.haha
    Blogwalking malem2 dan sampailah di sini.
    Huhu..😢😢
    Aku terharu ih..
    Karena fase memilih calon imam itu ndak mudah ya.
    Terus bener2 deh kita itu banyak takutnya.
    Paling takut kalo gimana ya kalau orang tua gak setuju tapi kita udh terlanjur berjalan dan berjuang buat dia? Padahal menurut kita dia udh yg terbaik di antara yang lain.
    Tapi pas baca ini aku tuh jadi mikir kan semua sudah di atur Allah ya.
    Jadi harusnya ya gak usah takut kan.

    Liked by 1 person

    1. Haha ping-pong. Aku tidak merahasiakannya juga tidak mengumbarnya.

      Bener ka, gausah takut. Kadang mikir ajasih, kalau udah takut duluan gimana mau maju.
      Yang penting doa aja biar dikasih yang baik-baik. Kalau bisa, ya memang dia itu yang terbaik.
      Kalau masalahnya juga orang tua, doa biar orang tuanya luluh, karena kalau orang punya itikad baik pasti keliatan kok. Hahahasek apaan sih aku sok tua.
      (Habisnya, kalau nunggu sempurna ga bakal ada yang sempurna, sih.)

      Semangat ka Fiska, buat nunggu cemcemannya 🙂 hahaha

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s