Berpulang Yang Abadi

Kalau-kalau manusia mengetahui masa depan, apa yang akan terjadi?
Aku cuma memikirkan kalau manusia akan gila.
Mereka akan gila, karena sibuk mengurusi apa yang akan terjadi nanti.
Bagaimana cara menghadapinya, cara menghindari, cara menerima.
Karena mereka semua memiliki masa depan yang sama dan yang pasti.
Mati.

==

Siang itu ombak masih berderbur santai. Tak ada yang aneh; anak-anak yang berenang di pesisir, para pemuda yang sibuk mengabadikan momen, dan manusia-manusia lain dengan pelampung.. Tak ada yang aneh..

Kecuali laki-laki yang terduduk kaku, dengan wajah pucat pasi.
Beberapa orang sibuk menepuk-nepuk bahunya, memanggil-manggil si orang yang nanar tak menjawab namanya diudarakan. Guncangan hebat terjadi di dalam dada orang itu. Tak berkedip. Sorot mata menandakan ia sedang berjuang keras dalam diamnya, dalam nafasnya. Belasan orang tertegun mengerumuni, ingin tau apa yang terjadi.

Sampai akhirnya ia jatuh tak sadar diri, dengan buih putih keluar dari mulutnya.
Mereka memanggil-manggil namanya lebih keras. Sang tulang rusuk menangis deras. Tim penyelamat datang berlari-lari, terseok membentang tandu. Bujur lemas diangkat. Perut buncit yang kembung terlihat. Tak ada yang bisa dilakukan orang-orang kecuali sekali lagi; tertegun tak mengerti apa yang tengah terjadi..

Hingga menit-menit berlalu..
Dan kabar beliau telah berpulang tiba di telingaku..

Innalillahi wa innailaihi roji’un..
Sesungguhnya Engkaulah tempat berpulang yang abadi..

===

Allah selalu punya cara sendiri.
Kita hanya berencana. Sungguh sebenarnya kita cuma makhluk kerdil hampa kuasa.
Allah bebas memanggilmu kapan saja, dengan cara apapun yang ia suka, yang telah dituliskan beribu tahun yang lalu dalam kitabNya.

Kejadian itu.. terjadi cukup ironi.
Tanggal dua puluh delapan, siang hari. Bertepatan dengan rekreasi perusahaan yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Berkumpul dengan sanak keluarga, di mana para pemimpin berbaur dengan bawahan tanpa ada sekat dan hubungan senioritas. Momen di mana semua pekerja mendapatkan hak yang sama. Tempat di mana seharusnya hanya tawa yang kita dapat, setelah hari-hari penuh dengan tanggung jawab kerja..
Namun begitulah rahasia Allah.. begitulah takdir yang Ia gariskan..
Ketika Allah memanggilmu untuk berpulang, maka malaikat izrail takkan menunda-nunda tugasnya.. Dan itu adalah kepastian yang pasti..

Lantas… mengapa kita masih memikirkan semua kesenangan hati, cemas kalau masa depan tak segemilang pengharapan diri, padahal liang kubur siap menelanmu kapan saja ketika Dia menghendaki?

Astagfirullahalazim.. betapa lalainya kami.
Sering kali lupa dan menolak ingat.
Sering kali tau namun pura-pura bisu.
Doa-doa sering diabaikan. Dekati larangan dan jauhi perintah.
Ya Allah, maafkanlah kami…..

===

Teruntuk beliau, pemimpin yang jasanya sudah banyak di tempat kami mencari nafkah,
Pemimpin yang bertanggung jawab penuh, dan mengayomi anak buahnya,
Pemimpin yang tidak sama sekali gegabah dan selalu mempertimbangkan dari tiap sudut yang ada..
Tak ada yang lebih baik selain amalanmu yang diterima, dosamu yang dihapuskan, serta kubur yang dilapangkan hingga hari kebangkitan..
Aamiin.

===

Bapak Darmawi, Section Manager of Production Department
-Berkabung, Di Samping Hujan

Advertisements

3 thoughts on “Berpulang Yang Abadi

  1. Hai,
    Jadi kangen hujan-hujanan. Mampir dan menikmati waktu disampinghujan… πŸ™‚ seperti ini, aku suka.
    Menyejukkan kisah-kisahnya. Meski belum semua ku baca, baru ini memang. Tapi, sudah mengingatkan pada ‘pulang’ yang abadi.
    Terima kasih untuk berbagi kisahnya. Salam kenal yaa, teman. πŸ™‚

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s