Berterimakasihlah Pada Jarak

Perlahan semua orang akan berubah. Pola pikir serta tingkahnya, cara kerja atau interaksinya, semua akan terus berkembang. Biarpun dewasa adalah pilihan, namun lamat-lamat semua insan akan memahami apa yang sebaiknya lebih pantas untuk dipikirkan atau dilakukan. Mencari tau solusi mana yang paling baik dan teramat bijak. Melihat suatu hal dari segala perspektif dan sudut pandang, untuk menemukan hikmah hingga hatimu lapang.

Maka jika begitu, dewasaku kini, Tuan Jarak, boleh jadi dahulu aku membencimu.

Tak ingin Kamu di dekatku, yang menjadi pemisah dua raga atau lebih yang saling butuh, saling ingin lihat dan saling ingin bertegur. Berdoa pada Sang Pencipta agar Kamu diperpendek, atau bahkan dienyahkan. Tak rela padamu, nekat mengedepankan ego supaya menerabas rindu.

Ya, aku pernah mengalami fase seperti itu dan bagaimanapun aku minta maaf. Kini aku paham kalau Kamu, Tuan Jarak, tak pantas diperlakukan seperti itu. Berkeluh atau bahkan mengutuk tentangmu. Mungkin sampai sekarang, masih ada yang memperlakukanmu seperti itu, ya? Haha, sabarlah, Tuan Jarak. Mereka sebenarnya hanya belum tau betapa berartinya sesuatu sepertimu.

Maka, siapapun yang membenci jarak, teruntuk dua manusia yang suka berdoa agar bisa kekal bersama, namun belum sampai pada waktunya.. berterimakasihlah padanya.

Karena yang pertama, jarak mengajarkanmu apa arti sebuah sabar. Sabar untuk menanti jumpa, dan menahan rasa. Sabar untuk mengucap kata yang bukan berupa aksara. Sabar untuk segala-galanya, atas dia yang kamu nanti dan kamu impi. Atas dia yang kamu tunggu untuk hidupmu kini dan nanti.

Berterima kasih pula padanya, karena dia yang mengajarkanmu akan kesetiaan. Dimana ketika sepotong hatimu itu tak ada di sepanjang penglihatan, masihkah dalam hatimu hanya beliau seorang? Jarak memberimu ujian, akan hal-hal tentangnya yang bisa kamu pertahankan sekalipun kalian tak berdampingan. Jika Kamu lulus, maka selamat. Kamu dipastikan telah mencintai sepotong hatimu dengan penuh tanggung jawab.

Dan, jangan lupa berterima kasihlah padanya karena ia satu-satunya subjek yang menjelaskan caranya merindu dengan baik dan benar. Merindu dengan segala rasa sakit ketika di tahan. Merindu yang semisal tersampaikan, melihat beberapa detikpun serasa mendapat keajaiban. Itulah arti rindu yang sesungguhnya, dimana rindu selalu bermuara. Haruslah sepotong hatimu, yang menjadi ujungnya. Dan dengan jarak, Kamu akan bisa menganalisa. Jika rindu itu lepas dengan sesuatu yang bukan dia, itu bukanlah rindu. Itu hanya kesepian dalam hatimu.

Ya,

Memang belum lama akupun sadar, kalau selama ini mengutuk jarak bukanlah tindakan yang dibenarkan. Jarak justru menjelaskan bagaimana caranya mengindetifikasi seseorang: apakah dia sesuatu, atau hanya butir debu dalam hidupmu. Jarak memberi taumu akan macam-macam rasa. Jarak mengajarkanmu, tentang cinta yang tulus dari hati, bukan karena ada selalu di sisi.

Maka sekali lagi, siapapun yang kini terpisah jarak, tersiksa karena sakit rindu teramat, sesungguhnya Kamu harus berterima kasih padanya..

Ohya, satu lagi.

Kalau dari si Penyuka Abu,

Jarak adalah cara, bagaimana Allah menjaga iman kita.

(Seketika aku mengangguk, membenarkan, atau bahkan menganggap memang inilah poin yang paling penting. Dengan menganggap begitu, maka takkan ada nekat dalam dirimu untuk melakukan hal yang aneh-aneh, selain berdoa padaNya untuk dipertemukan.)

===

Semoga Saja,
Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s