Terkaan

Beberapa bulan yang lalu, time line jejaring sosial mediaku dipenuhi dengan tulisan seseorang secara non periodik, namun frekuensinya di luar kendali. Maksudku, kadang ia bisa menerbitkan dua tulisan dalam sehari. Isinya pun lumayan panjang. Tiap tulisan bisa memiliki 10 paragraf atau lebih. Kebanyakan ia menceritakan seseorang yang ia sebut ‘teman’. Namun di situ ada rindu. Ku pikir juga ada cinta. Rasa terima kasih, harapan, dan permintaan maaf tak juga ketinggalan.

Ketika orang lain sangat bersemangat untuk menulis, aku hanya menjadi pribadi yang tidak produktif. Itu suatu hal yang bertolak belakang dengan keinginan dan mimpi-mimpiku. Namun, biar. Aku sedang menikmati masa hibernasiku yang panjang.

Advertisements

Bahagia Kita Oleh Siapa?

​Bahagia kita oleh siapa?

Aku ingin kembali ke masa kecil.

Dimana tubuhku ringan berlari, dan jiwaku terbebas pergi. Tanggung jawabku masih sedikit, sisanya hak yang berlimpah ruah. Dosa-dosa kecil diampuni. Ketidaksempurnaan bukan masalah. Boleh menangis di mana saja, dan boleh tertawa kapan saja. Tidak pernah sendirian, dan begitu banyak pembelaan. Ribu keegoisan dimaafkan, dan satu kebaikan dijunjung pada tetangga. Boleh membuat malu ibu-bapak. Boleh berpikir aneh karena selalu ada yang meluruskan. Dan yang terutama.. tidak ada rasa sakit hati, atau menangis karena kecewa…..

Aku ingin kembali ke masa kecil, yang tidak tahu benar beratnya hidup…

Dongeng di Pantri

“Diundang gak, Teh?” kataku kepada Teh Minah— seorang office girl di kantorku—sambil menuang dua sendok krimer ke dalam kopiku.

“Diundang apa, Ul?”

“Ke nikahannya Mas Abi, di Bandung.”

“Heee, gua mah kaga tau sama sekali, kapan emang?” ia agak terkejut. Mungkin bukan karena ia tidak diundang, tapi karena berita itu baru ia dengar, dan tiba-tiba sekali.

“Sabtu besok, Teh.” Aku lalu menyesap kopiku. Agak kemanisan, kebanyakan gula.

Rindu Sendiri

​Suara motor itu semakin mendekat kamu abaikan sapanya

Dia berupaya mencari senyummu dengan rayuan yang pelik

Waktu demi waktu pun berlalu 

Keinginanmu mulai tumbuh

Biar dia merindukanmu sendiri

Jangan resah

Dia pasti pikirkanmu

Walau kau tak tau

Hingga di ujung malam

Engkau menyusuri jalan bersamanya dikala dinginnya senja

Hanya berduaan tanpa tau tujuan bahkan tidak mau tau

Namun sudah saatnya untuk pulang

Tak ingin kau akhiri hari itu

Biar dia merindukanmu sendiri

Jangan resah

Dia pasti pikirkanmu

Walau kau tak tau

Hingga di ujung malam

=== 

Ost Dilan 1990

Bantu Aku

OKAY

Kali ini,

Aku akan mengartikanmu,

Seperti danau yang menangkup hujan,

Atau langit yang menampung bintang,

Bahkan hutan yang menanungi akar.

 

Dalam detik yang selaras detak,

Ada luka berkepanjangan,

Ku sadari variasi dalam otakmu.

 

Bila kalimat tak mampu kau tumpahkan,

Pada gelap matamu aku percaya,

Kalau pada tiap aksara,

Selalu ada cerita,

Dan perasaan tulus,

Entah bahagia.. atau sakit..

Kau Harus Tau

Kamu harus tau,

Kalau perasaanku mulai berandai-andai seperti,

Jika saja aku yang paling pertama mengenalmu, atau;

Andai saja aku yang paling dekat di sisimu, dan;

Coba saja waktu itu aku yang menemanimu;

Mulai meletup-letup ke permukaan.

Aku menyayangkan itu semua,

Kenapa tak dari dulu saja, aku dan kamu bertegur sapa. Lalu bercerita tentang kartun-kartun pada internet. Lalu bertukar foto kucing yang menggemaskan. Dan lalu menertawakan seseorang yang normal karrna keanehan kita?

Kau dan sejuta rahasiamu. Kau dan lagu favorit. Kau dan makanan kesukaan. Kau dan kebencian pada waria. Kau dan beban hidupmu.

Coba saja,……

Aku yang dari dulu.

Pikirku lamat, lalu tertawa. Menyadari kalau sesuatu yang tumbuh, sejak akhir 2015, sudah sebesar dan seberat ini. 

Iya.

Bahkan pada masa lalu, aku cemburu.

Review Film: Hujan Bulan Juni 2017

Dari titik kejujuran dalam lubuk hati, sebenarnya aku begitu menantikan tayangnya film ini. Di mulai ketika poster-poster coming soon nya ditempel pada tembok bioskop, dan atau puisi-puisinya yang terlanjur terkenal jauh sebelum film itu dibuat, kata Hujan pada tiap judul buku atau film selalu membuatku tak sabar, ingin tahu.

Maka dari itu, pekan kedua bulan November lalu, dua tiket Hujan Bulan Juni—sebuah film adaptasi dari novel dengan judul yang sama, karya Sapardi Djoko Damono—telah dibeli.

===

Judul: Hujan Bulan Juni 
Tanggal rilis: 2 November 2017
Sutradara: Reni Nurcahyo, Hestu Saputra
Produser: Chand Parwez Servia dan Avesina Soebli
Rating Usia: 13+

Dia Itu Dia

Pernah ada yang bertanya-tanya pada saya, begitu tahu saya mulai menyukai seseorang yang mungkin sangat jauh dari prediksi. Pasalnya, saya tidak pernah terlihat berbicara padanya, bertegur sapa, atau bahkan saling tatap. Tiba-tiba kami dekat. Dan mungkin orang tak pernah menyangka hal itu akan terjadi.

Saya ditanya, apa yang kamu lihat dari seorang dia?

Dengan ragu-ragu saya menjawab, perihal kesederhanaannya, yang entah sekarang masih relevan atau tidak.

Karena,

Lamat laun, saya menyadari bahwa ia tak pernah persis begitu. Ia bukan kertas kosong yang bermakna nol. Ia memiliki atlas dan singgasana sendiri di dalam kepalanya. Ia tidak pernah sesederhana yang saya bayangkan. Ia kaya. Ia macam-macam. Dan masuk ke dunianya tidak bisa disamakan dengan duduk-duduk pada Taman Jakarta Kota. Ia lebih saya samakan seperti memesan barang langka pada pasa online yang baru buka. Ia susah-susah gampang, hingga saya tak pernah merasa tuntas mempelajarinya.

Lalu tau apa yang hebatnya lagi?

Saya menjadi ragu ketika saya harus menjawab perihal kesederhanaan yang melekat pada dirinya. Saya belum tau hal apa yang bisa membuat saya jatuh cinta.

Mungkin jika ada lagi orang yang bertanya, mengapa? 

Jawaban yang paling rasional yang akan saya berikan adalah,

Karena dia itu, dia. 

Hari Patah Hati Nasional

Sebuah pesan sampai pada ponselmu. Ternyata itu foto seorang laki-laki berjas hitam serta wanita berias dengan kebaya putih di sebelahnya. Satu buket bunga digenggam erat-erat oleh wanita itu. Pada sisi kanan dan kiri mereka, terlihat sepasang orang tua tersenyum bahagia. Mereka semua sadar kamera. Memasang pose. Buncah kebanggaan dan keharuan seolah berhamburan pada foto yang hanya bersubjek memanggil namamu. Disertai emoticon tangis campur tawa. Mungkin temanmu itu bermaksud meledekmu. Membangkitkan yang dulu-dulu.

Kekkon omedetou gozaimasu.

Balasmu, kalem.

21

Dua puluh satu tahun yang lalu ribuan anak manusia lahir dari rahim indungnya. Yang beruntung disambut kedua bapak ibu. Disediakan naungan, lalu disebut-sebut rindu jangka sembilan bulan. Mereka diberi nama serta diberi doa. Harapan serta mimpi tertiup dan menelusup lewat ubun-ubunnya. Lalu dengan begitu mereka tumbuh, hingga masing-masing paham caranya berdiri pada tumit-tumit yang mereka punya untuk mencari jalan yang mereka pilih sendiri, terus berlari.