Review Film: Hujan Bulan Juni 2017

Dari titik kejujuran dalam lubuk hati, sebenarnya aku begitu menantikan tayangnya film ini. Di mulai ketika poster-poster coming soon nya ditempel pada tembok bioskop, dan atau puisi-puisinya yang terlanjur terkenal jauh sebelum film itu dibuat, kata Hujan pada tiap judul buku atau film selalu membuatku tak sabar, ingin tahu.

Maka dari itu, pekan kedua bulan November lalu, dua tiket Hujan Bulan Juni—sebuah film adaptasi dari novel dengan judul yang sama, karya Sapardi Djoko Damono—telah dibeli.

===

Judul: Hujan Bulan Juni 
Tanggal rilis: 2 November 2017
Sutradara: Reni Nurcahyo, Hestu Saputra
Produser: Chand Parwez Servia dan Avesina Soebli
Rating Usia: 13+

===

Menceritakan sepasang kekasih, yaitu Pingkan dan Sarwono yang harus berpisah karena sang perempuan akan menempuh pendidikan magisternya ke Negeri Sakura. Keduanya adalah seorang dosen muda di Universitas Indonesia, namun beda prodi. Sarwono adalah seorang dosen muda yang mengajar antropologi berdarah Solo. Kulitnya coklat. Logatnya juga begitu kedaerahan. Rambutnya gondrong dan seringkali berantakan, sementara pakaian sehari-hari yang dikenakan selalu sederhana; kemeja polos dan celana bahan hitam. Begitu berbeda dengan Pingkan, dosen berdarah Manado yang mengajar bahasa Jepang. Dari gaya pakaian dan bicara, aku menganggap bahwa Pingkan termasuk ke dalam gadis kekinian. Ia memiliki style. Cantik—bukan ayu, dan cukup humoris. Tidak selalu serius seperti pembawaan Sarwono.

Namun begitu, walaupun dari segi penampilan mereka memiliki banyak perbedaan, kebahagiaan selalu meliputi mereka. Mereka saling mencintai, dan saling cemburu. Belum lagi Sarwono seringkali membuatkan bait-bait puisi untuk Pingkan. Perihal kerinduannya jika dua tahun ditinggal, atau kewaspadaannya pada Katsuo—guide Pingkan selama di Jepang nanti.

Tapi sebelum benar-benar belajar di Jepang, Pingkan diminta untuk menemani Sarwono bertugas perihal kerjasama antar kampus di Manado. Disitu pula Sarwono bertemu dengan keluarga besar Pingkan, yang begitu berbeda latar belakang dengan Sarwono. (Bahkan, pada bagian ini pula aku baru sadar, bahwa Pingkan dan Sarwono berbeda agama.)  Di situ juga, sosok Ben, saudara tiri Pingkan, hadir dan diposisikan sebagai orang ketiga di antara mereka. Sayangnya, dunia hanya milik Pingkan dan Sarwono. Sekalipun latar belakang yang berbeda, atau bahkan adanya orang ketiga, mereka tidak terusik sama sekali. Sarwono bahkan tampak acuh tak acuh, bahkan mengatakan dengan tenang, kalau kelak ia dan Pingkan akan menikah. Apapun yang terjadi.

“Dari awal kamu tahu, kalau aku tidak pernah takut kepada Ben. Bahkan Ben yang takut kepadaku. Justru aku, takut pada Katsuo. Namun soal dia, aku tidak pernah bisa melakukan apa-apa. Tapi kamu..”

Begitu kira-kira ucap Sarwono pada Pingkan, saat-saat mereka akan kembali ke Jakarta.

Hari dimana Pingkan harus berangkatpun tiba. Mereka saling memeluk sebagai tanda perpisahan. Dan setelah Pingkan sampai di sana, sosok Katsuo hadir dan mulai mendominasi plot. Ada bagian dimana Pingkan mengabaikan pesan Sarwono, karena ia sedang bersama Katsuo. Namun bukan berarti mereka juga saling jatuh cinta. Keterbatasan waktu pada film mungkin tidak menjelaskan hubungan mereka secara jelas. Namun pada akhirnya, semua itu ditegaskan dengan pertanyaan Pingkan yang sama, pada Sarwono maupun Katsuo: “Cinta itu apa?”

(Maka dari jawaban mereka, jelaslah bahwa hati Pingkan untuk siapa)

===

Dari segi penokohan, aku menyukai kedalaman mereka dalam berperan. Hampir semuanya sangat menjiwai karakter yang sedang diselami. Adipati Dolken sebagai Sarwono, mampu terlihat seperti pujangga ulung, namun hidup di dunianya sendiri. Begitu pula Velove Vexia sebagai Pingkan, cantik dan benar-benar ceria. Akting mereka memberikan pemahaman buatku, perbedaan bukan sebuah masalah, justru menambah asam manis suatu hubungan yang terjalin. Lain tokoh, Baim Wong sebagai Ben, juga sangat berakting dengan baik. Guyonan kerap dibuat oleh Baim Wong pada adegan yang tak terduga, sehingga penonton tidak merasa bosan akan drama roman ini. Sementara Kaukaro Kakimoto sebagai Katsuo, memang orang Jepang asli. Jadi dengan kata lain, ia menokohkan dirinya sendiri. Tapi ada satu hal yang mengganjal tentang Katsuo menurutku. Setahuku,  perangai orang Jepang adalah sopan dan pemalu. Tapi di sini, Katsuo digambarkan cukup genit, karena secara tiba-tiba ia sering merangkul bahu atau pinggang Pingkan, sehingga gadis itu merasa risih. Aku cukup heran melihat adegan tersebut. Tapi mungkin, memang di sini Katsuo adalah pribadi yang berani dan suka tebar pesona, sehingga ia tidak bisa digeneralisasikan dengan orang Jepang lainnya.

Segi plot, hampir delapan puluh persen aku menebak alurnya akan sedih. Akan ada yang berkhianat dari hubungan cinta mereka. Akan ada yang tersakiti, dan menangis tersedu-sedu. Belum lagi tempo ceritanya yang lambat. Sudah setengah jalan cerita, tapi Pingkan belum juga berangkat ke Jepang. Dugaanku semakin kuat kalau mungkin akan ada yang patah hati. Tapi terkaanku ternyata salah. Memang ada yang patah hati, namun orang itu adalah yang secara subjektif aku inginkan. Dan itu memuaskan.

Aku tidak begitu memahami perfilman, tapi yang jelas teknik pengambilan gambarnya sudah sangat baik. Film ini seperti menyajikan seluas keindahan Indonesia, padahal latarnya hanya beberapa kota saja: Manado, Jakarta, Gorontalo. Hal itu karena setting tempat yang dipakai beragam. Pantai, rawa, bukit batu, ladang jagung, dan sebagainya. Bagiku, film ini juga bermaksud mengenalkan kita, akan indahnya alam di Nusantara.

Dan satu lagi, mungkin karena novel Hujan Bulan Juni sangat kental hubungannya akan bait-bait puisi, tiap sajak indah yang dicatut dari novel, disertakan juga pada layar film. Misal ketika Pingkan duduk berdua di atas karang pantai, Sarwono membacakan puisinya yang berjudul Hujan Bulan Juni. Saat itu, layar hanya menyorot wajah Sarwono, dengan segala keseriusan perasaannya terhadap Pingkan. Sarwono pun mulai melantunkan sajaknya, dan pada saat itu juga, bait-bait “Tak ada yang lebih tabah, dari Hujan Bulan Juni..” bermunculan di layar. Membuat penonton bukan hanya mendengar, namun membaca dan memahami, apa itu arti hujan bulan juni.

===

Secara keseluruhan, aku menyukai film ini. Drama yang indah. Dari segi plot, tak ada yang mengejutkan, atau menampilkan fakta baru. Namun tiap adegan dan dialognya disisipi perasaan yang begitu kuat, sehingga film ini tidak sederhana. Sepanjang film menjadi klimaks buatku. Perbedaan Sarwono dan Pingkan, mungkin di realita selalu membuat beberapa pasangan stress, dan patah semangat untuk melanjutkannya. Tapi tidak bagi mereka. Ku ulang, pada cerita ini, aku bisa memastikan perasaan mereka berdua: dunia hanya milik kita. Belum lagi, karena aku mencintai kata-kata, dialog kecil yang manis begitu sukses membuat hatiku terenyuh. Seperti yang aku ingat ketika Sarwono tidur di kusi belakang, Ben dan Pingkan bercakap-cakap,

“Kau pikir Sarwono itu cemburu denganku?” tanya Ben ketus.

Pingkan melihat ke belakang sambil tersenyum ceria, lalu berbisik, “Mudah-mudahan begitu ya..”

Dan masih banyak sekali dialog-dialog yang membuatku tersenyum. Memahami kalau cinta itu indah. Jika kita, saling memahami. Kalau ada kesempatan untuk menonton kembali secara gratis, tentu aku mau (haha). Tapi untuk sekarang, aku lebih tertarik untuk berlari ke toko buku, dan memiliki Hujan Bulan Juni dalam sekumpulan lembaran, penuh kata-kata.

My rate: 8.5/10

===

-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s