Pilih Mana

Aku adalah manusia yang menyukai hal-hal manis dan lucu. Sangat. Tak heran jika mungkin bahan tontonan animasiku penuh dengan jenis komedi romantis. Pernah baca disebuah situs, kalau seseorang yang menyukai film atau hal-hal manis seperti itu berarti mereka memiliki kisah percintaan yang buruk atau bahkan gagal sama sekali. Well, aku tidak begitu peduli.

Kebetulan, semalam ini aku memutuskan untuk berkunjung ke sebuah restoran cepat saji bersama teman baruku. Berdua saja, sama jenis denganku. Memang terlihat seperti pasangan homogen, namun terserahlah kata orang. Kami masih butuh cerita untuk memperdalam dan mengaitkan hubungan kami supaya kuat.

Aku lalu mengawali perbincangan, dengan langsung mengutarakan apa-apa yang terjadi padaku. Aku juga sedikit memaparkan kegelisahanku. Ia menyimakku, sedikit memberi tanggapan, namun semuanya ia kembalikan lagi padaku. Aku tau, pasti maksudnya, segala keputusan yang aku ambil adalah bebas hak milikku serta bukan campur tangannya.

Sedikit saja yang bisa aku deskripsi, selanjutnya giliran aku yang meminta ia supaya mengutarakan curahan hati. Aku penasaran dengan sesuatu yang mengisi tempat pada hatinya. Ia dengan sedikit malu perlahan menjawab patah demi patah kata, atas sesuatunya itu padaku.

Dimulai dari kali pertama ia mengenal sesuatunya itu. Aku sesekali tersenyum, paham bahwa aku juga pernah merasakan jatuh cinta ketika menginjak bangku sekolah menengah atas. Ia menceritakan adegan-adegan yang sederhana, namun sukses membuatku meleleh di tempat. Dan Kamu tau? Semua cerita yang ia paparkan hanya dalam kondisi di masa pendekatan. Tidak, ia tidak menjalin sebuah hubungan. Ia dan sesuatunya itu hanya sebatas dua insan yang diam-diam memiliki rasa terpendam.

Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, kok biarpun tanpa istilah pacaran kisahnya bisa manis sekali?

Semua rasa sedih, manis, pahit dan asam terasa tercampur menjadi satu, namun masih dalam takaran yang sedikit. Anehnya, itu semua bisa terasa begitu enak saat dibicarakan. Lebih manis seribu kali. Lebih indah seribu kali. Soal penantian dan tunggu-menunggu, soal sedikit perhatian dan rasa sakit. Soal bagaimana Kamu bertindak pada sesuatu sebelum kalian dilegalkan, di mata hukum dan Yang Memutuskan.

Aku jadi berkaca pada diri sendiri. Mungkin banyak kenangan manis yang telah aku lewati. Tapi tidak semenarik ceritanya. Lalu apa yang aku lakukan selama ini? Mengapa aku pernah mengizinkan diri sendiri untuk terkait hubungan pada orang lain, sementara tanpa hubungan itu kisahku akan lebih indah sepertinya? Mengapa tidak sedikit sabar untuk menanti sampai halal?

Jika memang dia rela ingin menunggu, katakanlah padanya untuk benar-benar menunggu.

Itu kalimat yang sampai sekarang masih hangat dan mengeliang di dalam otak. Indah tidak menurutmu? Indah sekali. Rasa memang bukan sesuatu yang dapat dipaksakan untuk ada atau tiada, namun setidaknya Kamu bisa menahannya. Kamu bisa sedikit lebih bersabar.

Untuk apa sih pacaran kalau nantinya putus lagi? Memangnya yakin kalau sesuatumu itu yang memang dicocokkan untukmu?

Pendapatnya sambil terlihat sewot. Aku mengangguk-angguk paham sambil terkekeh. Ia lalu mengemukakan manfaatnya juga, kalau tanpa hubungan itu hatimu bisa lebih safety. Saat orang-orang sibuk dengan kegalauan, Kamu tidak akan merasakan sampai dengan titik yang mereka rasakan. Kamu akan hanya berlaga di permukaan. Kamu tidak akan terlalu merasakan kecewa dan sakit yang berkepanjangan. Karena, Kamu tidak ikut dalam permainan hubungan itu. Kamu tetap dalam prinsipmu.

Aku lalu setuju lagi. Setuju teramat. Setidaknya aku jadi tau apa yang harus aku lakukan. Apa yang harusku perbuat. Aku tidak akan ikut main sebelum boleh. Intinya begitu 😀

Lalu,

Bagaimana denganmu?
Pilih mana?

Ingin cepat jadi bahan mainan, atau menunggu langsung diseriuskan? 😀

===

Terima Kasih Teman Baru, Kita Harus Banyak Bicara

-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s