Tak Mengalah

Ini melelahkan.

Kadang aku pun tak mengerti atas apa yang membuat desir pada hati. Enyahlah, pikirku sambil mengetuk-ngetuk kepala, mencoba membangunkan si akal yang telah hibernasi beberapa bulan belakang. Berharap lekas-lekas terjaga, bukan hidup dalam dunia tanpa realita. Nyalakan lampu-lampu, tolong. Begitu juga gorden-gorden yang tebal minta ampun. Geser mereka supaya masuklah si senja. Mengusir segala rasa kepemilikanku yang berlebihan, sekalipun jika direnungkan aku ini sendiri, dan tak ada benar yang aku miliki. (Kemudian aku tertawa teringat macam-macam kisah anak nakal, yang pandai berbohong atas segala hal-hal yang ia akui.)

Teruntuk kamu,
Ia bukanlah milikku.

Ohya, tentu saja.
Sekalipun dalam dadaku berdebur rasa takmau. Tentang berbagi dan memberi. Tentang hanya aku atau kamu juga. Aku sadar dan paham betul, kok. Sekalipun kini aku dalam kondisi mabuk akan dia, namun aku masih sadar. Sanggup menghitung bahwa satu tambah satu sama dengan dua. Sanggup berandai bila aku dan dia kelak menjadi kita. Namun nyatanya adalah aku masih tunggal. Aku masih terseok mengatur langkah. Belum ada yang menuntunku betul-betul. Belum bisa sesuatu yang lemah di diriku ku gantungkan pada kail-kailnya. Aku masih satu. Ia juga satu. Belum ada tanda tambah. Belum ada apa-apa. Ia jelas belum milikku. Namun kembali lagi ke awal, bahwa: ini sungguh melelahkan.

Sebab ia dalam kalbu kini berakar. Tumbuh rimbun, hijau subur tempat makhluk hidup tinggal. Bergelayut pada ranting dan cabang. Mengambil buah-buahan, yang manis walau sesekali asam. Ekosistem berputar. Jaring-jaring makanan berjalan. Mereka terasa begitu indah nan cemerlang. Lantas, bagaimana bisa aku menebang asal? Mencabut akarnya yang kian makin bertahta dalam dada? Kepimilikanku tinggi. Ada rasa tak rela untuk berbagi. Ada rasa cemburu. Ada rasa takut hilang dan rusak semua ekosistem yang kini berkembang. Ada.

Namun, hey, aku masih sadar bahwa belum ada sesuatupun di antara aku dan dia.
Ini melelahkan? Ku pastikan kini kamu telah paham mengapa demikian: bahwa yang aku bisa saat ini hanyalah menahan!

Menahan segala-gala rasa menjadi liar yang membuat lupa masih punya kepala. Menahan rasa kepemilikan itu menggaung, membuat tuli dan buta. Mimpi-mimpi menembus atmosfer, berharap suatu saat menjadi takdir. Kata-kata pengampun dosa. Kata-kata bermakna doa. Cuma mereka yang bekerjasama, sisanya aku menjadi patung. Tanpa boleh memiliki dan mengakui ia.

Dan seketika tamparan keras membuatku muntah-muntah.
Akan rasa yang tumbuh di dirimu, dengan muara yang sama denganku: si ia itu.

Maka keluh kesahku, lagi!
Ini lelah dan amat lelah. Sabar ini, tunggu ini, cemburu ini. Segalanya namun aku tak bisa banyak aksi.

Teruntuk kamu,
Boleh jadi kedudukanmu dan aku sama.
Kita sama-sama berebut perhatian darinya.
Kita sama-sama ada rasa, walau takarnya mungkin berbeda serta peluh perjuangan tak sama.

Kita serupa: sama-sama mencintai dia.

Tapi jauh sebelum itu,
Sebelum kamu berasumsi pula sepertiku,
Sebelum kamu anggap kita sama-sama berlomba,
Ada pernyataan yang harus kamu pahami dulu,

Bahwa aku tak mau mengalah dari diri mu.

===

Ku Tuliskan Dengan Penuh Ke-lebay-an
Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s