Catatan Bulan Juni: Day 1

Saya akan memperingatkan bahwa akan ada sedikit banyak bahasa yang informal. Semata-mata biar saya mudah menyampaikan dan anda mudah menangkapnya. Biar saja, ya?

Nah, sebelumnya saya juga akan memberitahukan alasan saya ke sana.

Jadi, perusahaan Jepang sangat akrab dengan istilah kaizen. Kaizen itu semacam kegiatan improvement atau inovasi. (Contoh singkat, kegiatan yang dilakukan untuk memendekkan waktu proses, mengurangi tenaga kerja di suatu proses, menghemat biaya dari suatu proses, dll) Kebetulan selama ini saya bekerja dan bergelut dengan hal tersebut. (Tapi saya hanya sebatas administrasi, bukan ahli dalam ilmu teknik industri, ya..)

3 bulan sekali perusahaan saya mengadakan lomba akan kegiatan tersebut. Nah, yang menjadi juara satu akan di-voting untuk pergi ke Jepang (di sana terletak mother company dari perusahaan) untuk memperlihatkan kegiatan inovasi (kaizen) dari berbagai negara. Terpilihlah dua orang dari departemen teknikal. Dan beruntungnya, selama empat tahun bekerja saya diberi kesempatan kali ini untuk ikut belajar dan mengetahui suasana serta kegiatan kaizen di Jepang. Alhamdulillah.

Maka pada tanggal 4 Juni 2018 lalu, total 4 orang yang terdiri dari Head Kaizen (Manajer saya), Mas Deni (orang teknikal yang membuat kaizen), Mba Titik (administrasi dari departemen teknikal), dan saya sebagai administrasi kaizen, pergi sebagai perwakilan dari Indonesia untuk memperlihatkan kegiatan kaizen dan belajar langsung di sana.

Baik, selanjutnya mari kita mulai perjalanannya.

(( Day 1 ))

Advertisements

Kalau

Kalau dunia ini fana,

Maka dunia maya adalah dunia fana-nya dunia fana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

haha

-Di Samping Hujan

Catatan Bulan Juni: Prolog 2

Apa yang saya lakukan ketika lulus?

Tidak ada.

Pasca kelulusan, semua murid jadi memiliki gelar yang sama, alias pengangguran termasuk saya. Waktu itu bulan Mei. Kegiatan sekolah sudah berakhir bagi kelas dua belas. Ijazah belum keluar. Teman-teman yang akan kuliah sedang sibuk menyiapkan berkas mereka. Sementara saya menjadi asosial yang mengurung diri di kamar.

Sebenarnya tidak begitu suram.

Saya menyempatkan diri untuk ikut beberapa kegiatan job fair, menulis berkas lamaran bermodalkan surat kelulusan saja, dan melamar menjadi guru di sebuah tempat kursus.

Catatan Bulan Juni: Prolog

Sebelum Anda mulai membaca catatan perjalanan ini, sebagai prolog, saya ingatkan bahwa tulisan ini akan mengandung sedikit-banyak keluh kesah dan curahan hati pribadi saya. Dari mulai saya bisa mendapatkan berbagai motivasi itu, kehilangan, lalu mendapatkannya kembali.

Kedengaran begitu hiperbola. Tapi kalau dipikir memang itulah yang terjadi.

Karena, bagaimanapun, perjalanan ini merupakan salah satu peristiwa terbesar yang pernah terjadi di kehidupan sederhana saya; perempuan yang biasa-biasa saja.

Tulisan ini juga akan panjang, dan mungkin akan terus bersambung sampai beberapa part ke depan. Mengingat aslinya saya begitu gemar bercerita tentang apapun. Saya akan menceritakan semua yang saya ingat, hari demi hari, waktu demi waktu, kejadian demi kejadian yang saya alami ketika saya menginjakkan kaki di negri orang.

Sekali lagi, terdengar biasa saja.

Tapi, mari, kita mulai.

===

Saya adalah..

Kalau Lagi Senang

Kalau lagi senang,

Semua puisi seperti nyata,

Kata-kata jadi mutiara,

Doa-doa kayak bakal terkabul besok.

Wah kayaknya bahagia banget, deh!!

Tapi kalau lagi kesal,

Membaca pesanmu,

Curahan hatimu,

Tiap paragraf di wordpressmu,

Semua terkesan seperti kebohongan!

Cih!

Pernah baca, laki-laki suka wanita karena tampang, makanya wanita suka ber-make up!

Sementara wanita suka laki-laki lewat kata-kata, makanya laki-laki tukang boong!

 

Terus ku menyesal gak jadi wanita?

(Ngga sih, dua-duanya sama aja)

 

Saya Seekor Kucing

Kalau saya seorang kucing kampung sakit yang buruk rupa, berkeliaran di jalanan, butuh makan dengan badan yang demam namun kotor dan bau,

Adakah yang mau menolong saya?

Kebanyakan akan jijik.

Ya, jijik.

===

Saya adalah kucing kampung.

Saya tau, rupa saya tidak begitu menggemaskan. Mau diberi makan sebanyak apapun, memang tubuh saya cenderung kurus. Dimandikan beberapa kalipun, rambut saya tidak akan selebat persia. Muka saya biasa-biasa saja. Tulang wajah cenderung tinggi dan kaku. Mata tidak begitu bulat. Hidung saya tinggi, namun itu bukan nilai plus. Saya tidak manis. Dan tidak lucu. Bahkan dari mereka kebanyakan menghindari keberadaan saya.

Hal itu semakin menjadi-jadi ketika saya berkelana lalu mendapat kotor pada rambut-rambut ini akibat berkelahi. Mereka semakin memandang saya hewan liar. Tidak tau adab. Galak. Maling. Saya diusir. Dilukai secara fisik. Kadang disiram. Paling parah dilempar batu.

Sebelumnya, saya berbalik minta maaf, jika kesan saya seperti itu di mata kalian. Saya memang kurang dididik untuk bersopan santun ketika meminta makanan. Atau ketika bertengkar dengan kucing lokal lain yang menyebabkan orang susah tidur di malam hari. Dunia kejam ini mengajarkan kami untuk bertahan dari lapar dan luka. Dunia ini melatih kami, kucing yang terlantar, untuk bisa hidup di hari esok. Bukan untuk bermanja-manja di atas kasur empuk nan hangat. Atau menunggu diberikan susu hangat bermerk pada mangkuk.

Aku Tau

‚ÄčKini aku tau bedanya,
Sebab kenapa dia ringan melenggang,
Sementara aku tertatih tanpa tumpuan.

Dalam ribu bagian tubuh manusia,
Ada padanya yang paling luas,
Namun padaku tak ampun sesak,

Aku tau bedanya,
Mengapa demikian.

Hati.

Itu.

===

-Di Samping Hujan

Terkaan

Beberapa bulan yang lalu, time line jejaring sosial mediaku dipenuhi dengan tulisan seseorang secara non periodik, namun frekuensinya di luar kendali. Maksudku, kadang ia bisa menerbitkan dua tulisan dalam sehari. Isinya pun lumayan panjang. Tiap tulisan bisa memiliki 10 paragraf atau lebih. Kebanyakan ia menceritakan seseorang yang ia sebut ‘teman’. Namun di situ ada rindu. Ku pikir juga ada cinta. Rasa terima kasih, harapan, dan permintaan maaf tak juga ketinggalan.

Ketika orang lain sangat bersemangat untuk menulis, aku hanya menjadi pribadi yang tidak produktif. Itu suatu hal yang bertolak belakang dengan keinginan dan mimpi-mimpiku. Namun, biar. Aku sedang menikmati masa hibernasiku yang panjang.