Tak Tahu Persis

Seringkali,
Sesuatu yang rumpang padamu inginku lengkapi, entah apapun itu. Walau aku tahu bahwa yang paham betul tentangmu adalah kamu. Hanya kamu. Kamu yang mampu menganalisa yang baik untukmu sendiri. Boleh jadi kadang-kadang itu bukan aku. Dan boleh jadi yang kau butuhkan tak pernah aku. Boleh jadi aku hanya kebetulan pedagang yang menjajakan barang dagangan dengan amat murah. Kau tertarik, tapi tak pernah membutuhkan barang yang aku jual.

Namun,
Sisi-sisi pikirku tetap tegak. Aku pernah berikrar bahwa aku tak ingin menjual kepada seorang lagi kecuali kamu. Aku ingin betul menambal-nambal lubang padamu. Aku bersikukuh dan takkan mengalah, hingga-hingga aku ibaratkan kau adalah jajaran kata, sementara aku tanda bacanya. Mungkin adanya aku akan menambah-nambah nilai estetika. Membuat kalimat-kalimat itu menelusup dalam kalbu para penyimak. Dan tahulah semua orang arti darimu. Keindahanmu.

Hingga lamat-lamat kau sadar. Aku sadar. Kita sadar bahwa itu adalah kalimat yang paling konyol yang aku ucapkan.

Berbulan-bulan yang lalu dalam langit hitam kau ucapkan bayang-bayang. Begitupula aku dan benda disekitarku; mengambang bak bermain dalam pesawat ruang angkasa. Sekilas kau nampak terbang bersamaku namun entahlah. Yang aku ingat kita sepakat bahwa begini saja sudah cukup, dan bahkan menurutku ini lebih dari cukup. Ku tepis segala prasangka dan spekulasi hitam yang menyembul dibalik awan-awan mendung, persis seperti yang kau titah. Aku menurut, dan aku yakin kamu mengerti betapa hebatnya aku telah berhenti sejanak dan keluar dari kemelut.

Hari-hari,
Kemudian kau ucapkan imaji dan mimpi.
Kau ragu.
Kau keluhkan rasa sakit.
Kau bilang senang bukan kepalang.

Aku bungkam, namun ikut merasakan yang kau utarakan. Kau bercerita dan aku berlagak tolol karena tak pernah memberikanmu saran. Tak lain tak bukan, hanya karena takut kau jatuh ke jurang, akan saran konyolku tanpa takaran. Aku takkan pernah memaafkan diriku bila kau salah karena panduanku. Takkan. Maka kadang kala aku pun hanya mengangguk maumu, mengiyakan. Aku percaya padamu penuh-penuh, bahwa kau akan selalu lebih bersinar daripada aku, dan kau akan selalu ada persis di depan jalanku.

Tapi kadang-kadang,
Tak ku dengar kisah-kisah itu.
Hal dimana aku ditinggal.
Dan aku menjajak kaki sendirian.

Kala itu,
Yang terjadi tanpa kamu,
Adalah penantian kabar, dan rindu yang mengakar-akar. Hingga bahkan aku menyesal dalam kalutan yang sukar padam.
Ku tepis lagi segala prasangka dan spekulasi hitam yang menyembul dibalik awan-awan mendung, persis seperti yang kau titah.

Namun semua luluh lantah, begitu ketika diriku menakar-nakar; mungkin bahkan kau tak ingat untuk mengucap titahan itu walau sekejap. Bukti lara lantas meluncur sebelum aku seka. Dengan begitu kau tau aku tak pernah bohong perihal aku yang manja, dan mudah sekali disentuh hatinya.

Hari-hari kembali
Dengan kata maaf yang ku dapat dan ku beri.
Ku dapat lagi cerita sedia kala, dan betapa mudahnya aku, aku pikir begitu. Lalu petuah-petuah akan ketulusan, dan perihal perasaan aneh yang ditutupi sajak-sajak menguatkanku:
Jika cinta, maka cinta saja.
Tak perlu menuntut balas.
Kalahkan semua.
Yang perlu kau syukurkan adalah kini,
Ia masih bersamamu.

Tandasku, walau bahkan aku tak yakin dengan kalimat-kalimat itu, hingga aku malah melanggar rambu-rambu. Ya, aku mengaku telah memilikkimu. Mesiki kau bilang tak apa, dan boleh jadi itu hanya belas kasihanmu kepadaku. Aku memaksa agar kau tetap tinggal, dan hatimu tetap untukku… mana bisa begitu..

Lalu, aku harus apa..
Pikirku kadang-kadang……

Bukan hari-hari lagi…
Bukan kadang-kadang pula….
Tapi tepat hari ini…
Aku paham bahwa ini semua hanya keegoisanku…
Menginginkan untuk bertahta tetap dihatimu..

 

 

Bolehkah aku, masih tak mau mengalah?

 

 

Pikirku secara retoris,
Karena paham bahwa,
Adalah ketidakwarasan,
Ketika kita mencintai,
Seseorang yang mungkin juga mencintai kita,
Namun sebenarnya,
Kita tak tahu persis,
Hatinya untuk siapa.

===

Belakangan Ini, Dingin Sampai Ke Tulang
-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s