Kepuasan Marginal

Aku pernah makan bangku sekolahan.
Kala aku kelas sepuluh pada tingkat menengah atas, aku pernah belajar ilmu ekonomi. Hingga sekarang masih ada beberapa istilah yang dapat aku ingat, walaupun jika dijabarkan mungkin ilmu itu telah berhamburan dan hanya mencapai angka dua puluh persen dari seluruh memoriku akan ilmu tersebut.
Salah satunya adalah,
Kepuasan Marginal.
Tau?


Dalam ilmu ekonomi, Kepuasan Marginal atau Utility Marginal adalah tingkat kepuasan yang menggambarkan penurunan kepuasan konsumen apabila barang yang dikonsumsi terus ditambah. (Ini menurut pengertianku sendiri, pengertian pendukung bisa kamu dapatkan pada buku-buku ilmu ekonomi mikro atau internet.)
Masih bingung?
Akan ku ibaratkan. Semisalnya, kamu begitu menyukai durian dan kamu terus memakannya. Maka mungkin suatu saat, ada saatnya kamu merasa cukup, dan enggan untuk tidak makan durian lagi.
Ya, nilai barang yang terus dikonsumsi akan berubah menjadi negatif.
Lalu, kenapa tiba-tiba aku membahas ini, ya?
Begini,
Di kotaku, hujan sering turun akhir-akhir ini.
Tiga hari berturut-turut, ia mampir kala petang. Menghujani tanah yang bahkan masih basah karena sisa-sisa kemarin. Begitu pula air-air yang masih menetes pada ujung-ujung daun, bak perhiasan yang berkilauan jika disinari matahari.
Jangan tanya aku yang mencintai hujan, akan perasaanku ketika dia datang.
Mungkin pada saat itu pula kamu akan melihat dua hal yang tengah kasmaran; aku dengan hujan.
Tapi..
Jika hujan hampir setiap hari ada, mengisi ruang-ruang rindu hingga ke celah tersempitnya..
Apakah aku akan berhenti untuk mencintainya?
Tentang kepuasan marginal,
Apakah tidak akan ada lagi getar hubungan aku dengan hujan?
Bahkan hingga ia juga memutuskan untuk berhenti turun menyapaku, karena lagi-lagi kepuasan marginal?
Pada akhirnya,
Aku cuma bisa diam.
Mencegahnya untuk turunpun bukan hal yang aku benarkan dan dibenarkan.
Tentang kepuasan marginal..

Tunggu.
Masih ada rute kedua.
Tak selalu akan berujung pada nilai negatif diantara keduanya.
Kau tau kenapa?
Karena pikirku, aku bukanlah konsumen dan hujan bukanlah barang konsumsi.
Kami saling membutuhkan… Bukan memperdaya satunya hingga habis nilai..
Ya,
Masih ada rute kedua.
Jika hujan, mencintaiku juga.

===

Barangkali,
-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s