Dia Itu Dia

Pernah ada yang bertanya-tanya pada saya, begitu tahu saya mulai menyukai seseorang yang mungkin sangat jauh dari prediksi. Pasalnya, saya tidak pernah terlihat berbicara padanya, bertegur sapa, atau bahkan saling tatap. Tiba-tiba kami dekat. Dan mungkin orang tak pernah menyangka hal itu akan terjadi.

Saya ditanya, apa yang kamu lihat dari seorang dia?

Dengan ragu-ragu saya menjawab, perihal kesederhanaannya, yang entah sekarang masih relevan atau tidak.

Karena,

Lamat laun, saya menyadari bahwa ia tak pernah persis begitu. Ia bukan kertas kosong yang bermakna nol. Ia memiliki atlas dan singgasana sendiri di dalam kepalanya. Ia tidak pernah sesederhana yang saya bayangkan. Ia kaya. Ia macam-macam. Dan masuk ke dunianya tidak bisa disamakan dengan duduk-duduk pada Taman Jakarta Kota. Ia lebih saya samakan seperti memesan barang langka pada pasa online yang baru buka. Ia susah-susah gampang, hingga saya tak pernah merasa tuntas mempelajarinya.

Lalu tau apa yang hebatnya lagi?

Saya menjadi ragu ketika saya harus menjawab perihal kesederhanaan yang melekat pada dirinya. Saya belum tau hal apa yang bisa membuat saya jatuh cinta.

Mungkin jika ada lagi orang yang bertanya, mengapa? 

Jawaban yang paling rasional yang akan saya berikan adalah,

Karena dia itu, dia. 

Advertisements

One thought on “Dia Itu Dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s