Kenapa

Kenapa adalah pertanyaan paling kompleks menurutku, dari keenam kata tanya lainnya. Jika siapa, dimana, kapan, dan apa bisa dijawab dengan satu kata, maka kenapa kadang-kadang akan dijawab dengan tiga paragraf atau lebih. Kenapa akan menjelaskan segalanya yang Kamu tak mengerti dari awal, sebab sebuah kejadian. Titik pertanggungjawaban paling tinggi atas sebuah peristiwa. Ohya, mungkin kalian akan berpikir semacam bukankah biasanya pada sebuah wacana, “bagaimana” adalah kata yang paling panjang paparannya? Bisa jadi begitu, namun ketahuilah kalau kenapa tidak ada, sebuah kata bagaimana takkan pernah tercipta.

Lalu, kenapa harus aku?

Maka seketika aku hanya bisa mengerjap. Tertegun dalam ruang-ruang imaji tak bersekat, di mana hal-hal di dalamnya berputar, seperti mesin slot kasino yang telah diatur untuk takkan berhenti. Kenapa haruslah dijawab dengan jelas, beralibi kuat. Tak boleh sekadar satu kata, apalagi hanya anggukan dan gelengan kepala. Kenapa? Batinku sendiri, lalu suaranya menggema. Menggetarkan seluruh organ-organ dalamku, membuat mereka terpaksa berpikir juga. Kenapa harus Kamu? Ulangku lagi, lagi, dan lagi. Mencari-cari dalam jembatan bangun dan mimpi. Berusaha meretas sesuatu yang aku tutupi dari sendiri. Eh, memangnya ada yang seperti itu? Sepertinya tidak. Lalu? Ahya, aku mulai berprasangka pada diri sendiri, menduga kalau kini aku hanyalah seorang moderator, yang memandu sebuah acara kebohongan dan dipublikasi.

Aku menarik napas.

Aku tak begitu suka dengan kenapa. Jika jawabannya begitu lugas dan sederhana, mungkin biasa saja. Tapi jika kenapa diajukan padaku, sementara aku tak mengerti betul apa jawabnya, maka kenapa akan terus membuatku bertanya-tanya pada diri sendiri, ketika aku tak memungkinkan untuk menjawab kenapa dengan sederhana.

Bisakah Kamu mengerti sendiri, tanpa aku harus bicara apa-apa?

Balikku bertanya, dengan bodoh karena sudah tau jawabannya takkan bisa. Mustahil pula, ya? Oh, sebaiknya aku mulai sesekali menyelipkan doa supaya indra keenam yang kau punya kian menajam. Pula tingkat kepekaanmu yang naik level hingga Kamu berhenti menumbalkan si kenapa. Berhenti untuk membuatku diam tiba-tiba sambil mengerjap lima belas kali dalam tiga puluh detik lamanya.

Nah, apalagi jika pertanyaanmu seperti:

Kenapa harus aku, ya?

(Rasanya ingin aku merakit bom, meledakkannya di tumpukkan kapuk, hingga sesaat orang-orang termasuk Kamu akan terbengong-bengong melihat bulu yang menari-nari di udara dan lupa tanggung jawabku untuk menjawab hal-hal itu.)

NB :     Setelah ini, tolong jangan tanyakan semacam: “Itu tulisanmu, kenapa?”

===

Iseng,
Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s