Aku Hanya Berimaji

Aku hanya berimaji, kelak kita akan menelusuri taman hiburan dengan dua permen kapas yang manis kelewat batas. Menaiki komidi putar, menceritakan segala kisah dari ketinggian lima puluh meter atau lebih. Menelusuri rumah hantu, sambil memekik atau bahkan hampir menangis. Berayun dalam ayunan, menuruni bukit dengan kereta gantung, atau berputar dalam sebuah mangkok raksasa.

Aku hanya berimaji, kelak kita akan menangis bersama. Saling menumpahkan peluh dan penat masing-masing kehidupan. Mungkin salah satu di antara kita ada yang bahkan tak kuat menahan emosi. Namun baik Kamu atau aku akan berusaha bertindak dengan kepala dingin. Mencari masing-masing solusi. Saling memperjuangkan, dan saling memberi peduli.

Dan, aku hanya berimaji, kelak di depan kita tersedia dua cangkir teh yang mengepul. Menghangatkan telapak kita, yang duduk di samping hujan. Membicarakan anak-anak kita yang telah tumbuh dewasa, dan anak dari anak kita yang telah sukses membedakan huruf R dengan L. Mengenang semua sisa-sisa memori berdua, walau sebenarnya lebih banyak yang terlupa.

Aku hanya berimaji, kelak akan seperti itu.

Kalau Kamu, berimaji apa?

===

Yah, Bagaimanapun Aku Memanglah Tukang Khayal
Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s