やっと、やった!

やっと私は卒業した!

良かったじゃん。四年間ドラマが終わりだった~

Alhamdulillah 🙂

家族、友達、あんた、皆、ありがとうございました!

ふふふ~

さー、次の予定は何か。

へへ~~

今回、あまり書かないだけど、

このブログで次の生活を書くつもりだ。

まってね!

バイバイ~

Advertisements

Peristiwa Penting

24 April 2019, abangku pulang dari Jepang.

Beliau sampai ke rumah pukul 22:00, selang lima menit dari kepulanganku seusai kuliah. Begitu sesampainya ia di pagar rumah sambil mengucapkan salam, ku dapati sosok suara dan paras yang tidak berubah. Hanya saja, kini pakaiannya lebih stylish dan terlihat kece. Nadanya yang konyol juga masih sama seperti tahun-tahun lalu.

Mama menyambutnya dengan menangis tersedu-sedu sambil memeluk beliau. Hampir aku menjatuhkan air mataku melihat peristiwa itu.

Namun abang sendiri malah tertawa, “Sudah-sudah, saya sudah pulang. Nggak usah nangis.. hehe..” Begitu katanya. Jadilah, ku bendung lagi tangisanku, dan pura-pura tidak merasakan apa-apa.

“Ung, ayo beli makan. Yang enak…” abang mengajakku pergi beli makanan. Aku nurut dan mengiyakan. Ku bonceng si abang karena ia bilang padaku ia masih takut naik motor.

Sesampainya di sana, aku merasakan canggung. Haha, jujur saja, tiga tahun tidak berjumpa terasa aneh. Selagi menunggu makanannya matang, aku tidak banyak omong, sekadarnya. Begitu juga beliau.

“Papa udah gak ada..” ucapku tiba-tiba, sambil menatapnya.

“Jiah, ada kali dia, di sana.” Dagunya menunjuk ke arah tempat dimana papa dimakamkan.

Aku senyum, lalu mengelap beberapa air yang kadung menggenang di pelupuk. Aku yakin, abang juga menahan perasaan itu. Perasaan sakit, sedih, rindu. Tapi ia sudah lebih dewasa dari yang dulu. Aku tau, mungkin ia cuma pura-pura ceria. Aku tau, ia tidak ingin membuat Mama, kakak, dan adiknya menangis.

Outing 2019

Intro-

Assamualaikum warrohmatulloh,

Kali ini gue mau sekadar sharing akan pengalaman gue outing class bersama anak-anak kelas gue. Menurut Bapak Haji Dadang Sp. MT. (Spesialis Meme Terapan), outing class berguna bagi perkembangan mental remaja yang sedang mengidap quarter life crisis, alias anak-anak semester tua yang lebih kepingin kawin daripada mencari teori untuk nambah-nambahin halaman di BAB II. Oleh karena itu, dosen yang sangat mengerti akan kebutuhan batin kami, namun kerap menghilang jika dibutuhkan berinisiatif untuk memberikan tugas dengan tema “Bikin Outing Class, Ngurus Sendiri, Budget Sendiri” sebagai syarat penambahan gelar SS di belakang nama kita (SS=Sarjana Santuy)

Persiapan outing class ini sebenernya membutuhkan waktu yang panjang. Sekitar 17 kali pertemuan, 8 kali baku hantam, dan 45 kali saling tawuran antar kelas. Senjata yang digunakan ketika tawuranpun sangat bervariatif dan menyakitkan, mulai saling hujat menggunakan meme, sindir menggunakan capslock di grup umum, bahkan ghibah di grup pribadi. Memang, whatsapp sekarang kebanyakan grup, mulai dari grup Cebong dan Kampret Samawa, sampai grup Penyuka Ayam Geprek Bensu Level 2 juga ada (artinya kalau kalian suka ayam geprek bensu level 3, kalian gak boleh masuk).

Beberapa panitia sebagai wakil antar kelas dipilih. Dari kelas gue, ada Ufa, dengan jabatan Panitia Seksi Hahahehe, dan Yola, Panitia Seksi Pembawa Keributan.  Tentu bisa Anda bayangkan bila mereka muncul dalam satu forum: rasanya kiamat semakin dekat. Panitia lain yang sudah bekerja susah payah, banting tulang untuk mengurus tetek bengek outing akhirnya cuma bisa mengelus dada Bang Nano, supaya bang Nano semakin sabar dan betah kerja di kampus kami.

 Setelah drama kelahi dan baku hantam yang disiarkan live di radio Elgangga dalam beberapa minggu, akhirnya pada tanggal 6 dan 7 April 2019 kemarin, kami jadi berangkat. Alhamdulillah, jadwal keberangkatan jam 5 mundur satu setengah jam karena Yola, Panitia Seksi Pembawa Keributan yang merangkap menjadi Panitia Snack Dengan Kelezatan Tiada Tara, terlambat dateng. Memang, kelas gue tukang pembuat onar. Beberapa hujatan dilemparkan ke kelas gue, kayak, “Udah tukang kelahi, nyusahin angkatan aja bisanya!”. Sungguh menyakitkan sebenarnya, saudaraku. Tapi, sesuai dengan ajaran Rasul, kamipun sabar dan memilih jalan cengengesan untuk mencairkan suasana. Namun, semua kesalahan juga butuh hukuman. Setelah Yola dateng dengan perasaan tidak bersalahnya, kami memutuskan untuk memberi ia pelajaran dengan cara gebukin dia rame-rame dipinggir bus.

Segitudulu, pan kapan lanjut~

===

-Di Samping Hujan

Tersesat

Kesalahan kita adalah terlalu berharap pada cerita-cerita tak nyata. Kau terlalu menganggap detik-detik kebersamaan itu takkan hengkang; tak selesai meninggalkan luka. Dan aku tak pernah memikirkan akhir dari sebab kamu dan aku duduk dalam satu bangku; berbahagia atau berubah menjadi abu.

Dalam tiap langkah-langkah yang kau jajak, ada ribuan ragu membayangi pada jejak. Perasaan dan hati, membentuk lorong-lorong yang membelit sepanjang angan. Sehingga kini kau kebingungan; kau tidak tahu. Kini kau sama sepertiku. Kita sama. Kita manusia di persimpangan, yang tak pernah tahu harus menunggu atau pulang.

Kesalahan kita adalah terlalu menganggap kau dan aku baik dalam satu yang tak pasti. Aku terlalu luas memberikanmu tempat. Kau terlalu jauh menaruh harap.

Padahal itu semua akan kandas, kalau memang tak ada garis yang mempertemukan.

Sayang, barangkali kau tersesat.

Kembalilah cepat, aku bukan tempatmu pulang.

===

Entahlah,

-Di Samping Hujan

Pengalamanku Seminar MLM

“Li, ikut seminar yuk.”

“Wah, seminar apaan, Mel?”

“Iya, ini seminar aja gitu, tentang kesehatan.”

“Hmm..”

“Yuk, temenin aku…”

Aku terdiam, berpikir sejenak “Jam?”

“Habis isya lah, di Grand Wisata. Mau ya?”

Aku yang masih polos dan belum tau apa itu dunia bisnis segera mengiyakan. Kepo soalnya. Lagian, aku udah lama nggak main sama Melmel. Melmel itu temanku lima langkah, cuma waktuku yang sempit menciptakan jarak yang besar di antara kita. Jadi ketika ada ajakan begitu, dan aku lagi free time, aku langsung mengiyakan saja.

===

Rupanya

Kemudian kamu tersenyum terang-terang.
Menandakan kalau yang semalam itu bukanlah apa-apa.
“Perangaiku yang acuh tak acuh? Lupakan saja.” gumammu yang dapat kuucap ulang lewat pandangan mata.

Aku benci.

Mengapa tak katakan saja kalau tak kuasa memberi? Atau, mengapa memaksa tinggal kalau tak berniat?
Entahlah.
Yang jelas aku mulai menerka-nerka kalau akulah satu kemungkinan dari seribu pilihanmu, ketika kamu adalah rute akhir yang aku ambil untuk jalan ceritaku.

Aku benci.

Tiap semburat kegembiraan yang kamu ulas selalu berubah pias.
Ramah tamah katamu, pemeduli sikapmu tiba-tiba berubah ngilu.

Sisanya kemana?
Tidak ada kecuali manusia dingin yang tak banyak bicara.
Balas satu atau dua patah kata setelah itu sirna tertelan diam.
Tapi esok, lusa, atau kapanpun di masa depan, kegembiraan itu akan muncul lagi padaku,
Kerap kali kamu tak menemukan yang spesial pada hari itu.

Aku benci.

Kamulah yang menciptakan jarak menjadi dekat sekaligus jauh dalam kurun singkat.
Kamu yang memupuk harapan serta merta kamu yang menginjak-injak.
Kamu, yang sekarang menatapku rindu benar.
Tapi pasti, pasti nanti berubah, lagi.

Aku benci, sampai-sampai otakku kini mengerti sendiri;
Rupanya begini cara pemberi harapan palsu menari

===

Dipos ulang, (3)
-Di Samping Hujan

Bisu

Kini kita saling diam, saling mengumpat dalam-dalam, bergumam keras sepanjang pikiran. Tidak ada yang lebih baik selain menontoni tanpa ikut aksi. Penyimak nomor satu tanpa harus ada yang tahu. Perasa yang paling andal namun hanya berkutat di tempat yang sama. Bisu.

Lekat-lekat hatiku bertanya, apa sebenarnya yang kau pikirkan. Yang membuatmu tak bisa tidur sepanjang malam, dan menuliskannya pada dinding transparan. Apa benar itu aku, atau orang lain yang lebih kuat dari pada aku? Aku ingin tahu, atau bahkan tiap-tiap langkah yang kau jejak, jarak yang kau dapat, gaya yang kau buat. Semua aku ingin tahu.

Tapi lagi kita hanya bisa bercanda dalam dimensi beda. Saling menyapa tanpa menatap. Saling singgung di dalam harap. Seberapapun usaha yang kita buat, hanya bisu yang kita tangkap. Hanya rindu menggebu, namun tak mampu bertemu. Hanya sesal yang bertumpuk, tapi kata maaf tak berlaku. Sungguh, kita hanya bisa diam dan saling

menunggu.

===

Dipos ulang, (2)
-Di Samping Hujan

Kita

Kita bukan apa-apa.
Sebenarnya, waktu itu aku dan kamu hanya tertawa di balik hujan.
Bersenandung sambil menatap kelabu tebal.
Bercerita hal bodoh, lalu kita tertawakan.

Sungguh, waktu itu aku dan kamu hanya perangai suram yang luluh akan perasaan.
Rela bertaruh demi kebahagiaan.
Membuat jejak panutan orang.

Demi apapun,
Aku dan kamu hanya dua pribadi yang menangisi satu sama lain.
Saling ketergantungan, lalu menyindir.
Antara disakiti, atau menyakiti.

Itulah Kita.

Apa aku benar? Kita bukanlah apa-apa, sampai kini telah melupa.
Kita hanya dua hal asing, yang memiliki sesuatu untuk di kenang.
Kita cuma dua manusia yang pernah memiliki hubungan emosional.
Kita, dua orang yang tersesat dan mengira bahwa satu sama lain adalah jalan pulang.

Tidak spesial, bukan?

===

Dipos ulang, (1)
-Di samping Hujan

One Day After

One day after without you.
It’s still raining.
On my eyes.
In my heart.

One day after without you.
It would never be same again.
Everything is different.
My life is change.

One day after without you.
Like something forcibly pulled.
From my soul.
And i know.
It was you, Dad.

===

-Di Samping Hujan