Buku-Buku Malam Minggu

“Kak, aku…”
Lalu ku tunjukkan padamu sebuah novel roman bertajuk “Kangen”
Maka lagi, kamu hanya bisa tertegun sejenak, dan tak lama punggung tanganmu menutupi separuh wajahmu yang teduh. Sunggingan senyum tertera di balik itu. Tatapan rindu. Bola-bola merah pada pipimu, yang dulu pernah kembung namun kini tirus. Begitupula aku, yang kala itu hanya bisa pasrah, jatuh cinta lagi entah untuk keberapa kali.

“Gantian, akan aku carikan.”
Janjimu seperti anak kecil yang tak mau kalah. Entahlah. Sosok kamu selalu berubah-ubah. Kadang kamu seperti bintang jatuh, yang terang dan saat orang-orang melihatmu, mereka sibuk menganga sambil merapal mimpi. Namun tak butuh waktu lama, kemudian kamu berubah lagi seperti anak kecil, yang tak tega bila ditinggal. Gemas orang-orang ingin mencubit, atau mata yang menyinarkan para orang tua agar mereka luluh membelikan es krim kepadamu. Ahya, memang itu hanya ada pada sudut pandangku. Tapi, itulah dirimu.

Aku berkeliling lagi, hendak mencari-cari entah apa. Kamupun sama, beralibi membaca manga atau cerita-cerita jenaka. Kami pura-pura tak tertaut satu sama lain, namun mengawasi di ujung-ujung bola mata kami. Detak jantung memanaskan pipi. Jemari dingin gemetar sendiri. Aku menahan diri untuk tidak meledakkan kebahagiaanku. Sama sepertimu, ku rasa.

Rak-rak yang kau ibaratkan rindu masih kita telusuri.

Ini bukan misi untuk mencari buku pelajaran lagi, omong-omong. Atau misi membalas pesanku lewat tajuk rindu. Atau menemani teman kita yang ingin melihat-lihat buku juga. Atau membantuku mencarikan kisah hujan yang dibenci orang-orang. Atau bahkan sekadar meramaikan toko ini sampai pagi. Tidak. Ini tentang perihal kita, yang ingin tinggal lebih lama. Mengerling satu sama lain, lalu mengaku kalau tak lihat. Mengulum senyum, yang masih sama: dalam sembunyi namun terpahat. Ohya, kita memang pandai beralibi, namun ku rasa pojok-pojok ruangan, sudut-sudut lantai, dan sekat-sekat pada almari tau betul kalau ada muara rindu di antara kita, yang kala itu seperti hidup pada dimensi yang berbeda. Lalu lalang orang hanya seperti figuran, dan baik kamu atau aku tak sadar kalau mereka hidup. Hanya aku, kamu, dan buku-buku malam minggu.

Kemudian,

Namaku diudarakan, memecah imaji dan rangkai pikir kita sejenak. Aku menoleh, dan mendapatimu tengah menyimpan judul pada genggaman di balik badan. Ya, dia membalas candaanku.

Dengan wajah teduh, dan salah satu kulum senyum favorit, kau unjuki lembar-lembar yang terkemas itu.

Judulnya?

===

-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s