Salah

Kenapa soal masalah hati begitu mudah terjadi, sekalipun kita sangka itu terlalu jauh untuk diserap logika?

Akhirnya hanya pada kosong tatapanku mampir. Menerawang sesuatu dalam kepala yang tak letih isinya untuk beputar. Mendesak keluar dari kemelut yang tak jelas. Segalanya seperti ada benang-benang di dalam otak itu, kusut dan tak berujung. Dan lalu aku ditugasi untuk menyisiri dan meluruskannya. Demi kedamaian hatiku sendiri.

Aku lalu mulai menelusuri cabang-cabang mereka satu persatu di mana kondisinya hanyalah ruang gelap buta tanpa cahaya. Kakiku terseok-seok mengambil langkah, dan tanganku sibuk menggapai sesuatu yang bahkan tak ada. Kemana arahku pergi, dan mengapa aku masih terus berusaha menjajakan kaki pada ruang itu, aku tak tau.

Kenapa?

Oh, bahkan betapa bencinya aku dengan kata itu kini.

Salah.

Apa aku salah selama ini? Apa aku salah jalan?

Siapa aku di sini? Guna apa aku ada di tengah-tengah semua ini?

Sakit dadaku hingga ke telapak tangan, ditembaki bertubi-tubi pertanyaan yang semu. Apa hakikat aku terhadap sejarah-sejarah itu? Bagaimana hubungannya dengan cerita-cerita lain yang pada detik ini juga sedang beralur sesuai naskah?

Apakah aku ini?

Rongga paru seolah tertindih batu. Ini semua seperti kesalahan. Ini semua tak masuk akal. Jauh di lubuk sana aku ingin kedamaianku yang dulu. Tanpa perlu memikirkan benalu beserta parasit, kerikil atau paku payung. Aku suka aku yang melewati semua, bersikap seolah tak ada yang terjadi. Pura-pura melihat walau aslinya buta dan tuli. Memalukan namun aku ingin seperti itu lagi, aku ingin kembali.

Tapi segala-galanya telah berbeda kini.

Sejarah itu dan cerita-cerita pedih menyadarkanku bahwa berjalan sambil menutup mata bukanlah hal yang sederhana.

Itu semua adalah kesalahan dan kejanggalan. Aku merasa bahwa ini semua tidak sesuai dengan plot cerita. Tentang sesuatu yang lebih pantas menjalankan peranku, dan betapa malangnya nasib ia kini.

Pantaskah aku kini, berdiri di sini? Pantaskah perjalananku selama ini, hingga sejauh ini? Langkah-langkah yang ku ambil, angan-angan yang aku gapai, mereka berarti apa? Telah dikodratkan, atau sekadar pelajaran?

Mimpi-mimpi seperti lenyap ditelan deburan ombak yang menyapu tulisan nama di pesisir pantai. Aku bahkan tak berani sedikitpun untuk menatap kedepan. Aku sungkan. Aku malu. Aku sakit. Aku rumit dan macam-macam.

Bukankah harusnya kini aku bahagia, tertawa habis-habisan sambil mengucap syukur?

Mungkin pula harusnya begitu, namun tidak seketika bahwa aku mengingat-ingat lagi, memawas diri kalau sebenarnya bahkan aku bukanlah apa-apa. Tangis-tangis dan doa itu menamparku, membuatku berhenti sejenak, dan mungkin menyadarkanku kalau ini semua boleh jadi omong kosong. Ini hanya impian konyol. Ini hanya perhentian sementara.

Sungguh sakit, sampai aku hanya mematung dalam ruang gelap ini.

Aku berhenti. Kini berhenti.

Sejenak atau selamanya, tiada tau.

===

Maafkan Aku
-Dsamping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s