Tersesat

Kesalahan kita adalah terlalu berharap pada cerita-cerita tak nyata. Kau terlalu menganggap detik-detik kebersamaan itu takkan hengkang; tak selesai meninggalkan luka. Dan aku tak pernah memikirkan akhir dari sebab kamu dan aku duduk dalam satu bangku; berbahagia atau berubah menjadi abu.

Dalam tiap langkah-langkah yang kau jajak, ada ribuan ragu membayangi pada jejak. Perasaan dan hati, membentuk lorong-lorong yang membelit sepanjang angan. Sehingga kini kau kebingungan; kau tidak tahu. Kini kau sama sepertiku. Kita sama. Kita manusia di persimpangan, yang tak pernah tahu harus menunggu atau pulang.

Kesalahan kita adalah terlalu menganggap kau dan aku baik dalam satu yang tak pasti. Aku terlalu luas memberikanmu tempat. Kau terlalu jauh menaruh harap.

Padahal itu semua akan kandas, kalau memang tak ada garis yang mempertemukan.

Sayang, barangkali kau tersesat.

Kembalilah cepat, aku bukan tempatmu pulang.

===

Entahlah,

-Di Samping Hujan

Advertisements

Pengalamanku Seminar MLM

“Li, ikut seminar yuk.”

“Wah, seminar apaan, Mel?”

“Iya, ini seminar aja gitu, tentang kesehatan.”

“Hmm..”

“Yuk, temenin aku…”

Aku terdiam, berpikir sejenak “Jam?”

“Habis isya lah, di Grand Wisata. Mau ya?”

Aku yang masih polos dan belum tau apa itu dunia bisnis segera mengiyakan. Kepo soalnya. Lagian, aku udah lama nggak main sama Melmel. Melmel itu temanku lima langkah, cuma waktuku yang sempit menciptakan jarak yang besar di antara kita. Jadi ketika ada ajakan begitu, dan aku lagi free time, aku langsung mengiyakan saja.

===

Rupanya

Kemudian kamu tersenyum terang-terang.
Menandakan kalau yang semalam itu bukanlah apa-apa.
“Perangaiku yang acuh tak acuh? Lupakan saja.” gumammu yang dapat kuucap ulang lewat pandangan mata.

Aku benci.

Mengapa tak katakan saja kalau tak kuasa memberi? Atau, mengapa memaksa tinggal kalau tak berniat?
Entahlah.
Yang jelas aku mulai menerka-nerka kalau akulah satu kemungkinan dari seribu pilihanmu, ketika kamu adalah rute akhir yang aku ambil untuk jalan ceritaku.

Aku benci.

Tiap semburat kegembiraan yang kamu ulas selalu berubah pias.
Ramah tamah katamu, pemeduli sikapmu tiba-tiba berubah ngilu.

Sisanya kemana?
Tidak ada kecuali manusia dingin yang tak banyak bicara.
Balas satu atau dua patah kata setelah itu sirna tertelan diam.
Tapi esok, lusa, atau kapanpun di masa depan, kegembiraan itu akan muncul lagi padaku,
Kerap kali kamu tak menemukan yang spesial pada hari itu.

Aku benci.

Kamulah yang menciptakan jarak menjadi dekat sekaligus jauh dalam kurun singkat.
Kamu yang memupuk harapan serta merta kamu yang menginjak-injak.
Kamu, yang sekarang menatapku rindu benar.
Tapi pasti, pasti nanti berubah, lagi.

Aku benci, sampai-sampai otakku kini mengerti sendiri;
Rupanya begini cara pemberi harapan palsu menari

===

Dipos ulang, (3)
-Di Samping Hujan

Bisu

Kini kita saling diam, saling mengumpat dalam-dalam, bergumam keras sepanjang pikiran. Tidak ada yang lebih baik selain menontoni tanpa ikut aksi. Penyimak nomor satu tanpa harus ada yang tahu. Perasa yang paling andal namun hanya berkutat di tempat yang sama. Bisu.

Lekat-lekat hatiku bertanya, apa sebenarnya yang kau pikirkan. Yang membuatmu tak bisa tidur sepanjang malam, dan menuliskannya pada dinding transparan. Apa benar itu aku, atau orang lain yang lebih kuat dari pada aku? Aku ingin tahu, atau bahkan tiap-tiap langkah yang kau jejak, jarak yang kau dapat, gaya yang kau buat. Semua aku ingin tahu.

Tapi lagi kita hanya bisa bercanda dalam dimensi beda. Saling menyapa tanpa menatap. Saling singgung di dalam harap. Seberapapun usaha yang kita buat, hanya bisu yang kita tangkap. Hanya rindu menggebu, namun tak mampu bertemu. Hanya sesal yang bertumpuk, tapi kata maaf tak berlaku. Sungguh, kita hanya bisa diam dan saling

menunggu.

===

Dipos ulang, (2)
-Di Samping Hujan

Kita

Kita bukan apa-apa.
Sebenarnya, waktu itu aku dan kamu hanya tertawa di balik hujan.
Bersenandung sambil menatap kelabu tebal.
Bercerita hal bodoh, lalu kita tertawakan.

Sungguh, waktu itu aku dan kamu hanya perangai suram yang luluh akan perasaan.
Rela bertaruh demi kebahagiaan.
Membuat jejak panutan orang.

Demi apapun,
Aku dan kamu hanya dua pribadi yang menangisi satu sama lain.
Saling ketergantungan, lalu menyindir.
Antara disakiti, atau menyakiti.

Itulah Kita.

Apa aku benar? Kita bukanlah apa-apa, sampai kini telah melupa.
Kita hanya dua hal asing, yang memiliki sesuatu untuk di kenang.
Kita cuma dua manusia yang pernah memiliki hubungan emosional.
Kita, dua orang yang tersesat dan mengira bahwa satu sama lain adalah jalan pulang.

Tidak spesial, bukan?

===

Dipos ulang, (1)
-Di samping Hujan

One Day After

One day after without you.
It’s still raining.
On my eyes.
In my heart.

One day after without you.
It would never be same again.
Everything is different.
My life is change.

One day after without you.
Like something forcibly pulled.
From my soul.
And i know.
It was you, Dad.

===

-Di Samping Hujan

Review Barang Bawaan (?)

Kemarin tagar #isitasanakblabla sempat memenuhi timeline ku di twitter. Karena kepo, jadilah ku stalking sebab musabab nya tagar ini jadi viral. Gak butuh perjalanan panjang buat menemukan kamu akar sebabnya. Ternyata permasalahannya cuma sepele alias gitu doang ya! Soal mahasiswi PTN favorit se-Indonesia mereview (?) isi tasnya sendiri pas lagi ngampus (doi semacam artis yuchub or selebgram gitu).

Jujur, aku gaktau apa yang salah, karena pas aku tonton videonya sih, menurut ku biasa aja. Banyak video youtube yang lebih kelewatan ngeselinnya, yang tentu tidak harus ku sebutkan di sini judul-judulnya.

Mungkin gak sih, karena barang bawaan si mahasiswi kebanyakan gada sangkut pautnya sama dunia perkuliahan? Gaktau. Cuma yang jelas kasus ini berujung panjang, dan menimbulkan persekusi yang ditujukan ke si pembuat video. Yaelah~

Pergi

Aku ingin pergi ke suatu tempat. Yang memungkinkan kita bercakap-cakap tentang temaram bulan, lalu silaunya siang. Aku ingin menikmati setiap monolog yang kau dengungkan, di atas rumput hijau kemilauan, dan pohon-pohon yang membungkuk penasaran.

Aku ingin melihat kerjapan matamu ketika menceritakan mereka. Menceritakan mengapa orang saling mencintai di muka bumi ini. Kemudian mengapa mereka saling meninggalkan hingga tak mengenal. Dengan gerak bahumu, ekspresimu, nadamu. Jika cukup sunyi, dalam tiap jeda katamu, bahkan aku ingin menikmati degup jantungmu.

Namun kini, aku telah pergi ke suatu tempat. Yang membuat kita berada pada ruang-ruang berbentuk kotak, terpisah masa dan jarak. Hening yang membuat lidah ini kelu, tak mampu mengucap. Seolah bahwa kini semua terjawab: mengapa kita saling mencintai, lalu pada akhirnya kita harus saling meninggalkan.

Ini bukan tempat yang ku inginkan.

Tapi pada semburat luka, dan kehilangan-kehilangan yang kau torehkan, dalam suka dan duka, dalam ingat dan lupa, dalam penolakkan dan penerimaan…

Aku memutuskan,

screenshot_2019-01-26-14-40-58-110_com android chrome

===

-Di Samping Hujan

I Wanna Eat Your Pancreas

Aku tau, kau mungkin keberatan menjadi tempat ku singgah. Menjadi tempatku bersandar sejenak. Menjadi ruang ketika aku lelah.

Aku tau matamu berbicara betapa enggannya kamu mendengar mimpiku. Tujuan-tujuan kecilku. Cerita tentang orang-orang. Atau kisah bunga mekar lalu gugur di tengah jalan.

Aku memahami ketidaksiapanmu untuk melesakkan seseorang sepertiku pada sekat-sekat hatimu. Karena, kita hidup di dunia berbeda. Aku dan segala isi dunia yang terbuka. Kau dan ruang-ruang kecil yang tak berwarna.

Kau sebut itu hanya kebetulan. Kebetulan yang mempertemukan kita, di antara orang-orang, di antara ribuan kemungkinan yang kau pilih, di antara siapa saja yang bisa menggantikanmu saat kita bertemu.

Tapi, aku tidak setuju. Bagaimanapun itu adalah pilihan. Pilihan atas aku menyerahkan sesuatu ini padamu. Pilihan atas kamu yang  menerima segalaku. Menerima apa yang ada di dalam diriku. Menerima kehadiranku yang selalu mengganggumu. Apapun yang mampu menyempurnakanku.

Memilih untuk mendengarkan ceritaku, tujuan kecilku.

Memilih untuk menjadi tempat singgahku.

Memilih untuk menjadi ruangku.

Buku  dongeng yang kita tulis, tak ada kata suka di sana. Cinta. Atau rindu. Hubungan kita, terlalu lebih daripada itu. Dalam kerahasiaan. Dalam gelap dan malam. Tanpa seorangpun tahu, kecuali sang penulis buku itu sendiri. Kecuali kau dan aku….

Hey, sudah sepanjang ini, kau sadar itu, kan?

Tidak apa-apa. Walau kelak kau dan aku terlambat menyadarinya. Walau kelak kita tahu ini apa namanya. Walau takkan ada yang mengerti selain kita…

Namun, untuk sementara, hubungan rumit ini, lebih pantas disebut apa?

Satu pasti yang ku tahu,

I wanna eat your pancreas 🙂

===

Diinspirasi dari film I Wanna Eat Your Pancreas.

– Di Samping Hujan