Pindah

Dinding yang hitam akan bekas pigura dan lukisan yang bertahun-tahun tak berubah posisi. Pojok atap yang berdebu, dan menyisakan sedikit sarang laba-laba. Karpet yang terjiplak, bekas dudukan laci dan rak-rak berisi kertas-kertas penting berlegal. Bangku-bangku kosong yang busanya kempes, karena terlalu banyak orang yang telah mendudukinya. Papan tulis yang menyisakan noda hitam karena dari tinta yang tertoreh di sana dengan tak sengaja adalah permanen. Meja-meja yang kusam tak lagi berporselen. Pintu-pintu yang perlahan lapuk dan berderit pelan. Lantai-lantai yang retak, dengan beberapa dari mereka yang tak serupa, penanda kalau dulu mereka pernah pecah dan yang tak sama itu adalah penggantinya.

Dan aku,

Akan hijrah, meninggalkan itu semua.

Alasan berpindah pasti macam-macam. Selalu akan ada alibi yang memungkinkan untuk diterima, baik itu ruangan yang terlalu sempit, kehidupan sosial yang gagal, sadar akan ketidaknyamanan, atau apa saja. Berpindah adalah harapan, dengan alih-alih yang tersisa adalah pelajaran. Berpindah butuh tenaga. Berpindah butuh usaha. Berpindah butuh perih. Dengan alih-alih demi sesuatu yang lebih baik, hingga pedih mu terbayar dan manismu mengembang.

Namun setidaknya,

Berpindah selalu meninggalkan bekas.

Bekas berupa memori. Indah atau buruk, mereka selalu terekam dengan bangunan-bangunan, pohon dan benda mati menjadi saksi. Jika Kamu pelakunya, maka mereka yang melihat. Segala-galanya….

Setidaknya..

Jalan-jalan panjang itu pernah ku lewati. Batu kerikil, pedagang makanan dengan asapnya, toko serba ada dan barang jualan mereka yang berdebu di pinggir jalan, kubangan air hingga kendaraanmu berenang, penjual sarapan, tukang tambal ban..

Ya, setidaknya berbulan bulan  lalu aku pernah melewati mereka. Mereka yang melihat aku dengan ekspresi sedih atau bahagia sekalipun tak kenal dan hanya seletingan saja..

Setidaknya..

Aku pernah berhenti di sebelahmu, di tempat kini yang akan aku tinggali. Entah menertawakan apa. Entah berpikiran apa. Aku pernah berbicara padamu beberapa patah kata. Aku pernah melihat senyum jarak dekatmu untuk kali pertama.

Setidaknya..

Cikarang Barat, 4 Februari 2016 punya cerita.

===

Sekalipun Pindah, Tetap Sama
-Di Samping Hujan

Advertisements

One thought on “Pindah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s