Setidaknya Telah Ku Titipkan

Tadi malam berjalan seperti biasa. Sekitar pukul sembilan kami berbincang-bincang lagi lewat jejaring sosial yang bahkan anak sekolah dasarpun memiliki akunnya. Kami bercerita tentang banyak hal. Tentang kegiatanmu yang kini senang menulis sesuatu pada blog dan levelnya kian membaik, atau tentang tulisan terbaruku yang runyam tak berarah. Kini mengobrol denganmu telah menjadi rutinitas. Aku bukan bilang tidak spesial: segala tentangmu selalu khusus di mataku. Hanya saja, kini mengobrol denganmu menjadi sesuatu yang sama halnya dengan kebutuhan makan. Iya, tiga hari sekali, atau lebih.

Kau juga bercerita padaku bahwa pekerjaanmu siang hari kemarin menguras energi. Aku senang jadi tempat aduan kecilmu itu. Segala apapun tentangmu lagipula aku ingin tau. Aku ingin memahamimu, lebih dari rekan kerja atau teman sepergaulan. Ya, mungkin Kau akan menertawakanku atas cita-cita itu. Tapi aku sungguh-sungguh. Aku tau hal itu tidak cukup dalam kurun sehari dua hari, sebulan dua bulan. Manusia takkan bisa dideskripsikan sesingkat itu. Persahabatan selama lima belas tahun saja bisa runtuh karena salah paham. Bagaimana denganku yang baru dua bulan masuk dalam hidupmu?

Serta merta, aku menyarankan agar kau tidur lebih cepat. Kau menyetujuinya. Ucapan tidur meluncur bebas di atas papan ketik ponsel pintar. Kau tanpa embel-embel apapun lekas menjawab hal serupa. Entah kenapa, biasanya Kau menanyakan sesuatu yang aku ingin sampaikan sebelum kita berselancar di dunia mimpi, namun kala itu tidak. Maka aku berinisiatif untuk mengutarakannya.

Tidak, segala sesuatu yang ingin aku sampaikan itu tidaklah terencana. Tiba-tiba saja ada di dalam otakku, dan ingin aku sampaikan. Sama sekali aku tidak berpikir tentang tanggapanmu nanti. Aku hanya ingin sekadar bicara kalau aku hendak menitipkannya. Aku lupa kalau di dunia ini banyak kemungkinan: bisa saja titipan itu kau tolak. Bisa pula selain kau tolak, titipan itu bukan hanya dikembalikan namun dibuang begitu saja. Ya, aku sama sekali tidak memikirkan itu, apalagi kau juga tidak menanyakan apa yang hendak ku titip. Kau langsung mengizinkannya dengan mudah. Akupun dengan sedikit malu memberikan titipan itu.

Apa tanggapanmu kala itu?

Aku tak tau pasti. Kau hanya balik bertanya, bila aku menitipkan, akankah suatu hari hal itu aku ambil lagi? Sungguh, sebenarnya aku ingin memberi. Walau tak semua. Walau hanya sepotong. Tapi siapa pula aku? Ya, kau bisa membaca ulang kalimat terkhir pada paragraph kedua. Seseorang yang baru dua bulan hadir dan sedikit mengganggu hidupmu, tak lebih. Maka aku memutuskan untuk menitipkannya saja, agar suatu saat kau bisa leluasa untuk mengembalikannya.

Setidaknya.

Rasa bosan adalah salah satu ciri khas manusia. Mereka suka yang baru dan berubah konstan. Dan dengan segala rutinitas kita kini, itu yang ditakutkan, kan? Bosan. Lalu, jika suatu saat bosan itu hadir di antara kita, bagaimana? Maka semalam aku berpikir juga, sebaiknya kita saling menjaga, agar tak pernah ada kata itu di antara kita. Aku ingin mencegahnya, dan pula..

Setidaknya..

Biarpun rutinitas kita akan sedikit berubah, aku telah menitipkan sepotong hati padamu. Misal sewaktu-waktu aku hilang, atau begitupula denganmu, aku akan ingat bahwa dalam bagian diriku ada padamu. Itu yang akan ku jadikan bahan untuk merindu padamu, sekalipun kau tak dipandangan mata, atau suaramu tak kunjung ada.

Sesederhana itu, kah? Ya, memang. Hal itu sama pula sederhananya dengan caramu yang membuat sebuah dongeng roman dikisahkan: dua anak tangga sekaligus yang kau lompati selepas magrib.

===

“Oyasumi.”
“Mata ashita ne..”

“Mata ashita.”
“Eh boleh nitip sesuatu?”

“Boleh.”
“Banget.”
“Nandesuka?”

“…”
“Titip ya :’D”

“Kalo nitip berarti ntar diambil lagi.”
“Kan cuma nitip.”

“Sebenernya mau ngasih.. Takut kakanya gak mau..”

“Sou.”
“Yaudah nitip dulu ya..”
“Aku jagain kok..”

===

Dan yang Aku Titipkan, Adalah Sepotong Hati
-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s