21 September, Di Bawah Pohon Kersen

Ini adalah fiksi pertama pada blog ini. Seperti yang pernah saya bilang, bahwa saya sangat menyukai hal yang manis, dan fiksi ini bertemakan seperti itu. Makanya, jika yang tak suka, boleh seketika berhenti dan pindah pada bacaan lain yang lebih bermanfaat.

Happy read.

===

Mataku terbuka.
Dering lagu Tanataro oleh Honeyworks membangunkanku untuk kesekian kalinya pada pagi hari. Aku meraba-raba kasur, mencari benda empat persegi panjang yang selalu aku bawa kemana-mana. Setelah ketemu, buru-buru aku menyentuh layar ponsel untuk mematikan alarm. Namun begitu melihat tanggal yang terpampang besar-besar padanya, seketika aku tertegun.

21 September.

Itu berarti, tepat dua tahun lalu harapanku kandas. Dua tahun aku berusaha kuat. Dua tahun aku merelakan sesuatu yang tak pernah bisa aku lepaskan. Dua tahun aku berpura-pura. Dua tahun aku mengucap doa, agar dia kembali ke sisi. Dua tahun aku menerka-nerka kegiatannya. Dua tahun aku menunggunya.

“Dev? Bukankah ingin berangkat lebih pagi kali ini?”

Sapa ibu sambil mengetuk daun pintu kamarku lembut, menyadarkanku sejenak dari segelintir kenangan yang entah harus ku sebut manis atau buruk.

“Ya..” sahutku.

===

“Aku akan ke Surabaya, Dev.. Aku tetap harus menuruti mau Ibu.. Dan Kau tau, kemungkinan aku takkan bisa kembali ke sini..”
Hatiku terasa dipaku seketika. Otakku terasa lambat berputar. Langkahku menjadi berat, tak bisa meneruskan untuk beriringan dengannya. Kopi yang ada pada genggaman tangan kananku nyaris tumpah, karena mendadak aku kehilangan tenaga. Aku pikir, tiap rasa peduli dan sesekali ucapan sayang itu milikku sepenuhnya. Aku pikir, seseorang di depanku ini memiliki rasa yang sama denganku, dan ingin memperjuangkanku.
“Kau yakin?” pertanyaan yang lucu, karena seolah-olah semua keputusan ada pada tangannya. Nyatanya, aku ingin ikut andil. Aku ingin ia tetap tinggal. Aku ingin ia mendengar keluh kesahku, mempertimbangkan kemauanku.
“Aku tak bisa menolak. Paling tidak, aku harus melihat dulu bagaimana orangnya.”
Apakah semua itu berarti, jika gadis yang dijodohkan dengannya lebih cantik dariku, maka ia akan dengan senang hati menerima? Oh tentu saja. Semua laki-laki akan memilih yang jauh lebih cantik. Kebaikan hati dan kesetiaan yang diutamakan hanyalah alibi dan omong kosong. Lagi pula, apa aku ini menurutnya? Teman masa kecil yang bodoh, menganggap satu sama lain saling suka. Itu saja.
Napasku sesak. Aku ingin menangis tapi tak bisa.
“Kalau menurutmu itu baik,…”
Tiba-tiba, ia memelukku. Di antara ratusan orang yang berlalu lalang pada tepi kafe. Di bawah pohon kersen yang baru saja tertimpa air hujan hingga tetesnya jatuh pada pipiku.
“Dev, bagaimanapun nanti masa depan kita, Kau harus ingat kalau aku pernah menjadi bagian dari ceritamu.”
Nada suaranya yang merendah membuatku ngilu. Dekapannya, hangat tubuhnya, irama detak jantungnya seolah ingin membunuhku seketika. Aku tak ingin ia pergi. Aku ingin ia di sisi. Air mataku mendesak ingin keluar, sementara dadaku naik turun cepat untuk menahannya tumpah. Apa sebenarnya maksud kata-katanya? Jadi selama ini ia mencintaiku atau hanya mempermainkanku? Kenapa harus memupuk harap kalau akhirnya ia akan pergi meninggalkanku?
“Aku tak mengerti.” Suaraku tergagap, namun dengan susah payah ku tutupi. Tak ada sedikitpun yang aku mengerti akan dirinya. Tak ada.
“Aku pun.” Sahutnya, lalu menghela napas, “Maafkan aku. Untuk sementara, aku pula ingin mencari tau apa sebenarnya yang aku mau..”

“Ehem!”
Mataku membelalak. Gadis berseragam sekolah menengah pertama dengan wajah sedingin es berkepang dua menatapku tanpa kedip. Astaga, aku melamun masa lalu lagi.
“Buku yang ini. Tolong.” Katanya sambil mengacungkan sebuah buku kalkulus, dengan gaya bicara yang sudah sangat malas. Sepertinya ia telah menegurku beberapa kali ketika melamun tadi.
“Oh, itu di sana, di rak E.3 pada baris ke dua.”
Tanpa mengucap apapun, ia berlalu dari hadapanku.
Aku mengusap kening. Tanggal 21 September ini selalu mengubahku menjadi orang yang hidup di dua dimensi waktu sekaligus. Masa kini dan masa lalu. Tentang dulu yang pernah aku rasakan dan kini hilang tak bersisa apa-apa. Ya, aku memutus kontak semenjak dua tahun lalu, sampai tak ada sama sekali media yang memungkinkan untuk kita saling berhubungan. Semata ingin melupakan dan berharap ia tak pernah mengingatku. Biarlah ia bahagia, tanpa harus aku tahu. Biar.
“Dev, pulanglah. Kau kelihatan sangat tak baik.”
Seniorku tiba-tiba menepuk bahuku. Wajahnya yang teduh menyiratkan rasa khawatir. Yah, beruntung memang karena aku memiliki atasan sepertinya. Cantik dan begitu baik. Siapapun pasti akan jatuh hati. Ah, apa mungkin jodohnya yang di Surabaya seperti orang di depanku ini, ya? Kalau betul, maka beruntung.
“Aku baik saja, sungguh.”
“Pulang saja, atau mampirlah ke kedai kopi. Wajahmu sangat lesu hari ini. Aku yakin Kau butuh relaksasi.”
Ucapnya panjang lebar, dengan nada cemas terselip di antaranya.
Aku tersenyum muram. Rupanya, tak hanya perubahan dari hati yang aku rasakan. Namun orang lain pun bisa membaca kalau ada yang salah pada diriku hari ini.
“Aku memang tak baik tiap tanggal ini,” ucapku, lalu mengemas barang-barang. “Terima kasih, ya.. Aku pulang cepat.”

===

Aku berbelanja. Secangkir kopi gelas plastik pada tangan kanan, dan sekantung makanan yang konon katanya bisa memperbaiki perasaan pada jinjingan kiri. Aku harap aku sehat. Aku harap syndrome 21 September kala ia memelukku di bawah pohon kersen takkan pernah aku rasakan lagi. Aku harap, ini yang kali terakhir.

Namun beberapa lama, hujan gerimis melanda tiba-tiba. Sedari tadi, awan memanglah agak kelabu, tapi aku tak menyangka kalau ia turun sekarang. Aku berlari kecil, dan tanpa pikir panjang segera mampir ke bawah pohon berukuran sedang, hendak membentang payung lipat yang selalu aku bawa untuk sekadar jaga-jaga dari terik matahari atau hujan seperti ini. Aku meletakkan gelas kopi dan barang belanjaanku pada trotoar jalan, lalu mulai mengaduk isi tas. Setelah payungku dapat, aku membentangnya dan mengemas barang yang tadi aku letakkan sembarang.

“Kopimu..”
Ucap seseorang, menghentikan langkahku seketika. Rupanya, kopiku tertinggal. Aku kemudian berbalik hendak mengambil sesuatu yang ia ingatkan tadi.

“Dev?”
Serta merta aku baru sadar kalau sebenarnya aku sangat mengenali suara ini. Suara yang selalu meneleponku pada pagi hari. Suara yang pernah mampir pada voice note jejaring sosialku. Suara yang dua tahun aku rindu. Suara yang pernah berbisik di telingaku, pada tanggal 21 September di bawah pohon kersen.

Aku lalu memberanikan diri untuk mendongak, menatapnya. Dan itu benar. Itu dia..

“Aku pikir kita takkan bertemu lagi..” ucapnya, dengan tampang tak percaya. Begitu juga aku, hingga tak ada yang bisa aku lakukan kecuali mengatur napas. Mendadak aku lemas hingga payung dalam genggamanku lepas, jatuh entah kemana.

Laki-laki yang ku tunggu, kini hadir di depanku tanpa suatu perubahan pun ada padanya.

“Takkan pernah..” balasku reflek, dengan pelupuk mata yang terasa berat sekali untuk menahan sesuatu yang akan tumpah. Demi Tuhan, aku rindu.. Namun.. dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Dua tahun berarti dua puluh empat bulan. Jika ia dijodohkan, maka pasti..

“Selamat..” ucapku, dengan tangan gemetar mengulurkan jabatan. “Semoga bahagia, sampai akhir hayat.” lanjutku. Adegan itu semakin sulit ketika titik air meluncur bebas dari mata ke pipiku.

Ia lalu tertegun menatap tanganku yang menggantung. Mengerjap-ngerjap, seolah tak mengerti apa maksudku.
“Hey, Dev.. Kau..”

Aku menarik kembali tanganku. “Waktuku tak banyak, aku harus cepat bekerja lagi..” bohongku, lalu segera memutar badan. Namun tiba-tiba dengan cepat, genggamannya melingkar pada pergelangan tanganku yang bebas dari barang bawaan. Kemudian dengan satu sentakan, ia menarikku ke dalam dekapannya. Aku tertegun. Mata ini masih belum bisa berhenti menangis, namun benar-benar tak ada yang bisa aku lakukan, kecuali menatap langit mendung dengan sedikit titik air berjatuhan di antara celah daun kersen.

Kejadian itu terulang..

“Aku pernah bilang..” helaan napasnya terdengar pada telingaku, “Kalau aku ingin mencari sesuatu yang sebenarnya aku mau. Dan rupanya, sebaik apapun yang dijodohkan denganku, sebaik apapun suasana kota Surabaya, separuh hatiku tetap ada di sini..” ia lalu mempererat dekapannya, “bersamamu..”

Tangisku  tumpah seketika, tak aku tahan-tahan lagi. Semakin menjadi. Perlahan tanpa sadar jemariku mencengkram erat jaket yang ia kenakan. Aku rindu, rindu teramat. Tolong katakan ini bukan lah mimpi. Tolong jangan mempermainkanku. Tolong.

“Dua tahun aku merenung. Dua tahun aku berusaha melupakan. Memang sangat lama, dan aku mengaku kalau sudah sangat terlambat. Tapi percayalah, aku kini telah paham kalau Kau satu-satunya tempatku berpulang.” ia lalu membelai rambutku, “Maafkan aku..”

Aku hanya bisa menangis. Menangis sejadi-jadinya. Merasakan sakit dan nyaman luar biasa dalam dekapannya. Tak ada yang bisa aku katakan, kecuali berisak seperti anak kecil yang tersesat, lalu berhasil menemukan ibunya.

Seseorang dua tahun yang aku nantikan kini pulang kepadaku. Tepat pada tanggal 21 September di bawah pohon kersen sehabis gerimis menderu.

pohon-kersen-di-pinggir-jalan

===

Untuk Kamu, Yang Tak Pernah Lelah Menunggu

-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s