23

Pada waktu itu, kita sepakat untuk tidak akan mengenal.
Namun dayaku habis. Ku rasa kamu sama. Kita terperosok pada sebuah jurang, dan akhirnya kini melayang-layang di permukaan lautan. Tak disangka, kini kita sama-sama juga menetapkan untuk segera mencari tepian.
Tepian yang sama.


Ingatkah kamu, pada belasan tahun yang lalu?
Waktu ketika kamu yang masih bertelanjang kaki bermain di sawah,
Kamu yang tak kenal lelah mengejar layangan putus,
Kamu yang belum tahu apa-apa soal hidup..
Tak henti-hentinya mimpi singgah di kepalamu,
Dan imaji tertenun dalam benak harianmu
Dan terbayangkah kamu, pada nyatanya kini kamu menjajakan kaki di tanah orang,
Merasakan asam manis hidup perantauan,
Bekerja sekaligus belajar..
Bukan perihal pencapaianmu yang belum tercapai. Atau mimpi dan imaji yang meleset.
Tapi tentang kuatnya kamu menerima itu sebagai bahagiamu.
Kamu yang kokoh berdiri dengan kakimu.
Kamu yang mengatur sendiri jalan hidupmu.
Terbayangkah kamu, kalau selama dua puluh tiga tahun, kamu mampu melewati jalan kerikil itu?
Pada akhirnya selamat!
Selamat, sayang!
Atas kukuhmu selama ini. Atas pertahananmu, atas kesabaranmu, atas usahamu, atas peluhmu, atas tangismu, atas kesendirianmu..
Tidak. Yang terkahir itu, tidak lagi.
Ada aku kini.
Akhir kata, semoga semuanya menjadi baik. Dan doa yang lengkap, akan ku jabarkan berdua dengan penciptaku nanti.

Selamat dua puluh tiga. Kepala selanjutnya, ku pastikan kita lebih bahagia.

Salam,
Hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s