Langit Menangis

Sebenarnya, apakah arti seorang aku dalam hidupmu?

Berulang kali, kalimat itu numpang lewat di dalam kepala. Namun dengan begitu pengecutnya, aku mengusir sekumpulan kata tanya itu jauh-jauh. Aku tak mau ambil pusing, karena yang aku pikirkan tiap kali bersamamu hanyalah tumpahan tawa, seruan akan sama idola, atau tugas yang kita tunda-tunda.

Mengapa Kamu rela menjadi tempat aku menggantungkan hidup?

Rupanya kalimat itu beranak pinak. Kini ia bertanya padaku akan hal-hal yang lebih ruwet, di mana ujungnya aku takkan bisa menjawab. Selama ini aku hanya merasakan enak sendiri. Hubungan kita bukan seperti jalak dan kerbau, yang notabene mutualisme. Aku kerap kali memanjakan diriku pada hal-hal tentang kamu. Sebatas yang ku mampu, hanyalah mendengarkan tiap cerita sinting dan peluh penat. Untuk sekadar beri nasihat, aku bahkan tak kuat.

Dan aku baru sadar kini, segala yang aku gantungkan padamu, benar-benar berimbas.

Orang-orang dengan congkak, menebar senyum penuh dusta kepada kita. Mungkin mereka sungkan, atau bahkan benci akan kita yang terus berdua. Aku lalu memilih untuk tak ambil pusing, dan berharap pada waktu agar beliau siap memulihkan. Namun Kamu memilih untuk menegaskan segalanya, dan berusaha mengubah keadaan. Aku bilang padamu, “Aku sudah merasa cukup menggantungkan segala-galanya padamu,” sementara kamu menjawab, “Jangan begitu, kita harus bisa berbaur dengan semuanya.”

Kemudian, kamu berkata lagi,
“Aku akan mengucap maaf pada mereka semua..”

“Untuk apa? Bahkan kamu tak ada salah pada mereka..”

“Setidaknya, ini untuk kedamaian hatiku..”

Aku menarik lenganmu, dan Kamu mengibaskannya. Langkahmu mantap ke muka. Menahan semua agar mereka rela mendengarkanmu. Suaramu bergetar. Kamu menunduk sambil tersenyum. Kata maaf kemudian kamu ucapkan lantang-lantang. Dan kamu bilang kamu ingin segala-galanya kembali ke awal.

Sementara aku dengan pengecutnya, bersembunyi di balik ransel hitam. Takut menyaksikan kamu mengeluarkan bukti kesakitan.

Sekejap saja hal itu terjadi, dan kita kembali berada pada jalan yang sama. Kamu berteriak bilang lega. Aku lagi-lagi tak bisa apa-apa, kecuali diam seribu kata.

Sebenarnya, apakah arti sebuah aku dalam hidupmu?

Berulang kali, kalimat itu numpang lewat di dalam kepala. Namun dengan begitu pengecutnya, aku mengusir sekumpulan kata tanya itu jauh-jauh. Aku tak mau ambil pusing, karena yang aku pikirkan tiap kali bersamamu hanyalah tumpahan tawa, seruan akan sama idola, atau tugas yang kita tunda-tunda.

Mengapa Kamu rela menjadi tempat aku menggantungkan hidup?

Maka jalan-jalan panjang aku lewati dengan lamunan. Lampu kuning yang tak beraturan, dan lengangnya kondisi malam itu membuatku bengong tak karuan. Untung saja tak ada bahaya, untung saja Allah melindungi.

Maafkan aku..
Sesampainya aku di rumah.

Untuk apa? Ohya, aku pikir aku takkan menangis. Nyatanya, banjir, nih.. :’D

Seketika..
Aku pun menangis juga. Atas segala kebaikannya. Atas segala naungannya. Mengapa orang-orang begitu tega membuatnya derita? Mengapa harus memasang senyum palsu di depan, bila aslinya memang tak suka? Mengapa orang-orang menjauhi kita?

Mungkin ini adalah salahku, yang begitu memanjakan diri terhadapmu. Hingga orang-orang sungkan terhadap kita, menjauhi kita, dan berspekulasi yang tidak-tidak tentang kita. Salahkah bila aku menggantungkan sepernik hidupku terhadap orang yang aku percaya? Mungkin memang salah, dan baiknya aku tak boleh terus bermalas-malasan dalam dekapannya.

Namun kini, untuk menjauh darimu bukan sesuatu yang bagus, dan pula bahkan tak ingin aku lakukan. Lagi-lagi, bahkan sampai detik ini pun aku hanya bisa menangis dan meminta maaf. Tak kuasa menguatkan sebab boleh jadi aku lebih lemah darimu. Yang bisa aku lakukan, hanya terus ada menemani, sekalipun nihil aksi.

Malam itu, langit menangis. Menumpahkan segala penat dan lara. Melapangkan diri atas semua kejadian yang ada. Hujan, pula awan kelabu ada. Menjadi saksi maya. Menemaninya, dalam diam bisu tak ada kata.

Malam itu..
Tak ada suara..

===

Hujan dan Abu-Abu Menyayangi Langit
-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s