Rekahan Yang Kau Lemparkan

Jelaga matamu selepas doa, kau letakkan pada atas kain penempat kening.
Kau siratkan hidupmu kala itu hanya dengan satu mimik,
Hingga demikian aku tergugu dalam kungkungan bait-bait.

Kau ceritakan peluh dan pedihmu dalam satu suara,
Hingga akhirnya aku memilih pergi membiarkanmu terlena.
Lalu saja, ketika kau merasa cukup,
Kau biaskan letih itu hingga tak berbekas,
Dan yang kau dapati hanya senyum balasan
Perihal rekahan yang kau lemparkan.

Kau,

Dalam ruang tanpa koma,
Barangkali hanya ada sepi bertaut duka.
Namun kau begitu kuat.
Kau mencari jutaan destinasi, walau tak tentu presisi.
Kau menelusuri jejak bermimpi, walau kerap terbagi-bagi.
Kau sajikan kelakar dalam sekat dan batas,
Kau ketrik pundi bahagia dari sana.
Kau upaya agar tersembunyikan,

Kau…

“Tak perlu mengunci..
Jika ingin menangis,
Menangislah.
Dalam dekapku,
Dalam hangatku,
Karena barangkali hanya aku.
Hanya aku!
Seorang manusia,
Yang ingin juga,
Merasakan tiap pedih,
Yang kau derita…..”

 ===

Masih Orang Yang Sama

-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s