Lagi.. lagi..

Aku duduk pada bangku-bangku kayu yang nampaknya baru saja dicat beberapa minggu yang lalu. Dari mana aku bisa mengidentifikasinya? Sederhana. Warnanya beda dengan teman-temannya. Lebih cerah dan berkilauan.

Entahlah, mungkin alasan aku duduk di situ adalah ia yang lebih terlihat baik daripada bangku yang lain; atau bisa jadi ia terletak paling dekat dengan jalanku singgah.

Lenganku kosong, kebetulam aku memang bukanlah tipe seorang yang gemar menggantungkan benda-benda pada lengan. Paling betah beberapa hari,sisanya kalau tidak lupa, maka benda itu telah tercecer di rumah. Lepas bagian-bagiannya. Begitulah aku, dari dulu.

Teman-temanku duduk kelelahan sambil menenggak air mineral botolan. Entah berapa kali transportasi panjang di depanku meniup terompetnya. Menandakan hendak berangkat. Membuat orang bergegas. Membuat orang sedikit mempercepat jalan mereka.

Aku menatap lengan lagi; pula kini dengan kakiku yang sedikit lelah karena bekerja lebih porsi. Aku meluruskannya, hingga sandalku terlihat olehku. Alat gerak itu banyak berjasa hari ini. Banyak memberi cerita, mengantarku ke tempat-tempat yang sebenarnya hanya aku lewati. Beberapa orang merasa kesusahan karena tulang kakiku yang panjang sedikit menghalangi trek mereka. Akhirnya aku tekuk kembali. Tak lagi memandangi lengan dan kaki. Tak lagi peduli dengan hari yang lekas-lekas berganti ini.

Sampai akhirnya…. sosok itu ku dapat. Tengah menunggu dibelakang garis kuning beransel hitam. Dengan kaos berkerah warna merah.

Ah, dia.

Seketika sesak berkumpul dalam satu lipatan. Memenuhi sistem pernapasanku, hingga mereka mogok beroperasi sesaat.

Sedang apa.. dia?

Aku berkedip, mengalihkan pandangku ke arah lain kecuali dia.

Tapi, kasusnya sama.

Ku temukan lagi, ransel hitam dengan celana jins dan sepatu familiar dari belakang.

Dia…

Apakah ia tak lupa untuk mengisi perutnya? Bagaimana dengan sholatnya? Ia benci dingin. Ia tak suka itu..

Aku berkedip lagi, sementara dadaku terasa ngilu.
Mungkin ini arti rindu. Rasa ingin bertemu yang bahkan tak terobati bila bukan padanya, pada dia. Karena bahkan berkali aku palingkan, ia lagi dan ia lagi yang aku temukan.

Maka teman-temanku menyudahi peristirahatan. Kami jalan lagi untuk mengakhiri perjalanan. Bangku-bangku itu kami tinggalkan. Lengan dan kakiku masih sanggup untuk beriringan. Syukurlah teralihkan. Syukurlah sosok yang mirip-mirip luput dari pandangan. Ekspektasiku. Khayalku. Namun nyatanya, ia lagi dan memang hanya dia.

Sesuatu salah dalam diriku.
Gumamku sambil berusaha lupa sesaat. Menggantungkan lengan kosong pada tiang-tiang tempat sandaran penumpang. Kabur dari rasa aneh itu. Aku alihkan pada teman-temanku. Ke hal dimana ada tertawaan dan semua ejekan. Aku lupakan segala-galanya dulu. Walau tak bisa. Walau masih ngilu.

Lagi. Tas ransel dengan kaos rupanya tak ku temukan sekali dua kali.
Lagi.. dan lagi..

Aku mengingatnya. Setelah menghindar dan berusaha sedikitpun tak mengganggu kehidupannya. Ya, aku tetap mengingatnya atau bahkan; tak tahu cara untuk menghentikannya.

Maafkan aku,
Karena sesuatu telah salah dalam diriku

===

06052016
-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s