Rumahku

Doa-doa pukul tujuh malam baru saja tuntas dilepaskan. Kini posisi mereka mungkin melayang-layang diangkasa, sekitar tiga ratus meter di atas kepala kita. Menuju langit lapis ke tujuh, hingga kelak salah satu dari mereka terijabah untuk si empunya. Bertolak belakang dengan tetes hujan yang turun dan semakin berkoloni; beradu cepat untuk menang atas perlombaan siapa yang lebih dulu sampai ke bumi. Mereka membuat jalan penuh kubangan, dan memaksa beberapa orang untuk memakai mantel dan payung. Walau hanya rintik-rintik, namun dinginnya mampu menembus kulit.

Tring!!

Aku mengerling.

Ku dapati dirimu dengan kuda besi tengah melangak-longok. Mencari gadis berpayung, barangkali. Aku kemudian tersenyum di luar kendali. Berapa lama kita tidak bertemu?, tanyaku pada gagang payung merah jambu. Ah, terasa telah lama sekali. Terhitung empat puluh delapan jam setelah pertemuan terakhir kita, maka kini cerita-cerita perihal rindu kemarin siap ku sambung lagi.

Ku sapa setelan jas hitam yang selalu kau kenakan di kala hujan. Kau tersenyum sedikit sambil mengerjap-ngerjap entah kenapa.

“Jangan menangis,” gurauku sambil terkekeh. Kau bantah opiniku dengan alibi kelilipan air, lalu mempersilakan aku agar mendahului. Aku menurut, kemudian jalan kaki, sementara kau tetap mengendarai, hingga membuatku tersenyum-senyum sepanjang langkah. Ini seperti film komedi, ku pikir.

Satu momen kemudian kita berhasil menjajaki tapak pada lantai tempatku bernaung hampir dua belas tahun. Kau telah sukses bersalaman dengan ibu ayahku. Kau tengah menghabiskan masakan ibu, tanpa jas hujan dan pelindung kepala lagi. Beberapa detik aku tertegun melihat kaki-kakimu berjinjit agar dapat ditataki piring pada pangkuanmu. Dua alat gerak itu pasti lelah dan kedinginan, terkaku sekelebat, hingga kau bergumam jangan tatap aku selagi makan. Aku mengelak namun juga menantang lantas apa masalahnya jika aku tatap.

Detik-detik kemudian sesekali hanya diisi oleh bunyi hujan jatuh tepat diatas asbes teras, atau dialog sinetron pada televisi yang sedang ditonton ayah. Aku bertanya tak penting, dan kau menjawab. Sesekali kau yang bertanya tak penting, maka aku pula menjawab. Kita membicarakan beberapa hal yang memang setiap hari kita bicarakan, namun percayalah, ini terlalu berbeda dengan percakapan di telepon atau media sosial. Ada perasaan, diantaranya.

Pukul sembilan kau mengatakan untuk berniat pulang, kala rintik hujan masih mengetuk-ngetuk jarang dedaunan pohon mangga. Kau gelisah antara bersegera pergi atau duduk semenit dua menit lagi. Maka mata ini beringsut pada wajahmu yang teduh. Ternyata, sunggingan senyum lebar terhias padanya. Serta merta ku tangkap panorama itu di dalam memori, lalu ku simpan dalam palung kalbu. Takkan pernah ku jual belikan momen-momen itu pada siapapun. Hanya aku, yang boleh menikmati senyumanmu saat itu. Hingga bahkan kau benar-benar beranjak untuk meninggalkan jejak. Kau pamit benar-benar sambil lagi mengenakan jas hujan. Ku ucap hati-hati bersama ibu, dan begitu kau tinggal, sesuatu terasa lepas di dalam dadaku.

Kau pulang, dari rumahku.

===

PS:
Kau bilang aku malas pulang jika bertamu.
Pelan-pelan hatiku menjawab: bagaimana kau jadikan tempat ini untuk pulang sewaktu-waktu?

===
30 Oktober 2016
-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s