Blog ini mau dibawa kemana?

Uncategorized

Pertanyaan yang cukup aneh sih. Seolah-olah blog ini sebagus-bagusnya blog, dinantikan seluruh jutaan umat manusia, dan kalau authornya salah langkah blog ini bakal dicap sebagai blog sesat.

Tapi sebenarnya, pertanyaan itu memang buatku sendiri, sih.

*silakan siapkan popcorn dan kacang bawang Anda, disampinghujan mau curhat sekaligus flashback!

Tujuan awal aku membuat blog adalah untuk menulis cerita.

Dulu saat SMP aku gemar sekali membuat cerbung genre romance-comedy di catatan facebook. Memang gak banyak yang membaca, tapi ada yang menantikan tiap lanjutan partnya. Biarpun itu cuma iseng-iseng, sebagai author, pasti kalian merasakan bahagianya ketika tulisan kalian dibaca, dikomentari, atau di-like doang. Rasanya seperti Anda menjadi Ironman lah pokoknya!

Terus karena aku memang suka membuat tulisan puisi-aneh-najis gak jelas, teman-teman dekat menyarankan aku membuat blog untuk menuangkannya di situ. (Lah, apa jangan-jangan mereka terganggu yaa makanya nyuruh aku pindah platform, baru ngeuh sekarang wqwq T_T) Yasudah dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu buat di blogspot deh…

Di blog yang lama gak cuma ada cerita sih. Ada biografi artis yang aku suka, ada curhat tentunya, ada puisi cringe buat kekasih hati dulu, yang jelas alay banget gusti nu agung 😦

Singkat cerita, beberapa waktu berlalu. Aku udah jarang main blog, dan gaktau kondisinya kayak apa. Tapi karena di akun twitter aku masih nyantumin link blog itu, aku jadi keinget dan kepo. Ternyata, saudara-saudaraku se DNA, isi blognya cringe bangetttt wkwkw. Udah deh, tanpa ba bi bu aku segera tutup blog itu dan aku berhenti nulis-nulis gak jelas lagi.. Gakmau nulis-nulis lagi aqutuh. Soalnya, khawatir nanti ketika aku sangat emosional, lahirlah tulisan yang lebay bukan kepalang. Ewh, aku jijik sama kamu, Blog! Aku jijik!! /ditampolNaysilaMirdad

Jadi aku vakum dalam dunia tulis menulis. (Ini kayak aku udah jadi penulis sekelas Tere Liye aja ya, wkwk)

Maksudku, saat-saat itu aku malah bertanya pada diriku sendiri,

“Apakah kamu memang harus menulis untuk mengungkapkan isi hati? Apakah memang harus dituangkan dan benar-benar ditulis? Suatu saat ketika kamu membacanya lagi seperti saat ini, apakah tidak menyesal?”

Terlalu banyak pertanyaan, sehingga akhirnya, blognya ku privat dan ku coba lupakan, deh 😦

Tapi… tentu sulit banget lepas dari kebiasaan-kebiasaan yang sudah tersimpan sejak lama. Walaupun emang nggak jelas dan kurang memberikan manfaat, tapi aku kangen nulis. Paling nggak, aku ingin punya tempat lagi buat dijadikan ruang curhat. Dengan nama anonim, sebisa mungkin aku menjaga supaya identitasku ga terbongkar dan temen-temenku ga ada yang tau kalau aku punya blog. Sampai akhirnya, aku membuat wordpress deh! 🙂

Kenapa? Karena tujuannya buat cerita curhat gak jelas lagi. Sebisa mungkin, paling nggak kalau aku menyesal pernah nulis ini itu, hanya aku yang tau dan tiada lain di kehidupan nyataku.

Tapi yaaa biarpun banyak yang gak bermanfaat, curhatan itu lama-lama punya arah dan tujuan, saat aku mulai jatuh cinta lagi…

(Kenapa ya aku kok gampang banget jatuh cinta? Wkwkw plis atuh da)

Tiap galau nulis, tiap ngebucin nulis.. pokoknya tiap perasaan ini mengalami peristiwa yang besar, pasti nulis. Dan karena nulis tentang percintaan itu ditujukan pada suatu objek, pasti ada dong rasa ingin supaya objek itu tau kalau aku nulis ini tuh buat kamu ya kaseeeppp, semacam itulah.

Mulai deh aku kode-kode, suka share link blog aku di instagram / whatsapp

“Hey disampinghujan! Bukannya lo pengen rahasiain ini blog yaaach? Kok malah disebar-sebar gitu sih, emangnya benih padi?”

“Maaf diriku yang lain, aku sedang jatuh cinta, sehingga aku membenarkan hal-hal yang melanggar prinsipku sendiri, maaf ya :(. Yuk bisa yuk..”

Begitulah pergelutan batin yang ku rasakan saat ngeshare tulisan-tulisan itu, sampai akhirnya aku berpikir..

Yaudahlah ya mau anonim mau nggak, biarin aja.

Satu dua tulisan telah ku buat. Dan lucky nya si objek ini memang menaruh perhatian pada status-statusku. Pokoknya, si objek itu paham kalau aku nulis buat dia. Yagusti seneng banget gaksih? Keterusan gitu, lama-lama blog ini pun punya fungsi sebagai ‘penyampai pesan tak langsung’ buatku.

Dan itu ampuuuh banget wkk

Aku marah, aku tulis.

Aku kecewa, aku tulis.

Aku bahagia, aku tulis.

Pokoknya, emang dalam menyampaikan pesan, lebih enak nulis dari pada ngomong langsung. Soalnya aku bisa memilih kata yang benar-benar tepat. Aku bisa menceritakan sebebas-bebasnya perasaanku pada orang-orang. Sampai objek itu nge-bookmark link wpku, coba. Karena misalkan something going wrong with me (biasanya aku bilang gapapa padahal diam seribu bahasa) dia langsung cek blog buat tau isi hatiku.

Hahahaaaa, kayak main kucing-kucingan sebenarnya. Tapi, ku pastikan, begitulah besarnya pengaruh wp buatku. Penyampai pesan yang berharga..

Tapi.. sekarang aku udah gak main kucing-kucingan lagi. Karena alhamdulillahirobbil alamin, objek itu jadi suamiku sekarang.

Iya, gak main kucing-kucingan lagi, dalam artian aku pun susah buat nulis lagi. Kayak apa ya, semuanya tuh sudah ditumpahkan ke satu orang. Semua perasaanku yang paling dalam, bahkan yang sulit banget untuk keluar, sekarang dengan mudah bisa ia baca. Tinggal hidup satu atap bersamanya membuatku berani bersuara, bahwa aku gak suka begini, aku maunya begitu. Makanya aku jarang banget nulis lagi, bahkan tentang apapun. Karena semua perasaanku, sudah tersampaikan dengan baik kepadanya bahkan tidak harus melewati wordpress.

Makanya kebahagiaan menikah buatku, adalah kita punya tempat bercerita tentang segalanya. Literally, segalanya. Yang bahkan tidak bisa kita ceritakan ke keluarga, saudara kandung, sahabat, atau lainnya.

Jadi intinya sih ini, blognya diisi apa ya yang enak? 😦

Bingung.

Aku udah berpikir sebenernya buat ngisi cerita-cerita lucu di kehidupanku, Tapi aku teh garing banget anaknya. Pernah tuh pas ngisi materi buat karyawan baru di kantor, aku coba ngelawak. GAADA YANG KETAWA WOY, jangkrik pun bungkam 😦

Gak berhenti sampai situ, di sesi terakhir orientasi aku minta karyawan baru untuk menyisihkan sedikit kertasnya dan menuliskan kesan pesan buat imrove aku kedepan. Eh pas dibaca, ada yang kasih saran, “Mba neranginnya cukup jelas, tapi ngelawaknya garing.”

YE PARAH EMANG GADA BAKAT BUAT JADI SQUAT JUMP COMEDY 😦

Intinya gitu si, ada yang punya saran gak sebaiknya aku ngapain sekarang?

-Di Samping Hujan

Kangen Main Facebook

Random Abis

Waktunya flashback saudara-saudara!! Ciat-ciat-ciat!!

*Disampinghujan memasuki timeline Anda sambil gulung-gulung

Sehabis lulus ujian nasional sekitar bulan Mei 6 tahun yang lalu, aku nganggur alias bingung mau ngapain. Teman-teman yang melanjutkan studi tentu sudah sibuk mempersiapkan berkas.

Aku juga sebenarnya bisa saja sih, mempersiapkan berkas untuk melamar kerja. Sayangnya, ijazah juga baru akan turun di bulan September (atau Agustus?) Sementara itu, cari kerja juga harus pakai ijazah terakhir, kan? Jadi aktivitasku membeku, cuma bisa bantu-bantu ibuk beresin rumah. Beda lagi kalau bisa apply lamaran kerja pakai akta lahir hehe jayus.

Selain bantu-bantu ibuk di rumah, aku bantu-bantu Mark Zuckerberg buat beli beras, alias main facebook saban hari. (Maksudnya supaya media sosial buatannya tetep dipakai, kan nanti dia dapet uang)

Ya, karena aku juga sudah menjadi separuh wibu, iseng-iseng tiap hari marathon menyelesaikan anime. Facebook, anime. Facebook, anime. Dahlah, no life banget. Siang jadi malam, malam jadi siang. Jam tidur kacau. Kantung mata membesar.

But I found some seeker pleasure at that moment.

Kayak bebas gitu, gak terkekang sesuatu. Ibuk juga gak ngomel-ngomel, yang penting piring dicuci, rumah juga bersih bebas noda membandel.

Kangen main facebook ih 😦

Ini sebenarnya apasih yang mau diceritain? /tampol pakek sandal

Iyaa, cuma kepingin mengenang aja saat-saat dulu bahagia main facebook. Facebook yang masih cukup jernih, belum (terlalu) jadi sumber hoax.

Serius isinya tuh orang facebook random abis wkwkk. Mulai wibu, artis dunia maya (ADM), om-om overseas, dan orang-orang no life lainnya yang senasib denganku wkk :’) Mereka baik-baik dan kocak-kocak. Jadi facebook itu hiburan banget buatku woy, daripada instagram atau twitter. Di saat temen real life udah mulai sibuk dengan impian mereka, dan aku merasa tertinggal, aku ketemu orang-orang baru ini di facebook, dan aku bahagia hahah (Mungkin sebenernya ini juga bentuk stress aku kali yaa…)

Ohiya selain temen-temen onlen, aku juga punya temen RL yang sering fesbukan ketika nganggur. Ya masih temen SMA juga sih. Nama mereka: Lusi, Febry dan Mufti. (dan Burhan, tapi burhan gaikut circle ini) Udah no life, ga punya cinta, pas banget kita kumpul-kumpul di facebook. Akhirnya, grup perserikatan jomblo-jomblo kurang kerjaan pun terbentuk. Isinya? Random udah, gak tau gak paham cerita apa, aku aja gak inget. Orang gak jelas hahah

Cuman emang kebiasaan ini gak berlangsung lama.

Konon katanya, kakak ketua Mufti udah punya pacar. Yaudah kita-kita yang jomblo bubar dong, karena merasa kehilangan arah. Belum lagi, bulan September tiba, dan ijazahku turun. Aku mulai sibuk lamar kerja, karena yang butuh makan kan bukan Mark Zuckerberg doang 😦

Tanpa disadari, semua kebiasaan dan aktifitasku itu berubah. Teman-teman onlen 1 per satu hilang. Sisa Lusi sama Febry aja (yang malah sekarang bikin grup di whatsapp dengan judul : Lusi Bertanya Kami Menjawab)

Bahkan karena suatu hal, aku juga memutuskan untuk menghapus akun facebook 😦 Penyesalan sih, karena gimanapun itu media sosial pertamaku. Kalau distalk, semua orang jugak bakal tau pertumbuhan dan perkembanganku ketika menjadi remaja bucin yang alay, wkwk. Foto-foto jadul juga kesimpen di situ, dan sedihnyaaaa ya itu udah dihapus secara permanen barsama akunku.. :’)
Tapi aku pikir itu keputusan yang tepat melihat facebook yang dulu bukanlah yang sekarang…

Biarpun udah re-create akun, sekarang rasanya juga beda.

Mungkin aku bukan kangen facebooknya. Aku kangen momennya. Momen dimana aku hampir tiap hari gak merasakan stress atau perasaan aneh lainnya…

Dah gitu aja

Di Samping Hujan

Hanya Karena Ingin Diakui

Uncategorized

Ada satu twit yang kalimatnya cukup membekas, dan mewakilkan semua perasaanku pada situasi dan kondisi di lingkungan ini, atau lebih tepatnya dunia ini. Bunyinya seperti ini:

Jujur tentang diri sendiri nggak bikin nilai kita sebagai manusia jatuh di mata orang lain, kecuali kalau kita ingin hidup dalam ekspektasi mereka.

Kenapa harus malu? Belum tentu memenuhi impresi orang lain bikin kita bahagia pada akhirnya

Twitter: @Laails

Dua puluh empat tahun aku hidup, mungkin baru akhir-akhir ini aku mengerti, kalau menuruti semua harapan dan perkataan orang lain bukanlah hal yang terlalu bagus. Aku orang yang cukup sensitif, dan sering kali merasa gak enak kalau tidak melaksanakan sesuatu atas kehendak orang yang berharap padaku. Makanya, kadang beban ini begitu berat aku pikul sendirian. Atau otak ini juga begitu keras memikirkan perkataan orang lain.

Tekanan itu, mau tidak mau memaksaku ke dalam kondisi harus menuruti mau mereka, walapun penuh dalam kondisi keterpaksaan dan pura-pura.

Hanya karena ingin diakui orang lain, kita sering kali menggadaikan rasa bahagia kita yang sebenarnya.

Cuma karena ingin dianggap mampu, kalian beli barang jutaan rupiah padahal keuangan kalian juga lagi nggak bagus.

Cuma karena ingin dianggap pintar, kalian menyanggupi tugas yang padahal gak kalian mengerti.

Cuma karena ingin dianggap dan diakui orang lain, kalian memaksakan diri melakukan apa yang sebaiknya gak kalian lakukan.

Padahal kalau dipikir lagi.. betapa melelahkannya hidup kayak gitu, iya tidak?

Iya! Kalian sedang bohong pada diri sendiri!

Aku sendiri sudah mulai paham, ternyata orang-orang memang nggak bakal berhenti berkomentar tentang hidupku. Orang-orang gak bakal berhenti untuk terus menyuruhku melakukan hal yang mereka anggap super benar. Mereka akan terus mengejar-ngejar kehidupanku, yang bahkan mereka nggak punya andil untuk itu, dengan semua pertanyaan mereka. Dengan saran maha baik mereka. Menurut analisa dan kacamata mereka.

Memangnya, untuk siapa sih, kita hidup?

Perlahan, tarik napas.

Jika jawabannya adalah untuk dirimu sendiri, maka mulai detik ini berlarilah. Lupakan semua perkataan orang-orang yang membelenggu kebahagiaan kamu. Beri mereka kesempatan untuk mencari jalan mereka sendiri, dimulai dari jujur dan menerima semua keterbatasan diri!

Nggak apa-apa kalau belum mampu.

Nggak apa-apa kalau belum pintar.

Nggak apa-apa kalau gak bisa.

Jangan dipaksa… ya?

Karena mengetahui dan menerima keterbatasan diri, juga merupakan bentuk kita mencintai jiwa dan raga ini ❤

-Di Samping Hujan

Privilese itu Masalah?

Uncategorized

Sempat beberapa waktu lalu jagat twitter diramaikan dengan kata ‘Privilege’ yang awalnya aku juga nggak paham apa artinya. Ya emang, kok. Twitter tempat orang sok pintar menggunakan bahasa inggris campur bahasa indonesia dan mengaku open minded pakai standar ganda. Banyak orang di sana yang membenturkan prinsip mereka dengan kalimat-kalimat pendek. Ah, tapi gimanapun, nontonin orang berdebat dan kelahi di sana emang nikmat, kok.

Oke, kembali ke kata privilege.

Sebenarnya kata ini punya padanan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu privilese. Kedua artinya sama yaitu; hak istimewa. Kalau dilihat dari opini netizen twitter, terdapat dua kubu tentang cara pandang terhadap privilese.

  1. Privilese itu Bukan Masalah
  2. Privilese itu Masalah

Sebelum kita membahas dua pandangan itu, kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan hak istimewa di sini. Supaya mudah, aku analogikan seperti cerita di bawah.

Alkisah, terdapat dua orang sahabat yaitu Alina dan Kyara yang baru lulus kuliah. Keduanya punya strata S1, Alina jurusan Teknik Lingkungan, sementara Kyara jurusan Sastra Inggris. Keduanya memutuskan untuk mencari pengalaman kerja terlebih dahulu, terutama Kyara yang memang tidak punya cukup uang untuk melanjutkan S2.

Sudah sebulan berlalu sejak mereka mencoba melamar di berbagai perusahaan. Namun ternyata, nasib baik berpihak kepada Alina. Alina mendapat panggilan kerja di sebuah perusahaan asing, namun dengan bagian yang tidak cocok dengan jurusannya, yaitu HR-GA. Sementara Kyara belum mendapatkan satupun panggilan dari puluhan CV yang ia kirimkan.

Dengan mudah dan dalam waktu singkat Alina diterima oleh perusahaan asing tersebut. Biarpun tidak cocok dengan jurusannya, Alina bilang kepada Kyara bahwa yang terpenting adalah pengalaman.

Kyara akhirnya penasaran, “Kamu emang cari lowongan di mana? Setahuku perusahaan itu susah banget tembusnya,”

Alina dengan enteng menjawab, “Oh.. iya. Kebetulan itu adalah perusahaan tempat om aku. Om aku manager di situ, karena butuh orang, aku disuruh cepet apply CV. Mendadak sih, tapi akhirnya diterima juga.”

Kyara pun tersenyum miring. Yup, kuncinya ternyata ‘orang dalam’

Dari cerita di atas, dapat kita ketahui kalau Alina punya privilese. Alina punya hak khusus dan istimewa, karena om nya sendiri bekerja di perusahaan tersebut. Biarpun kualifikasi Alina tidak cocok dengan kreteria yang dibutuhkan, tapi karena om nya manager di situ, yaaa…. kenapa enggak?

Dan jika dipikir lagi, padahal bisa saja kalau om nya menyebar lowongan pekerjaan di situs pencari kerja, dan membiarkan Alina mendaftar sesuai prosedur, kan? Bahkan Kyara mungkin lebih cocok mengisi lowongan di perusahaan tersebut. Tapi, siapa juga Kyara ini? Hhehehe…

Nah, begitulah cara kerja privilese. Memungkinkan yang tidak mungkin, dan memudahkan yang sulit.


Sebenarnya privilese nggak harus dikaitkan dengan orang dalam. Ada banyak bentuk privilese yang menjadikan dinding menuju kesempatan untuk sebagian orang.

Contoh ketika kamu ingin masuk universitas favorit, kamu yang berasal dari keluarga kaya cuma mengeluarkan effort berupa belajar mati-matian. Dengan fasilitas lengkap berupa laptop, wifi, dan uang untuk membeli berbagai macam buku soal, kamu cuma perlu belajar tekun. Kamu gak perlu mikirin biaya pendaftaran, dan lainnya.

Sementara seseorang di luar sana yang mungkin tingkat kepintarannya setara denganmu, belum tentu mampu masuk universitas favorit tersebut. Kenapa? Karena biaya yang tidak cukup. Fasilitas dan buku tidak memadai, waktu belajarpun gak ada karena dihabiskan untuk mencari uang. Biaya pendaftaran saja tidak mampu, apalagi biaya semester?

Yep, dari sini kita tahu kekayaan juga privilese.

Lain hal, kamu yang berasal dari keluarga harmonis sangat didukung untuk mencapai cita-cita sesuai keinginanmu. Bidangmu ada pada seni, dan kedua orang tuamu sangat bangga dengan hasil lukisanmu yang padahal belum seberapa. Tapi, dari situ kamu mendapatkan rasa percaya diri yang tinggi, dan memiliki semangat untuk membuat karya yang lainnya.

Sementara itu, temanmu yang berasal dari keluarga broken home malah bingung harus ke mana. Berbuat apa. Melangkah ke sini salah, melangkah ke situ juga salah. Orang tua tidak peduli buah hatinya mau seperti apa, dan mau bagaimana. Jadi, ya hidupnya juga seenakanya.

Sekarang sudah paham? Ternyata, keluarga yang supportive juga privilese.

Sebenarnya jika diperhatikan, banyak sekali privilese yang membedakan sebuah usaha orang yang satu, dengan orang yang lainnya. Seperti anak pengusaha yang terjun di dunia karir, tentu ia tidak perlu repot-repot membangun relasi atau apply di perusahaan tertentu untuk mendapat sebuah pekerjaan. Privilese membuat seseorang memulai usaha tidak pada angka nol, melainkan di atasnya.

Bagiku, privilese adalah sebuah masalah. Kalau di flashback, beberapa kali juga kesempatanku direbut oleh orang yang memiliki privilese. Atau beberapa kali aku sedih karena melihat diriku yang tidak bisa hidup dengan mudah seperti beberapa teman yang punya privilese. Tapi.. kalau dipersoalkan terus, hal itu gak bakal menemukan titik temu. Dari pada menumbuhkan sifat iri, aku lebih berusaha menyebutnya dengan ‘belum rezeki’ dari pada ‘privilese itu masalah’.

Gimana nggak, kalau ditelisik lagi, mungkin seseorang yang tercipta dengan berbagai macam privilese juga bukan atas keinginannya. Keberuntungan-keberuntungan yang mengikuti kehidupannya nggak serta merta dia yang membuat. Semua itu sudah ada bagian masing-masing. Jadi menghakimi orang dengan privilese itu aku rasa nggak perlu.

Justru yang jadi masalah bagiku adalah, orang yang memiliki privilese namun menyombongkan diri atas pencapaiannya. Membeberkan cerita kesuksesannya karena fasilitas yang diberikan ayahnya. Toh ketika privilese itu diambil, kamu gak punya apa-apa, kan? Bangga dengan diri sendiri, gak apa-apa lah ya. Tapi membandingkan pencapaianmu dengan pencapaian orang lain tanpa privilese, apa kamu nggak punya hati? Tentu dari pada kamu memakai sepatu sendirian, kamu lebih bahagia saat teman kamu juga menggunakan sepatu yang sama, kan?

Tapi… menurutku ada yang lebih buruk dari seseorang yang sombong karena privilese. Yaitu orang yang punya privilese, tapi tidak dimanfaatkan dengan baik.. dan itu nyata!

Jadi pencapaianmu sekarang karena ada bantuan privilese, atau nggak?

Kalau nggak pakai, santai aja masalah ini. Allah sudah memberi bagian buat kamu. Semua ada balasannya. Lagian usaha gak pakai privilese juga lebih ‘terasa’ kok.

Tapi kalau pakai privilese.. ya buktikan kamu bisa menggunakan privilese itu dengan baik. Ada beberapa teman yang udah dikasih kesempatan dan dukungan, malah dibuang sia-sia -_-

Impianku aja sekarang berubah.

Menjadi orang kaya dan sukses.

Supaya anak-anakku punya privilese.

Iya.. aku gak bisa dapet privilese.

Aku ciptakan privilese itu 🙂

 

Aziq

===

Di Samping Hujan

 

 

 

 

Ibu Mertua

Uncategorized

“Mas bantu apa?” Tanya Mas Budi padaku.

Kala itu waktu mungkin menunjukkan pukul 7 malam. Aku yang setengah jam lalu baru pulang kerja sedang menyiapkan beberapa bahan masakan sederhana untuk makan malam.

“Gak usah, Mas..” kataku tanpa menoleh.

“Ih gapapa, biar cepet..”

“Beneran gapapa?”

“Iya, yaudah sini mas yg potong-potong buncisnya.” Ucapnya sambil meraih pisau. Ia lalu mengambil satu persatu buncis yang sudah dicuci untuk dipotong. Aku tidak menyahut, hanya fokus mengiris beberapa siung bawang di atas papan iris. Dalam diam aku melirik irisannya yang ternyata lumayan tipis dan rapi.

“Mas belajar motong sayuran dari mana? Mba?” Tanyaku penasaran di sela-sela kegiatan potong memotong yang kami lakukan.

“Bukan, dari Ibu.. dari kecil udah bantu-bantu masak..”

Aku menoleh dan mengerjap, “Eh? Ibu? Emang kenapa?”

Maksudku, kalau alasannya karena terpaksa akibat hidup sendiri, ya itu wajar. Tapi ini diajari oleh ibu. Aku yang baru bisa masak kemarin-kemarin menjadi heran, kenapa laki-laki di depanku ini mau belajar masak di usia yang masih masuk ke golongan bocah.

“Iya, dari kecil udah disuruh bantu pekerjaan rumah, bahkan masak sekalipun. Ibu bilang biarpun laki-laki, tapi harus tetap bisa pekerjaan rumah, supaya bisa menggantikan istri ketika sakit atau habis lahiran..”

Aku tercenung. Perlahan perasaan haru memukul dadaku lembut, hingga nyaris air mata menggenang di pelupuk.

“Padahal, itu Mas masih SMP lho, hahaha..” suamiku terkekeh ringan, sementara perasaanku seperti diayun-ayun tak karuan.

“Bahkan jauh semasa ibu masih ada, dan dia belum kenal Ade sama sekali, dia sudah sayang sama Ade ya mas..” ucapku lirih.

Mas Budi tersenyum.

“Iya, De..”

Menghentikan Perasaan

Uncategorized

Perasaan itu fitrah manusia. Aku pikir, hidup ini berwarna karena kita punya perasaan. Entah marah, sedih, kecewa, suka, senang, bahagia. Dan ketika kita bisa merasakan itu, sudah seharusnya kita bersyukur karena hidup kita tuh berbumbu. Biarpun kadang perasaan acap kali kelewatan, dan membuat kerepotan si pelaku.

Iya, biarpun harus disyukuri, sesuatu yang berlebihan atau terlalu sedikit itu nggak baik. Termasuk perasaan… Sadar tidak sih, kalau selain memberi warna, perasaan juga kadang begitu mempengaruhi apa yang harus kita pilih. Entah itu dalam kehidupan kerja, sekolah, sehari-hari, bahkan percintaan. Perasaan sering kali menjadi kabut pada jalan yang paling baik, yang seharusnya kita lewati. Perasaan kadang membuat kita terlalu nyaman dalam sebuah kesalahan. Dan atau perasaan membuat kita menolak kebaikan bahkan untuk diri sendiri.


Ah, jadi ingat masa lalu. Tentang perasaan yang hadir di antara satu perempuan dan dua lelaki. Perempuan yang terlalu nyaman dengan perasaan aman, merasa takkan menyakiti laki-laki jika dekat lebih dari satu orang. Perempuan yang tak pernah tau kalau perasaan aman itu mungkin menyakiti dua hati sekaligus.

Ia bermain-main dengan perasaan hingga ia sadar hal itu telah mempengaruhi ketidaktegasannya. Lalu kemudian ia kebingungan sendiri, apakah ia harus maju, mundur, diam, atau mati saja. Sementara memilih salah satu adalah bukan perasaan cinta yang ingin ia miliki, tetapi dua hati yang terluka membuat rasa sesal terus berada pada bayang-bayang kehidupannya.

Hahaha.. perempuan yang bodoh, memang. Tapi paling tidak, sejak saat itu ia tau kalau bermain-main dengan perasaan adalah hal yang salah. Pelajaran yang membuat ia punya pertanyaan, kenapa sih harus bermain-main untuk merelakan hati disakiti begini?

Maka untuk siapapun, yang pernah mengalami posisi seperti perempuan itu, mari kita ketuk pintu hatimu.

Awalnya mungkin hanya karena rasa ingin tahu yang tak mampu dibendung. Lalu satu dua hal yang telah diketahui menghasilkan kejut pada diri sendiri. Ada kebiasaannya yang kau sukai, dan satu-dua kesukaannya yang sama denganmu. Ada cerita-cerita yang tak kau paham, namun kau merasa bahagia ketika mendengar dari bibirnya. Lalu secara acak kau ingin merasakan kejut itu lagi, walau ketika itu kamu juga merasa salah telah merindukannya.

Kamu merasa salah telah meletakkan hati padanya, namun tak jua ingin memungutnya kembali.

Kamu tau bahwa ribuan langkah yang kadung diambil salah sama sekali, namun kamu tak jua memutar arah berbalik pergi.

Hingga kamu tidak tahu harus apa, membiarkan logika tak bekerja. Membiarkan waktu menjawab ujung dari permainan rasa yang sedari awal kamu lakukan.

Padahal saat memulai, kamu tau semua rasa yang kau punya adalah milikmu, dan kamu bisa mengendalikannya. Kamu yang punya hati. Kamu yang mampu mengizinkan siapapun masuk, atau mengusirnya pergi.

Baik.

Bertahanlah sejenak. Ambil nafas.

Biarpun kadung sakit. Biarpun sudah sejauh ini. Kamu tetap harus mengambil pilihan. Kamu harus menghentikan semua kesalahan itu. Kamu harus menghentikan pembenaran atas nama ‘rasa’ mu. Sebelum perasaanmu mengelabuhi diri lebih luas. Sebelum jatuhmu terlalu dalam. Sebelum luka yang diberikan tak punya obat. Sebelum lebih banyak yang terluka, bukan kamu atau dia saja. Sebelum memori yang tercipta kian menumpuk, hingga sulit dihapus.

Sebelum kamu sesal, karena telah memilih jalan ketika terbawa perasaan.

Sebelum kamu membiarkan hal-hal yang lebih salah, datang bergantian.

Ku mohon, kembalilah. Pada seharusnya perasaanmu ditempatkan…..


Kita sepakat bahwa hal berbau ‘perasaan’ amat sulit ditebak. Bukan seperti air yang kita tahu bentuknya akan selalu mengikuti wadah di mana ia berada, atau sebuah benda yang kita tahu jatuhnya akan selalu ke tanah. Yang kita ketahui cuma ketidaktahuan kemana perasaan membawa kita berkelana. Entah ke jalan bahagia, atau ke jalan penuh luka. Lalu dengan tega, perasaan seringkali meninggalkan kita pada banyak pilihan, bahkan jalan yang bersitegang dengan logika.

Berhentilah mengatasnamakan segalanya hanya karena rasa. Karena jika tidak, kamu akan membenarkan hal-hal salah lainnya, cuma karena rasa.

Dan bila sudah berhenti, harap pahami, jangan pernah main-main bila urusan hati.


Tulisan ini sudah lama ada di kepala, namun baru sekarang sempat diterbitkan. Maka siapapun yang sedang berada dalam kemelut perasaan, semoga cepat menemukan jalan keluar.

-Di samping hujan

Dua Pagi

Uncategorized

Sempat aku berpikir bahwa jatuh cinta padamu hanyalah lipatan cerita klasik yang ku temukan di tengah-tengah perjalanan hidup. Sebab ku pikir bisa jadi tiap intuisi di antara kau dan aku akan kandas di tengah jalan. Atau bisa jadi kita memutuskan untuk tidak melanjutkan bahkan sebelum memulai. Seperti yang kau kenal sedari dulu, aku memang tidak pernah sepercaya itu pada sesuatu, termasuk cerita cinta konyol, yang berangan menua bersama dan berujung abadi dalam pigura.

Sempat aku berkata padamu, jika jenuh mulai melesak dalam dada, kau bisa mengatakan apa saja dan berbuat sesuka apapun. Termasuk menghentikan seutas kalimat-kalimat selamat pagi atau perpisahan. Sebab ku pikir memang mustahil bila dua rasa akan selalu sama ketika perlahan dimakan waktu dan ego. Atau mustahil seorang pria sebegitu bertahan dengan kerasnya isi kepala seorang perempuan sepertiku.

Entah berapa ribu kali ragu seperti itu melucuti keinginanku untuk mengandaikan masa depan bersamamu. Ragu yang kadang membuat jejak-jejak terhenti, lalu membuahkan pilihan untuk tetap tinggal atau meninggalkan.

Antara berhenti sebentar atau sangat lama.

Antara melamban atau mundur sama sekali.

Semua kemungkinan itu kali sering ku renungkan pada saat kita marah dimakan ego dan waktu. Namun hebatnya kau adalah pada kegigihanmu yang tak pernah melepasku pada ketidakpastian, walaupun sebenarnya hatimu merasa lelah jua dirundung pertanyaan tanpa dasar logika. Mungkin bila kau tak pernah berkomitmen untuk bertahan, alam takkan ragu memisahkan. Mungkin bila kau membiarkanku dilalap ragu, maka kita takkan pernah merasa duduk pada satu bangku. Kau telah berhasil menaklukan perempuan paling tidak percaya diri sedunia, yaitu aku.

Pukul dua pagi di suatu waktu, gadis ini menangis karena memikirkan dirinya dan seorang lelaki.

Lalu lucunya,

Kini lelaki itu tertidur pulas di sebelahnya pada pukul yang sama, yaitu dua pagi.

===

Lalu buat apa keraguanku selama ini?

-Di Samping hujan

Dari Titik

Uncategorized

Bulan Desember, 2015. Ketika jam kuliah malam berlangsung.

Aku panik. Flashdisk yang dipinjamkan kantor kepadaku hilang di area kampus. Sialnya aku tak mengingat sama sekali di mana flashdisk berbentuk telur puyuh itu berada. Grup chat kelas sudah ku penuhi dengan pertanyaan, namun dari mereka juga tidak ada yang melihat keberadaan benda penting itu.

Jam kuliah pun usai. Merasa iba, temanku, Mashfuufah menawarkan bantuan untuk menanyakan ke temannya di kelas lain, dengan asumsi flashdisk itu jatuh ketika kami bertukar ruang mata kuliah. Aku sangat merasa tertolong, dan menyerah untuk malam itu. Kami menghentikan pencarian, berniat pulang karena hari semakin larut.

Ketika di pintu keluar kampus, aku melewati kerumunan dan terus berjalan ke arah parkiran. Namun tidak dengan langkah Mashfuufah yang berhenti di sana. Ia nampak berbicara dengan seorang laki-laki yang tak ku kenal. Sayup-sayup ku dengar percakapan mereka, dan aku tau Mashfuufah sedang meminta laki-laki itu menanyakan keberadaan flashdisk di ruang chat grup kelasnya. Seketika, aku segera berbalik arah dan mendekati mereka. Merasa kebetulan, Mashfuufah memberi tahu laki-laki itu kalau aku-lah yang kehilangan flashdisk. Aku mengangguk dan memohon padanya.

Laki-laki itu hanya tersenyum, dan mengiyakan permohonanku.


Sudah tengah malam lewat. Aku masih terjaga karena kebiasaanku. Tapi begitu juga dengan Mashfuufah, karena ponselku baru saja menerima pesan darinya.

“Oiy, udah tidur?”

“Belum, kenapaa?”

“Ih, kamu harus liat besok chat aku sama Ka Budi.”

“Ka Budi mana?”

“Itu, Ka Budi yang mau nanyain fd kamu di grup kelasnya~”

“Oh, kenapa emang dia?”

“Dia nanyain nama kamuu.”

“Lahh yaudah jawab ajaa..”

“Ciee ciee.. love at the first sight?”

“Nggak lah, cuma nanya nama doang gitu.. bilang namaku Aulia..”

Chat itupun berakhir dengan ledekkan semata.

Beberapa hari setelahnya, aku tetap berusaha untuk mengetahui keberadaan flashdisk itu dengan menanyakan kenalanku yang lain. Memang agak telat, tapi aku baru ingat kalau aku juga punya kenalan di kelas sebelah. Namanya, Kak Lingga. Kak Lingga bilang, kalau flashdisk itu sudah ditemukan oleh ketua kelasnya. Syukur, alhamdulillah. Aku meminta Kak Lingga bersedia dititipkan flashdisk pada malam itu juga, dan membuat janji untuk bertemu denganku. Siang itu, aku segera chat ke Mashfuufah, agar Kak Budi tak perlu repot menanyakan di grup kelasnya lagi.

“Ih, tapi Aul, Kak Budi bilang, Kak Budi yang mau kasihin itu ke kamu. Cuman gak bisa kalau hari ini. Dia kerja malam soalnyaaa, mungkin lusaa?”

“Ih gapapa, gausah ngerepotin. Tuh, lagian dia kerja, kan?”

“Tapi dia yang mau nganterin Auulll. Hari ini dia udah kuliah pagi. Tapi yaudah deh, aku bilangin dia.”

“Iya bilangin, gapapa kok gausah dianterin. Tapi kamu anterin aku ke kelas sebelah ya? Malu, kenalannya cuma sedikit.”

Mashfuufah mengiyakan.

Ba’da Magrib.

Selesai sholat, aku dan Mashfuufah duduk di depan musholah kampus lantai 2, menunggu Kak Lingga datang menyerahkan flashdisk kepadaku. Sambil berbincang-bincang, akhirnya Kak Lingga datang. Aku mengucapkan terima kasih, dan Kak Lingga kembali ke kelasnya, sehingga aku dan Mashfuufah kembali berdua saja di bangku depan musholah.

“Ih, Aul, liat ke bawah!!” Mashfuufah heboh sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Ih, kenapasi?”

Ku dapati sosok jaket merah sedang melangkah terburu-buru, hingga melompati dua anak tangga sekaligus.

“Dia rela dateng ke kampus hari ini, cuma buat ketemu kamuuu!”

Masih tidak percaya. Mashfuufah bilang kalau dia tidak bisa datang hari ini. Tapi buktinya, Kak Budi di sana. Di depan pandanganku. Apakah ia berusaha sekeras itu? Yang ku tau ia tinggal di Cikarang, dan perjalanan dari Cikarang ke Bekasi bukanlah hal pendek. Gawat, aku tak bisa menahan senyum. Pandanganku menunggu ia muncul dari anak tangga. Kemudian, perlahan sosoknya pun muncul dan dengan punggung tangan, ia menutupi separuh wajahnya.

“Cieee, Kak Budi dateng hari ini cuma buat ketemu Aul,” Mashfuufah kompor

Laki-laki itu kaget melihat kita berdua. Wajahnya merah, menatap kami bergantian.

“Apaan..” katanya, dengan ekpresi menahan senyum.

Seketika kupu-kupu terasa berterbangan di perutku. Mashfuufah semakin menjadi-jadi melihat ekspresi canggung antara aku dan laki-laki itu.

“Kak Budi.” panggilku.

Ia cuma memandangku dengan ekspresi kikuk menahan tawa.

“Makasih ya..”

Wajahnya merah seketika. Mungkin begitu juga wajahku.

Sejak itu, aku menaruh perhatian lebih dengan Kak Budi. Aku segera berniat mencari-cari akun facebooknya. Begitu ku yakin itu dia, tanpa pikir panjang, aku segera meminta pertemanan. Lagi pula, Mashfuufah melaporkan isi chat dengan Kak Budi dengan mengirimkan beberapa screenshot dari aplikasi Whatsapp. Ku dapati di situ, Kak Budi sering menanyakan apa yang sedang ku lakukan, atau lainnya. Aku semakin penasaran dengan Kak Budi. Si laki-laki berwajah merah, begitu sebutanku untuknya terhadap diriku sendiri.

Tanpa disangka, pertemanan facebook itu segera dikonfirmasi. Aku dengan perasaan gugup langsung stalk sana-sini. Mencoba memperdalam yang ku ketahui tentang Kak Budi, tanpa bertanya langsung dengannya. Semakin tau dinding media sosialnya, semakin aku penasaran ia manusia yang seperti apa.

Diam-diam aku menyimpan nomor Kak Budi yang aku dapatkan dari screenshot kiriman Mashfuufah. Aku namai kontaknya:

先輩(/ω\) 

Lalu begitu, beberapa hari aku hanya bisa melihat kontaknya tanpa berani menyapa. Aku hanya memantau terakhir dilihat-nya, tanpa bilang apa-apa.

Namun rasa penasaran itu tak bisa dibendung olehku. Percayalah aku bukan orang yang sesabar itu. Dengan segala keberanianku, aku menyapanya dengan ‘.’

Ia menamai kontakku dengan ‘siapa’

Aku mati gaya. Aku tak membalas. Aku segera menghapus nomornya. Aku berjanji takkan pernah mengaku kalau itu diriku. Aku teramat malu, walau tidak bertemu dengannya secara langsung. Aku mendiamkannya dan berusaha melupakan pertanyaan balasannya. Chat menggantung itu ku tinggal makan, beres-beres, semedi.

Namun keesokan harinya, sebuah pesan masuk ke dalam facebookku.

“Assalamualaikum. Ini Aulia ya? Hehe. Maaf, tapi aku mau nanya. Aulia chat aku di whatsapp? Tadi ada yang chat aku, tapi aku tanya siapa, dia gak bales. Itu Aulia bukan ya?”

Ternyata, ia sepercaya diri itu.. Dan tak ada pilihan lain, selain mengaku..

Begitulah cara aku mengenalnya. Sejak itu kami sangat dekat. Chat tiap hari tanpa henti, melaporkan kegiatan tak begitu berarti. Kami merasa ‘nyambung’ hanya dalam beberapa hari. Cerita-cerita tiada sudah. Dari hal yang sepele, hingga hal yang terlalu dalam. Dari impian kecil, hingga harapan besar. Dari masa lalu, hingga masa depan. Dari rasa rindu, hingga cemburu.

Dari sebuah titik, hingga kini, ya, detik ini dan selamanya, ia menjadi suamiku.

Yap, ia sepercaya diri itu untuk meminangku.

Ini adalah tulisan pertamaku ketika statusku sudah berubah. Ya, pada tanggal 29 Februari 2020, aku telah resmi menikah dengan seorang pria kelahiran tanah Jawa. Terhitung lima puluh hari lebih aku menjalani hidup sebagai seorang istri, dan kehidupan yang berbeda itu telah membuatku lupa pada kebiasaan-kebiasaan lama. Perhatian dan peduliku, kini ada pada lembar baru yang akan menjadi cerita teramat panjang nantinya.

Itu adalah cerita bagaimana aku mengenal suamiku. Bagaimana sebuah rasa tertarik muncul ke permukaan, hingga memporak poranda dua hati manusia. Sedih, senang, marah, bahagia, cemburu, tak peduli, semua perasaan itu telah kami lewati. Merasa sudah bosan, maka kami memutuskan untuk menyudahi dan memasukki level yang lebih berat lagi.

Terima kasih, sudah menjadi teman dekatku selama empat tahun lamanya, Mas Budi.

Tahun kelima, keenam, ketujuh, kedua puluh, dan seterusnya, ku jadikan engkau sebagai teman hidup, hingga mata ini tertutup. 🙂

-Di Samping Hujan