Berdamai Dengan Masa Lalu atau Kita Ketemu Aja, Gimana?

Uncategorized

Kata orang bijak, hal yang paling jauh adalah masa lalu. Benar karena kita tidak dapat mengulang waktu, dan yang lewat tidak akan bisa direvisi. Adilnya, setiap orang pasti punya masa lalu, entah aku maupun kamu. Entah itu masa lalu yang baik maupun buruk.

Sejujurnya, aku cuma ingin bilang kalau mungkin suamiku adalah orang yang paling luas hatinya. Sepanjang masa laluku yang kuceritakan, tiap kata dan prosesnya, ia hanya tersenyum sambil mengiyakan. Tidak marah, tidak kecewa. Tidak mengungkit, dan tidak macam-macam. Ia menerimaku yang dulu maupun sekarang.

Sementara aku? Bohong bila kubilang kalau aku tidak terusik dengan masa lalu suamiku. Apalagi ketika masa lalunya yang sama-sama telah kita kubur malah bangkit dan menggentayangi. Aneh memang, karena seingatku dia sudah membentuk keluarga baru jauh cukup lebih dahulu sebelum kami. Akan tetapi, tetap saja aku tidak bisa santai. Jika dekat wujudnya boleh sesekali kuajak bertemu dan bergelut. Aku tidak bisa berdamai dengan mudah untuk hal-hal begitu.

Tapi jika dipikir lebih dalam lagi, kenapa masa lalu suamiku bangkit dan menggentayangi, ya?

Aku saja, sebab terlalu bahagia dengan keluarga kecilku saat ini, jadi tidak sempat mengungkit masa lalu sendiri. Begitu juga dengan suamiku yang sudah memutus memori tentangnya. Kita sudah cukup tuntas dengan masa lalu, dan terlalu repot bila harus menguraikannya lagi.

Apakah si masa lalu ini engga bahagia, ya? Makanya masih mencari-cari kesalahan, kebencian, dan tidak bisa berdamai dengan masa lalunya sendiri? Kudoakan, semoga kamu cepat move on, dan bahagia sesungguhnya deh (soalnya di story, beliau sering denial). Kalau gak bisa, dan gak mau damai sama masa lalu kamu sendiri, lebih baik kita bertemu aja, gimana?

Wkwkw

===

By the way, setelah aku pikir, sebenarnya aku juga terlalu gabut sampai terusik dengan hal-hal bodoh kayak gini. Ada baiknya aku cari kesibukan lain, yang lebih bermanfaat. Ada saran?

===

Suatu hari, di masa lalu dekat-dekat ini:

Aku : “Kalau aku tau aku bakal nikah sama kamu, aku gak bakalan ngabisin waktu buat orang lain dulu,”

Suami : “Iyalah, aku juga.”

===

Di samping hujan

Asingnya Bau Air Laut

Uncategorized

Perahu bergerak santai mengikuti ayunan ombak di permukaan laut yang tampak tua – baik warnanya, maupun usianya.
Sudah beberapa jam kami duduk sejak matahari baru terjaga, hingga beliau kini hampir setinggi kepala. Cahayanya yang terpantul pada laut terlihat begitu menyilaukan, seperti hamparan perhiasan perak di tengah-tengah gulungan ombak tenang.

Kami terus menjauh, memunggungi gedung-gedung Jakarta.
Benar katamu, ada saatnya nanti kita mengarungi laut ini sendirian. Tiada perahu lain, tiada daratan yang dekat. Seluas mata hanya dibentangi hamparan air dan langit. Terasa sepi namun tidak pernah senikmat ini.

Aku melirikmu sejenak.
Kamu mengerjap, dan kepalamu terkatuk-katuk melawan hebatnya rasa kantuk. Tapi memang di manapun kamu akan selalu ngantuk alias di rumah, di jalan, di kereta. Kecuali jika aku menangis, kamu akan tidur paling terakhir. Ketika isakku dipastikan tak lagi terdengar, dan digantikan dengan bunyi kentongan tiang pertanda lewat tengah malam.

Aku melirikmu sekali lagi. Di antara pejamanmu, kini kamu berusaha memandang baik-baik wajahku.

“Kamu engga ngantuk?” tanyamu
“Sedikit,” Balasku. Sejujurnya, usapan angin laut ini membuatku perlahan ingin tidur juga.

“Yaudah kamu rebahan aja di depan sini,”
“Emang kita sampai jam berapa?”
Ia menimbang, “Mungkin satu setengah jam lagi. Yaudah kamu tidur aja di sini. Biar aku yang duduk di pinggir situ.”
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Berhubung kami duduk pada dek kapal beratap terpal tanpa kursi, hampir semua penumpang juga sudah tumbang dalam tidur siang.
“Kamu juga rebahan,”
“Gapapa, kamu aja.” lalu ia meletakkan tas besar berisi perlengkapan kami, dan menepuknya “Ini dijadiin bantal. Kepala kamu, di sini aja.”

Aku tersenyum simpul sambil menatapi wajahnya yang teduh.
Di kala teriknya matahari, di antara lembutnya deburan ombak, di tengah asingnya bau air laut
Pokoknya, entah di mana(pun) kita pada saat itu

Kamu tidak pernah luput membuatku si paling nomor satu.
Terima kasih

Mei 2023

Amazing

Uncategorized

Masih tentang cerita di satu dalam puluhan hari penghujung tahun, dan tiada yang lebih kusukai selain itu.

Misalnya, ketika kita sama-sama kali pertama dalam hidup saling mengetahui raut, lalu melempar senyum. Momen yang pada awalnya kunggap gadis biasa mengenal laki-laki biasa juga, kini bergerak menjadi sepasang manusia yang kusemogakan akan selalu kekal, bahkan menuju kehidupan setelah dunia.

Terima kasih, ya.

Di antara ratusan orang yang berlalu lalang, pada akhirnya kamu memercayaiku untuk selalu ada. Ada untuk menemanimu menonton film yang kau suka, menikmati semangkuk mi ayam yang kau cinta, dan mencari kaos yang ingin kau gunakan untuk terlelap.

Itu membuatku merasa bernilai tiada tara.

Masih, tentang cerita anak-anak manusia yang bahagia karena adanya cinta di antara mereka,

Maka di antara ribuan kisah yang pernah kita jalani. Puluhan kota yang pernah kita singgahi. Dan satuan waktu yang kita lewati.

Menurutku, yang paling berkesan adalah pada tanggal satu desember, tujuh tahun lalu di hari ini. Di mana temaramnya bulan pukul dua puluh dua, menjadi prolog cerita kita hingga kokoh sampai titik ini, selanjutnya, selamanya.

Note : Kini laki-laki dan gadis itu tidak dapat memanggil dengan sebutan orang biasa-biasa saja. Karena lamat laun, semakin detik, semakin waktu, seperti yang Rex Orange County selalu bilang, don’t change a thing, cause you are amazing.

Di Samping Hujan

Sabar Ada Batasnya

Uncategorized

Konon, sabar itu ada batasnya.

Entah sejak kapan kita percaya bahwa kesabaran akan selalu berhenti pada titik tertentu. Setelah kesabaran kita melampauinya, maka kita akan merasionalkan emosi yang bekerja. Kita boleh marah, boleh kecewa. Dan alasan kita selalu berujung pada kata-kata klise, bahwa karena sabar juga ada batasnya.

Tapi ironinya, sabar sendiri tak pernah membuat garis mulai maupun selesai. Sabar tidak pernah memberi batasan yang jelas jika kondisi begini, kamu sedang bersabar, dan dalam sekian senti lagi kamu dinyatakan sudah tidak bersabar lagi. Terlalu adjektif untuk diukur, dan subjektif untuk dinilai. Layaknya kata lemah dan kuat. Atau baik dan jahat.

Lalu dari mana kita bisa bicara bahwa sabar ada batasnya?

Yang kupikirkan hanya, saat itu manusia sendirilah yang membangun tembok begitu tinggi untuk hal-hal yang mereka punya. Manusia akan selalu percaya bahwa mereka tidak didesain untuk serba bisa. Hingga yang kita pikirkan, sesuatu yang kita miliki tidak boleh melompat dari batasnya. Seperti sabar, dan cinta.

Padahal di atas langit, masih ada langit. Seperti halnya di atas sabar, masih ada kesabaran lagi.

Jadi begitu,ya. Kupikir bukan sabar yang ada batasnya. Tapi manusia.

Laki-laki dan Payung

Uncategorized

Yang sering ku perhatikan adalah, mengapa laki-laki jarang membawa payung?

Kini, hampir setiap hari hujan turun, membasahi semua benda-benda sepanjang kota. Lalu alirannya berujung pada tempat-tempat yang sanitasinya buruk, atau tanah yang pepohonannya habis digantikan KPR.

Dengan kondisi seperti itu, tentu kita tidak bisa menyalahkan hujan yang turun sesuka hatinya. Buku Sains di sekolah dasar bersabda bahwa negara tropis hanya memiliki dua musim. Dan jika manusia di dalamnya ingin mencapai usia senja, mereka harus mampu beradaptasi dengan lingkungan tempat di mana mereka ada.

Seperti hal yang paling sederhana, yaitu membawa payung kemanapun, di musim penghujan.

Tapi, kok, kembali ke kalimat awal?

Yang sering ku perhatikan adalah, mengapa laki-laki jarang membawa payung?

Dengan jaket saja, berdiri tegak, menganggap bahwa gumpalan awan hitam pekat bukanlah ancaman. Bahkan ketika turun gerimis, hal itu juga bukan halangan. Jika sudah deras, barulah sibuk mencari tempat berteduh, atau payung tebengan.

Kenapa laki-laki kebanyakan seperti itu?

Apakah karena laki-laki selalu ingin dilihat kuat, hingga ingin mempertontonkan bahwa hujan maupun badai takkan mampu menghalangi tekadnya?

Apakah karena laki-laki selalu ingin dilihat simpel, dan membawa payung lipat seukuran sepertiga meter adalah hal yang paling merepotkan sedunia?

Apakah karena laki-laki terpengaruh pada sebuah kutipan roman yang melegenda, yaitu “You say you love rain, but you use an umbrella to walk under it.” So yeah, men decided to never use an umbrella for proofing their feels…

Atau.. karena perkara hujan hanyalah sesepele rintik-rintik air kecil yang turun dari langit, dan membasahi rerumputan?

Jika benar, hal itu tidaklah rasional.

Karena nyatanya, hal yang kecil-kecil namun banyak, berjumlah ribuan, menghantam badan, mendarat di kepala hingga kadang menembus ke pikiran…

Hal seperti itu juga tak kalah menyakitkan.

===

-Di Samping Hujan

Kenapa Tidak Percaya Covid?

Uncategorized

Bagaimana kabar kalian? Aku harap, di tengah kasus Covid yang kembali meningkat dengan berbagai jenis varian barunya, kita tetap senantiasa dilimpahi imun yang kuat, serta kemewahan untuk melakukan isoman. Ya, banyak di antara kita yang terpaksa masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka takut virus, namun lebih takut lagi bila tidak makan. Maka bersyukurlah, kalau kalian masih bisa terduduk di kamar dengan penuh kesehatan.

Covid mulu, Covid terus. Apakah tidak ada penyakit selain dari Covid? Sekarang, semua penyakit pasti divonis Covid.

Wajar saja jika dari kita yang awam mempertanyakan berbagai macam hal. Berawal dari pengetahuan yang kurang mumpuni akan wabah ini, serta berbagai macam tindakan pemerintah yang agak menyepelekan membuat kepercayaan masyarakat kadung hilang. Lagi pula, manusia memang cenderung tidak percaya akan hal-hal yang tidak dilihatnya. Maka jika masih ada yang menganggap covid itu hanya canda, kita maklum.

Tapi rupanya … setahun lebih telah berlalu sejak kasus Covid pertama di Indonesia. Seharusnya kita tidak perlu lagi mencari informasi tentang kebenaran covid itu sendiri. Seharusnya kita tidak perlu mempermasalahkan asal muasalnya. Seharusnya kita sudah terbiasa. Satu tahun adalah hal yang cukup untuk kita membuka mata, membaca berita, merasakan dengan seluruh indra, berkaca pada lingkungan sekitar kita, bahwa Covid memang nyata adanya. Bukan hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia! Satu tahun itu waktu yang lama!

Jujur, beberapa pertanyaan receh dari pihak ini hanya bisa membuatku geleng-geleng kepala. Seperti, kenapa setiap siswa hendak belajar tatap muka, angka Covid melonjak naik? Kenapa setiap hendak menyambut Hari Raya, kasus Covid diperparah? Kenapa pemerintah melarang kami beribadah?

Pertanyaan-pertanyaan yang tidak berhenti berkumandang di sekelilingku, seolah penyakit ini hanya pengalihan isu yang dibuat oleh petinggi negara. Padahal lonjakan Covid saat ini bisa dinalar dengan mudah. Kita tidak perlu mempertanyakan pengetatan aturan-aturan itu berlandaskan apa. Kita bahkan bisa melihat keadaan India yang begitu bagus dijadikan contoh. Tapi, kenapa kita masih sulit juga memahami dan percaya bahwa Covid itu benar-benar ada?

Syukur bagiku. Aku dan keluarga adalah orang yang termasuk memercayai pandemi. Adikku sendiri merupakan penyintas Covid dengan gejala sedang pada Februari lalu. Sesak nafas, dan indra penciuman hilang total. Membuat kita sekeluarga panik karena ia tinggal hanya dengan Mama, yang umurnya telah genap lima puluh tahun dan lebih berisiko. Sebuah ujian yang cukup membuat bingung sekeluarga kala itu. Alhamdulillah kami bisa melewatinya, dan hikmahnya adalah, keluargaku juga semakin taat akan prokes dan benar-benar meyakini bahwa Covid itu, ada.

Ya, kita tidak akan benar-benar percaya pada suatu hal, sampai kita sendiri yang mengalaminya.

Aku tau, ketidakpercayaan itu berasal dari kekecewaan kita pada penguasa yang tidak cakap dalam penanganan pandemi. Dimulai dari kebijakan yang plin-plan, korupsi bansos, alat test yang tidak kompeten. Hal itu membuat kita menduga-duga bahwa covid hanya akal bulus pemerintah. Atau bahkan permainan antek-antek aseng. Akan tetapi, apapun itu, keduanya adalah bahasan yang takkan kunjung selesai. Semua akan diulang kembali, disangkut pautkan kembali, digoreng lagi, ditiriskan kembali. Sampai akhirnya benar-benar basi. Dan kita takkan pernah bisa keluar dari lingkaran itu, kecuali mulai menyadari bahwa hal itu adalah gorengan yang sudah dingin. Yang tidak layak dikonsumsi.

Namun pernahkah kita juga terpikir, bahwa mungkin saja pemerintah juga kebingungan memecahkan solusi untuk saat ini? Meluruskan informasi hoaks pada grup whatsapp keluarga saja kita kesulitan. Apalagi mengatur dua ratus juta jiwa yang di antaranya bebal untuk taat aturan?

Kita harus sadar, bahwa pandemi ini memang ada dan berbahaya. Berbahaya karena, kita tak bisa memastikan tiap orang memiliki gejala sama. Bisa jadi pada seseorang tak berdampak suatu apapun, namun ketika berada di tubuh orang lain, gejalanya luar biasa (seperti adikku). Apalagi varian delta yang penyebarannya cukup cepat, dan gejalanya sangat random. Tambahan informasi, di kelurahan tempat tinggalku, pemakaman mulai penuh. Seseorang yang meninggal harus masuk waiting list, karena kapasitas pemakaman tidak lebih dari 50 orang perhari.

Kita juga harus paham bahwa pandemi ini tak bisa diserahkan ke pemerintah saja. Atau hanya menekan rakyat biasa. Pandemi ini harus diselesaikan dengan sinergi keduanya. Pemerintah melayangkan aturan dan kebijakan, sementara rakyat mematuhi prokes yang ada.

Dan jika kita harus membahas konspirasi, maka dunia ini memang penuh dengan hal-hal seperti itu. Dunia ini memang busuk, dan tidak cukup pantas untuk digantungkan harapan. Bukan hanya soal pandemi, tapi semua aspek. Pendidikan, pembangunan, apapun, dan itu sudah disusupi oknum ada sejak dulu. Bahkan sebelum kita merdeka. Maka dari itu, tak ada gunanya bersungut-sungut di dunia ini, menyalahkan satu sama lain, bahkan menduga-duga hal yang tidak kita kuasai. Karena itu bukan jalan keluar untuk saat ini.

Pada akhirnya… tugas kita bukan lagi mengungkit. Bukan lagi melawan. Tugas kita cuma bertahan. Saling menjaga, teman, saudara dan keluarga.

Jangan lupa double masks, cuci tangan, dan jaga jarak. Tetap sehat, dan bahagia ❤

-Di Samping Hujan

Tawa dan Tangis

Uncategorized

Hal yang paling membuatku gelisah di tengah kebahagiaan adalah sadar bahwa kelak tawa itu akan berganti peran dengan tangis. Tiap kali senang datang, pikiranku akan dibayangi berbagai macam cara bagaimana sedih itu akan mampir. Dari keluargaku? Dari pekerjaanku? Atau dari diriku sendiri? Dan yang paling ku harapkan, tidak lain kalau air mata itu akan keluar setelah aku menyaksikan acara televisi.

Ya, saat tertawa, aku takut kelak akan menangis.

Atau mungkin semua orang begitu?

Ah, akan tetapi, kekhawatiran di tengah keceriaan itu juga hanya seperti bau bangkai yang tertutup hujan deras; yang ada namun tak tercium sampai hujan berhenti. Membuat kita akan memilih untuk pura-pura lupa sesaat kalau sedih selalu menjadi penyerta senang, dan senang juga takkan meninggalkan sedih sendirian. Mereka ada, dan selalu bersama. Namun kita tidak ingin tahu juga.

Padahal, sedih dan senang, adalah bumbu kehidupan yang berasal dari syukur dan ujian. Tidak bisa jika ingin minta senang terus, atau sedih melulu. Alam punya algoritma yang lebih acak untuk menentukan siapa yang akan datang lebih dulu. Dan kita, takkan pernah mampu berkilah dari ketidakpastian itu. Bahkan tak jarang, sedih dan senang yang dapat diprediksipun akan membuat kita tetap terkejut.

Lalu, bagaimana sikap kita? Bagaimana kita mengendalikannya? Sementara memohon agar dikurangi segala ujiannya, atau diperbanyak rasa bahagianya seperti kita berusaha menggenggam udara; tak bisa, dan tiada artinya.

Pada akhir dari segala akhir, yang kita butuhkan bukanlah pengurang rasa sakitnya, atau penguat rasa bahagianya. Yang lebih kita butuhkan adalah dilapangkan dadanya agar seluas bandara. Dikokohkan hatinya agar kuat berlapis baja. Serta, diteguhkan nuraninya agar sabar seakan tak ada batasnya.

Maka memintalah atas itu.

Tidak ada yang lebih baik mengucap syukur saat bahagia, dan mengingatNya ketika nestapa. Karena… karena, di setiap kesusahan, pasti akan ada kemudahan bagi yang percaya.

===

Bersabarlah, diri ini.

-Di Samping Hujan

Terjemahan Indonesia : Yoh Kamiyama – Irokousui Opening Horimiya

Uncategorized

WIBU KUMPUL…!!! Siapa yang suka anime Horimiya, ngaku?! *ngacung paling tinggi*

Hori-san to Miyamura-kun

Sebenernya nonton anime school itu bikin mupeng aja gaksih? Kayak jadi berandai-andai, coba aja kehidupan sekolahku dulu genre romance comedy, wkwkwkk. Yaudahlah ya, toh sekarang kehidupan bersama mas suamik lebih-lebih dari genre romance comedy /halah. Tapi yang jelas sampai saat ini aku masih seneng banget nonton anime genre unyu-unyu, termasuk Horimiya ini uwaaahhhh.

Berkisah tentang Hori, anak cewek yang pinter, cakep, dan populer idaman kaum adam. Dia sekelas sama Miyamura, anak introvert penyuka kopi dan senja, becanda senja hehe. Awalnya mereka gak notice satu sama lain, yaa biasa-biasa aja lah ya. Tapi suatu hari mereka ketemu dalam sisi mereka yang berbeda! Maksudnya, si Hori kalau di rumah penampakannya kek upik abu woy. Sementara si Miya kalau gak di sekolah penampakannya kek jamet, banyak tato dan piercing. Karena merasa kepergok punya sisi lain, mereka akhirnya jadi deket gitu. Udah deh cerita keuwuan berlanjut, bikin hati cenat-cenut wkwkkk.

Selengkapnya tonton aja ya, live actionnya juga adaa.

Nah, terus berhubung openingnya belakangan ini nyantol terus di kepala, jadi kucoba terjemahkan. Silakeun~

きっと消えない 今日は言えない

Kitto kienai, kyou wa ienai

Pasti takkan menghilang, namun tak bisa ku katakan hari ini

元どおりにはもうできない

Moto doori ni wa mou dekinai

Kita tak bisa kembali

あの頃に 君を残したまま

Ano koro ni, kimi wo nokoshita mama

Pada waktu itu, saat aku meninggalkanmu

記憶の中では 晴れ間の部屋

Kioku no naka de wa, harema no heya

Pada ruang yang bercahaya dalam memoriku

惹かれ合えばサラバ

Hikare aeba saraba

“Apakah kita harus berpisah karena saling terpikat?”

知りたくない

Shiritakunai

Aku tak ingin tahu

思い出せば今も ふわっと香る

Omoidaseba ima mo fuwatto kaoru

Jika kau ingat, kini aroma itu perlahan menyeruak

君と僕は同じ 色香水

Kimi to boku wa onaji irokousui

Kau dan aku memiliki aroma warna yang sama

ほんの少し 背伸びをして歩いた道

Hon no sukoshi senobi wo shite aruita michi

Pada jalan yang kita lewati dengan berjinjit

ビードロの靴 移り変わる季節模様

Biidoro no kutsu utsuri kawaru kisetsu moyou

Di bawah sepatu kristal itu, ada pola musim yang selalu berubah

きっと消えない 今日は言えない

Kitto kienai kyou wa ienai

Pasti takkan hilang, namun tak bisa ku katakan hari ini

元どおりにはもうできない

Modo toori ni wa mou dekinai

Kita tak bisa kembali

あの頃に隠した 本物はどこ

Ano koro ni kakushita honmono wa doko

Pada kebenaran yang kusembunyikan saat itu, di mana sekarang?

怒ってくれない 解ってくれない

Okotte kurenai wakatte kurenai

Kau tidak marah padaku, dan kau tidak mengerti diriku

思ってもただ 募ってしまうだけ

Omotte mo tada tsunatte shimau dake

Aku membiarkan semua pemikiran ini menjadi satu

懐かしい匂いと この歌が残る

Natsukashii nioi to kono uta ga nokoru

Yang tertinggal hanya lagu ini dan aroma yang ku rindukan

記憶の中では 二人の部屋

Kioku no naka de wa futari no heya

Pada ruang kita berdua dalam ingatanku

惹かれ合えば僕ら

Hikare aeba bokura

Biarkan kita saling tertarik satu sama lain

このまま

Kono mama

Seperti ini

思い出せば今も ふわっと香る

Omoidaseba fuwatto kaoru

Jika kau ingat, kini aroma itu perlahan menyeruak

君と僕は同じ 色香水

Kimi to boku wa onaji irokousui

Kau dan aku memiliki aroma warna yang sama

失うほど 優しさすら嫌になって

Ushinau hodo yasashisasuru iya ni natte

Semakin terpisah, segala kebaikanmu pun akan ku benci

ビー玉の中 こぼれ落ちる涙のよう

Biidama no naka kobore ochiru namida no you

Seperti air mata yang jatuh ke dalam kelereng

きっと消えない 今日は言えない

Kitto kienai kyou wa ienai

Pasti takkan hilang, namun tak bisa ku katakan hari ini

元どおりにはもうできない

Moto doori ni wa mou dekinai

Kita tak bisa kembali

あの夏に隠した 本当はもう

Ano natsu ni kakushita hontou wa mou

Pada saat musim panas, kebenaran yang ku sembunyikan sudah…

怒ってくれない 解ってくれない

Okotte kureni wakatte kurenai

Kau tidak marah padaku, dan kau tidak mengerti diriku

思ってもただ 募ってしまうだけ

Omotte mo tada tsunatte shimau dake

Aku membiarkan semua pemikiran ini menjadi satu

新しい匂いと この街に残る

Atarashii nioi to kono machi ni nokoru

Yang tersisa hanya kota dan aroma baru ini

いつか いつか

Itsuka itsuka

Suatu saat

口をついたこの嘘が

Kuchi wo tsuita kono uso ga

Kebohongan di mulut ini

一つ残らず本当になって

Hitotu nokorasu hontou ni natte

Akan menjadi nyata tanpa sisa

どうか どうか

Douka douka

Ku mohon

繰り返し唱えていた

Kurikaeshi tonaeteita

Nyanyianku ini akan berulang

君が透明になったまま

Kimi ga toumei ni natta mama

Agar kau akan tetap menjadi bayangan

きっと消えない 今日は言えない

Kitto kienai kyou wa ienai

Pasti takkan hilang, namun tak bisa ku katakan hari ini

元どおりにはもうできない

Moto doori ni wa mou dekinai

Kita tak bisa kembali

あの頃に隠した 本物はどこ

Ano koro ni kakushita honmono wa doko

Pada kebenaran yang kusembunyikan saat itu, di mana sekarang?

怒ってくれない 解ってくれない

Okotte kurenai wakatte kurenai

Kau tidak marah padaku, dan kau tidak mengerti diriku

思ってもただ 募ってしまうだけ

Omotte mo tada tsunotte shimau dake

Aku membiarkan semua pemikiran ini menjadi satu

懐かしい匂いと この歌が残る

Natsukashii nioi to kono uta ga nokoru

Yang tersisa hanya lagu ini dan aroma yang ku rindukan

===

-Di Samping Hujan

Surat Sayang Untuk Acne Fighter

Cerita Aku, Uncategorized

Suatu hari, aku pernah berjanji pada diri sendiri:
Kalo kondisi wajahku dah mendingan aku mau bikin tumpeng nulis di blog tentang skin journey aku.

Alhamdulillahnya, setelah dua tahun melawan breakout yang cukup parah sejak 2018, tahun 2020 akhir sampai sekarang, wajahku udah nampak lebih sehat. Biarpun gak mulus halus macem plastik, kondisinya sekarang udah cukup buat aku pede pakai bedak atau make up tipis lainnya.

Tapi, kalau kamu cari tulisan spill merk skincare, mungkin gak ada di postingan yang sekarang. Nextnya yaa baru aku kasih tau satu per-satu.

Terus sekarang ngomongin apa?

Gak mungkin sih kalau ngomongin tetangga karena tetangga kita tidak saling mengenal.

Jadi palingan aku mulai dari hal-hal selain skincare, alias MOTIVASI BUAT PENYINTAS JERAWAT. Tentu, sebagai orang yang udah pernah di-bully karena jerawat, aku cukup kredibel untuk menyemangati kalean wahai para teman seperjuangan 🙂 Jadi jan ragu ya!

Okay, here we go.

EKSPRESIKAN, & BE HAPPY

Tentu punya jerawat breakout di selebar muka bikin kita gak pede, dan baperan. Kadang disikut dengan hal-hal sepele, rasanya langsung pengen nangis guling-guling aja, kan? Paham banget deh, akutu.

Nah, tapi, jika kamu merasa dalam kondisi hati yang buruk kek gitu, sementara kamu memilih untuk bungkam dan mengunci rapat semua permasalahanmu, STOP! Cari seseorang yang tepat, yang bisa kamu ajak cerita tentang perasaanmu. Kalau ga ada orang yang proper dan kamu gak cukup pede, kamu bisa nulis di buku diary atau blog buat menumpahkan semua ceritamu. Biarkan paling nggak satu orang tau kalau kamu juga punya perasaan, dan sedih kalau di-bully. Pura-pura kuat dan menahan rasa sakit gak baik buat kesehatan, bahkan bisa memicu stress. Jika stress muncul, jerawat jadi semakin gak bisa dikontrol, bahkan nambah parah! Jadi minimalisir hal-hal yang bikin stress yaa.. Happy terus kalo bisa!

JANGAN MERASA SENDIRI

Setelah kamu ekspresikan, tentu satu dua orang akan tau kondisi kamu. Harapannya biar kamu gak merasa berjuang sendiri di dunia ini cuy! Memang, reaksi mereka mungkin gak bakal semanis buah mengkudu ekspektasi, makanya aku bilang kalau kamu harus cerita ke orang yang tepat. Lain hal kalau kamu cerita sama temen yang hobinya nyinyirin fisik orang, ya jangan deh. Pasti kamu bakalan semakin sakit hati.

Apalagi kalo ada orang yang kita ajak cerita, malah jadi adu nasib sama kita. Misalkan:

Aku : “Jerawat gue lagi banyak-banyaknya, sedih banget T_T” (dengan kondisi wajah penuh jerawat dan bruntus)
Temen : “Ih iya tau, gue juga lagi mateng2nya dah asli.” (dengan kondisi jerawat seukuran amoeba ada di pipi)

Aku paham sih, mungkin maksud seseorang yang ngomong begitu nggak niat bikin kita makin panas =) Tapi ada baiknya dong kita sebagai pendengar dan penampung cerita supaya menghargai lawan bicara. Ya caranya dengan mendengarkan cerita dia dulu, dan nggak perlu membanding-bandingkan dengan orang lain, apalagi diri sendiri.

Nah, saranku kalau ketemu orang yang begini, skip aja deh! Gausah ambil ribet, pusing, dan kepikiran. Karena emang orang-orang kek gini selalu mandang sesuatu dengan kompetisi. Kalo ditanggap, jadi capek sendiri.

Selain itu, coba kamu join komunitas per-skincare-an, forum diskusi, atau lainnya. Di twitter sendiri tentang menfess skincare gitu udah banyak, kamu tinggal follow aja. Atau bisa join beautynesia, dan femaledaily. Itu cukup membantu, karena di sana kamu gak bakal merasa usaha sendirian. Ribuan orang berada di posisi yang sama dengan kamu, dan sisanya lebih bahkan lebih parah. Tapi, yang sembuh dan berhasil glowing bin kinclong juga banyak! Jadi dengan kamu melihat kondisi orang yang ‘sama’, kamu bakal lebih bersyukur sekaligus termotivasi.
Nantinya, kamu bakal bisa lebih enjoy dan menerima diri kamu sendiri. Yuk bisa yuk:)

GALAKKIN ORANGNYA!

Beberapa orang emang lahir dengan sifat yang minta ditabok. Kadang udah disabarin, dianya malah menjadi-jadi. Kita udah berusaha banget mengabaikan nyinyirannya, tapi masih diulang lagi diulang lagi. Kesel banget gak sih?

Ul, itu jidat kamu jerawatnya banyak banget. Parut napa jidatnya 🙂

Saking keselnya denger kalimat itu, gak ada yang bisa aku lakuin kecuali nangis sesunggukkan di toilet kantor. Merasa dunia ga adil banget karena ngebuat jerawatku nggak sembuh-sembuh :” Tapi justru setelah peristiwa itu, aku jadi mikir, kayaknya gak bisa kalo diam terus dan sok sok senyum kuat. Aku yakin, beberapa orang emang harus ditabok dulu pakek kursi baru sadar kesalahannya di mana.

Teman: “Yaampun itu jerawat banyak banget dijidat Ul…” (yang komen bapak-bapak, coba bayangin)

Aku: “Yaampun, emangnya jerawatku ganggu kehidupan Bapak ya?”

Temen: “Iya ganggu, ganggu pemandangan.”

Aku: “Yaudah gausah diliat!” (membentak seperti bang Rhoma Irama)

Temen: “Orang keliatan kok.”

Aku: “Yaudah gausah liat sini lagi makanya! Pergi kek~”

Temen : Pergi sambil ngedumel gitu (?)

Tapi serius, setelah mencoba lebih galak, kek kelegaan di dada menyeruak, pikiran tuh plong. Jadi habis ngerasa di-bully, bukan nangis tapi merasa lebih kuat aja =) Apalagi setelah itu, si orang yang bersangkutan jadi gak berani ngomong macam-macam lagi ke kita. Jadi coba beraniin diri yaa. Speak up!

TETEP IKHTIAR DAN BERDOA 🙂

Ini sih pastinya ya. Biarpun udah ratusan botol skincare tapi belum ada perubahan, tetep optimis buat nyari skincare lain yang cocok sama kulit kita. Skincare gak mesti mahal kok sebenernya, yang penting cocok aja.

Kalau mau ke dokter? Boleh banget. Tapi ku sarananin supaya langsung konsul ke dokter spesialis kulit, ya. Soalnya kalau konsul di klinik-klinik gitu aku gak yakin, apakah treatmentnya yang aman di kulit dan lulus BPOM atau nggak? Biasanya juga nih ya, kalau klinik kulit tanpa dokter, lepas pemakaian skincare pasti bikin breakout lebih parah. Biarpun sebenarnya di dokter SPKK punya potensi breakout yang sama, paling nggak dia bisa dipertanggungjawabkan bila ada sesuatu yang terjadi pada kulit kita.

(Btw aku sendiri gak pernah ke dokter kulit karena takut T_T)

Dan gak kalah penting, doa jangan sampai putus. Minta doanya juga jangan pingin kulit glowing macem barbie yee. Minta supaya kulit tuh bersih dan sehat 🙂 Niatnya, jangan pingin jerawat hilang supaya bisa pamer ke orang. Tapi niatin karena Allah, bahwa merawat diri juga termasuk perintahnya. Gitu yaaa 🙂

Saran: Pakai skincare yang baru dicoba, sebaiknya gak langsung banyak, alias tipis-tipis duluu. Hal ini meminimalisir tingkat iritasi kalau ada ketidakcocokkan dalam skincare kamu. Please nurut ya, karena itu pengalaman pribadi aku, wkwk.

PENUTUP

Begitulah memang. Menjadi acne fighter itu gak gampang, apalagi mengendalikan perasaannya. Tapi siapa sih emang yang mau jadi penyintas jerawat meradang? Gak ada sob. Jadi kalau dibilang itu ujian, bisa jadi. Atau itu teguran, ya mungkin aja. Intinya sabar, nanti juga sembuh! 🙂

Nah biar lebih lengkap, sebelum end thread, aku bakalan ngasih tau dulu buat kalian yang senengnya ngomongin fisik orang. Baca baik-baik ya, bahwa:

SATU KATA OMONGAN KAMU ITU SANGAT MEMPENGARUHI PERASAAN ORANG LAIN.

Kamu tentu paham kondisi manusia itu nggak selalu stabil sempurna bin ajib. Manusia selalu berubah-ubah karena mereka punya perasaan. Kamu gak pernah tahu, apakah orang yang kamu ajak bicara saat ini dalam kondisi terbaiknya? Ataukah saat rapuh-rapuhnya? Ketidaktahuan kondisi orang lain itu h a r u s membatasi kita dalam memberikan saran, mengkritik, bercanda, bahkan hanya bercerita. Gak perlu lah kita ujug-ujug ngasih saran dan sotoy tanpa diminta. Karena kita gak pernah tau, seberapa sakit perasaannya saat ini, dan seberapa banyak usaha yang telah mereka lakukan untuk memperbaiki kekurangan mereka. Jangan sampai kalimat yang kita ucapkan jadi salah sasaran. Niat bercanda, jatuhnya dosa karena telah menyakiti perasaannya. Apa mau?

Alah, cuma perkara gitu doang, baper banget.

Hal itu pasti akan keluar dari mulut kita kalau kita gak merasakan. But it’s funny till it happen to you! Jadi jika kalian masih bersikeras buat mengomentari kekurangan orang lain tanpa tau persis kondisi mereka, aku cuma bisa berharap supaya kalian nggak merasakan hal yang sama, ya! Aamiin..

Semoga bermanfaat dan salam sayang ^_^

-Di Samping Hujan (Sambil Marah-marah)

Menyetrika Itu Seru Kok

Random Abis

Beberapa bulan lalu aku sedang scrolling twitter, dan menemukan sebuah thread yang isinya tentang keluhan seseorang karena pakaian yang dilaundry hilang begitu saja, tanpa ada tanggung jawab lebih lanjut dari pihak laundry. Berbagai macam tanggapan dari netizen pun muncul. Termasuk salah satu akun lain mengaku bahwa ia mengalami kejadian yang sama. Sejak saat itu, ia selalu mencuci pakaian sendiri, baru akhirnya menggunakan jasa khusus strika saja, karena, ya si orang tersebut malas menyetrika.

Namun, pada kolom balasannya, aku menemukan cuitan yang kurang lebih seperti ini:

“Mba, padahal nyetrika sambil nonton drama + camilan itu surga duniawi banget”

Aku yang membacanya pun semacam LAAAHHHHH? KOK BISAAAA? ~~~

Maksudnya begini, menyetrika sendiri adalah kerjaan yang memfokuskan indra penglihatan kita. Bagaimana supaya sisi-sisi terkecil pakaian tuh nggak ada lipatan sembarang, melintang, jajar genjang, limas segi empat, rasi bintang, dll. Belum lagi melipatnya, nyemprot-nyemprot pewanginya. Dan, awas! Kalau tidak fokus, baju kamu bisa bolong melompong.

Aku sangat memaklumi orang yang menyetrika sambil mendengarkan musik, atau radio. Kalau itu, aku juga sering. Lah ini, menonton drama??? Kayak?????

Pokoknya, gak habis heran aku membaca cuitan tersebut, dan mikir bahwa dunia ini isinya memang orang-orang aneh, dengan kemampuan dan bakat yang aneh.

Waktu berlalu, dan cuitan itu tidak terlalu membekas di dalam hidupku. Paling tidak, aku gak sampai mimpi nyetrika sambil menonton di bioskop misalnya. Atau layar tancap? Bisa juga sambil nonton konser. Eh gak ding.

Tapi, ketika aku sedang mencoba menonton anime Boku no Hero Academia (ini bagus sih, serius!) aku iseng, ingin mencoba hal tersebut. Jujur memang, di samping perasaanku yang terheran-heran dengan tingkah laku manusia, aku juga penasaran ingin mencobanya.  Menonton sambil menyetrika, wih, seperti ujian ketangkasan dan kecermatan kancah ibu rumah tangga level 15.

Karena penasaran, aku pun mencoba. Awal-awal mencoba kadang tertinggal subnya, karena aku lebih memfokuskan diri dengan setrikaan. Dicoba lagi, dicoba terus, eh malah ulang-ulang terus menontonnya! Alias kalau gak adegan yang ketinggalan, subtitelnya tidak terbaca. Tapi.. di situ rasanya menyenangkan. Kayak menyetrika tapi sambil memacu adrenalin (?). Dan hebatnya, menyetrika jadi tidak terasa berat. Tau-tau udah banyak aja yang disetrika. Keren banget gaksih 😦

Jadi sekarang, kalau aku ingin menonton drama atau anime, aku sambil menggelar peralatan setrikaku. Atau sebaliknya, ketika aku harus menyetrika, aku langsung menggelar perangkat laptopku. Aneh sih, tapi seru! Dan itu adiktif!

Pernah dengar kata-kata bijak dari orang. Semua pekerjaan rumah itu enak dilakukan, asal nggak disuruh. Aku setuju sih, sama hal itu. Karena kalau dulu masih tinggal sama ibuk, bawaanya agak bete aja kalau disuruh ini itu (maaf buk T_T). Tapi kalau lagi rajin, rasanya nyapuin kamar tetangga nggak dibayarpun bakal dijabanin.

Nah karena sambil menonton ini, perihal trika setrika menjadi asik, dan tidak membosankan. Dulu sih sebelum mengenal teknik ini, rasanya malas banget. Jadi aku cuma menyetrika pakaian untuk kerja saja. Kalau sekarang, hampir semua pakaian disetrika. Bahkan pakaian orang lagi lewat juga disuruh lepas, mau tak strika, kayak drive thru gitu. Hehe bercanda.

Pokoknya, kalian harus coba. Rasanya, seru banget!

Apa pekerjaan rumah favorit kamu?

-Di Samping Hujan