Little Tokyo 2016

Kejadian-kejadian menarik akan selalu aku tuliskan, untuk sekadar laporan dan bahan kenangan suatu saat. Kala aku dan Kamu menua kelak. Kemudian, anak-anak kita barangkali akan membacanya, ikut merasakan dua kebahagiaan orang tuanya semasa muda. Mungkin terlalu jauh pikiranku berlari, namun biar saja. Toh ada Si Pendengar Harap Sekaligus Pengabulnya.

Happy read.
(Kali ini bukan fiksi)

===

Punggung dan lengan tanganku panas. Pengetahuan tambahan buatku, bahwa matahari sebelum pukul dua belas juga sadis. Bisa menggosongkan apa saja, dan bukan hanya memberikan sensasi hangat, namun sakit pada kulit. Pelajaran bahwa sebagai pengendara motor ada baiknya kita mempersiapkan sarung tangan, tabir surya, atau apa saja.

Masih belum sampai, dengan kecepatanku yang tak konstan, berusaha selap-selip pada hiruk pikuk jalan penuh kendaraan roda empat. Beberapa ada yang memberikanku klakson panjang. Beberapanya lagi ada yang memberikanku sorot lampu jauh. Hendak dongkol sendiri, namun tak ada waktu karena, hey, janjiku pada sahabatku adalah bertemu pukul sepuluh, bukan setengah sebelas.

Pada akhirnya, aku benar-benar tiba pukul sepuluh tiga puluh, berbarengan dengan kedatangan Bis Mayasari, kendaraan yang akan mengantar kami ke tempat tujuan. Oh, ya, omong-omong, aku hendak berangkat ke festival negri sakura dengan sahabatku dan adiknya. Iya, pada hari Minggu. Hari yang sebelum-sebelumnya cuma duduk di bangku, kini ku pakai untuk keluar dari zona nyamanku.

Kami bertiga buru-buru, melompat kedalam bis dan langsung duduk pada bangku terdekat. Gumaman maaf keluar dari mulutku pada sahabatku dan adiknya. Mereka bilang tak apa: “Gaya bicaramu seperti Kamu tak pernah membuat kami menunggu, tau.” Akupun nyengir, dan bicara banyak dengan mereka.

Sudah berangkat?

Tiba-tiba pesanmu sampai. Maka, seketika aku teringat tentangmu kala membaca pesan itu. Kamu yang hendak berangkat lagi ke acara yang sama denganku pada hari ini. Kamu yang meluangkan waktu istirahat agar bisa berada satu tempat dengan temanmu. Iya, si Kamu ini, telah menghadiri festival itu pada kemarin, hari Sabtu. Alibi tugas, bersama temannya sekelas. Namun begitu tau aku berangkat hari Minggu, ia hadir lagi. Alibi mengantar temannya. Alibi penasaran dengan orang asing yang kemarin ia wawancara. Intinya, ia beralibi kalau aku bukanlah alasan untuk ia lagi datang. Aku membalas pesannya, dan kami berbincang-bincang. Di tengah hiruk pikuk bis, sesaknya mereka yang duduk berdempetan, macam-macam bau yang mengudara hingga membuat mual, pedagang asongan penjajak barang jualan, apa saja. Namun, peduli amat dengan kondisi yang tak nyaman. Yang aku bayangkan, hanya nanti kami akan bertemu. Itu saja.

***
Aku sampai. Sebenarnya tujuan kami cukup tak jelas: tidak diniatkan dari awal untuk mencari aksesori, suvenir, berburu makanan, atau lainnya. Kami hanya sekadar hadir, dan melihat-lihat. Kebetulan, yang ada di sana adalah hal-hal yang tak biasa dapat dilihat. Sebut saja, benda yang khas dan selalu ada pada sebuah matsuri (festival) adalah mikoshi, dan danjiri. Mikoshi adalah sebuah kuil berukuran sedang yang diletakkan di atas kayu dan diusungkan beramai-ramai sambil berteriak Soya! Soya! Soya! Danjiri sendiri adalah kereta dorong, yang berukuran lumayan besar. Ditarik oleh beberapa orang, sementara di atas kereta tersebut para anak kecil menabuh drum sehingga membentuk sebuah nada sebagai iring-iringan. Ramai. Ramai sekali. Pertunjukkan iring-iringan ini membuat orang-orang kepo dan bungkam, mengingat yang kita saksikan adalah sebuah budaya luar yang bukan milik Indonesia.

Selanjutnya, kami berputar-putar lagi, untuk sekadar melihat-lihat, dan mencari-cari suvenir.

Aku sudah sampai, sekarang mau sholat dulu.”

Aku membaca pesannya, begitu ingat saat tadi aku bertanya meet point untuk kita bertemu. Baik, aku hiraukan lagi, sementara aku berkeliling ke pop stage untuk melihat performa dari pianis Rei Narita. Sayangnya, pop stage selalu kalah ramai dengan m stage. Sehingga, walau Rei Narita ini memiliki penampilan yang baik dan wajah yang masyaAllah, penontonnya tetap sedikit. Kondisi panggungnya juga panas tersorot matahari siang bolong. Aku yang sudah meleleh dari sebelum berangkat ke sini mengajak pergi sahabatku dan adiknya, untuk mencari hal-hal lain yang lebih menarik dan kembali ke m stage.

Seperti matsuri pada umumnya, selain arak-arakan seperti mikoshi atau danjiri, maka cosplayer tak pernah ketinggalan untuk ikut meramaikan acara seperti ini. Cosplayer adalah singkatan dari costum player, yaitu orang yang meniru sebuah karakter film, animasi, atau apa saja dari segi kostum, gaya rambut, dan aksesorinya seperti topi, senjata, dan lain-lain. Namun untuk soal ini aku tidak pernah ngoyo, bahkan terkesan selektif. Wajah yang ke-Indonesia-an kadang-kadang sangat tak pantas untuk meniru sebuah karakter yang amat ke-jepang-an. Kerap kali terkesan maksa dan amat tak cocok. Dan untuk melihatnya saja kami seperti merasa tidak enak sendiri. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk berfoto dengan cosplayer yang tampan, imut, cocok, dan keren saja. Beberapanya adalah Kageyama dari animasi Haikyuu!!, Kaito Kid dan Edogawa Conan dari animasi Detective Conan dan Sasaki Haise dari Tokyo Ghoul. Sementara untuk cosplayer perempuan, kami hanya mengambil foto bersama perempuan memakai yukata (baju tradisional jepang).

“Di mana?”

Tanyaku, karena si Kamu belum juga datang.

Aku di arena tembak. Kau ke sini.

Seketika, degup jantungku mengalahkan ramainya suasana panggung m stage, hebohnya promosi makanan pada stand masing-masing, dan suara iring-iringan mikoshi, danjiri. Jantungku lebih berisik dari mereka. Begitu juga kedua pipiku, organ dalam, tulang-tulang.. Ah, itu semua karena hari itu, kali pertama aku ‘jalan-jalan’ bersama si Kamu.

Setelah akhirnya kami saling mencari, tungak-tengok ke sana kemari, akhirnya aku menemukan si Kamu, dengan kaos abu-abu. Warna kesukaannya. Sempat aku lihat ia tertawa melihatku, begitu juga aku yang reflek ikut tertawa karena tertular olehnya.

Autofokus.
Bahkan begitu banyak orang, yang ingin ku saksikan hanyalah dirimu.

***

Kami sempat tersenyum untuk hal yang tak jelas. Aku sebisa mungkin menahan sikap over ku. Aku berusaha kalem dan woles kala menjawab pertanyaan sederhanamu. Aku kerap kali meninggalkanmu untuk jalan duluan dengan teman-temanku. Itu semua karena gugup, dan tak tau harus bicara apa. Seringkali aku berusaha bertanya balik padamu. Namun mungkin sikapku tetap terbaca, mengingat Kamu yang mulai memahami diriku. Memahami gelagatku.

Kerap kali kita berpencar dan berpisah. Kau juga datang bersama dan untuk kawanmu, kan? Namun aku tidak ingin melewatkan kesempatan. Kita berada pada acara yang sama, hiburan yang sama. Untuk sekadar berjalan-jalan, melihat segala-galanya yang aneh lalu kita tertawakan, sedikit lebih lama untuk tinggal.. tak apa, kan? Maka tiap kali berpisah dan kehilangan, aku langsung menanyakan posisimu. Hari sudah sore dan aku tau waktu kita takkan lama. Sebab itu, tiap kali kau luput, aku selalu bertanya “Di mana?”

***

Dan pada akhirnya memang benar. Sahabatku ribut ingin pulang. Ingin mengerjakan tugas kelompok. Ia bilang bukan masalah tugas kelar atau tidak. Namun itu perihal akan tanggung jawab. Memang sahabatku cukup keras. Bahkan kami sampai debat kecil akan hal itu. Aku beralibi ingin melihat hanabi atau kembang api. Namun sahabatku sungguh tak bisa. Tahun depan katanya. Aku menatapmu sebentar, untuk meminta pembelaan.

Dia akan pulang kalau aku juga pulang,”

Malah begitu katamu, hingga membuatku malu. Tapi, si Kamu ternyata mengerti. Ia mengetahui perasaanku, ku pikir.

Namun si sahabatku yang berkepala batu tetap berkepala batu. Pukul lima tiga puluh sore, akhirnya kami benar-benar pulang. Aku benar mengucap pamit padamu, dan temanmu. Meninggalkan suasana yang semakin indah karena lentera mulai dinyalakan. Langit gelap. Kerumunan padat. Ada perasaan berat, dalam diriku. Namun jika dipikir lagi, melihatmu pun sudah lebih dari cukup. Atas perbincangan langsung kita, dan foto bersama yang hanya ada pada ponselku, dan tak ku perjual belikan pada siapapun. Sore itu, aku meninggalkan Ennichisai 2016, dengan segala hiruk pikuknya, dan sejuta hal aneh yang membuat kagum pada mata.

***

“Oiya, makasi juga ya, hari ini.. Aku seneng, biarpun kaka dateng juga bukan buat aku, haha.. Hontouni arigatou gozaimashita..”

Maka ia menjawab,

Kata siapa? Cucian numpuk belum aku sentuh. Tugas bunpou seabreg renshuu itu. Belum kesentuh. Sebenernya aku yang ngajakin temen aku. Duh, jadi curhat. Gomen. Makasih juga..

===

Ennichisai Blok M 2016
-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s