Privilese itu Masalah?

Sempat beberapa waktu lalu jagat twitter diramaikan dengan kata ‘Privilege’ yang awalnya aku juga nggak paham apa artinya. Ya emang, kok. Twitter tempat orang sok pintar menggunakan bahasa inggris campur bahasa indonesia dan mengaku open minded pakai standar ganda. Banyak orang di sana yang membenturkan prinsip mereka dengan kalimat-kalimat pendek. Ah, tapi gimanapun, nontonin orang berdebat dan kelahi di sana emang nikmat, kok.

Oke, kembali ke kata privilege.

Sebenarnya kata ini punya padanan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu privilese. Kedua artinya sama yaitu; hak istimewa. Kalau dilihat dari opini netizen twitter, terdapat dua kubu tentang cara pandang terhadap privilese.

  1. Privilese itu Bukan Masalah
  2. Privilese itu Masalah

Sebelum kita membahas dua pandangan itu, kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan hak istimewa di sini. Supaya mudah, aku analogikan seperti cerita di bawah.

Alkisah, terdapat dua orang sahabat yaitu Alina dan Kyara yang baru lulus kuliah. Keduanya punya strata S1, Alina jurusan Teknik Lingkungan, sementara Kyara jurusan Sastra Inggris. Keduanya memutuskan untuk mencari pengalaman kerja terlebih dahulu, terutama Kyara yang memang tidak punya cukup uang untuk melanjutkan S2.

Sudah sebulan berlalu sejak mereka mencoba melamar di berbagai perusahaan. Namun ternyata, nasib baik berpihak kepada Alina. Alina mendapat panggilan kerja di sebuah perusahaan asing, namun dengan bagian yang tidak cocok dengan jurusannya, yaitu HR-GA. Sementara Kyara belum mendapatkan satupun panggilan dari puluhan CV yang ia kirimkan.

Dengan mudah dan dalam waktu singkat Alina diterima oleh perusahaan asing tersebut. Biarpun tidak cocok dengan jurusannya, Alina bilang kepada Kyara bahwa yang terpenting adalah pengalaman.

Kyara akhirnya penasaran, “Kamu emang cari lowongan di mana? Setahuku perusahaan itu susah banget tembusnya,”

Alina dengan enteng menjawab, “Oh.. iya. Kebetulan itu adalah perusahaan tempat om aku. Om aku manager di situ, karena butuh orang, aku disuruh cepet apply CV. Mendadak sih, tapi akhirnya diterima juga.”

Kyara pun tersenyum miring. Yup, kuncinya ternyata ‘orang dalam’

Dari cerita di atas, dapat kita ketahui kalau Alina punya privilese. Alina punya hak khusus dan istimewa, karena om nya sendiri bekerja di perusahaan tersebut. Biarpun kualifikasi Alina tidak cocok dengan kreteria yang dibutuhkan, tapi karena om nya manager di situ, yaaa…. kenapa enggak?

Dan jika dipikir lagi, padahal bisa saja kalau om nya menyebar lowongan pekerjaan di situs pencari kerja, dan membiarkan Alina mendaftar sesuai prosedur, kan? Bahkan Kyara mungkin lebih cocok mengisi lowongan di perusahaan tersebut. Tapi, siapa juga Kyara ini? Hhehehe…

Nah, begitulah cara kerja privilese. Memungkinkan yang tidak mungkin, dan memudahkan yang sulit.


Sebenarnya privilese nggak harus dikaitkan dengan orang dalam. Ada banyak bentuk privilese yang menjadikan dinding menuju kesempatan untuk sebagian orang.

Contoh ketika kamu ingin masuk universitas favorit, kamu yang berasal dari keluarga kaya cuma mengeluarkan effort berupa belajar mati-matian. Dengan fasilitas lengkap berupa laptop, wifi, dan uang untuk membeli berbagai macam buku soal, kamu cuma perlu belajar tekun. Kamu gak perlu mikirin biaya pendaftaran, dan lainnya.

Sementara seseorang di luar sana yang mungkin tingkat kepintarannya setara denganmu, belum tentu mampu masuk universitas favorit tersebut. Kenapa? Karena biaya yang tidak cukup. Fasilitas dan buku tidak memadai, waktu belajarpun gak ada karena dihabiskan untuk mencari uang. Biaya pendaftaran saja tidak mampu, apalagi biaya semester?

Yep, dari sini kita tahu kekayaan juga privilese.

Lain hal, kamu yang berasal dari keluarga harmonis sangat didukung untuk mencapai cita-cita sesuai keinginanmu. Bidangmu ada pada seni, dan kedua orang tuamu sangat bangga dengan hasil lukisanmu yang padahal belum seberapa. Tapi, dari situ kamu mendapatkan rasa percaya diri yang tinggi, dan memiliki semangat untuk membuat karya yang lainnya.

Sementara itu, temanmu yang berasal dari keluarga broken home malah bingung harus ke mana. Berbuat apa. Melangkah ke sini salah, melangkah ke situ juga salah. Orang tua tidak peduli buah hatinya mau seperti apa, dan mau bagaimana. Jadi, ya hidupnya juga seenakanya.

Sekarang sudah paham? Ternyata, keluarga yang supportive juga privilese.

Sebenarnya jika diperhatikan, banyak sekali privilese yang membedakan sebuah usaha orang yang satu, dengan orang yang lainnya. Seperti anak pengusaha yang terjun di dunia karir, tentu ia tidak perlu repot-repot membangun relasi atau apply di perusahaan tertentu untuk mendapat sebuah pekerjaan. Privilese membuat seseorang memulai usaha tidak pada angka nol, melainkan di atasnya.

Bagiku, privilese adalah sebuah masalah. Kalau di flashback, beberapa kali juga kesempatanku direbut oleh orang yang memiliki privilese. Atau beberapa kali aku sedih karena melihat diriku yang tidak bisa hidup dengan mudah seperti beberapa teman yang punya privilese. Tapi.. kalau dipersoalkan terus, hal itu gak bakal menemukan titik temu. Dari pada menumbuhkan sifat iri, aku lebih berusaha menyebutnya dengan ‘belum rezeki’ dari pada ‘privilese itu masalah’.

Gimana nggak, kalau ditelisik lagi, mungkin seseorang yang tercipta dengan berbagai macam privilese juga bukan atas keinginannya. Keberuntungan-keberuntungan yang mengikuti kehidupannya nggak serta merta dia yang membuat. Semua itu sudah ada bagian masing-masing. Jadi menghakimi orang dengan privilese itu aku rasa nggak perlu.

Justru yang jadi masalah bagiku adalah, orang yang memiliki privilese namun menyombongkan diri atas pencapaiannya. Membeberkan cerita kesuksesannya karena fasilitas yang diberikan ayahnya. Toh ketika privilese itu diambil, kamu gak punya apa-apa, kan? Bangga dengan diri sendiri, gak apa-apa lah ya. Tapi membandingkan pencapaianmu dengan pencapaian orang lain tanpa privilese, apa kamu nggak punya hati? Tentu dari pada kamu memakai sepatu sendirian, kamu lebih bahagia saat teman kamu juga menggunakan sepatu yang sama, kan?

Tapi… menurutku ada yang lebih buruk dari seseorang yang sombong karena privilese. Yaitu orang yang punya privilese, tapi tidak dimanfaatkan dengan baik.. dan itu nyata!

Jadi pencapaianmu sekarang karena ada bantuan privilese, atau nggak?

Kalau nggak pakai, santai aja masalah ini. Allah sudah memberi bagian buat kamu. Semua ada balasannya. Lagian usaha gak pakai privilese juga lebih ‘terasa’ kok.

Tapi kalau pakai privilese.. ya buktikan kamu bisa menggunakan privilese itu dengan baik. Ada beberapa teman yang udah dikasih kesempatan dan dukungan, malah dibuang sia-sia -_-

Impianku aja sekarang berubah.

Menjadi orang kaya dan sukses.

Supaya anak-anakku punya privilese.

Iya.. aku gak bisa dapet privilese.

Aku ciptakan privilese itu 🙂

 

Aziq

===

Di Samping Hujan

 

 

 

 

Ibu Mertua

“Mas bantu apa?” Tanya Mas Budi padaku.

Kala itu waktu mungkin menunjukkan pukul 7 malam. Aku yang setengah jam lalu baru pulang kerja sedang menyiapkan beberapa bahan masakan sederhana untuk makan malam.

“Gak usah, Mas..” kataku tanpa menoleh.

“Ih gapapa, biar cepet..”

“Beneran gapapa?”

“Iya, yaudah sini mas yg potong-potong buncisnya.” Ucapnya sambil meraih pisau. Ia lalu mengambil satu persatu buncis yang sudah dicuci untuk dipotong. Aku tidak menyahut, hanya fokus mengiris beberapa siung bawang di atas papan iris. Dalam diam aku melirik irisannya yang ternyata lumayan tipis dan rapi.

“Mas belajar motong sayuran dari mana? Mba?” Tanyaku penasaran di sela-sela kegiatan potong memotong yang kami lakukan.

“Bukan, dari Ibu.. dari kecil udah bantu-bantu masak..”

Aku menoleh dan mengerjap, “Eh? Ibu? Emang kenapa?”

Maksudku, kalau alasannya karena terpaksa akibat hidup sendiri, ya itu wajar. Tapi ini diajari oleh ibu. Aku yang baru bisa masak kemarin-kemarin menjadi heran, kenapa laki-laki di depanku ini mau belajar masak di usia yang masih masuk ke golongan bocah.

“Iya, dari kecil udah disuruh bantu pekerjaan rumah, bahkan masak sekalipun. Ibu bilang biarpun laki-laki, tapi harus tetap bisa pekerjaan rumah, supaya bisa menggantikan istri ketika sakit atau habis lahiran..”

Aku tercenung. Perlahan perasaan haru memukul dadaku lembut, hingga nyaris air mata menggenang di pelupuk.

“Padahal, itu Mas masih SMP lho, hahaha..” suamiku terkekeh ringan, sementara perasaanku seperti diayun-ayun tak karuan.

“Bahkan jauh semasa ibu masih ada, dan dia belum kenal Ade sama sekali, dia sudah sayang sama Ade ya mas..” ucapku lirih.

Mas Budi tersenyum.

“Iya, De..”

Menghentikan Perasaan

Perasaan itu fitrah manusia. Aku pikir, hidup ini berwarna karena kita punya perasaan. Entah marah, sedih, kecewa, suka, senang, bahagia. Dan ketika kita bisa merasakan itu, sudah seharusnya kita bersyukur karena hidup kita tuh berbumbu. Biarpun kadang perasaan acap kali kelewatan, dan membuat kerepotan si pelaku.

Iya, biarpun harus disyukuri, sesuatu yang berlebihan atau terlalu sedikit itu nggak baik. Termasuk perasaan… Sadar tidak sih, kalau selain memberi warna, perasaan juga kadang begitu mempengaruhi apa yang harus kita pilih. Entah itu dalam kehidupan kerja, sekolah, sehari-hari, bahkan percintaan. Perasaan sering kali menjadi kabut pada jalan yang paling baik, yang seharusnya kita lewati. Perasaan kadang membuat kita terlalu nyaman dalam sebuah kesalahan. Dan atau perasaan membuat kita menolak kebaikan bahkan untuk diri sendiri.


Ah, jadi ingat masa lalu. Tentang perasaan yang hadir di antara satu perempuan dan dua lelaki. Perempuan yang terlalu nyaman dengan perasaan aman, merasa takkan menyakiti laki-laki jika dekat lebih dari satu orang. Perempuan yang tak pernah tau kalau perasaan aman itu mungkin menyakiti dua hati sekaligus.

Ia bermain-main dengan perasaan hingga ia sadar hal itu telah mempengaruhi ketidaktegasannya. Lalu kemudian ia kebingungan sendiri, apakah ia harus maju, mundur, diam, atau mati saja. Sementara memilih salah satu adalah bukan perasaan cinta yang ingin ia miliki, tetapi dua hati yang terluka membuat rasa sesal terus berada pada bayang-bayang kehidupannya.

Hahaha.. perempuan yang bodoh, memang. Tapi paling tidak, sejak saat itu ia tau kalau bermain-main dengan perasaan adalah hal yang salah. Pelajaran yang membuat ia punya pertanyaan, kenapa sih harus bermain-main untuk merelakan hati disakiti begini?

Maka untuk siapapun, yang pernah mengalami posisi seperti perempuan itu, mari kita ketuk pintu hatimu.

Awalnya mungkin hanya karena rasa ingin tahu yang tak mampu dibendung. Lalu satu dua hal yang telah diketahui menghasilkan kejut pada diri sendiri. Ada kebiasaannya yang kau sukai, dan satu-dua kesukaannya yang sama denganmu. Ada cerita-cerita yang tak kau paham, namun kau merasa bahagia ketika mendengar dari bibirnya. Lalu secara acak kau ingin merasakan kejut itu lagi, walau ketika itu kamu juga merasa salah telah merindukannya.

Kamu merasa salah telah meletakkan hati padanya, namun tak jua ingin memungutnya kembali.

Kamu tau bahwa ribuan langkah yang kadung diambil salah sama sekali, namun kamu tak jua memutar arah berbalik pergi.

Hingga kamu tidak tahu harus apa, membiarkan logika tak bekerja. Membiarkan waktu menjawab ujung dari permainan rasa yang sedari awal kamu lakukan.

Padahal saat memulai, kamu tau semua rasa yang kau punya adalah milikmu, dan kamu bisa mengendalikannya. Kamu yang punya hati. Kamu yang mampu mengizinkan siapapun masuk, atau mengusirnya pergi.

Baik.

Bertahanlah sejenak. Ambil nafas.

Biarpun kadung sakit. Biarpun sudah sejauh ini. Kamu tetap harus mengambil pilihan. Kamu harus menghentikan semua kesalahan itu. Kamu harus menghentikan pembenaran atas nama ‘rasa’ mu. Sebelum perasaanmu mengelabuhi diri lebih luas. Sebelum jatuhmu terlalu dalam. Sebelum luka yang diberikan tak punya obat. Sebelum lebih banyak yang terluka, bukan kamu atau dia saja. Sebelum memori yang tercipta kian menumpuk, hingga sulit dihapus.

Sebelum kamu sesal, karena telah memilih jalan ketika terbawa perasaan.

Sebelum kamu membiarkan hal-hal yang lebih salah, datang bergantian.

Ku mohon, kembalilah. Pada seharusnya perasaanmu ditempatkan…..


Kita sepakat bahwa hal berbau ‘perasaan’ amat sulit ditebak. Bukan seperti air yang kita tahu bentuknya akan selalu mengikuti wadah di mana ia berada, atau sebuah benda yang kita tahu jatuhnya akan selalu ke tanah. Yang kita ketahui cuma ketidaktahuan kemana perasaan membawa kita berkelana. Entah ke jalan bahagia, atau ke jalan penuh luka. Lalu dengan tega, perasaan seringkali meninggalkan kita pada banyak pilihan, bahkan jalan yang bersitegang dengan logika.

Berhentilah mengatasnamakan segalanya hanya karena rasa. Karena jika tidak, kamu akan membenarkan hal-hal salah lainnya, cuma karena rasa.

Dan bila sudah berhenti, harap pahami, jangan pernah main-main bila urusan hati.


Tulisan ini sudah lama ada di kepala, namun baru sekarang sempat diterbitkan. Maka siapapun yang sedang berada dalam kemelut perasaan, semoga cepat menemukan jalan keluar.

-Di samping hujan

Dua Pagi

Sempat aku berpikir bahwa jatuh cinta padamu hanyalah lipatan cerita klasik yang ku temukan di tengah-tengah perjalanan hidup. Sebab ku pikir bisa jadi tiap intuisi di antara kau dan aku akan kandas di tengah jalan. Atau bisa jadi kita memutuskan untuk tidak melanjutkan bahkan sebelum memulai. Seperti yang kau kenal sedari dulu, aku memang tidak pernah sepercaya itu pada sesuatu, termasuk cerita cinta konyol, yang berangan menua bersama dan berujung abadi dalam pigura.

Sempat aku berkata padamu, jika jenuh mulai melesak dalam dada, kau bisa mengatakan apa saja dan berbuat sesuka apapun. Termasuk menghentikan seutas kalimat-kalimat selamat pagi atau perpisahan. Sebab ku pikir memang mustahil bila dua rasa akan selalu sama ketika perlahan dimakan waktu dan ego. Atau mustahil seorang pria sebegitu bertahan dengan kerasnya isi kepala seorang perempuan sepertiku.

Entah berapa ribu kali ragu seperti itu melucuti keinginanku untuk mengandaikan masa depan bersamamu. Ragu yang kadang membuat jejak-jejak terhenti, lalu membuahkan pilihan untuk tetap tinggal atau meninggalkan.

Antara berhenti sebentar atau sangat lama.

Antara melamban atau mundur sama sekali.

Semua kemungkinan itu kali sering ku renungkan pada saat kita marah dimakan ego dan waktu. Namun hebatnya kau adalah pada kegigihanmu yang tak pernah melepasku pada ketidakpastian, walaupun sebenarnya hatimu merasa lelah jua dirundung pertanyaan tanpa dasar logika. Mungkin bila kau tak pernah berkomitmen untuk bertahan, alam takkan ragu memisahkan. Mungkin bila kau membiarkanku dilalap ragu, maka kita takkan pernah merasa duduk pada satu bangku. Kau telah berhasil menaklukan perempuan paling tidak percaya diri sedunia, yaitu aku.

Pukul dua pagi di suatu waktu, gadis ini menangis karena memikirkan dirinya dan seorang lelaki.

Lalu lucunya,

Kini lelaki itu tertidur pulas di sebelahnya pada pukul yang sama, yaitu dua pagi.

===

Lalu buat apa keraguanku selama ini?

-Di Samping hujan

Dari Titik

Bulan Desember, 2015. Ketika jam kuliah malam berlangsung.

Aku panik. Flashdisk yang dipinjamkan kantor kepadaku hilang di area kampus. Sialnya aku tak mengingat sama sekali di mana flashdisk berbentuk telur puyuh itu berada. Grup chat kelas sudah ku penuhi dengan pertanyaan, namun dari mereka juga tidak ada yang melihat keberadaan benda penting itu.

Jam kuliah pun usai. Merasa iba, temanku, Mashfuufah menawarkan bantuan untuk menanyakan ke temannya di kelas lain, dengan asumsi flashdisk itu jatuh ketika kami bertukar ruang mata kuliah. Aku sangat merasa tertolong, dan menyerah untuk malam itu. Kami menghentikan pencarian, berniat pulang karena hari semakin larut.

Ketika di pintu keluar kampus, aku melewati kerumunan dan terus berjalan ke arah parkiran. Namun tidak dengan langkah Mashfuufah yang berhenti di sana. Ia nampak berbicara dengan seorang laki-laki yang tak ku kenal. Sayup-sayup ku dengar percakapan mereka, dan aku tau Mashfuufah sedang meminta laki-laki itu menanyakan keberadaan flashdisk di ruang chat grup kelasnya. Seketika, aku segera berbalik arah dan mendekati mereka. Merasa kebetulan, Mashfuufah memberi tahu laki-laki itu kalau aku-lah yang kehilangan flashdisk. Aku mengangguk dan memohon padanya.

Laki-laki itu hanya tersenyum, dan mengiyakan permohonanku.


Sudah tengah malam lewat. Aku masih terjaga karena kebiasaanku. Tapi begitu juga dengan Mashfuufah, karena ponselku baru saja menerima pesan darinya.

“Oiy, udah tidur?”

“Belum, kenapaa?”

“Ih, kamu harus liat besok chat aku sama Ka Budi.”

“Ka Budi mana?”

“Itu, Ka Budi yang mau nanyain fd kamu di grup kelasnya~”

“Oh, kenapa emang dia?”

“Dia nanyain nama kamuu.”

“Lahh yaudah jawab ajaa..”

“Ciee ciee.. love at the first sight?”

“Nggak lah, cuma nanya nama doang gitu.. bilang namaku Aulia..”

Chat itupun berakhir dengan ledekkan semata.

Beberapa hari setelahnya, aku tetap berusaha untuk mengetahui keberadaan flashdisk itu dengan menanyakan kenalanku yang lain. Memang agak telat, tapi aku baru ingat kalau aku juga punya kenalan di kelas sebelah. Namanya, Kak Lingga. Kak Lingga bilang, kalau flashdisk itu sudah ditemukan oleh ketua kelasnya. Syukur, alhamdulillah. Aku meminta Kak Lingga bersedia dititipkan flashdisk pada malam itu juga, dan membuat janji untuk bertemu denganku. Siang itu, aku segera chat ke Mashfuufah, agar Kak Budi tak perlu repot menanyakan di grup kelasnya lagi.

“Ih, tapi Aul, Kak Budi bilang, Kak Budi yang mau kasihin itu ke kamu. Cuman gak bisa kalau hari ini. Dia kerja malam soalnyaaa, mungkin lusaa?”

“Ih gapapa, gausah ngerepotin. Tuh, lagian dia kerja, kan?”

“Tapi dia yang mau nganterin Auulll. Hari ini dia udah kuliah pagi. Tapi yaudah deh, aku bilangin dia.”

“Iya bilangin, gapapa kok gausah dianterin. Tapi kamu anterin aku ke kelas sebelah ya? Malu, kenalannya cuma sedikit.”

Mashfuufah mengiyakan.

Ba’da Magrib.

Selesai sholat, aku dan Mashfuufah duduk di depan musholah kampus lantai 2, menunggu Kak Lingga datang menyerahkan flashdisk kepadaku. Sambil berbincang-bincang, akhirnya Kak Lingga datang. Aku mengucapkan terima kasih, dan Kak Lingga kembali ke kelasnya, sehingga aku dan Mashfuufah kembali berdua saja di bangku depan musholah.

“Ih, Aul, liat ke bawah!!” Mashfuufah heboh sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Ih, kenapasi?”

Ku dapati sosok jaket merah sedang melangkah terburu-buru, hingga melompati dua anak tangga sekaligus.

“Dia rela dateng ke kampus hari ini, cuma buat ketemu kamuuu!”

Masih tidak percaya. Mashfuufah bilang kalau dia tidak bisa datang hari ini. Tapi buktinya, Kak Budi di sana. Di depan pandanganku. Apakah ia berusaha sekeras itu? Yang ku tau ia tinggal di Cikarang, dan perjalanan dari Cikarang ke Bekasi bukanlah hal pendek. Gawat, aku tak bisa menahan senyum. Pandanganku menunggu ia muncul dari anak tangga. Kemudian, perlahan sosoknya pun muncul dan dengan punggung tangan, ia menutupi separuh wajahnya.

“Cieee, Kak Budi dateng hari ini cuma buat ketemu Aul,” Mashfuufah kompor

Laki-laki itu kaget melihat kita berdua. Wajahnya merah, menatap kami bergantian.

“Apaan..” katanya, dengan ekpresi menahan senyum.

Seketika kupu-kupu terasa berterbangan di perutku. Mashfuufah semakin menjadi-jadi melihat ekspresi canggung antara aku dan laki-laki itu.

“Kak Budi.” panggilku.

Ia cuma memandangku dengan ekspresi kikuk menahan tawa.

“Makasih ya..”

Wajahnya merah seketika. Mungkin begitu juga wajahku.

Sejak itu, aku menaruh perhatian lebih dengan Kak Budi. Aku segera berniat mencari-cari akun facebooknya. Begitu ku yakin itu dia, tanpa pikir panjang, aku segera meminta pertemanan. Lagi pula, Mashfuufah melaporkan isi chat dengan Kak Budi dengan mengirimkan beberapa screenshot dari aplikasi Whatsapp. Ku dapati di situ, Kak Budi sering menanyakan apa yang sedang ku lakukan, atau lainnya. Aku semakin penasaran dengan Kak Budi. Si laki-laki berwajah merah, begitu sebutanku untuknya terhadap diriku sendiri.

Tanpa disangka, pertemanan facebook itu segera dikonfirmasi. Aku dengan perasaan gugup langsung stalk sana-sini. Mencoba memperdalam yang ku ketahui tentang Kak Budi, tanpa bertanya langsung dengannya. Semakin tau dinding media sosialnya, semakin aku penasaran ia manusia yang seperti apa.

Diam-diam aku menyimpan nomor Kak Budi yang aku dapatkan dari screenshot kiriman Mashfuufah. Aku namai kontaknya:

先輩(/ω\) 

Lalu begitu, beberapa hari aku hanya bisa melihat kontaknya tanpa berani menyapa. Aku hanya memantau terakhir dilihat-nya, tanpa bilang apa-apa.

Namun rasa penasaran itu tak bisa dibendung olehku. Percayalah aku bukan orang yang sesabar itu. Dengan segala keberanianku, aku menyapanya dengan ‘.’

Ia menamai kontakku dengan ‘siapa’

Aku mati gaya. Aku tak membalas. Aku segera menghapus nomornya. Aku berjanji takkan pernah mengaku kalau itu diriku. Aku teramat malu, walau tidak bertemu dengannya secara langsung. Aku mendiamkannya dan berusaha melupakan pertanyaan balasannya. Chat menggantung itu ku tinggal makan, beres-beres, semedi.

Namun keesokan harinya, sebuah pesan masuk ke dalam facebookku.

“Assalamualaikum. Ini Aulia ya? Hehe. Maaf, tapi aku mau nanya. Aulia chat aku di whatsapp? Tadi ada yang chat aku, tapi aku tanya siapa, dia gak bales. Itu Aulia bukan ya?”

Ternyata, ia sepercaya diri itu.. Dan tak ada pilihan lain, selain mengaku..

Begitulah cara aku mengenalnya. Sejak itu kami sangat dekat. Chat tiap hari tanpa henti, melaporkan kegiatan tak begitu berarti. Kami merasa ‘nyambung’ hanya dalam beberapa hari. Cerita-cerita tiada sudah. Dari hal yang sepele, hingga hal yang terlalu dalam. Dari impian kecil, hingga harapan besar. Dari masa lalu, hingga masa depan. Dari rasa rindu, hingga cemburu.

Dari sebuah titik, hingga kini, ya, detik ini dan selamanya, ia menjadi suamiku.

Yap, ia sepercaya diri itu untuk meminangku.

Ini adalah tulisan pertamaku ketika statusku sudah berubah. Ya, pada tanggal 29 Februari 2020, aku telah resmi menikah dengan seorang pria kelahiran tanah Jawa. Terhitung lima puluh hari lebih aku menjalani hidup sebagai seorang istri, dan kehidupan yang berbeda itu telah membuatku lupa pada kebiasaan-kebiasaan lama. Perhatian dan peduliku, kini ada pada lembar baru yang akan menjadi cerita teramat panjang nantinya.

Itu adalah cerita bagaimana aku mengenal suamiku. Bagaimana sebuah rasa tertarik muncul ke permukaan, hingga memporak poranda dua hati manusia. Sedih, senang, marah, bahagia, cemburu, tak peduli, semua perasaan itu telah kami lewati. Merasa sudah bosan, maka kami memutuskan untuk menyudahi dan memasukki level yang lebih berat lagi.

Terima kasih, sudah menjadi teman dekatku selama empat tahun lamanya, Mas Budi.

Tahun kelima, keenam, ketujuh, kedua puluh, dan seterusnya, ku jadikan engkau sebagai teman hidup, hingga mata ini tertutup. 🙂

-Di Samping Hujan

Suatu Hari di Bulan Desember

Suatu hari di bulan Desember, pertemuan di penghujung hari memulai kisah untuk suatu masa. Kau, aku, dalam lekukan senyum menyimpan kagum. Lalu berpisah dalam resah, berharap bertemu untuk kali kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya…

Semua terasa begitu mengalir, sampai tidak kita sadar bahwa segala perkara pelik ini akan tuntas dalam waktu dekat. Aku telah mempelajarimu dalam berbagai hal; bahagiamu, sedihmu, takutmu, mimpimu, tentangmu. Namun rupanya mengenal manusia bukan perihal yang mudah, dan ku akui mempelajari tentangmu hanyalah teori yang tak pernah usai. Pasti, begitu juga benakmu terhadapku.

Namun biar tak pernah selesai, rupanya kita telah saling mengubah satu sama lain. Aku membantu mimpi-mimpimu menjadi lebih nyata, dan kau mengubahku menjadi wanita yang lebih kuat. Kita saling berproses, dan tiada perasaan yang lebih indah selain saling mendengarkan di saat kecewa, saling dukung ketika jatuh. Jatuh cinta padamu sebahagia itu, dan mencintaimu begitu menyenangkan. Bahkan duka juga menjadi penyempurna.

Ku sadari, bahwa bulan-bulan yang berlalu tidak sia-sia. Aku dan kamu membentuk cinta yang dewasa, yang kokoh, yang akan kita wariskan kelak saat kita menua.

Terima kasih.

Kau tak pernah menyerahkan keinginanmu pada keputusasaaan, untuk berbagi hidup dengan orang sepertiku. Kau membatasi ketidakyakinanku pada kegigihanmu. Terima kasih, sayang. Tiap kesemogaan, perlahan akan diwujudkan. Mari berjanji membangun hunian ternyaman, yang kita rindukan setiap pagi hari dan petang. Mari kita bentuk rumah, agar penat tak lagi bingung harus kemana dipulangkan. Agar kita punya tempat untuk berteduh dalam derasnya air hujan. Agar kamu dan aku, tak pernah lekang dimakan waktu.

Suatu hari bulan Desember, rinai hujan di teras menjadi momen paling bahagia, bagi sepasang orang tua, anak-anak, dan cucu-cucunya…

– Di Samping Hujan

Patah Hati

Pekan lalu, seorang teman memenuhi whatsappku dengan curhat-curhat yang ia tumpahkan dalam grup chat. Galau setengah mati, konon katanya ia ditinggal menikah tanpa penjelasan dari sang lelaki. Saat sayang-sayangnya, saat cinta baru saja menelusup ke dalam palung hati temanku, dan mungkin bermaksud untuk menetap di sana. Namun rupanya, jatuh cintanya sendirian. Atau bila tidak sendirianpun, diperjuangkannya hanya sendirian.

Beberapa kalimat yang mampu ku ingat dari ceritanya adalah,

“Jadi selama ini ada dua wanita?” temanku mendesak.

“Tidak pernah ada dua wanita, Yola.” Tegas si lelaki.

“Lalu kamu menanyakan pertanyaan yang sama pada dua wanita?” Ulang temanku.

Lelaki itu terdiam, tak bisa menjawab. Sejurus kemudian, ku ketahui bahwa pertanyaan yang dimaksud adalah, maukah kamu menikah denganku?

Should We

Lets start to thinking
What if we meet
Just for learning something
But not to be longer
Forever

Should we
Give up
Erase the memories
Delete everythings
Kill all the feelings

Should we
Start a new thing
New memories
New belief
With the new person

Or should we
.
.
.
.
Just forget it all
Never thinking something
Just stay
Never say give up
And Against the world

やっと、やった!

やっと私は卒業した!

良かったじゃん。四年間ドラマが終わりだった~

Alhamdulillah 🙂

家族、友達、あんた、皆、ありがとうございました!

ふふふ~

さー、次の予定は何か。

へへ~~

今回、あまり書かないだけど、

このブログで次の生活を書くつもりだ。

まってね!

バイバイ~