Di Samping Hujan

Termangu aku, bersandar kepala pada kaca bening pemisah kita.

Kamu meluncur bebas, berusaha menghibur dan menggali lagi semangat yang dulu sempat ku punya. Jatuhan rintikmu yang samar di luar sana, seolah memberiku petuah hebat: “berhenti menghentikan sesuatu tidaklah gampang, apalagi jika itu telah menjadi kebutuhanmu“. Seketika aku baru ingat, kalau menulis bahkan telah menjadi keperluanku. (Lalu aku bertanya-tanya sendiri kenapa aku pernah memutuskan untuk berhenti menulis beberapa bulan lalu.)

Semula aku pikir aku akan baik saja tanpa rangkai kata. Aku tetaplah manusia walau tanpa imaji dan mimpi. Aku akan bertahan dalam goncangan hidup tanpa mengutarakannya lewat suratan. Aku akan terbiasa untuk tak mencintai kata atau kalimat lagi.

Tapi berkatmu, aku baru sadar kini, bahwa rupanya, aku tidak bisa.

Seringkali saat-saat tertentu, otakku mengeliang. Hasratku membuncah, mendesakku untuk memuntahkan segala persepsi, spekulasi, ekspektasi, prediksi, argumentasi dan imajinasi yang aku miliki. Tak tenang untuk duduk diam saja sendiri.

Maka denganmu kini aku harus memaparkannya. Tak peduli di media tekan atau tulis tangan. Cuek sekalipun ejaanku jauh dari yang disempurnakan.

Aku, akan memulai lagi untuk menceritakannya, semuanya.

Tepatnya di sini.

Di samping hujan.

Advertisements

One thought on “Di Samping Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s