Sesekali

Barangkali,
Sebenarnya kau tak pernah ada niat untuk tinggal di sini.

Kabut pada panorama perlahan mulai digantikan rintik hujan. Hingga deras, deras sekali. Membanjiri cekungan pada sisi kiri kanan aspal. Menjalarkan dingin hingga ke tulang dan organ dalam. Anehnya, aku bisa memandang apapun di sana. Seperti sisi-sisi yang dulu tak nampak, kini tersingkap tanpa sekat. Perihal masalalu, masa kini… Tentang bisu, sekaligus mimpi..

Sesekali aku ingin berhenti, untuk duduk diam memandangi hujan.
Buat apa lama-lama bila kedinginan?
Tertegun di sini membuatku rindu rasa teriknya matahari, atau berimaji akan hangatnya perapian di ruang tamu.
Untuk apa aku di sini, bila tiap rinai hujan malah menikam pilu dada kiriku?
Jawabnya hanya karena aku cinta.
Aku cinta!

Padahal barangkali,
Hujan tak pernah menyuruhku untuk duduk menanti.
Hujan tak pernah membutuhkan aku untuk turun.

Namun barangkali,
Kesetiaanku beberapa bulan lalu sedikit menggetarkan hatimu.
Paling tidak ada yang menunggu.
Paling tidak ada yang mencintaiku.

Tuturmu dalam kalbu,
Melihat wajah ketulusanku penuh iba dan derit derita.

Sesungguhnya kau membenci sepi, bukan membenci ketiadaanku.

Sesekali aku ingin berhenti, untuk menulis apapun perasaanku.
Di sini. Di ruang mayantara ini.
Ingin aku hapus tiap laman,
Yang memuat kisah turun hujan.
Bukan pula karena benci.
Atau tidak mencintainya lagi.

Hanya aku merasa,
Bahwa bait-bait,
Yang ku tumpahkan pada lembar ini,
Kini,
Tak kau rasa spesial lagi.

===

Atau Tak Pernah Istimewa Sama Sekali
🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s