Baru

Hamparan luas di depan mataku.
Katanya ia cerminan permukaan tempat tubuhku terombang-ambing.
Mana tau?

Sepi.
Hanya gumpalan kumulus bisu yang bergerombol, saling mematung.
Katanya mereka bergerak, hanya saja tak kasat.
Aku yang suka menuntut perincian menolak untuk memercaya, karena tak terlihat dan tak jelas pada mata.
Jangan ada bantah, karena biar begitu aku akan bersikukuh pada pendapatku sendiri.

Tubuhku masih terhempas ke sana ke mari.
Langit dan tatapanku sama: kosong tak ada isi.
Mungkin nasib kami serupa, raga di sini namun pikiran di dunia antah berantah.
Hal-hal sederhana menjadi luar biasa rumit karena pola pikir kami yang tak pernah berhenti untuk berlari, terus mencari jalan sekalipun lelah, memutar balik ketika buntu.
Untuk apa kami ada? Dijadikan tempat singgah, lalu kami harus beristirahat di mana?
Sejenak kita menggagas kalau “Bagaimana kita untuk saling bercerita? Barangkali dunia takpernah sesepi ini.”

Namun enyahlah,
Bicara saja kamu tak mampu, maka begitupun aku.

Jemariku mungkin sudah keriput dan memutih atau membiru.
Tak ada sisa-sisa hangat yang kemarin mampir, menjamu dan memanjakan tubuh ini.
Tulang-tulangku bahkan menggigil, tinggal menunggu otak dan hati yang beku, maka ia selesai untuk berpikir dan mengkhawatirkan seseorang lagi.

Tapi untuk sekadar berspekulasi tentang kemana aku, aku masih sempat.
Mungkin terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni? Diselamatkan nelayan kala menjala ikan?
Atau
Sebenarnya saat ini aku tengah diincar hewan laut karnivora?
Tiba-tiba cuaca berbadai dan ombak raksasa menggulung di atas kepala?

Otakku sakit, tapi paling tidak mereka lepas tugas membebani hati.
Biar aku serahkan saja pada air yang mengantarku ini.

Tapi, tunggu.

Surya menggelap.
Cuaca teduh.
Mataku dapat menantang siapa saja saat itu.
Awan menutup matahari, berpindah posisi.

Ahya, sejarah dan buku-buku sains tak pernah mengatakan kalau awan bergerak.
Mereka hanya ditiup angin.
Bumi dan isinya yang berotasi.
Makanya ada gelap dan ada siang.
Ada pasang dan ada surut.
Sekalipun awan diam, bumi tetap bergerak. Andai awan bergerak mandiri lantas apa yang terjadi?
Fenomena baru?
Pilihan baru?
Ketentuan baru?

Hening memeluk tubuhku, membuat aku makin kedinginan.
Jangan dusta lagi, jangan…
Aku…. tak tau…

Tak tau…

Lalu tangan dan kakiku mulai mengepak-ngepak.
Biar perlahan, biar tak ada tujuan, aku berusaha berenang.
Sekalipun tertatih dan habis sudah dayaku, aku bergerak.
Tak lagi sekadar menunggu laut asin ini yang bertindak.
Menuju pilihan dan ketentuan
Yang baru..

===

🙂
-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s