Hanya Aku

Dua belas bulan lebih ku lewati jingga di perjalanan pulang dengan titahan hati-hati. Telah sama-sama kita telusuri malam yang panjang dengan percakapan hingga jatuh terlelap dalam mimpi. Kau tak pernah bosan pagi-pagi membangunkanku di kala subuh. Dan aku juga gemar sekali mengingatkanmu agar mengisi perut tepat waktu.

Hey, sudah berapa jam aku mengenalmu?

Detik-detik yang berlalu semakin aku sadar, bahwa aku bahkan hafal macam-macam ekspresimu. Dan sisi-sisi yang tak terjangkau kala itu, kini perlahan ku peluk dalam dadaku. Tak peduli kau keberatan. Tak peduli kau tak izinkan. Padahal setahun yang lalu barangkali alam masih ragu untuk mempertemukan kita atau tidak. Namun akhirnya ku ketahui namamu tanpa sengaja. Ku cari kau seluas dunia kaca. Ku temukan kau sedang berdiri di sana, dalam bayang gelap tanpa suara. Ku rangkul engkau dalam dekap, sampai kau melesat keluar menuju gegap. Kau hidup dalam hidupku, dan kini yang menjadi siapa-siapamu itu aku.

Kita tak pernah berubah. Masih dalam diam, mencuri-curi pandang.

Rumusan aksara bersejarah dalam mayantara, sementara pada jarak sepuluh meterpun tak cukup tangguh untuk tegur sapa. Kadang kau kokoh menunggu pada ruang termangu, mencari-cari kepulanganku. Atau aku menyapu sudut-sudut berliku, mencari kamu. Rindu itu bergerilya pada hakikatnya, karena terjebak dalam dimensi kebingungan akan perihal apa yang patut dinantikan karena bahkan; menatap saja kita tak kuasa. Namun kini sesekali ku sebut namamu seantero lorong-lorong gedung penuh cerita, sementara kau tersipu-sipu pada tiap anak tangga. Hingga hiruk pikuk tertegun sejenak, dan aku dinilai begitu tepat.

Kemudian kau tersenyum seakan tak pernah bosan.

Ku ingat lagi senyum hangatmu. Kuluman pertama tak pernah memaksaku terperosok dalam duniamu, tapi kuluman kedua serta ketiga memberondongku hingga mau tak mau luluh juga. Lamat-lamat dalam bola matamu, ku sadari akhirnya berapapun kulum yang kau lepaskan kini, sebanyak itu pula aku jatuh hati. Sekalipun bukan untukku. Sekalipun tak selaras dengan nada hatimu. Aku tetap mencintai senyumanmu, yang tergambar pada sudut-sudut bibirmu, dan ujung-ujung matamu..

Kau ingat segalanya itu, kan?

Berhari-hari mengenalmu, perasaanku masih begini-gini saja.

Aku tau aku belum pantas mengaku.

Namun pada kebahagiaan yang meliputimu, lantas aku cemburu.

Aku lega kau tak disakiti.

Namun kecewa pulihmu tanpa aku. 

Aku bersyukur kau banyak yang menyayangi.

Namun tak suka bila disaingi.

Aku egois dan kau tahu.

Aku mohon maaf namun akan terus begini.

Aku beruntung dan cemburu.

Pada hal-hal yang membahagiakanmu,

Tapi bukan aku.

Hanya aku?

===

-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s