Bantu Aku

OKAY

Kali ini,

Aku akan mengartikanmu,

Seperti danau yang menangkup hujan,

Atau langit yang menampung bintang,

Bahkan hutan yang menanungi akar.

 

Dalam detik yang selaras detak,

Ada luka berkepanjangan,

Ku sadari variasi dalam otakmu.

 

Bila kalimat tak mampu kau tumpahkan,

Pada gelap matamu aku percaya,

Kalau pada tiap aksara,

Selalu ada cerita,

Dan perasaan tulus,

Entah bahagia.. atau sakit..

Advertisements

Kau Harus Tau

Kamu harus tau,

Kalau perasaanku mulai berandai-andai seperti,

Jika saja aku yang paling pertama mengenalmu, atau;

Andai saja aku yang paling dekat di sisimu, dan;

Coba saja waktu itu aku yang menemanimu;

Mulai meletup-letup ke permukaan.

Aku menyayangkan itu semua,

Kenapa tak dari dulu saja, aku dan kamu bertegur sapa. Lalu bercerita tentang kartun-kartun pada internet. Lalu bertukar foto kucing yang menggemaskan. Dan lalu menertawakan seseorang yang normal karrna keanehan kita?

Kau dan sejuta rahasiamu. Kau dan lagu favorit. Kau dan makanan kesukaan. Kau dan kebencian pada waria. Kau dan beban hidupmu.

Coba saja,……

Aku yang dari dulu.

Pikirku lamat, lalu tertawa. Menyadari kalau sesuatu yang tumbuh, sejak akhir 2015, sudah sebesar dan seberat ini. 

Iya.

Bahkan pada masa lalu, aku cemburu.

Review Film: Hujan Bulan Juni 2017

Dari titik kejujuran dalam lubuk hati, sebenarnya aku begitu menantikan tayangnya film ini. Di mulai ketika poster-poster coming soon nya ditempel pada tembok bioskop, dan atau puisi-puisinya yang terlanjur terkenal jauh sebelum film itu dibuat, kata Hujan pada tiap judul buku atau film selalu membuatku tak sabar, ingin tahu.

Maka dari itu, pekan kedua bulan November lalu, dua tiket Hujan Bulan Juni—sebuah film adaptasi dari novel dengan judul yang sama, karya Sapardi Djoko Damono—telah dibeli.

===

Judul: Hujan Bulan Juni 
Tanggal rilis: 2 November 2017
Sutradara: Reni Nurcahyo, Hestu Saputra
Produser: Chand Parwez Servia dan Avesina Soebli
Rating Usia: 13+

Dia Itu Dia

Pernah ada yang bertanya-tanya pada saya, begitu tahu saya mulai menyukai seseorang yang mungkin sangat jauh dari prediksi. Pasalnya, saya tidak pernah terlihat berbicara padanya, bertegur sapa, atau bahkan saling tatap. Tiba-tiba kami dekat. Dan mungkin orang tak pernah menyangka hal itu akan terjadi.

Saya ditanya, apa yang kamu lihat dari seorang dia?

Dengan ragu-ragu saya menjawab, perihal kesederhanaannya, yang entah sekarang masih relevan atau tidak.

Karena,

Lamat laun, saya menyadari bahwa ia tak pernah persis begitu. Ia bukan kertas kosong yang bermakna nol. Ia memiliki atlas dan singgasana sendiri di dalam kepalanya. Ia tidak pernah sesederhana yang saya bayangkan. Ia kaya. Ia macam-macam. Dan masuk ke dunianya tidak bisa disamakan dengan duduk-duduk pada Taman Jakarta Kota. Ia lebih saya samakan seperti memesan barang langka pada pasa online yang baru buka. Ia susah-susah gampang, hingga saya tak pernah merasa tuntas mempelajarinya.

Lalu tau apa yang hebatnya lagi?

Saya menjadi ragu ketika saya harus menjawab perihal kesederhanaan yang melekat pada dirinya. Saya belum tau hal apa yang bisa membuat saya jatuh cinta.

Mungkin jika ada lagi orang yang bertanya, mengapa? 

Jawaban yang paling rasional yang akan saya berikan adalah,

Karena dia itu, dia. 

Hari Patah Hati Nasional

Sebuah pesan sampai pada ponselmu. Ternyata itu foto seorang laki-laki berjas hitam serta wanita berias dengan kebaya putih di sebelahnya. Satu buket bunga digenggam erat-erat oleh wanita itu. Pada sisi kanan dan kiri mereka, terlihat sepasang orang tua tersenyum bahagia. Mereka semua sadar kamera. Memasang pose. Buncah kebanggaan dan keharuan seolah berhamburan pada foto yang hanya bersubjek memanggil namamu. Disertai emoticon tangis campur tawa. Mungkin temanmu itu bermaksud meledekmu. Membangkitkan yang dulu-dulu.

Kekkon omedetou gozaimasu.

Balasmu, kalem.

21

Dua puluh satu tahun yang lalu ribuan anak manusia lahir dari rahim indungnya. Yang beruntung disambut kedua bapak ibu. Disediakan naungan, lalu disebut-sebut rindu jangka sembilan bulan. Mereka diberi nama serta diberi doa. Harapan serta mimpi tertiup dan menelusup lewat ubun-ubunnya. Lalu dengan begitu mereka tumbuh, hingga masing-masing paham caranya berdiri pada tumit-tumit yang mereka punya untuk mencari jalan yang mereka pilih sendiri, terus berlari.

Tak Turun Lagi

Hai.

Apakabar?

Aku merasa sudah lama sekali tidak menulis. Padahal terakhir postinganku ada pada bulan Juni. Sebulan lebih aku tidak mengutarakan apa-apa yang berserakan dalam kepala. Dan draf-draf itu perlahan memenuhi ruang tersempit dalam dimensi tempat imaji ini diputar. Ohya, aku terkesan tidak produktif. Tapi ketahuilah, kalau setiap hari, ya, setiap hari, aku selalu memeriksa situs ini. Melihat berapa yang mengunjungi. Dan pos apa yang mereka buka.

Tapi akhir-akhir ini, tidak sama sekali yang melihat-lihat.
Dan itu sangat wajar ketika bahkan aku tidak menceritakan apa-apa. Apa yang aku harapkan pada usaha yang bernilai nol? Aku memaklumi. Bahkan sesekali menyemogakan agar mereka tak kembali. Walau akhirnya harapan itu aku tarik lagi.

Justru aku mempertanyakan siapapun yang pertama mendapat notifikasi email ketika postinganku terbit, atau mengingat bahwa pada jam dua siang ini ia harus membaca curahan hati seorang aku;

Apa, tujuanmu?

Mengapa kau mau membaca kalimat-kalimat kosong ini?

Bahkan ketika aku ingin menghapus semua hingga titik dan koma, kenapa kau masih membukanya?

Kenapa kalian menunggu-nunggu?

Apa yang kalian rasakan hingga tersesat pada sekumpulan deskripsi perasaanku?

Apa yang kalian cari, ketika bahkan aku ingin tenggelam?

Apa yang kalian nantikan pada ulasanku yang terbit tanpa arti?

Kisah patah hati?

Atau kebencian,

Keputusasaan?

Belakangan ini, hujan tak pernah lagi turun ke bumi. Aku juga kerap lupa menceritakannya, karena sibuk pada dunia yang tidak sebaik hujan berada. Dan ketika dunia kecil ini sirna, baru aku sadar bahwa hujan tak pernah turun lagi.

Hujan, apa yang kau cari, hingga kau lupa datang kemari?

Kau sedang di mana?

Kau membenciku ya?

Aku tak bisa bicara apa-apa.

Ketika kamu, tidak ada.

Namun anehnya, ada diantara mereka,

Yang tetap ke sini,

Menanti-nanti setiap kalimat.

Padahal aku harap,

Mereka lupa.

Dan pergi dari sini…

How Would You Feel – Ed Sheeran (Terjemahan Indonesia)

Heyho! Aku kembali dengan lagu-lagu romantis yang aku suka~
Sebenernya aku cuma suka nadanya yang kek jadul gitu. Tapi pas didengerin secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya *halah*, liriknya sweetness overload! Sampe ngebayangin cewek di lagu itu aku, atau ada gaksi yang mau buatin lagu sejenis itu buat aku?? Wakakaka.

Berhubung aku cuma denger + ngeliat liriknya di Joox, jadi aku gak cantumin lirik aslinya ya.

Happy baper!

===

Kau adalah satu-satunya perempuan dalam hidupku
Kau tau betul itu
Aku selalu merasa lebih muda
Tiap kali aku hanya bersamamu
Saat kita duduk pada mobil yang terparkir
Lalu mencuri-curi beberapa ciuman di halaman depan
Kemudian muncul pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan, tetapi
Apakah yang kau rasakan?
Jika aku katakan ‘Aku mencintaimu’?

Aku hanya ingin melakukan itu
Aku telah memutuskan untuk menghabiskan seluruh hidupku
Agar jatuh cinta lebih dalam pada dirimu
Jadi, katakanlah kau juga mencintaiku

Pada musim panas, kala pohon lilac tertiup semilir angin 
Darahku mengalir deras lebih daripada aliran sungai
Di tiap momen yang aku habiskan bersamamu
Lalu kita duduk di atas atap rumah
Dan aku mendekapmu dengan kedua lenganku
Seraya menyaksikan matahari terbit yang menggantikan bulan
Apakah yang kau rasakan?
Jika aku katakan ‘Aku mencintaimu’?

Aku hanya ingin melakukan itu
Aku telah memutuskan untuk menghabiskan seluruh hidupku
Agar jatuh cinta lebih dalam pada dirimu
Jadi, katakanlah kau juga mencintaiku

Saat kita duduk pada mobil yang terparkir
Lalu mencuri-curi beberapa ciuman di halaman depan
Kemudian muncul pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan, tetapi
Apakah yang kau rasakan?
Jika aku katakan ‘Aku mencintaimu’?

Aku hanya ingin melakukan itu
Aku telah memutuskan untuk menghabiskan seluruh hidupku
Agar jatuh cinta lebih dalam pada dirimu
Jadi, katakanlah kau juga mencintaiku

Sungai Biru

20 April 2015

Kala Jumat selepas maghrib, dari dalam transportasi sembilan belas bangku, aku menatap pada sisi luar kaca yang agak buram karena uap tipis. Beberapa tetes air meluncur bebas di permukaannya, seolah hendak memberi tau penumpang manapun kalau hujan baru saja tuntas menyaba.

Di luar sana, lalu lalang kendaraan beroda, berebut jalan tak rela kalah. Kelap-kelip lampunya sedikit menyilaukan sepasang mata yang hanya bisa sabar menunggu sampai di halte utama. Sabar menunggu dengan termangu, berputar pikirannya dalam ruang kosong aura sendu.

Menit-menit berlalu begitu cepat di pinggir kota. Kendaraanku kemudian sukses salip sana-sini hingga melewati sebuah jembatan rusak, penuh lubang dan rawan jungkal. Aku menyebrangi sungai yang hari-hari nampak keruh kecoklatan. Tapi sungguh, kali ini ia cukup membuatku kagum.