Kita, Hujan, dan Kereta

Karena kereta sore tak pernah menyisakan bangku. Ia padat, hingga tinggal tiang-tiang yang kosong tak disinggahi. Itupun berebut bahkan, sampai-sampai sebagian kami yang memiliki, sisanya orang-orang. Maka tak ada yang bisa kita lakukan kecuali, diam.

Langit di luar gelap. Kamu menyandarkan kepala pada lenganmu sendiri. Lelah? Aku harap, kelak aku yang bisa memulihkanmu disaat-saat ngantuk seperti itu, pikirku. Barangkali membuatkanmu secangkir kopi. Atau menyiapkan bantal tidur kesukaanmu. Namun kini, yang bisa ku lakukan hanya menatapmu, mengharap-harap apapun isi kepalamu takkan membebanimu. Menyemogakan kamu senang berdiri di sebelahku, dengan hujan yang turun membasahi gerbong kereta beserta relnya. Membuat syahdu berkecambah, dan hati lepas dari gundah-gundah.

Ayunan pegangan berderit, aku sengaja ingin mendapat perhatian darimu. Namun entah kamu acuh, atau jadinya malah menganggapku sedikit tak sehat. Biar saja. Aku telah berusaha, karena berdiri sedekat ini adalah hal yang jarang sekali terjadi. Jarang. Pantulan kaca kereta yang membuatku semakin-semakin sadar kalau ada kamu di situ, pula ada aku. Berjajar, dengan tinggi yang tak beda jauh. Tanpa patah kata. Tanpa suara. Hanya sedikit tatap yang bertemu, sisanya mengulum senyum dalam sembunyi. Itu kita. Kita.

Stasiun demi stasiun menjadi lampau. Semakin lama semakin sampai. Sedikit cemas dalam diriku, karena waktu yang sempit. Ingin ku nyanyikan lagu hujan untukmu, agar kau betah lama-lama di sini. Ingin ku ceritakan semua kisah lucuku, agar kau paham aku tak ingin pulang. Ingin aku utarakan kalau hujan ini membuat gigil, tapi tak apa selama kau tinggal. Apa saja, yang membuat momen-momen ini lebih lama..

Maka aku beranikan lagi untuk mengucap sesuatu padamu, mencari-cari kebahagiaan dari situ. Kemudian kamu tertawa, sambil menutup mulut dengan punggung tangan. Aku ucapkan lagi sesuatu padamu, dan kau tertawa lagi sesuai caramu. Semenjak itu, aku pikir itu bagian yang paling aku suka pada dirimu. Semenjak itu, aku sadar bahwa hari ini telah cukup.

Hujan ini, perjalanan ini, biarlah menjadi rangkaian memori yang tak pernah akan ku lupa. Aku izinkan rindu ini bersisa, dan mengakar kuat ke dalam sukma. Tak apa, bahkan memang lebih baik masih ada. Supaya ketika kita bertemu lagi, maka ada sebab wajah ku ataupun kamu masih merah. Ada sebab kita masih malu. Kita masih sungkan. Dan detak-detak jantung yang berpacu, rasa-rasa bahagia itu akan masih mampir di antara kita.

Ya, lebih baik begitu saja.

Kita, hujan, dan kereta.
Mudah-mudahan sesekali terjadi lagi, pada perjalanan yang lebih lama.

===

-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s