Kembali Sedikit.. Tak Apa

Hari ini luar biasa.

Aku bangun dari istirahat malamku lebih lambat dari biasa. Segelintir omelan ibu mampir pada telingaku, tanpa sepatah kata pun aku jawab atau aku timpali. Diam saja, memang salahku, lagi pula (mungkin suatu saat akan ku ceritakan apa maksudnya salahku ini) Akhirnya dengan mempercepat gerakan, aku berangkat sekitar setengah tujuh pagi, dengan kuda besiku seperti biasanya.

Senin. Aku sedikit enggan dengan hari ini. Sepanjang perjalanan aku hanya sibuk melamun. Memikirkan sesuatu yang sebaiknya Kau buang jauh-jauh ketika berkendara. Kadang aku merasa lupa kalau kecepatannya telah melampaui batas. Kadang juga aku terasa membuang-buang waktu karena melamban pada jalan mulus yang sepi tak ada orang. Intinya, aku benar tak suka. Dalam hati, jika aku pulang kembali kerumah namun takkan membuat masalah, mungkin telah ku lakukan dari jarak seratus meter pertama.

Lama kelamaan, gang-gang dan aspal yang aku telusuri semakin senyap. Volume manusianya semakin berkurang. Aku sempat bertanya-tanya sendiri kenapa di hari pengawal minggu justru kendaraan yang ada hanya sedikit jumlahnya. Namun serta merta, saat aku sampai pada jalan perempat biasa, terjawab sudah pertanyaanku itu.

Macet. Tak bisa gerak.

Beberapa orang gugur sebelum menunggu, alias memutar arah. Namun aku sendiri malah berpikir positif, dan memutuskan untuk masuk ke dalam antrian kendaraan itu. Barangkali hanya semenit dua menit, pikirku.

Tapi nyatanya bukan. Lima belas menit dan aku hanya berpindah posisi sejauh dua meter dari tempat awal. Mundur pun tak bisa karena dibelakangku telah penuh diisi transportasi roda dua. Oh, mungkin ini akan lebih lama dari perkiraanku, pikirku begitu.

Kadang aku melamun, berusaha tak merasakan waktu yang tak pernah mau di ajak kompromi. Sesekali melirik jam pada ponsel, atau mengecek pesan masuk. Mengemut coklat koin emas. Memerhatikan sekitar yang bernasib sama, penuh peluh dan gerah duduk diam tanpa aktifitas apa-apa. Bahkan berdiri, berusaha melihat ujung dan akar kemacetan ini.

Tapi detik tetaplah detik, yang akan berjalan sesuai kodratnya.

Aku mulai panik. Hatiku mulai berteriak sendiri. Aku takut juga, kalau sampai beberapa lama masih terjebak di sini. Tanpa pasti. Tanpa apa-apa. Bahkan aku sampai berdoa agar kemacetan ini segera sirna.

Aku bergerak. Harus bergerak. Sudah terlalu lama menunggu, tanpa kepastian. Aku menyentuh seseorang di depanku, mengucap permisi agar ia sedikit memajukan kendaraannya. Ia bersedia, dan dalam celah sempit itu.. aku memutuskan untuk kembali.

Aku kembali, pada jalan yang tadi aku lalui.

Aku kembali, lalu berbelok, melewati jalan yang dulu sering ku pakai. Jalan rusak namun lebih banyak celah daripada macet tadi. Jalan dahulu, yang pertama kali ku kenal. Memang macet juga, namun jauh lebih baik.

Setidaknya, sekalipun aku kembali dulu namun perlahan aku bisa bergerak maju.

Sampai pada tempat bekerja, aku tetaplah terlambat. Aku ketinggalan rutinitas senam dan pertemuan pagi. Satpam mengajukan tabel berisikan sekumpulan orang yang terlambat untuk di isi nama dan nomor karyawan kepadaku.

Sepanjang hari itu, aku pun berpikir-pikir akan kejadian tadi pagi. Semisal aku tak kembali pada sesuatu yang dulu, sampai kapan aku terjebak di situ untuk menunggu? Sedikit sesal diriku, karena membuang waktu dan menunda untuk memutar kembali perjalananku. Mengapa rela lama-lama menunggu, padahal sesuatu itu tak memberimu harapan? Dengan sabar pula, bahkan sesekali mencari kesibukan lain, supaya hilang rasa bosanmu saat diam di tempat penuh harap. Kenapa betah bermenit-menit menanti seperti itu, padahal tak tau persis kapan bisa bergerak maju?

Sesal memang tidaklah guna. Sesuatu yang telah terjadi takkan bisa kita hapus riwayat kejadiannya.

Namun kadang, Kau masih punya kesempatan untuk menambah sesuatu yang baik atau bahkan: kembali sedikit.

Kembali tidaklah buruk. Kembali bukan berarti jatuh pada kubangan yang sama. Kembali terlalu jauh mungkin iya, namun kembali sedikit agar bisa mempelajari sesuatu, dan bergerak maju itu tak apa. Sah saja. Bahkan lebih baik daripada diam duduk menunggu sesuatu, tanpa aksi dan tanpa tau jelas nasib harapanmu itu.

Kau bisa mengakui dalam hati, kalau setinggi apapun gengsimu, sesekali pasti Kau pernah berpikir untuk kembali sedikit saja, supaya memperbaiki masa depanmu.

Ya, kan? 😀

Akhir kata, terima kasih, telah meluangkan waktu untuk membaca sekumpulan kalimat-kalimat ini. Semoga dapat memberi jawaban atas segala keraguanmu kini; menunggu atau kembali.

Dah.

===

Ku Tuliskan Sebelum Senin Berakhir

-Di Samping Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s