Datang Bermain

Tak melulu langit terang.

Kadangkala, mereka juga memberikan bergalon-galon air cuma-cuma. Membasahi apa yang ingin dibasahi dan dibanjiri. Suka-suka beliau, mau berkelompok atau berkoloni.

Kala itu aku pindah sambil membawa sedikit luka. Kecewa sebab waktu, sesak karena rindu, dan macam-macam asumsi merebak. Menguatkan rasa pengecut, karena bahkan yang dilakukan hanya diam menunggu nasib.

Tapi tidak begitu demikian.
Di sini tak begitu buruk. Hamparan bukit dan tiang-tiang listrik tak berujung menjadi pandangan utama. Bayang entah gunung apa menduduki sebrang raga, walau mungkin itu hanya siasat alam menipu mata. Aku seperti berada di desa. Aku senang dengan udara pagi, siang dan petangnya.

Dan, sore ini kumulus datang bermain. Menyaba langit dan pepohonan yang bahkan tak tergolong rimbun. Ah, atau mungkin itu alasannya. Paham kalau hijau-hijauan kurang, dan merasa matahari telah sedikit lebih banyak masa jabatan.

Aku rasa akan hujan, sama seperti kemarin.

Kemudian, rintik-rintik itu turun menabrak bumi.

Aku duduk di depan, menyaksikan gemerutuk mereka yang meluncur bebas di atas permukaan kaca. Jalanan nyaris tak kelihatan, karena berkabut tebal. Sebelahku berhati-hati hendak mengebut. Kelabu telah mendapat tanda tangan untuk menurunkan hujan. Hujan deras yang membuatku bungkam.

Sore ini kumulus datang bermain, membawa kisah-kisah yang terjadi kala hujan turun.

Sore ini, sepanjang jalan aku hanya bisa melamun.

===

Di Samping Hujan,
Di Bawah Langit Deltamas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s