Kenapa Tidak Percaya Covid?

Uncategorized

Bagaimana kabar kalian? Aku harap, di tengah kasus Covid yang kembali meningkat dengan berbagai jenis varian barunya, kita tetap senantiasa dilimpahi imun yang kuat, serta kemewahan untuk melakukan isoman. Ya, banyak di antara kita yang terpaksa masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka takut virus, namun lebih takut lagi bila tidak makan. Maka bersyukurlah, kalau kalian masih bisa terduduk di kamar dengan penuh kesehatan.

Covid mulu, Covid terus. Apakah tidak ada penyakit selain dari Covid? Sekarang, semua penyakit pasti divonis Covid.

Wajar saja jika dari kita yang awam mempertanyakan berbagai macam hal. Berawal dari pengetahuan yang kurang mumpuni akan wabah ini, serta berbagai macam tindakan pemerintah yang agak menyepelekan membuat kepercayaan masyarakat kadung hilang. Lagi pula, manusia memang cenderung tidak percaya akan hal-hal yang tidak dilihatnya. Maka jika masih ada yang menganggap covid itu hanya canda, kita maklum.

Tapi rupanya … setahun lebih telah berlalu sejak kasus Covid pertama di Indonesia. Seharusnya kita tidak perlu lagi mencari informasi tentang kebenaran covid itu sendiri. Seharusnya kita tidak perlu mempermasalahkan asal muasalnya. Seharusnya kita sudah terbiasa. Satu tahun adalah hal yang cukup untuk kita membuka mata, membaca berita, merasakan dengan seluruh indra, berkaca pada lingkungan sekitar kita, bahwa Covid memang nyata adanya. Bukan hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia! Satu tahun itu waktu yang lama!

Jujur, beberapa pertanyaan receh dari pihak ini hanya bisa membuatku geleng-geleng kepala. Seperti, kenapa setiap siswa hendak belajar tatap muka, angka Covid melonjak naik? Kenapa setiap hendak menyambut Hari Raya, kasus Covid diperparah? Kenapa pemerintah melarang kami beribadah?

Pertanyaan-pertanyaan yang tidak berhenti berkumandang di sekelilingku, seolah penyakit ini hanya pengalihan isu yang dibuat oleh petinggi negara. Padahal lonjakan Covid saat ini bisa dinalar dengan mudah. Kita tidak perlu mempertanyakan pengetatan aturan-aturan itu berlandaskan apa. Kita bahkan bisa melihat keadaan India yang begitu bagus dijadikan contoh. Tapi, kenapa kita masih sulit juga memahami dan percaya bahwa Covid itu benar-benar ada?

Syukur bagiku. Aku dan keluarga adalah orang yang termasuk memercayai pandemi. Adikku sendiri merupakan penyintas Covid dengan gejala sedang pada Februari lalu. Sesak nafas, dan indra penciuman hilang total. Membuat kita sekeluarga panik karena ia tinggal hanya dengan Mama, yang umurnya telah genap lima puluh tahun dan lebih berisiko. Sebuah ujian yang cukup membuat bingung sekeluarga kala itu. Alhamdulillah kami bisa melewatinya, dan hikmahnya adalah, keluargaku juga semakin taat akan prokes dan benar-benar meyakini bahwa Covid itu, ada.

Ya, kita tidak akan benar-benar percaya pada suatu hal, sampai kita sendiri yang mengalaminya.

Aku tau, ketidakpercayaan itu berasal dari kekecewaan kita pada penguasa yang tidak cakap dalam penanganan pandemi. Dimulai dari kebijakan yang plin-plan, korupsi bansos, alat test yang tidak kompeten. Hal itu membuat kita menduga-duga bahwa covid hanya akal bulus pemerintah. Atau bahkan permainan antek-antek aseng. Akan tetapi, apapun itu, keduanya adalah bahasan yang takkan kunjung selesai. Semua akan diulang kembali, disangkut pautkan kembali, digoreng lagi, ditiriskan kembali. Sampai akhirnya benar-benar basi. Dan kita takkan pernah bisa keluar dari lingkaran itu, kecuali mulai menyadari bahwa hal itu adalah gorengan yang sudah dingin. Yang tidak layak dikonsumsi.

Namun pernahkah kita juga terpikir, bahwa mungkin saja pemerintah juga kebingungan memecahkan solusi untuk saat ini? Meluruskan informasi hoaks pada grup whatsapp keluarga saja kita kesulitan. Apalagi mengatur dua ratus juta jiwa yang di antaranya bebal untuk taat aturan?

Kita harus sadar, bahwa pandemi ini memang ada dan berbahaya. Berbahaya karena, kita tak bisa memastikan tiap orang memiliki gejala sama. Bisa jadi pada seseorang tak berdampak suatu apapun, namun ketika berada di tubuh orang lain, gejalanya luar biasa (seperti adikku). Apalagi varian delta yang penyebarannya cukup cepat, dan gejalanya sangat random. Tambahan informasi, di kelurahan tempat tinggalku, pemakaman mulai penuh. Seseorang yang meninggal harus masuk waiting list, karena kapasitas pemakaman tidak lebih dari 50 orang perhari.

Kita juga harus paham bahwa pandemi ini tak bisa diserahkan ke pemerintah saja. Atau hanya menekan rakyat biasa. Pandemi ini harus diselesaikan dengan sinergi keduanya. Pemerintah melayangkan aturan dan kebijakan, sementara rakyat mematuhi prokes yang ada.

Dan jika kita harus membahas konspirasi, maka dunia ini memang penuh dengan hal-hal seperti itu. Dunia ini memang busuk, dan tidak cukup pantas untuk digantungkan harapan. Bukan hanya soal pandemi, tapi semua aspek. Pendidikan, pembangunan, apapun, dan itu sudah disusupi oknum ada sejak dulu. Bahkan sebelum kita merdeka. Maka dari itu, tak ada gunanya bersungut-sungut di dunia ini, menyalahkan satu sama lain, bahkan menduga-duga hal yang tidak kita kuasai. Karena itu bukan jalan keluar untuk saat ini.

Pada akhirnya… tugas kita bukan lagi mengungkit. Bukan lagi melawan. Tugas kita cuma bertahan. Saling menjaga, teman, saudara dan keluarga.

Jangan lupa double masks, cuci tangan, dan jaga jarak. Tetap sehat, dan bahagia ❤

-Di Samping Hujan

Tawa dan Tangis

Uncategorized

Hal yang paling membuatku gelisah di tengah kebahagiaan adalah sadar bahwa kelak tawa itu akan berganti peran dengan tangis. Tiap kali senang datang, pikiranku akan dibayangi berbagai macam cara bagaimana sedih itu akan mampir. Dari keluargaku? Dari pekerjaanku? Atau dari diriku sendiri? Dan yang paling ku harapkan, tidak lain kalau air mata itu akan keluar setelah aku menyaksikan acara televisi.

Ya, saat tertawa, aku takut kelak akan menangis.

Atau mungkin semua orang begitu?

Ah, akan tetapi, kekhawatiran di tengah keceriaan itu juga hanya seperti bau bangkai yang tertutup hujan deras; yang ada namun tak tercium sampai hujan berhenti. Membuat kita akan memilih untuk pura-pura lupa sesaat kalau sedih selalu menjadi penyerta senang, dan senang juga takkan meninggalkan sedih sendirian. Mereka ada, dan selalu bersama. Namun kita tidak ingin tahu juga.

Padahal, sedih dan senang, adalah bumbu kehidupan yang berasal dari syukur dan ujian. Tidak bisa jika ingin minta senang terus, atau sedih melulu. Alam punya algoritma yang lebih acak untuk menentukan siapa yang akan datang lebih dulu. Dan kita, takkan pernah mampu berkilah dari ketidakpastian itu. Bahkan tak jarang, sedih dan senang yang dapat diprediksipun akan membuat kita tetap terkejut.

Lalu, bagaimana sikap kita? Bagaimana kita mengendalikannya? Sementara memohon agar dikurangi segala ujiannya, atau diperbanyak rasa bahagianya seperti kita berusaha menggenggam udara; tak bisa, dan tiada artinya.

Pada akhir dari segala akhir, yang kita butuhkan bukanlah pengurang rasa sakitnya, atau penguat rasa bahagianya. Yang lebih kita butuhkan adalah dilapangkan dadanya agar seluas bandara. Dikokohkan hatinya agar kuat berlapis baja. Serta, diteguhkan nuraninya agar sabar seakan tak ada batasnya.

Maka memintalah atas itu.

Tidak ada yang lebih baik mengucap syukur saat bahagia, dan mengingatNya ketika nestapa. Karena… karena, di setiap kesusahan, pasti akan ada kemudahan bagi yang percaya.

===

Bersabarlah, diri ini.

-Di Samping Hujan

Terjemahan Indonesia : Yoh Kamiyama – Irokousui Opening Horimiya

Uncategorized

WIBU KUMPUL…!!! Siapa yang suka anime Horimiya, ngaku?! *ngacung paling tinggi*

Hori-san to Miyamura-kun

Sebenernya nonton anime school itu bikin mupeng aja gaksih? Kayak jadi berandai-andai, coba aja kehidupan sekolahku dulu genre romance comedy, wkwkwkk. Yaudahlah ya, toh sekarang kehidupan bersama mas suamik lebih-lebih dari genre romance comedy /halah. Tapi yang jelas sampai saat ini aku masih seneng banget nonton anime genre unyu-unyu, termasuk Horimiya ini uwaaahhhh.

Berkisah tentang Hori, anak cewek yang pinter, cakep, dan populer idaman kaum adam. Dia sekelas sama Miyamura, anak introvert penyuka kopi dan senja, becanda senja hehe. Awalnya mereka gak notice satu sama lain, yaa biasa-biasa aja lah ya. Tapi suatu hari mereka ketemu dalam sisi mereka yang berbeda! Maksudnya, si Hori kalau di rumah penampakannya kek upik abu woy. Sementara si Miya kalau gak di sekolah penampakannya kek jamet, banyak tato dan piercing. Karena merasa kepergok punya sisi lain, mereka akhirnya jadi deket gitu. Udah deh cerita keuwuan berlanjut, bikin hati cenat-cenut wkwkkk.

Selengkapnya tonton aja ya, live actionnya juga adaa.

Nah, terus berhubung openingnya belakangan ini nyantol terus di kepala, jadi kucoba terjemahkan. Silakeun~

きっと消えない 今日は言えない

Kitto kienai, kyou wa ienai

Pasti takkan menghilang, namun tak bisa ku katakan hari ini

元どおりにはもうできない

Moto doori ni wa mou dekinai

Kita tak bisa kembali

あの頃に 君を残したまま

Ano koro ni, kimi wo nokoshita mama

Pada waktu itu, saat aku meninggalkanmu

記憶の中では 晴れ間の部屋

Kioku no naka de wa, harema no heya

Pada ruang yang bercahaya dalam memoriku

惹かれ合えばサラバ

Hikare aeba saraba

“Apakah kita harus berpisah karena saling terpikat?”

知りたくない

Shiritakunai

Aku tak ingin tahu

思い出せば今も ふわっと香る

Omoidaseba ima mo fuwatto kaoru

Jika kau ingat, kini aroma itu perlahan menyeruak

君と僕は同じ 色香水

Kimi to boku wa onaji irokousui

Kau dan aku memiliki aroma warna yang sama

ほんの少し 背伸びをして歩いた道

Hon no sukoshi senobi wo shite aruita michi

Pada jalan yang kita lewati dengan berjinjit

ビードロの靴 移り変わる季節模様

Biidoro no kutsu utsuri kawaru kisetsu moyou

Di bawah sepatu kristal itu, ada pola musim yang selalu berubah

きっと消えない 今日は言えない

Kitto kienai kyou wa ienai

Pasti takkan hilang, namun tak bisa ku katakan hari ini

元どおりにはもうできない

Modo toori ni wa mou dekinai

Kita tak bisa kembali

あの頃に隠した 本物はどこ

Ano koro ni kakushita honmono wa doko

Pada kebenaran yang kusembunyikan saat itu, di mana sekarang?

怒ってくれない 解ってくれない

Okotte kurenai wakatte kurenai

Kau tidak marah padaku, dan kau tidak mengerti diriku

思ってもただ 募ってしまうだけ

Omotte mo tada tsunatte shimau dake

Aku membiarkan semua pemikiran ini menjadi satu

懐かしい匂いと この歌が残る

Natsukashii nioi to kono uta ga nokoru

Yang tertinggal hanya lagu ini dan aroma yang ku rindukan

記憶の中では 二人の部屋

Kioku no naka de wa futari no heya

Pada ruang kita berdua dalam ingatanku

惹かれ合えば僕ら

Hikare aeba bokura

Biarkan kita saling tertarik satu sama lain

このまま

Kono mama

Seperti ini

思い出せば今も ふわっと香る

Omoidaseba fuwatto kaoru

Jika kau ingat, kini aroma itu perlahan menyeruak

君と僕は同じ 色香水

Kimi to boku wa onaji irokousui

Kau dan aku memiliki aroma warna yang sama

失うほど 優しさすら嫌になって

Ushinau hodo yasashisasuru iya ni natte

Semakin terpisah, segala kebaikanmu pun akan ku benci

ビー玉の中 こぼれ落ちる涙のよう

Biidama no naka kobore ochiru namida no you

Seperti air mata yang jatuh ke dalam kelereng

きっと消えない 今日は言えない

Kitto kienai kyou wa ienai

Pasti takkan hilang, namun tak bisa ku katakan hari ini

元どおりにはもうできない

Moto doori ni wa mou dekinai

Kita tak bisa kembali

あの夏に隠した 本当はもう

Ano natsu ni kakushita hontou wa mou

Pada saat musim panas, kebenaran yang ku sembunyikan sudah…

怒ってくれない 解ってくれない

Okotte kureni wakatte kurenai

Kau tidak marah padaku, dan kau tidak mengerti diriku

思ってもただ 募ってしまうだけ

Omotte mo tada tsunatte shimau dake

Aku membiarkan semua pemikiran ini menjadi satu

新しい匂いと この街に残る

Atarashii nioi to kono machi ni nokoru

Yang tersisa hanya kota dan aroma baru ini

いつか いつか

Itsuka itsuka

Suatu saat

口をついたこの嘘が

Kuchi wo tsuita kono uso ga

Kebohongan di mulut ini

一つ残らず本当になって

Hitotu nokorasu hontou ni natte

Akan menjadi nyata tanpa sisa

どうか どうか

Douka douka

Ku mohon

繰り返し唱えていた

Kurikaeshi tonaeteita

Nyanyianku ini akan berulang

君が透明になったまま

Kimi ga toumei ni natta mama

Agar kau akan tetap menjadi bayangan

きっと消えない 今日は言えない

Kitto kienai kyou wa ienai

Pasti takkan hilang, namun tak bisa ku katakan hari ini

元どおりにはもうできない

Moto doori ni wa mou dekinai

Kita tak bisa kembali

あの頃に隠した 本物はどこ

Ano koro ni kakushita honmono wa doko

Pada kebenaran yang kusembunyikan saat itu, di mana sekarang?

怒ってくれない 解ってくれない

Okotte kurenai wakatte kurenai

Kau tidak marah padaku, dan kau tidak mengerti diriku

思ってもただ 募ってしまうだけ

Omotte mo tada tsunotte shimau dake

Aku membiarkan semua pemikiran ini menjadi satu

懐かしい匂いと この歌が残る

Natsukashii nioi to kono uta ga nokoru

Yang tersisa hanya lagu ini dan aroma yang ku rindukan

===

-Di Samping Hujan

Menyetrika Itu Seru Kok

Random Abis

Beberapa bulan lalu aku sedang scrolling twitter, dan menemukan sebuah thread yang isinya tentang keluhan seseorang karena pakaian yang dilaundry hilang begitu saja, tanpa ada tanggung jawab lebih lanjut dari pihak laundry. Berbagai macam tanggapan dari netizen pun muncul. Termasuk salah satu akun lain mengaku bahwa ia mengalami kejadian yang sama. Sejak saat itu, ia selalu mencuci pakaian sendiri, baru akhirnya menggunakan jasa khusus strika saja, karena, ya si orang tersebut malas menyetrika.

Namun, pada kolom balasannya, aku menemukan cuitan yang kurang lebih seperti ini:

“Mba, padahal nyetrika sambil nonton drama + camilan itu surga duniawi banget”

Aku yang membacanya pun semacam LAAAHHHHH? KOK BISAAAA? ~~~

Maksudnya begini, menyetrika sendiri adalah kerjaan yang memfokuskan indra penglihatan kita. Bagaimana supaya sisi-sisi terkecil pakaian tuh nggak ada lipatan sembarang, melintang, jajar genjang, limas segi empat, rasi bintang, dll. Belum lagi melipatnya, nyemprot-nyemprot pewanginya. Dan, awas! Kalau tidak fokus, baju kamu bisa bolong melompong.

Aku sangat memaklumi orang yang menyetrika sambil mendengarkan musik, atau radio. Kalau itu, aku juga sering. Lah ini, menonton drama??? Kayak?????

Pokoknya, gak habis heran aku membaca cuitan tersebut, dan mikir bahwa dunia ini isinya memang orang-orang aneh, dengan kemampuan dan bakat yang aneh.

Waktu berlalu, dan cuitan itu tidak terlalu membekas di dalam hidupku. Paling tidak, aku gak sampai mimpi nyetrika sambil menonton di bioskop misalnya. Atau layar tancap? Bisa juga sambil nonton konser. Eh gak ding.

Tapi, ketika aku sedang mencoba menonton anime Boku no Hero Academia (ini bagus sih, serius!) aku iseng, ingin mencoba hal tersebut. Jujur memang, di samping perasaanku yang terheran-heran dengan tingkah laku manusia, aku juga penasaran ingin mencobanya.  Menonton sambil menyetrika, wih, seperti ujian ketangkasan dan kecermatan kancah ibu rumah tangga level 15.

Karena penasaran, aku pun mencoba. Awal-awal mencoba kadang tertinggal subnya, karena aku lebih memfokuskan diri dengan setrikaan. Dicoba lagi, dicoba terus, eh malah ulang-ulang terus menontonnya! Alias kalau gak adegan yang ketinggalan, subtitelnya tidak terbaca. Tapi.. di situ rasanya menyenangkan. Kayak menyetrika tapi sambil memacu adrenalin (?). Dan hebatnya, menyetrika jadi tidak terasa berat. Tau-tau udah banyak aja yang disetrika. Keren banget gaksih 😦

Jadi sekarang, kalau aku ingin menonton drama atau anime, aku sambil menggelar peralatan setrikaku. Atau sebaliknya, ketika aku harus menyetrika, aku langsung menggelar perangkat laptopku. Aneh sih, tapi seru! Dan itu adiktif!

Pernah dengar kata-kata bijak dari orang. Semua pekerjaan rumah itu enak dilakukan, asal nggak disuruh. Aku setuju sih, sama hal itu. Karena kalau dulu masih tinggal sama ibuk, bawaanya agak bete aja kalau disuruh ini itu (maaf buk T_T). Tapi kalau lagi rajin, rasanya nyapuin kamar tetangga nggak dibayarpun bakal dijabanin.

Nah karena sambil menonton ini, perihal trika setrika menjadi asik, dan tidak membosankan. Dulu sih sebelum mengenal teknik ini, rasanya malas banget. Jadi aku cuma menyetrika pakaian untuk kerja saja. Kalau sekarang, hampir semua pakaian disetrika. Bahkan pakaian orang lagi lewat juga disuruh lepas, mau tak strika, kayak drive thru gitu. Hehe bercanda.

Pokoknya, kalian harus coba. Rasanya, seru banget!

Apa pekerjaan rumah favorit kamu?

-Di Samping Hujan

Arti Kopi dan Senja Atau Apalah Itu

Uncategorized

Apa kamu suka kopi? Kenapa bisa suka kopi? Ngopi mu terjadwal, atau hanya kadang-kadang?

Kalo aku..

Aku sangat menyukai kopi. Di sela-sela kesibukkan ngantor ataupun kuliah dulu, aku selalu menyempatkan diri untuk ngopi. Kopi botolan, kemasan kotak, kopi kekinian topping boba, aku suka semua. Tapi paling oke buatku adalah secangkir kopi hangat dengan krimer dan sedikit gula. Cukup.

Tentu alasanku menyukai kopi adalah.. orang tua. Haha, plottwist. Aku bukan orang yang cukup filosofis untuk mengaitkan kopi dengan senja atau apalah itu. Menurutku suka kopi, ya suka aja. Gak mesti tuh ngopi sore-sore. Setiap aku kepingin, aku selalu minum. Bahkan bisa 2 atau 3 kali sehari. Iya, cukup bersyukur sekarang aku belum terkena penyakit lambung.

Lalu kenapa kok, orang tua? Aku ingat saat dulu berkunjung ke rumah temannya papa. Waktu itu umurku masih di bawah sepuluh tahun. Alih-alih dikasih air putih dingin, atau jus jeruk yang segar, aku malah dibuatkan kopi dengan rasa yang cukup manis. Tentu kala itu aku belum bisa menolak. Jadi biarpun aneh, aku minum saja. Entah kenapa papaku juga mengizinkan.

Sejak saat itu, aku tumbuh bersama kopi. Aku tidak pernah absen meminta seteguk kopi jika papa dibuatkan oleh mama. Belakangan, ketika papa sakit dan sudah tidak ngopi lagi, teman ngopiku cuma mama. Berbeda dengan selera ku, kopinya adalah kopi hitam pekat dengan ampas, yang kadang-kadang tidak memakai gula. Apalagi saat papa benar-benar tiada di dunia. Ketika libur ngantor dan berdiam diri di rumah, aku dan mama selalu ngopi berdua saja dengan camilan gorengan, roti manis, atau kacang kulit. Sambil membicarakan berbagai permasalahan pelik yang ada di dunia ini. Ah, kangen ngopi bareng, ma!

Begitulah kopi buatku. Bukan tentang senja, alam, atau percintaan. Bukan tentang anak indie, atau fiersa besari.

Kopi bagiku, adalah keluarga. Cara bagaimana aku dibesarkan oleh orang tua. Solusi juga buatku kalau ngantuk di meja kerja, wkwk.

Tapi,, sayangnya, karena masalah kesehatan, aku tidak boleh ngopi lagi saat ini. Sedih banget! Kayak aku merasa pusing kalau tidak ngopi sehari saja. Cuma… ini adalah bentuk pengorbananku, makanya aku harus kuat 🙂 Dan ini sudah hari kelima aku hidup tanpa kopi :’) Doakan supaya aku bisa ngopi lagi, ya!

Di Samping Hujan

Ulang Tahun

Uncategorized

Ulang tahun adalah momen spesial bagi seseorang, dan aku yakin sebagian besar orang setuju dengan pernyataan tersebut. Termasuk aku, uhuk, dulunya.

Cuma lama-kelamaan ulang tahun menjadi problem dilematis tersendiri buatku. Setiap kali menjelang hari ulang tahun, pikiranku diselimuti banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang seharusnya bisa disederhanakan, atau bahkan tidak perlu ku pikirkan.

Kenapa bisa?

Ada beberapa pengalaman tentang ulang tahun yang membuatku berpikir demikian. Dimulai dari dilupakan di antara teman satu circle, kantor, bahkan kekasih sendiri (wkwkkk). Pahit, dan sedih tentunya, ketika teman yang satu didoakan, namun ketika giliranku, mereka melupakan. Atau ketika teman diberikan kado, namun mereka mengucapkan padaku juga enggan.

Entah berapa kali aku merasakan sedih pada hari ulang tahun sendiri, karena saking seringnya berharap bahwa mereka akan menganggap hari itu adalah hari spesial juga. Bukan hanya buatku, tapi buat mereka juga.

Egois sekali tidak, sih? Aku terlalu mengekspektasikan hal-hal yang bahkan tidak pasti selalu ada di benak mereka.

Iya, semakin kesini semakin sadar dan semakin tau bahwa akulah yang terlalu berharap macam-macam pada mereka. Mindset bahwa hari ulang tahun itu hari spesial yang bahagia harus aku benahi. Entah ajaran siapa, tapi ini menjadi sesuatu yang beracun buatku. Dan semua perasaan itu, adalah buatanku sendiri.

Buat apa menganggap hari itu spesial jika yang kamu rasakan hanya bimbang?

Mungkin ini semua juga tidak terlepas dari ajaran agama. Perasaan yang paling tepat ya harusnya sedih, sih. Sedih, karena jatah hidup berkurang, diri semakin menua, tetapi tanggung jawab dimana-mana.

Jadi, setelah patah hati dan dilema yang seringkali membuat perasaan ini porak poranda dan berujung keliru, lebih baik aku segera menyudahi ritual ulang tahun, dalam bentuk apapun itu. Termasuk mengucap ataupun diucapkan. Betul, mulai dari hal kecil, sekarang yang perlu ku yakini adalah, ulang tahun memang bukan momen yang se-spesial itu 🙂

Namun biar begitu, aku sangat bahagia dan berterima kasih kepada siapapun yang pernah mengingat hari lahirku. Yang turut memberikan perasaan, waktu, hadiah yang spesial. Aku tidak lupa. Aku bahagia

Momen indah itu sampai kapanpun tidak akan berubah, maka terima kasih sudah pernah 🙂

Di Samping Hujan

Blog ini mau dibawa kemana?

Uncategorized

Pertanyaan yang cukup aneh sih. Seolah-olah blog ini sebagus-bagusnya blog, dinantikan seluruh jutaan umat manusia, dan kalau authornya salah langkah blog ini bakal dicap sebagai blog sesat.

Tapi sebenarnya, pertanyaan itu memang buatku sendiri, sih.

*silakan siapkan popcorn dan kacang bawang Anda, disampinghujan mau curhat sekaligus flashback!

Tujuan awal aku membuat blog adalah untuk menulis cerita.

Dulu saat SMP aku gemar sekali membuat cerbung genre romance-comedy di catatan facebook. Memang gak banyak yang membaca, tapi ada yang menantikan tiap lanjutan partnya. Biarpun itu cuma iseng-iseng, sebagai author, pasti kalian merasakan bahagianya ketika tulisan kalian dibaca, dikomentari, atau di-like doang. Rasanya seperti Anda menjadi Ironman lah pokoknya!

Terus karena aku memang suka membuat tulisan puisi-aneh-najis gak jelas, teman-teman dekat menyarankan aku membuat blog untuk menuangkannya di situ. (Lah, apa jangan-jangan mereka terganggu yaa makanya nyuruh aku pindah platform, baru ngeuh sekarang wqwq T_T) Yasudah dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu buat di blogspot deh…

Di blog yang lama gak cuma ada cerita sih. Ada biografi artis yang aku suka, ada curhat tentunya, ada puisi cringe buat kekasih hati dulu, yang jelas alay banget gusti nu agung 😦

Singkat cerita, beberapa waktu berlalu. Aku udah jarang main blog, dan gaktau kondisinya kayak apa. Tapi karena di akun twitter aku masih nyantumin link blog itu, aku jadi keinget dan kepo. Ternyata, saudara-saudaraku se DNA, isi blognya cringe bangetttt wkwkw. Udah deh, tanpa ba bi bu aku segera tutup blog itu dan aku berhenti nulis-nulis gak jelas lagi.. Gakmau nulis-nulis lagi aqutuh. Soalnya, khawatir nanti ketika aku sangat emosional, lahirlah tulisan yang lebay bukan kepalang. Ewh, aku jijik sama kamu, Blog! Aku jijik!! /ditampolNaysilaMirdad

Jadi aku vakum dalam dunia tulis menulis. (Ini kayak aku udah jadi penulis sekelas Tere Liye aja ya, wkwk)

Maksudku, saat-saat itu aku malah bertanya pada diriku sendiri,

“Apakah kamu memang harus menulis untuk mengungkapkan isi hati? Apakah memang harus dituangkan dan benar-benar ditulis? Suatu saat ketika kamu membacanya lagi seperti saat ini, apakah tidak menyesal?”

Terlalu banyak pertanyaan, sehingga akhirnya, blognya ku privat dan ku coba lupakan, deh 😦

Tapi… tentu sulit banget lepas dari kebiasaan-kebiasaan yang sudah tersimpan sejak lama. Walaupun emang nggak jelas dan kurang memberikan manfaat, tapi aku kangen nulis. Paling nggak, aku ingin punya tempat lagi buat dijadikan ruang curhat. Dengan nama anonim, sebisa mungkin aku menjaga supaya identitasku ga terbongkar dan temen-temenku ga ada yang tau kalau aku punya blog. Sampai akhirnya, aku membuat wordpress deh! 🙂

Kenapa? Karena tujuannya buat cerita curhat gak jelas lagi. Sebisa mungkin, paling nggak kalau aku menyesal pernah nulis ini itu, hanya aku yang tau dan tiada lain di kehidupan nyataku.

Tapi yaaa biarpun banyak yang gak bermanfaat, curhatan itu lama-lama punya arah dan tujuan, saat aku mulai jatuh cinta lagi…

(Kenapa ya aku kok gampang banget jatuh cinta? Wkwkw plis atuh da)

Tiap galau nulis, tiap ngebucin nulis.. pokoknya tiap perasaan ini mengalami peristiwa yang besar, pasti nulis. Dan karena nulis tentang percintaan itu ditujukan pada suatu objek, pasti ada dong rasa ingin supaya objek itu tau kalau aku nulis ini tuh buat kamu ya kaseeeppp, semacam itulah.

Mulai deh aku kode-kode, suka share link blog aku di instagram / whatsapp

“Hey disampinghujan! Bukannya lo pengen rahasiain ini blog yaaach? Kok malah disebar-sebar gitu sih, emangnya benih padi?”

“Maaf diriku yang lain, aku sedang jatuh cinta, sehingga aku membenarkan hal-hal yang melanggar prinsipku sendiri, maaf ya :(. Yuk bisa yuk..”

Begitulah pergelutan batin yang ku rasakan saat ngeshare tulisan-tulisan itu, sampai akhirnya aku berpikir..

Yaudahlah ya mau anonim mau nggak, biarin aja.

Satu dua tulisan telah ku buat. Dan lucky nya si objek ini memang menaruh perhatian pada status-statusku. Pokoknya, si objek itu paham kalau aku nulis buat dia. Yagusti seneng banget gaksih? Keterusan gitu, lama-lama blog ini pun punya fungsi sebagai ‘penyampai pesan tak langsung’ buatku.

Dan itu ampuuuh banget wkk

Aku marah, aku tulis.

Aku kecewa, aku tulis.

Aku bahagia, aku tulis.

Pokoknya, emang dalam menyampaikan pesan, lebih enak nulis dari pada ngomong langsung. Soalnya aku bisa memilih kata yang benar-benar tepat. Aku bisa menceritakan sebebas-bebasnya perasaanku pada orang-orang. Sampai objek itu nge-bookmark link wpku, coba. Karena misalkan something going wrong with me (biasanya aku bilang gapapa padahal diam seribu bahasa) dia langsung cek blog buat tau isi hatiku.

Hahahaaaa, kayak main kucing-kucingan sebenarnya. Tapi, ku pastikan, begitulah besarnya pengaruh wp buatku. Penyampai pesan yang berharga..

Tapi.. sekarang aku udah gak main kucing-kucingan lagi. Karena alhamdulillahirobbil alamin, objek itu jadi suamiku sekarang.

Iya, gak main kucing-kucingan lagi, dalam artian aku pun susah buat nulis lagi. Kayak apa ya, semuanya tuh sudah ditumpahkan ke satu orang. Semua perasaanku yang paling dalam, bahkan yang sulit banget untuk keluar, sekarang dengan mudah bisa ia baca. Tinggal hidup satu atap bersamanya membuatku berani bersuara, bahwa aku gak suka begini, aku maunya begitu. Makanya aku jarang banget nulis lagi, bahkan tentang apapun. Karena semua perasaanku, sudah tersampaikan dengan baik kepadanya bahkan tidak harus melewati wordpress.

Makanya kebahagiaan menikah buatku, adalah kita punya tempat bercerita tentang segalanya. Literally, segalanya. Yang bahkan tidak bisa kita ceritakan ke keluarga, saudara kandung, sahabat, atau lainnya.

Jadi intinya sih ini, blognya diisi apa ya yang enak? 😦

Bingung.

Aku udah berpikir sebenernya buat ngisi cerita-cerita lucu di kehidupanku, Tapi aku teh garing banget anaknya. Pernah tuh pas ngisi materi buat karyawan baru di kantor, aku coba ngelawak. GAADA YANG KETAWA WOY, jangkrik pun bungkam 😦

Gak berhenti sampai situ, di sesi terakhir orientasi aku minta karyawan baru untuk menyisihkan sedikit kertasnya dan menuliskan kesan pesan buat imrove aku kedepan. Eh pas dibaca, ada yang kasih saran, “Mba neranginnya cukup jelas, tapi ngelawaknya garing.”

YE PARAH EMANG GADA BAKAT BUAT JADI SQUAT JUMP COMEDY 😦

Intinya gitu si, ada yang punya saran gak sebaiknya aku ngapain sekarang?

-Di Samping Hujan

Hanya Karena Ingin Diakui

Uncategorized

Ada satu twit yang kalimatnya cukup membekas, dan mewakilkan semua perasaanku pada situasi dan kondisi di lingkungan ini, atau lebih tepatnya dunia ini. Bunyinya seperti ini:

Jujur tentang diri sendiri nggak bikin nilai kita sebagai manusia jatuh di mata orang lain, kecuali kalau kita ingin hidup dalam ekspektasi mereka.

Kenapa harus malu? Belum tentu memenuhi impresi orang lain bikin kita bahagia pada akhirnya

Twitter: @Laails

Dua puluh empat tahun aku hidup, mungkin baru akhir-akhir ini aku mengerti, kalau menuruti semua harapan dan perkataan orang lain bukanlah hal yang terlalu bagus. Aku orang yang cukup sensitif, dan sering kali merasa gak enak kalau tidak melaksanakan sesuatu atas kehendak orang yang berharap padaku. Makanya, kadang beban ini begitu berat aku pikul sendirian. Atau otak ini juga begitu keras memikirkan perkataan orang lain.

Tekanan itu, mau tidak mau memaksaku ke dalam kondisi harus menuruti mau mereka, walapun penuh dalam kondisi keterpaksaan dan pura-pura.

Hanya karena ingin diakui orang lain, kita sering kali menggadaikan rasa bahagia kita yang sebenarnya.

Cuma karena ingin dianggap mampu, kalian beli barang jutaan rupiah padahal keuangan kalian juga lagi nggak bagus.

Cuma karena ingin dianggap pintar, kalian menyanggupi tugas yang padahal gak kalian mengerti.

Cuma karena ingin dianggap dan diakui orang lain, kalian memaksakan diri melakukan apa yang sebaiknya gak kalian lakukan.

Padahal kalau dipikir lagi.. betapa melelahkannya hidup kayak gitu, iya tidak?

Iya! Kalian sedang bohong pada diri sendiri!

Aku sendiri sudah mulai paham, ternyata orang-orang memang nggak bakal berhenti berkomentar tentang hidupku. Orang-orang gak bakal berhenti untuk terus menyuruhku melakukan hal yang mereka anggap super benar. Mereka akan terus mengejar-ngejar kehidupanku, yang bahkan mereka nggak punya andil untuk itu, dengan semua pertanyaan mereka. Dengan saran maha baik mereka. Menurut analisa dan kacamata mereka.

Memangnya, untuk siapa sih, kita hidup?

Perlahan, tarik napas.

Jika jawabannya adalah untuk dirimu sendiri, maka mulai detik ini berlarilah. Lupakan semua perkataan orang-orang yang membelenggu kebahagiaan kamu. Beri mereka kesempatan untuk mencari jalan mereka sendiri, dimulai dari jujur dan menerima semua keterbatasan diri!

Nggak apa-apa kalau belum mampu.

Nggak apa-apa kalau belum pintar.

Nggak apa-apa kalau gak bisa.

Jangan dipaksa… ya?

Karena mengetahui dan menerima keterbatasan diri, juga merupakan bentuk kita mencintai jiwa dan raga ini ❤

-Di Samping Hujan

Ibu Mertua

Uncategorized

“Mas bantu apa?” Tanya Mas Budi padaku.

Kala itu waktu mungkin menunjukkan pukul 7 malam. Aku yang setengah jam lalu baru pulang kerja sedang menyiapkan beberapa bahan masakan sederhana untuk makan malam.

“Gak usah, Mas..” kataku tanpa menoleh.

“Ih gapapa, biar cepet..”

“Beneran gapapa?”

“Iya, yaudah sini mas yg potong-potong buncisnya.” Ucapnya sambil meraih pisau. Ia lalu mengambil satu persatu buncis yang sudah dicuci untuk dipotong. Aku tidak menyahut, hanya fokus mengiris beberapa siung bawang di atas papan iris. Dalam diam aku melirik irisannya yang ternyata lumayan tipis dan rapi.

“Mas belajar motong sayuran dari mana? Mba?” Tanyaku penasaran di sela-sela kegiatan potong memotong yang kami lakukan.

“Bukan, dari Ibu.. dari kecil udah bantu-bantu masak..”

Aku menoleh dan mengerjap, “Eh? Ibu? Emang kenapa?”

Maksudku, kalau alasannya karena terpaksa akibat hidup sendiri, ya itu wajar. Tapi ini diajari oleh ibu. Aku yang baru bisa masak kemarin-kemarin menjadi heran, kenapa laki-laki di depanku ini mau belajar masak di usia yang masih masuk ke golongan bocah.

“Iya, dari kecil udah disuruh bantu pekerjaan rumah, bahkan masak sekalipun. Ibu bilang biarpun laki-laki, tapi harus tetap bisa pekerjaan rumah, supaya bisa menggantikan istri ketika sakit atau habis lahiran..”

Aku tercenung. Perlahan perasaan haru memukul dadaku lembut, hingga nyaris air mata menggenang di pelupuk.

“Padahal, itu Mas masih SMP lho, hahaha..” suamiku terkekeh ringan, sementara perasaanku seperti diayun-ayun tak karuan.

“Bahkan jauh semasa ibu masih ada, dan dia belum kenal Ade sama sekali, dia sudah sayang sama Ade ya mas..” ucapku lirih.

Mas Budi tersenyum.

“Iya, De..”