Sungai Biru

20 April 2015

Kala Jumat selepas maghrib, dari dalam transportasi sembilan belas bangku, aku menatap pada sisi luar kaca yang agak buram karena uap tipis. Beberapa tetes air meluncur bebas di permukaannya, seolah hendak memberi tau penumpang manapun kalau hujan baru saja tuntas menyaba.

Di luar sana, lalu lalang kendaraan beroda, berebut jalan tak rela kalah. Kelap-kelip lampunya sedikit menyilaukan sepasang mata yang hanya bisa sabar menunggu sampai di halte utama. Sabar menunggu dengan termangu, berputar pikirannya dalam ruang kosong aura sendu.

Menit-menit berlalu begitu cepat di pinggir kota. Kendaraanku kemudian sukses salip sana-sini hingga melewati sebuah jembatan rusak, penuh lubang dan rawan jungkal. Aku menyebrangi sungai yang hari-hari nampak keruh kecoklatan. Tapi sungguh, kali ini ia cukup membuatku kagum.

Pasalnya, langit setengah malam membuat sorotnya menjadi sungai biru gelap yang tenang. Tanpa suara, tanpa riak atau arus padanya. Hanya gemerlapan cahaya kendaraan dan lampu-lampu jalan yang ia pantulkan, sehingga menimbulkan kesan menyala dan mengilap, menawan rupa.

index

Aku tergugu.

Sungguh luar biasa menurutku, sesuatu yang buruk menjadi begitu cantik ketika kita melihat pada sisinya yang berbeda. Menyadarkanku kalau sesuatu yang jelek itu tidak mutlak dan mentah-mentah demikian. Ada sesuatu yang indah padanya, yang bisa kita nikmati kala tertentu saja.

Hal ini jauh membawaku pergi, berpikir-pikir perihal esensi hidup yang bisa kita pahami sehari-hari.

Sungai ini, bisa jadi layaknya hati manusia yang tak bisa kita ukur tingkat ketulusannya. Kelihatan begitu keji, tak kenal apa itu kebaikan, tak tau apa itu perasaan. Dibuatnya manusia-manusia lain gusar, jengkel, kesal, benci. Sisanya hanya menganga, mengkritik dan melabeli. Hingga siapapun setuju pada tiap-tiap penghakimannya, dan pendukung garis keras penderitaannya.

Tapi, mungkin seperti sungai itu, ia memiliki keindahan tertentu. Jauh ketika orang-orang membisu. Jauh ketika orang-orang tertidur. Tak bisa sembarang orang lihat, dan acak waktu nikmat.

Tak sangka tak duga, namun begitu takjub caranya membuatmu terpana. Sisi-sisi yang tak terduga, menjawab sedikit demi sedikit perkara. Kemudian ketika semua telah terjadi, barulah kita tak sampai hati. Sesal pernah mencerca. Sesal mencoba membaca.

Sampai kau tau,

Masalahnya ada pada pola pikir dan jalan hati kita yang sakit. Yang menilai sesuatu hanya dari kulit, tanpa pikir dan seenak jidat. Padahal kita hanya tau dua puluh persen kasusnya. Kita hanya memaksa opini versi kita, yang nyatanya mata dan akal ini tak menjangkau apa-apa.

Meter demi meter, hingga jembatan berlalu, sungai itu tetap diam, menghitam dengan gemerlapan warna merah bercampur keemasan. Aku pikir cahaya yang ia refleksikan itu, sama halnya dengan kebaikan yang pernah seseorang berikan.

Maksudku; segilanya manusia, mustahil jika ia buta rasa balas jasa, kan?

Paling tidak, sedikit saja.

Aku mengembalikan posisi kepalaku semula. Begitu hebat cara alam mendeskripsi makhluk hidup yang bernaung padanya. Bumi pertiwi ini. Kisah pohon-pohon. Cerita binatang-binatang. Mereka berkonspirasi agar kita: belajar!

Pada akhirnya, tak perlu kamu mencatat semua kutipan filsuf hebat tentang apa itu hidup, dan bagaimana kau harus bertahan.

Karena jika hati kita lebih mengenalinya,

Sungai saja,

Sanggup memberi pelajaran berharga.

===

Tulisan ini sebenarnya telah dipublikasikan oleh akun blogger saya yang sudah tidak aktif. Tulisan ini diposting ulang dengan beberapa perubahan.

Go visit and follow:

Facebook: @disampinghujan | Instagram: @disampinghujan

-Di Samping Hujan

Advertisements

One thought on “Sungai Biru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s