Gerimis dan Aspal

Jangan bosan, ya?
Siapapun Kamu, yang membaca tulisan-tulisanku belakangan ini, sebenarnya subjeknya hanya satu.
Ya, “Kamu” disini adalah orang yang sama, yang itu-itu juga.
Dan mudah-mudahan, memang takkan pernah lagi berbeda..

Rintik-rintik jarang pada hari Kamis. Aku sedikit mempercepat gerakanku untuk pulang. Langkah aku ambil besar-besar, karena langit juga mendesak hujan untuk tumpah; makanya gerimis ada. Pada hari Kamis. Pada langit abu pekat. Pada semilir angin dingin, yang menerpa kulit namun tidak tembus ke hati. Iya, biar begitu hatiku hangat. Seperti ada yang menyala di dalamnya; mungkin kembang api yang panasnya berhamburan ke pipi. Jantungku pun sedikit sakit, menahan perasaan gugup sekaligus gembira. Tapi hanya aku. Hanya aku mungkin yang merasa begitu. Atau seseorang di sana, aku tak tau..

Aku sampai di depan motorku, setelah dengan sedikit bodoh lupa posisi kuda besiku yang persisnya di mana. Tapi tunggu, sebelum duduk, sebelum jalan, sebelum mengenakan earphone pada telinga, pandanganku mencari-cari dulu. Katanya ada sosok berseragam putih-putih menunggu. Benar tidak? Tak tau.. Makanya aku mencari… Dan ternyata..

Ada, dan lekas seribu kembang api serasa dinyalakan sekaligus dalam hatiku.

Aku buru-buru. Tidak ada waktu untuk mempersiapkan earphone, mengenakan masker, atau apalah. Aku cepat-cepat, terbawa degup jantung yang tidak bersantai begitu melihat lambaian dan cengirannya tadi. Aku tak bisa kalem. Tak bisa woles. Tak bisa untuk tak senyum. Persis orang gila yang kerap kali ditemukan pada perempatan lampu merah kota. Eh, atau mungkin memang telah gila pada orang itu, ya? Tak tau. Tak ada waktu berpikir.

Aku keluar parkiran, berhenti disebelahnya, lalu menoleh. Ia perlahan menoleh juga padaku, dan kemudian.. Tertawa.

Kami tak bicara apa-apa selain tertawa, menutup mulut satu sama lain dengan punggung tangan. Mata kita bertemu, setelah pada Selasa malam bermain petak umpet habis-habisan. Mata yang menelusup dalam mata. Samar-samar aku lihat pandangan gembira di dua indra itu. Ada banyak arti di sana yang tak bisa dideskripsi. Ah, sama tidak ya dengan perasaanku? Perasaan yang luar biasa. Perasaan yang membuat bumi ini serasa hening, di mana isinya hanya aku dan dia, serta benda-benda yang memang bisu namun dapat menyaksikan semuanya: gerimis, aspal, pohon-pohon, dan awan kelabu.

Aku tak bisa kalem. Tak bisa woles. Tak bisa apapun selain ribut sendiri, bertanya-tanya sendiri, bagaimana tampangku di depannya. Aku tak bisa kalem. Tak bisa woles. Mengatur napas saja sulit, karena kini bukan hanya seribu, tapi sejuta kembang api serasa nyala di dadaku. Rindu-rindu luntur. Penat-penat enyah. Semua kelam dan kecewa pada hari itu terbawa angin, lalu hilang begitu saja ditelan udara. Mungkin peri bocah yang berpanah sedang habis-habisan menembakki aku, atau dia. Sampai aku sebegitunya. Hiperbola.

Tak lama, kok. Tak lama.

Dia kemudian mengembalikkan flashdisk ku, serta memberi wafer coklat dan plester. Aku tak mengerti, namun ia bilang ia akan menjelaskannya suatu saat.

Tak lama, kok. Benar-benar singkat. Tak sampai lima belas menit, kami hendak bubar.

Dia lalu menyuruhku untuk lebih dulu jalan, sementara aku sendiri ingin menatapnya dari belakang. Kami debat kecil akan hal itu beberapa saat dan akhirnya dia mengalah.

Tak ada yang spesial mungkin bagi Kamu orang ketiga. Orang yang membaca tulisan ini. Orang yang membayangkan kejadian aslinya seperti apa. Tapi berbeda bagiku, seorang protagonis dalam hidupku sendiri.

Tentang gerimis dan aspal. Tentang pohon-pohon dan angin. Tentang awan abu-abu di sore hari. Tentang senyuman dia. Tentang flashdisk yang dulu sempat hilang, dia bantu untuk menemukan, dia pinjam, dan kini dikembalikan. Tentang basa-basi soal jas hujan. Tentang wafer coklat dan plester luka. Aku tuliskan momen ini, kenangan ini, di sini, bukan untuk apa-apa.

Melainkan hanya ingin masih bisa membacanya, dan terus mengingatnya sekalipun nanti kita menua dan melupa.

===

Lucu Sekali, Omong-Omong.
Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s