Pulang Ke Masa Depan

Fiksi kedua.

===

“Assalamu’alaikum.. Semuanya, aku pamit ya.. Besok aku akan berangkat ke Kalimantan.. Perjalanan seorang laki-laki memang harus jauh, kan? Ya, merantau.. Mengadu nasib..”

Aku mengerjap, lalu tertegun lama. Pertemuan kami di acara ulang tahun Sania lima hari yang lalu tidak memberikan sebuah pertanda. Hanya kini, pesannya masuk ke grup jejaring sosialku. Memberikan aku sedikit shock ringan, hingga terpaku menatap layar ponsel. Begitu juga teman-teman dekatnya. Pesan grup langsung membludak, berisikan hal yang berupa seperti: kenapa mendadak sekali; wah, langkah yang kau ambil tak tanggung-tanggung, Cup! Dan lainnya. Kalimantan? Artinya luar pulau. Terpisah dari Pulau Jawa. Jauh sekali dari Ibukota.. Terlebih, mengapa mendadak sekali?

Napasku tertahan lama. Mendadak semuanya seperti kosong dan hampa. Aku..

Assalamu’alaikum.. Sarah…”

Aku gemetar. Satu pesan pribadi muncul, dari Yusuf.

Wa’alaikumsallam..”

Tak ada yang bisa aku sampaikan lagi kecuali menjawab salamnya. Apa yang akan ia katakan? Tentu saja ia tau kalau aku telah melihat pesannya di grup. Apa yang harus aku katakan? Tak tau. Kini aku benar-benar kosong. Bernapas saja seperti lupa, mengingat nanti ia akan jauh.. Jauh sekali dari pandangan mata..

Tidak. Tidak ada suatu hubungan khusus di antara kami. Aku hanya mengaguminya dalam hati. Sungguh dalam hati. Kami memang sering berbincang dalam jejaring sosial yang notabene hanya berisi tentang tugas kuliah, dan kepengurusan organisasi. Di dunia nyata ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sejenisnya, begitupula aku. Walaupun memang, diam-diam aku kerap hilang kendali akan mencuri-curi pandang bila kami berada di satu tempat yang sama. Ya ampun, seperti percintaan anak SD saja, tapi begitulah kami. Tidak, lebih tepatnya begitulah aku. Yusuf sendiri, mungkin tak menaruh perhatian lebih padaku.

Aku sudah baca pesan grup..”

Tambahku sebelum ia selesai mengetik. Sejenak pada statusnya ia menghentikan ketikannya, lalu melanjut lagi.

Kalau begitu, Sarah gak mau bilang sesuatu?

Aku diam. Napasku tertahan. Pias wajahku. Tertegun. Kenapa Yusuf menjadi seperti ini? Apakah.. Ia ingin tau pendapatku? Kenapa ia bertanya seperti itu? Aku tak tau harus bilang apa. Tangan mendadak kaku. Tentu… tentu banyak sekali yang ingin aku katakan padamu sebelum kamu jauh. Sebelum pandangan mataku terasa ganjil karena tak melihatmu sehari-hari. Sebelum mungkin nanti aku akan sakit karena rindu. Banyak sekali, Suf. Banyak… Dan aku sudah terbiasa menahan segala-galanya hal yang harus aku utarakan padamu. Dan ketika kamu menanyakan begitu, maka seketika aku melemah. Aku ingin menangis! Astaga Suf… mungkin aku memang telah menyukaimu bahkan lebih dari itu. Karena begitu aku sadar kini, begitu aku imajikan semuanya, aku baru sadar kalau aku takut. Masihkah kita berbincang di jejaring sosial? Sekalipun itu keadaan gawat, aku ragu, Suf..

Kalau aku kepada Sarah.. Aku doakan semoga pasca wisuda ini Sarah juga lekas mendapat sesuatu yang diinginkan. Aamiin.”

Aamiin.. Begitupula dengan Yusuf, semoga sama..”

Hanya itu yang bisa aku sampaikan di antara ribuan kata yang mendesak ingin keluar dari dalam kepala. Sejenak statusnya hanya online. Mungkin bingung harus balas apa. Eh, aku terlalu percaya diri. Mungkin saja itu memang sekadar basa-basi, dan memang kini percakapan yang ada hendak ia sudahi.

Aku menatap layar ponsel nanar, sambil tangan satunya mengusap kening. Mengapa ini terasa menyakitkan? Bukankah aku tak memiliki suatu hubungan apapun dengannya? Bukankah aku sama sekali tak berada di pihak yang dirugikan? Lantas, mengapa dadaku terasa ditusuk lembut, dan pelupuk mataku terasa berat? Detik-detik terus berlalu hingga berubah menjadi menit. Menit-menit berlalu, dan kini sudah mencapai putaran menit yang ke lima belas, statusnya masih online.

Sedikit sesak. Mungkin sejenak aku harus berpura tak pernah membaca pesan itu. Aku menyerah, dan pada akhirnya meletakkan ponsel pada meja. Sejenak tidur dan bermimpi mungkin baik untuk perasaanku.

===

Aku bangun. Jingga menelusup jendela kamarku yang bahkan sedari tadi terbuka. Aku bangkit dan menduduki diri di atas kasur, sambil menatap kosong awan-awan merah yang membuat langit begitu tampak ramai. Rupanya, aku tak lupa kalau esok Yusuf akan ke Kalimantan.

Aku lalu mengambil ponselku pada atas meja. Beberapa pesan grup ternyata masih berlanjut selagi aku tidur. Dan, sungguh seketika mataku membelalak melihat nama Yusuf pada layar ponsel. Ia mengirim sebuah pesan pribadi padaku, rupanya. Serta merta dengan sedikit perasan takut aku membuka pesannya.

Kau tau arti kata berat?

Langkahku kini seperti dibebani besi-besi.

Aku tak pernah bermimpi akan jauh dari orang-orang yang biasa aku lihat

Ibuku bilang lelaki memiliki langkah yang panjang

Aku bebas kemanapun, mencari pengalaman dan mempelajarinya untuk masa depan

Ah, mungkin iya

Gegap gempita tak di sini saja

Seminggu dua minggu aku memupuk semangat itu

Bahwa berpindah akan membuatku mengerti siapa aku

Namun lima hari yang lalu segala-galanya seperti dibinasakan

Mungkin juga tidak

Selama ini masa depan yang ku pikirkan tak pernah jauh

Tentang nafkah, hubungan sosial, sandaran hati

Aku pikir, masa depanku adalah yang aku lihat sehari-hari….

Namun berarti apakah perjalanan ini?

Tak tau pasti…

Yang aku doakan hanyalah, suatu saat aku akan kembali,

Pulang ke masa depanku nanti.. 🙂

 

Seketika, air mataku tumpah. Tak begitu mengerti… Namun rasanya, harapan muncul begitu saja. Dengan porsi yang tak ku duga…

Kembalilah, ke sini.. bisikku dalam hati.

===

Dan Gadis Itu Mulai Menunggu

-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s